Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 2 - Perhatian


__ADS_3

"Baik, Anak-anak. Silakan dicatat lalu kerjakan tugas pada halaman 5," ucap guru wanita berdiri di depan kelas.


Sekolah baru masuk satu pekan, namun tugas sudah mulai menghampiri. Para siswa yang berekspetasi bahwa pada setidaknya satu pekan awal akan dapat "bersantai", terbunuh oleh ekspetasi mereka. Ingin mengeluh, tapi guru yang di hadapan mereka memiliki aura "guru killer".


Jegrek, suara kursi didorong ke belakang. Seorang siswi berdiri dan berjalan ke arah sang guru wanita yang duduk di meja guru. Berjalan dengan tegap, anggun, cantik, dan memiliki sorot mata yang menunjukkan bahwa ia adalah wanita kuat.


"Oh, jadi kamu yang namanya Elina. Hm, bagus-bagus ... sesuai yang diharapkan dari peringkat pertama," ucap sang guru wanita.


Elina Garini, adalah seorang siswi yang masuk ke sekolah melalui jalur prestasi. Namanya sudah dikenal sejak SD berkat puluhan medali yang ia raih dalam bidang akademis. Tak seorang pun di kelas yang tak mengenal namanya ... kecuali Rigla.


Rigla menatap ke luar jendela, melihat ke langit biru dengan dua burung merpati terbang.


Dari kejauhan, seorang gadis menatap Rigla dengan tidak senang. Gadis itu adalah Elina. Elina merupakan gadis yang selalu ingin diperhatikan oleh semua orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang akan selalu memperhatikannya, bahkan ketika ia berjalan di tengah keramaian, orang-orang akan langsung membuka jalan untuk mempersilakan dirinya berjalan bak di atas karpet merah.


Ketika ada seonggok daging yang tak memperhatikannya, bahkan terhitung mengacuhkannya, bagaimana mungkin ia bisa tenang?


Siapa anak itu? Berani-beraninya ia mengacuhkanku?! Aku sedang diberi pujian, loh! Sedang diperhatikan semua orang! Mengapa bisa kau mengacuhkanku begitu?! batin Elina. Elina kemudian melihat ke arah Rigla melihat. Dua ekor burung? Aku ... kalah dari dua ekor burung?!


Sang guru mempersilakan Elina kembali ke tempat duduknya. Elina yang sempat melamun, mengedipkan mata dan memberi senyum halus kepada sang guru yang mana senyum tersebut membuat hati sang guru luluh.


Seorang malaikat ... apa dewi, ya? Yah, antara dua itu ... memberikan senyumannya kepadaku, batin sang guru.


Semua orang di kelas lagi-lagi terhipnotis hanya melalui jalannya seorang Elina. Namun lagi-lagi, seorang siswa acuh terhadap seorang Elina.


"Oi, dia sangat cantik, bukan?" bisik seorang siswa laki-laki kepada temannya.


"Ya! Wajahnya, tubuhnya ... sempurna!" balas bisik temannya.


Semua orang langsung berbisik, membicarakan tentang sosok Elina.


"Betapa beruntungnya diriku bisa satu kelas dengan sang Malaikat Sekolah, Elina" adalah apa yang muncul di benak setiap siswa yang ada di kelas. Dan, apa yang muncul pula di benak Elina.


Pujilah aku, perhatikan aku! Curahkan seluruh hati kalian kepadaku! batin Elina. Elina tersenyum tipis dan mengibaskan rambutnya.


Semua orang secara serentak berkata "Wah ...!" dengan kedua bola mata yang berubah bentuk menjadi hati. Elina menyeringai dan berkata dalam hatinya, "Sekarang ... kau pasti sudah memperhatikanku, bukan?" dan melirik ke arah Rigla.


Rigla ... tidur di dalam kelas. Elina membatu, retakan muncul dari ujung kepalanya. Menghancurkan harga dirinya yang begitu tinggi.

__ADS_1


Anak sialan!! batin Elina dengan mata yang terbakar oleh api kekesalan.


Kriing! Suara bel penanda waktu istirahat berbunyi. Seperti hari-hari sebelumnya, semua orang langsung berlari menghampiri Elina, entah untuk mengajak makan; sekadar mengobrol; ingin melakukan PDKT; atau bahkan mencari nama dan kedudukan.


Elina mendapatkan apa yang menurutnya ia seharusnya dapatkan. Pujian-pujian yang ditujukan kepada dirinya seolah-olah adalah bulu-bulu dari sayapnya. Sebuah sayap yang terus dikepakkan hingga membuatnya terbang ke langit ke-7. Namun, geledek ketidakacuhan seorang Rigla menghanguskan bulu-bulu sayapnya.


Lagi-lagi anak itu ...! batin Elina kesal namun mencoba tetap tersenyum tenang kepada orang-orang yang mengelilinginya.


Rigla berdiri dari kursinya dan berjalan keluar kelas dengan kedua tangan dimasukkan ke kantung celananya. Merilekskan leher hingga terdengar bunyi seperti tulang yang dipatahkan.


Wanita yang merepotkan, batin Rigla menutup pintu dari luar.


Keadaan lorong kelas sangatlah ramai. Orang-orang memenuhi pintu depan dan jendela kelas, berlomba-lomba mendapatkan posisi terbaik untuk dapat melihat sang Malaikat Sekolah.


Tek~


"Minggir! Pakai matamu kalau jalan!" bentak seorang siswa laki-laki yang berlari dan menyenggol Rigla.


Rigla tak acuh. Tanpa memalingkan wajah sedikit pun, bahkan tak ada lirikan mata, ia melanjutkan jalannya.


Siswa yang menyenggol Rigla memiliki penampilan khas preman sekolah abal-abal. Memiliki wajah anak biasa, namun ingin terlihat nakal.


Seperti biasa, Rigla tak acuh. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya yang menatapnya dengan tidak mengenakkan.


Melihat dirinya diacuhkan, orang yang disenggol Rigla menjadi murka. Ia menggertakkan giginya dan berjalan penuh amarah mengejar Rigla. Dengan tangan kanan yang diangkat dan siap memukul, ia berteriak, "Bajingan sialan!"


Tep~


"Apa maksudmu, Bajingan Sialan ...?"


Suara yang khas terdengar dari belakang diri orang yang menyenggol Rigla. Setiap siswa kelas dua dan tiga sudah pasti kenal dengan suara tersebut.


"Di-Diego ...!" ucap orang yang menyenggol Rigla dengan sedikit gagap, tapi tetap ingin terlihat berani.


Diego memberi isyarat melalui gerak kepalanya agar orang yang menyenggol Rigla menyingkir dari hadapannya.


"Atau apa?!" tantang orang yang menyenggol Rigla.

__ADS_1


Diego memberikan pelototan tajam. Sebuah sorot mata yang siap membunuh orang yang ada di hadapannya. Aura hitam keluar dari sekitar tubuh Diego. Para siswa yang ada di sekitar tempat kejadian, langsung lari ketakutan.


Diego menenangkan diri walau tatapannya masih sangat tajam. Aura hitam di sekitar tubuhnya menghilang. Orang yang menyenggol Rigla gemetar ketakutan, tapi harga diri yang begitu tinggi membuat dirinya masih bisa berkata-kata.


"Cih, pemain bola sialan," ucap lirih orang yang menyenggol Rigla dan pergi dari hadapan Diego.


Setelah orang yang menyenggol Rigla sudah pergi dari hadapannya, Diego berniat untuk menyapa Rigla dan mengajaknya ke ruang klub sepak bola.


"Ah, Rigla ..." ucap Diego yang kehilangan Rigla. "Ke mana kau, oi?!" sambungnya dengan frustrasi.


Di depan sebuah mesin penjual minuman otomatis, Rigla sedang berpikir tentang minuman apa yang ia minati.


Susu, kah ...? batin Rigla dengan ujung jari telunjuk yang berjarak dua centimeter dari tombol susu.


Dak!


Sebuah bola datang menghantam mesin penjual minuman otomatis, membuat mesin tersebut error dan mengeluarkan bunyi yang menandakan sebuah minuman telah dipilih. Rigla menghela napas, hanya bisa pasrah akan minuman apa yang ia dapatkan.


"Ma-maaf!" ucap seorang laki-laki dengan membungkukkan badan.


Rigla yang tak acuh, mendiamkan laki-laki tersebut. Jongkok, mengambil minuman yang telah ditakdirkan padanya. Sepertinya aku memang ditakdirkan dengan susu ... batin Rigla melihat minuman yang didapatkannya. Rigla melirik sekilas, dan laki-laki yang tadi meminta maaf kepadanya masih terus membungkuk.


Rigla mengambil sedotan kertas yang disediakan di samping mesin penjual minuman otomatis, menusuknya ke dalam kotak susunya. Ia berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa sepatah kata.


Sudah tidak merasakan hawa keberadaan Rigla, sang laki-laki mengangkat kepalanya. Ia mengambil bola yang berada di samping mesin penjual minuman otomatis dan kembali ke sepetak tanah kecil tempat ia biasa berlatih sepak bola.


Rigla berjalan dengan tangan kanan memegang kotak susu dan tangan kiri dimasukkan ke kantung. Ia berjalan dengan tak acuh, walau pandangan di sekitarnya membuat rasa dari susu yang dinikmatinya berubah. Gosip tak sedap tentang dirinya telah beredar.


"Eh, beneran itu anaknya?" bisik seorang siswi.


"Ya! Itu siswa yang tadi pagi!" balas bisik siswi lainnya.


Bisikan-bisikan kecil memekakkan telinga Rigla. Ketika semua bisikkan busuk tersebut mengisi kepalanya, tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan menampar punggungnya.


"Akhirnya ketemua juga kau!" ucap Diego dengan bersemangat.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2