Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 8 - Hari Pertandingan


__ADS_3

Hari demi hari terus berlanjut. Perlakuan yang diterima oleh Rigla semakin kasar.


Ketika Rigla sedang berada di dalam toilet berbentuk partisi toilet, dari bagian atas partisi air comberan masuk membasahi pakaian Rigla.


Ketika Rigla kembali ke kelas di hari yang hujan, ia menemukan tas beserta isinya, baik kertas garapan esai empat lembarnya maupun buku catatannya sudah basah hingga ketika ditarik akan langsung robek.


Ketika Rigla sedang di kamar mandi (toilet berbentuk cubicle/seperti toilet di mall), dari bagian atas yang tidak tertutup, air comberan mengguyur Rigla hingga ember yang menampung air tersebut ikut dilemparkan ke Rigla.


Ketika berjalan ke kantin, setiap langkahnya selalu ada yang menjegal, mengganggu, atau menepuk (memukul/menjitak) Rigla.


Satu angkatan menjauhi Rigla, hanya Fergie yang tetap setia di sampingnya walau Rigla selalu menjaga jarak untuk sementara waktu. Meski begitu, Fergie tidak mengindahkannya. Ia siap menanggung perlakuan yang sama dengan yang ditanggung oleh Rigla.


Walau begitu, Fergie tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang "sekolah" berikan kepada Rigla.


Fergie yang sempat frustrasi dengan perlakuan yang diterima oleh Rigla. Ia bahkan pernah memprotes keras hingga memukul meja ketika berada di dalam kelas di waktu jam istirahat. Namun, teman satu kelasnya berlagak tidak mendengar apa yang diproteskan oleh Fergie.


Sekalinya ada yang mendengar, malah mencoba untuk mengalihkan topik yang diproteskan oleh Fergie hingga menyuruh Fergie untuk menjauhi Rigla.


Fergie yang jengkel sudah berulang kali meminta Rigla untuk melawan. Bahkan, ia meminta Rigla untuk pindah sekolah.


Namun, seperti biasanya, Rigla selalu menolak dengan tersenyum tipis dan mengelus lembut kepala Fergie.


"Tenanglah, akan ada waktunya." Adalah hal yang selalu Rigla ucapkan kepada Fergie ketika Fergie meminta Rigla untuk "melawan".


***


Hari pertandingan pun tiba. Rigla datang ke sekolah seperti biasa, walau orang-orang di sekitanrya melihat dengan tidak biasa. Ia masih 100 meter dari gerbang sekolah, tapi tatapan sinis penuh ketidaksukaan sudah Rigla rasakan. Pak Yudha yang hari itu bertugas mengecek kerapian dan kelengkapan pakaian siswa serta menjaga gerbang sekolah, meneriaki siswa-siswi yang ada untuk segera masuk.


Rigla menghampiri Pak Yudha dan menyalami Pak Yudha.


"Rigla, hari ini adalah harinya, bukan?" tanya Pak Yudha menepuk bahu kiri Yudha. Rigla mengangguk.


"Michel adalah pemain yang hebat. Seandainya Diego tidak bersekolah di sekolah ini, sudah pasti julukan Ace akan ada pada diri Michel, Berhati-hatilah. Tunjukkanlah kemampuanmu. Sekalian untuk menghilangkan keraguanku tentang dirimu, hahaha." ucap Pak Yudha dengan sedikit bercanda.


Rigla tersenyum tipis dan berjalan menuju ke kelas.


Seperti sebelum memasuki gerbang, tatapan sinis penuh ketidaksenangan ia rasakan baik dari balik jendela kelas, orang-orang yang berkumpul di depan kelas, hingga kakak kelas yang ada di pinggiran pagar lantai atas sekolah.


Rigla yang tak acuh, berjalan dengan biasa saja seperti hari-hari biasanya.


Hingga akhirnya, ketika ia membuka kelas, ia melihat ekspresi berbeda dari teman satu kelasnya.


Sebuah ekspresi yang belum pernah ia lihat selama ia bersekolah di sekolah tersebut. Perpaduan (ekspresi) antara sedih, marah, dan seolah-olah berkata "sudah kubilang!". Seorang siswa dengan kancing atas terbuka serta penampilan "nakal" berlari ke arah Rigla.


Sebuah tinju melayang, dengan telak mengenai pipi kiri Rigla. Rigla terjatuh keluar kelas, membuat orang-orang di lorong terkejut.


"Bajingan! Gara-gara kau, Fergie terkena kesialanmu, kan!" teriak siswa tersebut dengan wajah merah.


Mata Rigla yang menghadap ke bawah melebar sekilas.


"Sudah puas?! Hah?! SUDAH PUAS?! Bajingan kau! Kalau mau susah, ya susah sendiri, Anjing!" bentaknya yang kemudian menendang pipi kanan Rigla.


Rigla tidak terjatuh, namun wajahnya menghadap ke kiri bawah.

__ADS_1


Para siswa yang ada di dalam kelas sebelah langsung berbondong keluar, begitu pula dengan teman satu kelas Rigla. Bisikan-bisikan busuk mulai terdengar dan perlahan memenuhi lorong sekolah.


Bisikan tersebut perlahan-lahan pula berubah menjadi ucapan, lalu teriakan. Teriakan makian terhadap Rigla yang membuat seorang Fergie (yang mayoritas siswa di sekolah tersebut tak tahu siapa itu Fergie) terluka karena Rigla. Mereka menyalahkan Rigla, menjatuhkan mental Rigla. Membuat Rigla seperti seorang Villain di dalam sebuah film.


Rigla perlahan mulai berdiri bak seorang Superhero yang bersimbah darah. Kepalanya masih menunduk, tangannya lemas bergelantungan. Kakinya mencoba mencari keseimbangan, pundaknya membenarkan tali tas.


Ia kemudian berjalan pergi begitu saja. Tentu, hal itu membuat sorakan terhadapnya semakin keras.


"PENGECUT! PENGECUT! PENGECUT!"


"BANCI! BANCI! BANCI!"


"SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH!"


Elina yang ada di dalam kelas, sendirian, hanya bisa gigit jari. Ia kemudian menyatukan kedua telapak tangannya dan berdoa memohon kesalamatan untuk Rigla. Ia berdoa, sebagaimana ia selalu berdoa untuk keselamatan Rigla di hari-hari sebelumnya. Karena ia sadar, hanya berdoa yang bisa ia lakukan.


"Tuhan ... tolonglah Rigla!"


Rigla yang berjalan bak orang sekarat, membuat siswa-siswa di sekitarnya melihatnya dengan heran, menahan tawa, bahkan mengejeknya.


"Lihatlah! Si pincang ini mau ke mana?!" ucap salah seorang siswa yang kemudian diikuti oleh tawa-tawa orang di sekitarnya.


Rigla terus berjalan dengan kedua telinga yang selalu diisi oleh ejekan dan tawa hinaan dari para siswa di sekitarnya.


Bahkan, ketika ia berada di lantai 2, di lantai para kakak kelas berada, jegalan kaki ia dapatkan. Tak hanya sekali, tapi dua puluh kali.


Dan seperti di lantai bawah, ejekan dan tawa hinaan selalui memenuhi kedua telinganya.


***


"Pak Yudha ..." ucap Rigla bak seorang zombie.


Pak Yudha yang sedang mengajar, langsung paham dengan maksud kedatangan Rigla. Pak Yudha menutup spidolnya dan berkata, "Anak-anak, silakan segera menuju ke lapangan utama."


Salah seorang siswa mengangkat tangan dan bertanya, "Ada apa, Pak?"


"Langsung menuju ke lapangan saja," jawab tegas Pak Yudha.


Para siswa yang sudah mengenakan seragam olahraga, mau tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Mereka curiga karena melihat kedatangan Rigla. Mereka ingin menghina Rigla, tapi tak berani karena ada Pak Yudha. Mereka hanya bisa diam dan memberikan tatapan sinis ke arah Rigla.


Begitu kelas sudah kosong, Pak Yudha menghampiri Rigla.


"Tunggu di sini, saya panggilkan Diego. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan kurang seperempat, langsung menuju ke lapangan," ucap Pak Yudha memegang bahu Rigla.


Rigla mengangguk pelan.


Pak Yudha pergi meninggalkan ruangan.


***


Waktu telah menunjukkan pukul 07.40.


Seluruh siswa sudah berada di pinggir lapangan utama yang mana lapangan utama tersebut adalah lapangan sepak bola.

__ADS_1


FYI: Tidak seperti di dunia nyata, lapangan sepak bola yang ada di dunia Era of Footballer, 3 kali lipat lebih luas. Ukuran tiang gawang juga satu setengah kali lebih besar daripada ukuran tiang gawang yang ada di dunia nyata.


Para siswa yang sudah lelah menunggu selama kurang lebih 10 menit, mulai merasa bosan. HP yang menjadi solusi sementara, tidak bisa menangkal sinar matahari yang membuat tubuh para siswa menjadi gerah.


Dan tiba-tiba, terdengar suara terompet bak zaman kerajaan. Para siswa yang khas dengan suara tersebut, langsung melihat ke arah barat lapangan. Dengan menuruni tangga, Michel datang bak seorang kesatria suci yang sedang menunggangi kuda putih. Ia datang dengan gagah, seperti pahlawan yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran. Ia disambut oleh para siswa dengan sorakan bak rakyat yang menyambut kedatangan pangeran mahkota.


Jadi, tinggi dataran antara bangunan sekolah dengan lapangan utama berbeda. Lapangan sekolah lebih rendah sekitar 2,5 meter. Sehingga ada sebuah tangga yang digunakan oleh para siswa untuk turun ke lapangan utama. Di bagian belakang gedung sekolah, terdapat sebuah jalan berbatako.


"MICHEL! MICHEL! MICHEL!" teriak para siswa menyerukan kedatangan Michel dengan penuh semangat.


Melihat kedatangan Michel, membuat para siswa langsung paham dan 100% yakin dengan apa yang akan terjadi. Pertandingan yang sudah menjadi topik hangat selama satu pekan ke belakang, akan segera dilaksanakan.


"AKU BERTARUH UNTUK MICHEL!" teriak salah seorang siswa berambut pirang mengangkat segenggam uang.


"HAH?! KAU PIKIR AKAN ADA YANG BERTARUH UNTUK SAMPAH ITU?!" balas siswa lainnya.


Para siswa yang ada tertawa terbahak-bahak. Mereka mulai membicarakan tentang skor akan berapa puluh kosong. Mereka juga membayangkan tentang bagaimana Rigla akan menderita di lapangan ketika menghadapi Holy Knight Kick milik Michel. Mereka terus tertawa menghina sosok Rigla.


"AKU BERTARUH UNTUK RIGLA!"


Suara teriakan yang tiba-tiba terdengar, membuat hening seluruh siswa yang ada. Secara serentak, mereka melihat ke atas dan melihat sesosok siswi yang terengah-engah. Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak.


"AHAHAHAHA! Tak kusangka seorang Malaikat Sekolah memiliki penglihatan yang buruk!" celetuk salah seorang siswa.


"Ya, Malaikat Sekolah! Mungkin sehabis ini julukanmu harus diganti! Jadi, si Mata Minus!" ejek siswa lainnya.


Di sisi lain, mereka yang benar-benar mengagumi Elina, merasa kecewa dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Elina. Teman-teman satu kelasnya hanya bisa mengelus dada melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Elina.


Tidak apa ... tidak apa, Elina! Kau ... sudah melakukan hal yang benar. Biarkan, biarkan saja mereka menjauhimu. Korbankan saja julukan abal-abalmu. Apanya Malaikat kalau menutup diri dari kebenaran dan kebaikan! baitn Elina membusungkan dada.


"Yah, yah, yah ... aku juga akan bertaruh untuk Rigla," ucap seorang siswa yang datang dari kiri dan tiba-tiba merangkul pundak Elina.


Para siswa kembali terdiam. Tawa yang sebelumnya pecah tiba-tiba terhenti begitu saja. Setelah sebelumnya seorang Malaikat Sekolah, sekarang, siswi yang jadi primadona sekolah sebelum kedatangan Elina, yaitu Dea, mendukung seorang Rigla.


"Yah, daripada mendukung 'kesatria' abal-abal, lebih baik mendukung seorang prajurit asli yang selalu berjuang, ya kan?!" ucap Dea yang tersenyum dengan menaikkan kedua alisnya ke arah Elina.


Elina tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. Dari samping kanan Elina, seorang siswi yang ragu-ragu datang dan berkata lirih serta pelan.


"A-aku juga akan mendukungnya ...!" ucap Renatta dengan malu-malu menutupi wajahnya.


"Kenapa?" tanya lembut Elina.


"Dia ... dia ..." ucap Renatta yang kemudian wajahnya memerah seolah-olah air panas yang baru saja mendidih.


"Yah, dia ada alasannya tersendiri. Sama sepertimu, kan?" ucap Dea kepada Elina. Elina menganggukkan kepalanya. Dea melepaskan rangkulannya, berjalan maju menuruni satu anak tangga.


Ia meregangkan tubuhnya dan berkata, "Sekarang, di mana prajurit pantang menyerah kita?"


---===---


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---

__ADS_1


__ADS_2