
Langit biru membentang dengan awan bergerak pelan bersamanya.
Seorang pemuda berseragam sekolah sedang terlentang di atas tanah miring berumput dengan kaki disilangkan serta kedua tangan dijadikan alas kepala. Memejamkan kedua mata, menikmati embusan pelan yang menenangkan jiwa.
"Oper padaku!"
Terdengar suara anak kecil dengan bersemangat.
Bola ditendang, dioper kepadanya.
"Oke, bersiaplah kalian!"
Anak kecil tersebut berlari menggiring bola, melewati dua-tiga pemain dengan sangat cepat. Kelincahannya membuat teman satu timnya bersorak dan lawannya terkena mental.
"Hentikan dia!" teriak anak kecil lainnya yang menjadi lawan.
"Hihihi, coba saja kalau bisa!" ucap lirih sang anak kecil dengan tertawa kecil. Sang anak kecil kembali dapat melewati dua hadangan dengan mudah, tinggal berhadapan dengan penjaga gawang.
"Terima ini! Star Shoot!" teriak sang anak kecil dengan pose akan menendang bola. Bola melesat dengan cepat, sang penjaga gawang tak bisa berbuat banyak terhadap tendangan tersebut.
Gol tercipta, semua orang bersorak akan tendangan tersebut. Tim lawan yang kebobolan langsung menyalahkan satu sama lain.
"Apa kau tidak bisa menjaganya dengan benar?! Kalian berlima, loh!" bentak anak kecil yang tadi memerintah. Anak kecil lainnya hanya bisa terdiam, nampaknya orang yang memarahi mereka adalah kapten mereka.
Sang pemuda yang sedang menikmati embusan angin, terganggu oleh suara ricuh dari para anak kecil.
"Oi!"
Terdengar suara teriakan seorang pria. Para anak kecil baik yang sedang berselebrasi mau pun berantem, melihat ke arah yang sama. Seorang pria dengan jaket kulit serta kupluk hitam berjalan ke arah para anak kecil.
"A-ada apa?" tanya anak kecil yang tadi mencetak gol.
"Kalian bermain bola, bukan?" ucap pria berkupluk dengan aura yang seolah-olah mau memakan para anak kecil.
Para anak kecil ketakutan, terutama ketika mereka melihat senyuman yang beringas dari sang pria berkupluk. Gemetar sejenak, lalu lari terbirit-birit.
"Haah-hah! Aku cuma bertanya, loh!" ucap kesal sang pria berkupluk yang ditinggalkan sendirian di tengah lapangan.
Ketika sang pria berkupluk sedang kesal, ia melihat seorang pemuda sedang bersantai di atas tanah miring.
"Oi, apa kamu bermain sepak bola?" tanya pria berkupluk dengan lantang.
Sang pemuda mengabaikan teriakan tersebut.
"... aku sedang bertanya paDAMU!" ucap pria berkupluk dengan menendang bola ke arah sang pemuda.
Tanpa membuka mata, sang pemuda menahan bola dengan tangan kanannya, membuat pria berkupluk terkejut. Kerutan di dahi menghilang, berganti dengan sudut bibir yang melebar dan naik. Ia langsung menghampiri sang pemuda.
__ADS_1
"Namaku Diego, Diego Pamungkas! Dari seragammu, kita satu sekolah. Siapa namamu dan aku belum pernah melihatmu ... anak baru, ya?" ucap Diego dengan bersemangat.
Sang pemuda menaruh bola di sampingnya, menaruh tangan kanan sebagai alas kepalanya lagi, dan kembali bersantai tanpa mengacuhkan ajakan berkenalan dari Diego.
Ujung mata Diego berkedut.
"Halo? Ada seseorang yang sedang berbicara denganmu di sini ..." ucap Diego menahan amarahnya. Sang pemuda menghala sedikti napas dan berkata, "Rigla, Rigla Balasti."
"Rigla, ya ... dari caramu menahan bola, ketenanganmu, kamu pasti pemain sepak bola. Apakah kamu mau bergabung dengan klu-" ucap Diego yang dipotong oleh Rigla. "Tidak."
Diego sedikit tersentak mendapatkan penolakan yang begitu cepat, bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. "Kenapa? Kamu punya bakat! Akan sangat disayangkan kalau kamu tidak memanfaatkan bakat itu!"
Rigla hanya terdiam. Meski hanya diam, namun terasa perubahan pada aura tubuhnya. Aura Rigla yang semula tenang berubah menjadi seolah-olah mengatakan "Pergilah, jangan usik aku".
Diego serasa menabrak dinding besi yang tak terlihat ujungnya. Ia termenung sejenak, melihat ke tanah.
Diego menarik napas dalam-dalam, menegakkan kembali tubuhnya, dan menampar kedua pipinya.
"Aku akan menunggmu. Datanglah ke ruang klub kami besok!" ucap Diego dengan bekas tamparan di kedua pipinya.
Setelah merasakan bahwa Diego sudah tidak lagi di sekitarnya, Rigla membuka mata.
"Apa seharusnya bola tadi tak kutangkap ... (?)" ucap lirih Rigla.
Keesokan harinya
Rigla yang datang dengan berjalan kaki, dengan tas yang diselempangkan, melihat sosok yang kemarin menyapanya sedang berdebat dengan sang guru.
"Sudah kuperingatkan berkali-kali, masih saja ngeyel!" bentak sang guru.
"Kan, aku sudah bilang, SIM-ku ketinggalan di rumah!" elak Diego.
"Kau kira aku bodoh?! Kau baru enam belas tahun! Gimana bisa punya SIM?!" ucap sang guru dengan menjitak kepala Diego.
"Oi, sakit!" balas Diego.
"Ai, oi, ai ,oi. Aku ini gurumu! Panggil aku Pak Yudha!" bentak sang guru.
Sementara para siswa dan orang-orang yang ada di sekitar gerbang melihat perdebatan Diego dan pak Yudha, Rigla dengan tak acuh berjalan melewati gerbang.
Melihat Rigla yang sudah melewati gerbang cukup jauh, Diego langsung berteriak memanggil namanya. "Oi, Rigla!"
Sorot mata semua orang, tak terkecuali pak Yudha, langsung menuju ke arah Rigla. Bak puluhan pedang yang diacungkan kearahnya, Rigla hanya bisa terdiam ... dengan kesal.
Bajingan sialan ...! batin Rigla dengan mencengkram kuat tali tasnya.
Anak itu ... aku belum pernah melihatnya. Anak baru, ya ...? Tapi kenapa ... dia bisa kenal dengan si Cerewet satu ini? batin pak Yudha dengan satu tangan memegang dagu.
__ADS_1
"Kau kenal anak itu?" tanya pak Yudha kepada Diego.
"Ya, tentu saja! Dia adalah pemain sepak bola!" teriak Diego dengan lantang dan bangga.
Mendengar ucapan Diego, semua orang langsung memikirkan satu hal yang sama. Pemain sepak bola. Tidak seperti berpuluh tahun yang lalu, julukan pemain sepak bola memiliki derajat yang berbeda. Secara umum, orang yang dijuluki pemain sepak bola terbagi menjadi dua jenis.
Satu, mereka akan menjadi sosok yang bersinar.
Dua, mereka akan diincar, dijatuhkan, dan disingkirkan.
Semua orang menelan ludah, bersikap was-was terhadap sosok Rigla. Mereka langsung berpikir satu hal yang sama, yaitu memasang jarak sama seperti yang mereka lakukan kepada Diego.
"Pemain sepak bola, ya?" ucap pak Yudha dengan menyeringai. "Anak Muda, kemarilah!"
Rigla menghela napas sejenak, membalikkan badan, dan berjalan ke arah gerbang sekolah dengan ditatap sinis oleh orang-orang yang ada di sekitar.
"Kau ... apa kau benar pemain sepak bola?" tanya pak Yudha.
Rigla langsung melirik tajam hingga mengeluarkan aura yang mengatakan "Aku akan membunuhmu" ke arah Diego. Diego memalingkan wajah, bersiul gugup, lepas tangan seolah-olah tak tahu apa-apa.
"Apa kau mendengarku?" tanya pak Yudha.
Rigla kembali menghela napas. "Ya, tapi dulu. Sekarang aku sudah tidak bermain sepak bola lagi."
Jawaban Rigla mengejutkan Diego.
"Kau sudah pensiun?! Di usia segini kau pensiun?!" tanya Diego dengan tidak terima.
Pak Yudha menarik kepala Diego dengan tangan kanannya ke belakang. "Diamlah, aku yang sedang berbicara dengannya."
"Anak muda, siapa namamu?"
"Rigla, Rigla Balasti," jawab Diego dengan berlagak keren.
"Sudah kubilang aku sedang berbicara dengannya!" bentak pak Yudha dengan kembali menjitak Diego. Pak Yudha menarik napas, menenangkan diri.
"Kau pasti ada alasan untuk pensiun, tapi ... bisakah kau pertimbangkan keputusanmu?" tanya pak Yudha.
"Mengapa?" jawab Rigla dengan pertanyaan.
"Sebaiknya kita bicarakan ini sepulang sekolah saja. Datanglah ke ruang klub sepak bola, wahai ...
Pemain Sepak Bola."
---===---
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
__ADS_1
---===---