
Bel tanda istirahat berbunyi.
Rigla dengan sigap langsung berdiri, menarik mundur kursinya lalu mendorongnya kembali. Rigla yang biasanya berdiam diri di dalam kelas, tiba-tiba membuat pergerakan tepat di saat bel berbunyi. Hal ini tentu membuat teman-teman satu kelasnya merasa bingung.
Tek tek, ngiiingggggg ...
Suara speaker yang berdekatan dengan mic membuat telinga seisi sekolah berdenging.
Para guru yang ada di ruang guru langsung ribut membahas tentang siapa yang menyalakan speaker secara tiba-tiba.
"... apa ini sudah nyala?" tanya Diego samar-samar berbicara kepada seseorang melalui speaker sekolah.
Anak itu ... batin Rigla yang baru membuka pintu kelas dengan wajah datar menahan malu.
"... oh, oke-oke, aku paham. Ekhem ..." ucap Diego yang masih samar-samar.
Seisi sekolah memasang telinga, mencoba mendengar apa yang diucapkan oleh Diego secara samar-samar. Mereka juga mulai berbicara satu sama lain mengenai apa yang sedang terjadi.
"SELAMAT PAGI SEMUANYA!!" teriak dengan sangat lantang Diego hingga membuat bangunan sekolah melompat terkejut.
Semua orang menutupi telinga mereka dengan sekuat tenaga, tak sedikit yang "terjatuh" pingsan akibat terkejut mendengar teriakan tersebut.
"Perkenalkan semuanya, aku Diego, dari klub Sepak Bola ..." ucap Diego yang kemudian terdengar suara seorang guru yang marah-marah secara samar-samar. Sang guru mencoba mendobrak masuk ruang penyiaran yang oleh Diego telah dikunci dari dalam.
"Yah, karena tidak ada banyak waktu, aku akan langsung ke intinya saja ..." ucap Diego. Diego menarik napas dalam-dalam.
"Klub Sepak Bola sedang membuka perekrutan anggota baru! Bagi kalian yang ingin bergabung, silakan menemuiku!" ucap Diego. "... karena aku tahu kalian takut untuk menemui Rigla, ahahahaha!" sambungnya dengan suara yang lebih lirih.
Ucapan terusan tersebut membuat dahi Rigla berkedut.
"Yosh, atas perhatiannya aku ucapkan terima kasih. Aku tungg-!" ucap Diego yang terpotong oleh pintu yang terbuka dengan paksa.
"DIEGO!" teriak sang guru dengan wajah sepanas air mendidih.
"Eh, selamat pagi, Pak ... bapak mau berbicara juga?" ucap Diego yang membelakangi mic.
Suara gaduh terdengar dari speaker. Mic terjatuh hingga membuat suara melengking yang membuat telinga
semua orang seperti tertusuk sebuah jarum.
Hah ... sekarang, apa yang harus aku lakukan ...? batin
Rigla tersenyum tipis dan menghela napas.
__ADS_1
***
Waktu pulang sekolah telah tiba. Rigla yang sedang berjalan menuju ke ruang klub, melihat Diego yang sedang
duduk di depan ruang klub dengan meja pendaftaran di depannya. Membusungkan dada dengan tersenyum lebar, matanya berkilau siap menyambut kedatangan calon anggota baru.
"Oh, Rigla! Kemarlihan, aku sudah menyiapkan tempat duduk untukmu!" ucap Diego melambaikan tangan dengan tangan yang satunya menepuk-nepuk dudukan kursi.
Rigla memberi tos kepalan tangan kepada Diego, lalu menaruh tasnya di samping kursinya.
"Jadi, sudah dapat berapa anggota?" tanya Rigla yang langsung membuat Diego sedikit terkejut dan kemudian tersenyum pucat. "Yah ... aku yang salah bertanya ...."
Sepuluh menit berlalu, suasana hening terus menyelimuti mereka. Ruang klub yang berada di posisi "terpencil", membuat suasana hening menjadi semakin menjadi-jadi.
"Diego, apakah menurutmu kita bisa mendapatkan anggota yang cukup?" tanya Rigla.
"Tentu! Tentu saja!" jawab cepat Diego dengan pandangan yang bergeming lurus ke depan.
"Secara realistis?" tanya Rigla.
Mulut Diego kaku tak bisa berucap.
"Apakah tindakanku kemarin itu salah ...?" ucap Rigla menatap ke langit. "Seandainya aku tahu kita akan seperti ini ... aku tidak akan melakukan hal se-ekstrem kemarin,"
"Jangan salahkan dirimu. Bukankah kau tahu sendiri realitanya seperti apa?" balas Diego dengan mata yang menunjukkan kesedihannya terhadap sepak bola saat ini.
jurang terdalam dunia olahraga ... bukankah begitu maksudmu?" ucap Rigla.
Diego menganggukkan kepala.
"Mungkin terdengar munafik, terdengar kekanak-kanakan. Tapi, aku ingin mengubah hal itu. Aku ingin membuat sepak bola menjadi olahraga yang dicintai, dianggap oleh semua orang! Dan untuk meraih mimpi itu, yang pertama harus aku lakukan adalah membuat sepak bola dianggap di sekolah ini!"
"Lalu, aku, bersamamu dan tim kita nanti ... akan mengikuti kompetisi sepak bola. Sebuah kompetisi yang ..." ucap Diego yang kemudian menggemeratakkan giginya kesal.
Rigla melirik ke arah Diego. Ia melihat Diego seperti sedang menahan amarahnya.
Rigla kembali melihat ke langit. Ia yang mengerti maksud dan apa alasan di balik amarah Diego hanya bisa terdiam.
Ketika kami memutuskan untuk membuat klub, kami sudah tahu apa yang akan kami hadapi. Namun, anggota lainnya belum tentu. Semoga saja para anggota barunya memiliki mental yang cukup kuat untuk menghadapi kejamnya dunia sepak bola nanti, batin Rigla dengan sedikit memicingkan mata.
Tiga puluh menit berlalu, Rigla tertidur dengan menyilangkan mata sementara Diego tertidur dengan meja dijadikan alas kepalanya.
"A-" ucap seseorang dengan nada gemetar.
Rigla seketika membuka matanya.
__ADS_1
"Apa kau ... berminat untuk bergabung? tanya Rigla dengan tatapan tajam (karena baru bangun).
Tatapan tajam Rigla membuat orang yang ada di hadapannya ketakutan.
"Y-ya ... se-setelah melihatmu kemarin ... aku jadi termotivasi untuk ... mengembangkan Novisku ..." jawab sang siswa dengan gugup menyentuh-nyentuhkan ujung jari telunjuk kedua tangannya.
"Begitu, kah ... kalau begitu, ini formulirnya. Kau bisa mengisinya sekarang, atau kalau masih ragu, besok kembalilah," ucap Rigla mengambil selembar formulir dan memberikannya kepada siswa yang ada di hadapannya.
Sang siswa gemetaran menerima formulir yang disodorkan oleh Rigla.
"Namamu siapa?" tanya Rigla.
"Ha-Hamka ... Aditya Hamka ..." jawab Hamka dengan tersenyum.
"Aku Rigla, Rigla Balasti. Senang bertemu denganmu." Rigla tersenyum mengulurkan tangan. Hamka perlahan namun pasti, menjabat tangan Rigla. Ia kemudian tersenyum, lalu bernapas lega.
Setelah selesai berjabat tangan, Hamka berniat untuk langsung mengisi formulir yang diberikan oleh Rigla. Namun, ia terlihat bingung mencari tempat untuk dijadikan alas menulisnya.
Rigla tiba-tiba menepuk kepala belakang Diego dengan keras hingga membuat Diego terbangun. Diego reflek berdiri dan memasang kuda-kuda dengan orang yang ada di hadapannya.
"Apa maumu, oi?!" bentak Diego yang mengigau dan melantur.
"Kau bilang mereka takut kepadaku, tapi kau sendiri yang menantang mereka. Orang yang ada di hadapanmu namanya Diego, dia baru saja bangun jadi ya ... mohon dimaklumi," ucap Rigla.
"Oi, Rigla! Apa maksudmu?! Kenapa orang ini memegang formulir ... orang ini memegang formulir ... formulir? Eh," ucap Diego yang baru sadar. "OHH! YA, YA! MAAFKAN AKU YANG MASIH MENGANTUK! Ahahaha! Silakan, silakan. Butuh apa? Pulpen, pensil, penghapus, penggaris, jangka, spidol? Katakan saja! Ahahaha!" sambungnya yang sudah terbangun sepenuhnya.
Hamka hanya bisa tertawa kaku.
***
Setelah selesai mengisi formulir, Hamka izin pamit karena sudah dijemput. Diego berpesan agar Hamka datang ke klub besok sepulang sekolah. Hamka dengan semangat dan percaya diri menjawab pesan tersebut, "Ya, akan aku usahakan!"
Hamka berlari meninggalkan Rigla dan Diego.
Diego mengambil lembar formulir Hamka dan dengan kedua tangannya, ia angkat seperti seorang kapten mengangkat sebuah piala.
"RIGLAA! Sudah kubilang, bukan?! Akan ada yang bergabung dengan kita!"
Rigla tersenyum dan menjawab, "Ya ... meski begitu kita baru bertiga."
Dek ... Diego seperti berubah menjadi patung dan kemudian retak.
"Kau ... memang tidak bisa membaca suasana seseorang, ya ..." ucap datar Diego.
---===---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---