Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 3 - Bergabunglah!


__ADS_3

Tanpa banyak bicara dan belajar dari kesalah sebelumnya, Diego langsung merangkul leher Rigla dan menyeretnya menuju ke suatu tempat.


"Lepaskan, Bodoh! Tenang, tenang ... aku akan ikut!" bentak Rigla.


"Ti~dak! Aku sudah belajar dari kesalahanku sebelumnya. Kalau aku mengalihkan pandanganku darimu sedetik saja, kau pasti akan menghilang!" balas Diego dengan menguatkan cengkramannya.


Orang-orang di sekitar melihat mereka kedua dengan pandangan aneh. Mereka gay? pikir semua orang.


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di depan sebuah ruangan dengan luas 35 meter berbentuk persegi panjang. Di samping pintu ruangan tersebut, terdapat papan nama yang bertuliskan "Klub Sepak Bola".


Diego menggeser pintu tersebut dengan bersemangat. "Pelatih, aku sudah bawa orangnya!"


Rigla menghela napas berat, menunjukkan ketidaksenangannya. Ia bahkan tidak melihat ke arah ruang klub, matanya dipejamkan dengan wajah mengarah ke samping-bawah.


"Kalian berdua duduklah," ucap pak Yudha yang duduk di sebuah kursi kosong.


Diego melepaskan rangkulannya; Rigla berdiri dengan tegap, membenarkan dasi dan merapikan pakaiannya. Rigla masih belum membuka matanya.


"Ada apa?" tanya pak Yudha melihat Rigla masih berdiri terdiam.


Rigla menghela napas, membuka mata, dan duduk di samping Diego.


Ruangan tersebut tidak terlalu besar, hanya berisi peralatan sepak bola dengan dua bangku di tengah ruangan yang sekarang sedang diduduki oleh Rigla dan Diego. Di sisi kanan dan kiri ruangan tersebut terdapat loker yang masing-masing berjumlah delapan. Di tengah ujung ruangan tersebut, terdapat peralatan sepak bola mulai dari bola, cone, ground disc, papan taktik, dan rompi berwarna biru dan merah.


Kotornya ruangan tersebut, menunjukkan dengan mudah seberapa jarang digunakan dan tak terawatnya ruangan tersebut.


"Aku tidak akan bertele-tele, aku tidak tahu apa yang membuatmu tidak ingin bermain sepak bola lagi. Namun, aku ingin kau bermain untuk klub sepak bola sekolah ini," ucap pak Yudha dengan tangan di silangkan.


Rigla sedikit memicingkan mata, merasakan ada sesuatu yang disembunyikan. "Alasannya?"


Diego sedikit terkejut mendengar jawaban Rigla. Namun, senyum di wajahnya tak bisa ia sembunyikan.


"Dua alasan utama: potensimu dan sekolah," jawab pak Yudha.


"Sekolah? Aku baru masuk dan mengapa hal sebesar itu menjadi tanggung jawabku?" tanya Rigla.

__ADS_1


"Karena kau memiliki kekuatan untuk mengemban tanggung jawab itu," jawab pak Yudha dengan mata sedikit berkaca-kaca.


Rigla kembali tambah curiga. Ekspresi yang seolah-olah mengatakan "Tolong" itu, membuat kecurigaannya makin besar. "Jikalau dari awal kau tak bisa jujur, maka, bagaimana mungkin aku bisa bermain sepak bola dengan sepenuh hati?"


Ucapan Rigla menampar keras pak Yudha dan Diego. Keduanya menghadap ke tanah dengan keringat dingin perlahan mengalir dari pelipis mereka. Ekspresi yang ingin mengatakan segalanya dengan jujur tapi tak bisa, membuat mereka hanya bisa mengepalkan tangan dengan sangat kuat.


Pak Yudha menghela napas, secara perlahan melemaskan kepalan tangannya. "Aku belum bisa menjawab pertanyaanmu itu sekarang, tapi ... suatu saat nanti, entah dariku atau kau sendiri akan menemukan jawabannya."


Tatapan tegas pak Yudha membuat Rigla semakin curiga dengan motif tersembunyi dari ajakan pak Yudha dan Diego. Namun, dirinya mengetahui satu hal yang pasti, bahwa dua orang yang ada di dekatnya saat ini bukanlah orang jahat.


"Satu pertanyaan terakhir."


Pak Yudha dan Diego secara sekilas melebarkan kedua matanya.


"Apa yang harus aku lakukan ketika sudah bergabung dengan klub ini?"


Pak Yudha dan Diego saling melihat satu sama lain dan menganggukkan kepala. Pak Yudha mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata, "Menjuarai turnamen."


Rigla langsung paham tentang turnamen yang dimaksud oleh pak Yudha. Turnamen terbesar di tingkat sekolah, turnamen yang mempertemukan banyak sekolah hebat dari seluruh penjuru negeri, turnamen yang dinanti-natikan setiap tahunnya oleh semua orang.


Rigla terdiam sejenak, memejamkan kedua matanya dengan tangan disilangkan. Kepalanya sedikit melihat ke bawah seolah-olah sedang berpikir keras.


Ucapan singkat penuh makna tersebut, membuat Diego senang hingga berteriak mengangkat kedua tangannya. Mata lebar pak Yudha menunjukkan seberapa terkejut dan senangnya. Bahkan bendungan air mata seolah-olah akan pecah saat itu juga. Pak Yudha menghela napas lega.


"Baiklah, kamu seorang kiper, bukan?" tanya Diego dengan menunjuk Rigla. Rigla mengangguk. "Sepulang sekolah, datanglah ke lapangan dua! Akan kuperkanalkan kau dengan anggota lainnya!"


***


Waktu telah berlalu, mata pelajaran silih berganti. Semua orang sibuk entah mengobrol, belajar, memperhatikan guru, memperhatikan Elina, atau yang lainnya. Begitu pula dengan Rigla yang sibuk menatap langit biru dengan berbagai spekulasi di kepalanya.


"Mengapa pak Yudha ngotot menyuruhnya bergabung dengan klub?"


"Mengapa saat itu pak Yudha dan Diego keringat dingin?"


"Apa yang keduanya sembunyikan?"

__ADS_1


Dan berbagai pertanyaan lainnya terus-menerus datang ke dalam pikirannya. Ia mencoba mencari secercah petunjuk, namun ia tak kunjung mendapatkannya. Langit yang kala itu tak berawan, seolah-olah mengejek isi kepalanya yang penuh dengan awan kebingungan.


"Oi, apa kau mendengarku?!"


Terdengar suara seorang pria mengetuk-ngetuk meja Rigla. Rigla yang baru sadar bahwa ada orang yang memanggilnya, menoleh secara perlahan.


Dak! Pukulan melayang tepat di pipi kanan Rigla, membuat dirinya hampir kursinya bergoyang hingga hampir menjatuhkan dirinya.


"Ardha, benar ini anak yang kaumaksud?" tanya seorang pria dengan suara yang lebih berat.


"Ya ... tak salah lagi. Aura sombong ini ... gaya selangit ini ... tak salah lagi, ini anaknya!" ucap Ardha dengan mendorong kursi yang diduduki Rigla dengan kaki kanannya.


Rigla terjatuh, membuat seisi kelas yang sejak tadi membisu, sedikit bergerak. Pria dengan suara yang lebih berat memberi lirikan tajam ke seisi kelas, membuat seluruh siswa di kelas tersebut tak ada yang berani melihat, apalagi menolong Rigla.


Rigla tersungkur di lantai kelas dengan postur seperti orang tidur menghadap ke samping.


"Oi, oi, oi! Mana kesombonganmu tadi?!" bentak Ardha dengan menendang-nendang Rigla.


Rigla tak tahu siapa yang mengganggunya, tapi ia tahu berapa orang yang ada di hadapannya.


Di belakang Ardha, Pria dengan suara lebih berat berbisik kepada salah satu bawahannya. Bawahan tersebut mengangguk dan berjalan cepat ke arah salah satu siswa.


"Lepaskan!" teriak Elina yang ditarik paksa oleh bawahan pria bersuara lebih berat.


Elina digeret paksa oleh si bawahan. Sudah mencoba memukul tangan si bawahan, tapi kekuatan yang berbeda jauh, membuatnya tak bisa berbuat banyak.


Setelah sampai di hadapan pria bersuara berat, kedua tangan Elina dilebarkan dan ditahan oleh dua bawahan pria bersuara berat. Wajah mesum dengan lidah yang berputar dari ujung bibir kanan ke ujung bibir kiri, membuat Elina ketakutan sekaligus jijik.


"Jadi ... ini si Malaikat Sekolah? Uh ... julukan yang memang pantas ..." ucap pria bersuara berat ke dekat telinga Elina.


Elina semakin merinding. Seisi kelas menjadi sangat geram. Pertama Rigla, sekarang Elina. Namun lagi-lagi, lirikan tajam si pria bersuara berat membuat seisi kelas tak bisa melawan dan hanya bisa memupuk amarah.


"Namaku Michel, Michel Bernadius ..." ucap Michel dengan senyum napsu penuh niat buruk.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2