
Waktu seperti berhenti seketika. Ekspresi terkejut tak bisa disembunyikan oleh para siswa di dalam kelas tersebut. Mata Rigla sekilas sedikit melebar tatkala mendengar ajakan pertemanan dari sang siswa.
Rigla memejamkan matanya, berdiri, dan mengemas barang bawaannya. "Siapa namamu?"
Sang siswa sedikit ketakutan tatkala mendengar Rigla bertanya padanya. "Fe-Fergie ... Fergie Hitzfield."
Rigla telah selesai mengemas barang-barangnya. Ia menenteng tasnya dengan satu tali tas di pundak kanannya. "Kau sudah tahu akan risiko berteman denganku, bukan?"
Fergie menelan ludah, terdiam sejenak dengan wajah sedikit ketakutan dan ragu-ragu. Namun, ia sudah menetapkan hati dan keyakinannya. Ia menghela napas dan menjawab dengan wajah penuh keyakinan, "Ya!"
Rigla tersenyum tipis. "Kalau begitu, baiklah. Namaku Rigla, Rigla Balasti. Senang bertemu denganmu, Fergie," ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Fergie tersenyum lega dan kemudian menjabat tangan Rigla. "Tunggu sebentar, aku ambil tasku dulu." Fergie berjalan tergesa-gesa menuju ke kursinya, mengambil tasnya dengan penuh semangat, dan lari kecil mengejar Rigla yang sedang menunggunya.
Ketika keduanya hendak keluar dari kelas, tiba-tiba seorang siswa menutup pintu dengan keras. Siswa berkacamata dengan rambut belah tengah, yang merupakan salah satu teman satu kelas Rigla, memasang wajah kesal. Ia menatap tajam Fergie hingga membuat Fergie sedikit ketakutan.
"Kau ... apa kau bodoh?" tanya siswa tersebut. "Kalau kau hanya butuh teman ... maka orang-orang di kelas ini adalah temanmu, atau mereka bisa jadi temanmu. Kau ... kalau kau berteman dengannya ... maka kau akan bernasib sama dengannya!"
Entah apa penyebabnya, namun anak itu terlihat jelas sedang menghasut agar Fergie tidak berteman dengan Rigla. Rigla merangkul Fergi dan membisikkan sesuatu.
Melihat dua orang di hadapannya berbisik tanpa mengajaknya, sang anak semakin kesal. "Kau! Anak sepak bola! Cukup dirimu saja yang dikucilkan, dijauhi, ditindas! Jangan ajak anak lainnya untuk bernasib sama sepertimu!"
Ucapan sang anak mendapat dukungan tidak langsung dari siswa-siswa yang ada di kelas tersebut. Wajah mereka seolah-olah mengatakan keyakinan bahwa Fergie telah dicuci otak oleh Rigla.
"Benar! Jangan ajak Fergi menderita bersamamu!"
"Ya! Kalau mau mati, mati sendirian saja!"
Sorakan demi sorakan dilontarkan kepada Rigla. Fergie yang tidak terima teman barunya direndahkan, memasang badan. Ia berdiri tegap menghadap ke teman-teman sekelasnya, melebarkan kedua tangannya ke samping.
"Diamlah!" teriak Fergie menghadap ke bawah dan menutup kedua matanya.
"Ada banyak yang ingin kukatakan ..." ucap Fergie membuka matanya. " ... tapi semua akan sia-sia jikalau aku mengatakannya."
Rigla menyentuh kepala atas Fergie dan mengusapnya. "Ayo," ucap Rigla yang kemudian berjalan menuju ke pintu kelas.
Sudut bibir Fergie terangkat, ia membenarkan posisi tasnya, dan berjalan mengikuti Rigla dari belakang.
__ADS_1
Keduanya melewati si anak berkacamata. Sang anak hanya bisa terdiam tatkala Rigla melewatinya. Namun, ketika Fergie akan melewatinya, ia membisikkan sesuatu.
"Anak lemah sepertimu, tidak pantas untuk berlagak kuat."
Ucapan tersebut membuat Fergie kesal sekaligus murung. Ia bahkan menghentikan langkahnya sejenak. Namun, ia kembali mengingat ucapan Rigla dan keputusannya. Ia menegapkan tubuhnya dan membenarkan posisi tasnya, berjalan melewati sang anak dengan wajah lurus ke depan.
Pintu ditutup dari luar.
***
Di depan ruang klub sepak bola, Fergie terlihat cukup gugup. Rigla tersenyum santai sembari berkata, "Tenanglah, di dalam sini masih sepi. Kau tidak perlu gugup akan sesuatu."
Fergie melihat ke arah Rigla dan tersenyum. Ia menepuk kedua pipinya dan berkata, "Yosh ... baiklah!"
Melihat Fergie yang sudah siap, Rigla membuka pintu.
Ketika Rigla akan membuka pintu, bayangan Fergie dipenuhi tentang ruang sepak bola yang ia lihat di internet. Mulai dari ruang ganti tim sepak bola internasional, ruang olahraga yang ada di film-film barat, ruang olahraga yang ada di sekolah-sekolah elit, sampai ruang sepak bola di anime Inazuma Eleven.
Seperti apa ... seperti apa ruangan sepak bola sekolah ini, ya?! batin Fergie dengan penuh semangat.
. . .
Terdiam, membeku, mematung. Ruangan kotor yang ada di hadapannya, benar-benar menghancurkan ekspetasinya, ekspetasi seorang pemuda yang menggilai sepak bola.
"Uhm ... Rigla ..." ucap Fergie dengan tersenyum kaku.
"Aku tahu," jawab singkat Rigla.
Senyuman kaku Fergie seolah sudah terpahat di wajahnya. Tubuh luarnya tersenyum kaku sementara jiwanya berteriak menyesal bergabung.
Ruangan apa ini?! Sarang laba-laba! Debu tebal! Bahkan ... jamur?! Sejak kapan ruang suatu kegiatan kesehatan bisa se ... sebusuk ini?!
Meski di dalam dirinya terus berteriak kesal, namun bagian luar tubuhnya terus mencoba untuk tenang.
"Tidak sesuai ekspetasimu, bukan?" ucap Rigla tanpa melihat ke Fergie.
Fergie yang tidak ingin menyinggung perasaan Rigla tersenyum kaku dan menjawab, "Bu-bukan begitu, Rigla ..."
__ADS_1
Rigla memasuki ruang sepak bola, Fergie melihat Rigla dengan tidak enak. Ia takut Rigla tersinggung atas sikapnya.
Fergie memasuki ruang sepak bola secara perlahan-lahan. Kakinya telah menginjak lantai terluar ruangan, kepalanya perlahan namun pasti, mulai memasuki ruang sepak bola. Ia melihat pelan ke atas dan samping. Kotor, adalah kata yang selalu keluar tiap kali ia memandang ke penjuru ruangan.
"Mulai hari ini, ruangan ini adalah milikmu juga, jadi ... kau bebas ingin melakukan apa terhadap ruangan ini," ucap Rigla dengan tersenyum tipis.
Mendengar "izin" dari Rigla, membuat Fergie bersemangat. Fergie pergi secepat kilat, meninggalkan Rigla di dalam ruangan tersebut sendirian dengan sedikit kebingungan. Namun, ia sudah menebak tentang apa yang akan Fergie lakukan.
Berada di ruangan tersebut sendirian, membuat Rigla teringat dengan masa-masa ketika ia masih sangat senang bermain sepak bola. Poster yang tertempel di dinding mengingatkannya akan dirinya dahulu, ketika sangat berambisi mengikuti kompetisi nasioanl. Bola yang kotor mengingatkannya tentang laithan keras ia dan temannya dahulu.
Ketika sedang bernostalgia dengan senyum tipis, suara tapakan kaki terdengar olehnya.
"Oh, oh, oh ... lihat siapa yang kita temukan di sini ..." ucap Michel yang itba bersama gerombolannya.
Rigla tidak menoleh, kedua tangannya masih di dalam kantung celananya. Diacuhkan, membuat Michel merasa terhina. Kekesalannya ia tutupi dengan senyum percaya diri.
"Apa yang kaulakukan di tempat ini, Rig ... Rig ... Rig ... ah, nama yang jelek lagi susah, hahaha!" ucap Michel berpura-pura lupa dengan nama yang ada di hadapannya. Gerombolan Michel tertawa, lebih tepatnya menertawai Rigla.
"Yah, kutu kecil sepertimu memang harus berlatih ... walaupun hasil akhir tetaplah sama, setidaknya ada sedikit effort yang bisa kaulakukan. Mungkin setelah latihan, yang harusnya menatap tanah 100 kali jadi cuma 99 kali (?)" ucap Michel yang diikuti dengan tawanya serta gerombolannya.
Michel dan gerombolannya meninggalkan ruangan sembari tertawa terbahak-bahak. Bahkan, beberapa dari gerombolan Michel melempari Rigla dengan botol kosong, kotak minum yang tadinya sedang diminum, sampai bola kotor yang tergeletak di dekat pintu masuk.
Dari kejauhan, Fergie yang sudah membawa peralatan bersih-bersih bahkan mengenakan penutup kepala serta masker, melihat Michel dan gerombolannya pergi meninggalkan ruang sepak bola. Ia gemetar tak berani mendekat walaupun ia bisa memprediksi apa yang terjadi di dalam ruang sepak bola.
Setelah Michel dan gerombolannya tak terlihat lagi, Fergie berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang sepak bola. Ia dibuat terkejut dengan bagian belakang tubuh Rigla.
"Oh, Fergie, ya ... maaf malah menambah tugasmu," ucap Rigla mengibas-ngibaskan baju seragamnya. Fergie tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa terdiam syok dengan mata melotot dan mulut ternganga.
"Aku baru ingat kalau ada Bu Dinda memanggilku. Aku akan segera kembali, kalau ada apa-apa, langsung panggil aku," ucap Rigla yang kemudian mengenakan kembali bajunya.
Rigla tersenyum tipis dan memegang kepala bagian atas Fergie. "Satu hal lagi, jangan beritahu siapa pun soal yang baru saja kaulihat. Tolong, ya." Kemudian mengusap pelan dan pergi meninggalkan Fergie dengan pakaian dan perlatan bersih-bersihnya.
---===---
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---
__ADS_1