Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 9 - Pertandingan Dimulai


__ADS_3

Angin berhembus dengan pelan; awan menyelimuti matahari. Ketika suasana sedang hening sesaat, terdengar teriakan seorang siswa.


"Oh! Dia datang!"


Dari arah selatan lapangan, Rigla datang bersama dengan Diego. Rigla berjalan dengan sedikit sempoyongan sementara Diego berjalan dengan tatapan penuh amarah. Para siswa yang sudah kenal Diego, tentu takut melihat tatapan mata bak harimau yang mengamuk.


Para siswa menepi, membuka jalan untuk Rigla dan Diego. Tatapan mereka terbagi menjadi tatapan ketakutan terhadap Diego, dan tatapan ketidaksukaan terhadap Rigla.


Tek ... Rigla berhenti lima langkah di depan Michel yang berdiri bersama gengnya.


"Oh, oh, oh ... ternyata kauberani datang juga. Bahkan, mempercepat waktu pertandingan," ucap Michel dengan sedikit mengangkat kepala, memandang rendah Rigla. "Lihatlah ke atas sana, ada tiga gadis yang entah bagaimana mendukungmu. Hipnotis macam apa yang kaugunakan kepada mereka?"


Para siswa mulai berbisik.


"Yah, dipikir-pikir memang aneh kalau Malaikat Sekolah sampai seorang Dea mendukung sampah itu."


"Hm, aku jadi kasihan terhadap mereka ...."


Melihat para siswa yang kembali terjatuh ke genggamannya, Michel menyeringai. Ia yang pandai melihat situasi, mengangkat kedua tangannya ke samping dengan telapak tangan menghadap ke langit.


"Dengarkanlah, wahai siswa-siswi Allagi! Aku, Michel Bernadius dengan ini menyatakan bahwa pertandingan kali ini, adalah untuk menyelamatkan sang Malaikat Sekolah, Elina dan bintang sekolah, Dea!" ucap Michel dengan lantangnya.


Para siswa bersorak mendukung Michel.


"Ya! Bebaskan sang Malaikat Sekolah dari sampah itu!"


"Benar! Tidak mungkin seorang Dea mendukung sampah sepertinya! Tolong selamatkan Dea!"


Setelah ucapan demi ucapan permintaan tolong untuk melepaskan Elna dan Dea dari "hipnotis" Rigla, para siswa menyorakkan nama Michel seperti rakyat yang menyoraki pidato gemilang rajanya.


Ya ... terus! Teruslah bersorak untukku! Teruslah menjadi orang-orangku! Teruslah ... teruslah seperti itu! batin Michel dengan senyuman selebar bulan sabit serta kedua tangan yang semakin naik ke atas.


"Kepada para siswa dimohon untuk tenang. Pertandingan akan segera dimulai!" teriak Pak Yudha yang berdiri di dekat Dea dengan membawa bola di pinggangnya.


Sorakan tersebut langsung berhenti seketika, membuat Michel yang sedang menikmati sorakan untuknya, menjadi jengkel. Ia menurunkan kedua tangannya, melirik perlahan ke arah Pak Yudha.


Yudha bangsat! batin Michel dengan lirikan mata jengkel nan kesal.


"Bagi mereka yang tidak berkepentingan, silakan menepi ke pinggir lapangan!" ucap Pak Yudha.


Para siswa kemudian menepi, berdiri di pinggir lapangan. Sementara itu, Elina beserta Dea dan Renatta mengikuti Pak Yudha yang menuruni tangga.


Untuk pertama kalinya, Elina merasakan pandangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pandangan kasihan, pandangan kecewa, pandangan yang seolah bertanya "mengapa?".

__ADS_1


Dea yang sadar dengan ketidaktenangan Elina, langsung memegangi tangannya. Ia tersenyum kepada Elina dan berkata, "Tenanglah, ada aku dan Renatta di sampingmu." Renatta yang baru sadar kalau Elina sedang risau, langsung ikut memegangi tangan Elina.


"Y-ya! A-ada aku dan Nona Dea di sini!" ucap Renatta dengan pipi merah serta bersemangat.


Elina tersenyum lega. Setidaknya, kekhawatirannya sudah sedikit berkurang. Meski begitu, kekhawatiran utamanya belum menghilang. Kekhawatiran yang sama dirasakan oleh Dea dan Renatta. Kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan.


***


Penonton terbagi menjadi dua sisi. Mereka yang mendukung Michel berada di barat, utara, dan timur lapangan. Sedangkan mereka yang mendukung Rigla, berada di selatan lapangan.


Para penonton telah berada di tempatnya masing-masing.


Pak Yudha sudah berada di tengah lapangan bersama dengan Michel (beserta gengnya) dan Rigla (beserta Diego). Posisi mereka seperti dua orang kapten yang bertemu di tengah lapangan, dengan maksud untuk menentukan awal pertandingan melalui lemparan sebuah koin. Namun bedanya, "respek" tidak dapat ditemukan.


"Pak Yudha, langsung saja mulai pertandingannya. Aku sudah tidak sabar untuk menghajar sampah ini!" ucap Michel dengan tatapan tajam serta menyeringai mencoba mengancam Rigla.


Rigla tidak menggubris, ia masih sama sejak awal datang ke lapangan, menghadap ke bawah dengan postur tubuh seperti seorang zombie. Melihat dirinya yang diacuhkan, Michel menjadi semakin jengkel dan kesal.


"Formatnya adalah penalti. Michel menjadi penendang dan Rigla menjadi kiper. Michel diberikan tiga kali kesempatan untuk menendang, seandainya Rigla berhasil menepis satu bola, maka Rigla dianggap sebagai pemenangnya. Apakah kedua pihak setuju?" tanya Pak Yudha.


Michel menyeringai meremehkan. "Tentu saja ... tiga tendangan? Kalau perlu, akan kuberikan seribu tendangan!"


Jawaban Rigla diwakilkan oleh Diego dengan ucapan, "Ya, kami terima persyaratan tersebut."


Pak Yudha meniupkan peliut yang menjadi tanda bahwa pertandingan akan segera dimulai. Tangan yang diangkat ke arah gawang menjadi tanda bahwa para pemain dipersilakan menuju ke posisinya masing-masing.


"Michel, hajar dia dengan telak!" ucap siswa yang menyampaikan pesan tantangan kepada Rigla.


"Ya! Aku ingin melihat bola yang kautendang melesat kencang seperti roket mengenai telak wajahnya!" ucap siswa yang memotret dan menertawai Rigla.


"Buat dia babak belur, kasih paham pokoknya!" ucap siswa yang memberi peringatan untuk menjauhi Rigla.


"Kalian tenanglah, akan kuberikan pertunjukkan tak terlupakan untuk kalian, hahaha!" jawab Michel percaya diri dengan diikuti tawanya dan teman-teman segengnya.


Diego yang melihat Michel beserta gengnya meremehkan Rigla, membusungkan dada dan berbalik lalu berlari mengejar Rigla. Ia menepuk punggung Rigla dan berkata, "Beri dia dan sekolah ini pelajaran!"


Diego kemudian bergabung bersama dengan Elina, Dea, dan Renatta. Dea melambaikan tangan kepada teman-temannya yang baru tiba (berada di dekat tangga). Teman-temannya yang melihat Dea langsung melambaikan tangan dan berlari menuju Dea.


"Elina, apakah yang terjadi pada Fergie itu benar?" tanya Diego yang sedang memandang lurus ke depan.


Elina sedikit terkejut. Tapi ketika mengingat apa yang terjadi kepada Fergie, suasana hatinya menjadi murung. "Ya ..." jawabnya pelan.


Melihat Elina yang murung, Dea dan Renatta langsung menyemangati Elina. Dea juga memperkenalkan Elina kepada teman-temannya. Kemurungan Elina dapat sedikit terobati karena sikap cepat tanggap Dea. Namun, di sisi lapangan yang lain, teman-teman gadis satu kelas Elina melihat cemburu ke arah Dea. Perasaan sesak akibat kehilangan teman dan sosok yang dikagumi mereka rasakan.

__ADS_1


Ini semua karena dia! Seandainya Elina tidak mendukungnya ... seandainya dia tidak ada, pasti ... pasti aku yang ada di posisi itu! batin teman-teman gadis satu kelas Elina.


"Pritt!"


Suara peluit kembali terdengar, membuat suasana menjadi hening seketika.


"Pertandingan antara Michel dengan Rigla akan segera dimulai. Michel mendapatkan tiga kali kesempatan untuk menendang bola. Seandainya Rigla dapat menepis satu saja tendangan milik Michel, maka Rigla akan dinyatakan sebagai pemenangnya!" teriak Pak Yudha menjelaskan peraturan.


Sorakan yang menyeru nama Michel kembali terdengar.


Michel yang penuh percaya diri meletakkan bola di atas titik putih.


"Heh," ucap Michel meremehkan Rigla yang masih tampak seperti zombie.


"Akan aku selesaikan ini dengan satu tendangan!" teriak Michel yang membuat penonton semakin menggila.


"MICHEL! MICHEL! MICHEL!"


Ketika nama Michel disorakkan dengan sangat lantang, para pendukung Rigla hanya bisa menyeru nama Rigla di dalam hati. Hingga, Dea dan kelompoknya angkat suara.


"Rigla, kau harus bisa memberinya pelajaran!" teriak Dea.


"Aku mendukungmu, jadi sudah seharusnya kamu menang!" ucap temannya Dea.


"RIGLA! RIGLA! RIGLA!"


Sorakan yang tentu kalah keras dikeluarkan oleh Dea dan teman-temannya. Renatta ikut menyerukan nama Rigla walau sangat-sangat lirih. Elina dan Diego terkejut dengan apa yang Dea dan kelompoknya lakukan. Melihat hal tersebut, keduanya tak ingin kalah.


"RIGLA! RIGLA! RIGLA!" teriak para pendukung Rigla.


"Pritt!"


Peluit yang menandakan bahwa bola sudah boleh ditendang berbunyi.


"HOLY ..." ucap Michel dengan berlari menuju ke arah bola. "... KNIGHT ..." kaki kiri Michel berada tepat di samping bola. Bola terangkat ke langit dan mengeluarkan dua buah sayap malaikat. "... SHOOT!"


Bola langsung turun ke posisi yang sangat pas untuk ditendang oleh Michel. Pancaran sinar cahaya yang menyilaukan mata keluar dari pertemuan kaki kanan MIchel dengan bola.


Bola melesat dan mengeluarkan seorang kesatria suci (bersayap malaikat) penunggang kuda yang melakukan jousting dengan tombaknya. Bola tersebut melesat dengan dahsyat hingga membuat tekanan angin yang cukup kuat hingga membuat pakaian para siswa berkibar.


"Mati kau!" ucap Michel dengan menyeringai percaya diri.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2