Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 15 - Kompetisi Sepak Bola


__ADS_3

Suasana menjadi canggung karena satu ucapan Diego.


Diego menyernyih dengan aura yang seperti menjelaskan ide jahatnya.


"Nah, Sarr ..." ucap Diego perlahan mendekati Sarr. Ninda dengna cepat mengangkat tangannya ke samping, memasang badan melindungi Sarr.


"Aku tahu idemu, Diego. Sarr tidak boleh bermain sepak bola," ucap Ninda tegas dengan memicingkan mata.


Sarr yang membungkuk hanya bisa terdiam, namun Rigla melihat kedua tangan Sarr yang dikepalkan kuat hingga sedikit gemetar.


Diego mendekatkan wajahnya ke wajah Ninda yang sedang menatap tajam dirinya. Diego kemudian menggeser kepalanya dan bertanya kepada Sarr, "Apa kau yakin tidak mau bermain bola?"


Sarr masih membungkuk tanpa berkata.


Ninda deg-degan, ia takut kalau Sarr akan menerima ajakan Diego. Ia terus-menerus berkata di dalam hatinya "Tetaplah diam, Sarr."


Satu menit telah berlalu. Diego menghela napas melihat tak adanya respons dari Sarr. Diego menegakkan kembali tubuhnya dan berkata, "Rigla, Hamka, ayo lihat-lihat ke klub lainnya."


Diego membalikkan badannya, memberi salam dengan tangan kanannya dan berkata, "Kalau begitu, kami permisi dulu. Mohon maaf sudah mengganggu." Dan kemudian berjalan pergi meninggalkan ruang klub.


Rigla tanpa berkata apa-apa, ikut membalikkan badan dan berjalan mengikuti Diego yang telah meninggalkan ruang klub sementara Hamka membungkukkan badan lalu sedikit berlari mengejar Diego dan Rigla yang sudah meninggalkan ruang klub. Pintu ditutup oleh Hamka dari luar, meninggalkan Sarr yang masih membungkuk dan suasana canggung di antara anggota klub jahit.


"Sarr ... ingatlah janjimu kepadaku," ucap Ninda menurunkan tangannya.


Wajah kesal Sarr yang masih menghadap ke bawah menunjukkan seberapa inginnya ia untuk menerima ajakan dari Diego.


***


Ketiganya kemudian melihat satu per satu klub yang ada, namun tidak memasuki ruang klub sebagaimana mereka memasuki ruang klub jahit. Mereka hanya melihat dari jendela kaca ruang klub yang ada, dan jikalau kegiatan klub tersebut berada di lapangan, maka ketiganya hanya melihat dari kejauhan.


Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, ketiganya telah melihat setiap klub yang sudah memulai aktivitas klubnya masing-masing. Ketiganya berada di bagian terpojok teras sekolah berdinding rendah yang terdapat mesin penjual minuman otomatis.


"Ahh! Memang enak rasanya minum ini setelah berjalan cukup lama!" ucap Diego setelah meminum minuman isotonik.


Hamka meminum minuman isotonik yang serupa dengan Diego, sementara Rigla meminum sekotak susu.


"Rigla, apa kau menyukai susu?" tanya Diego yang duduk di atas dinding rendah teras sekolah.


"Hm ... ya, begitulah ..." jawab Rigla dengan tersenyum tipis yang belum pernah dilihat oleh Diego. Sebuah senyuman yang menyembunyikan kesedihan mendalam.

__ADS_1


"Oh! Kalau begitu, kapan-kapan akan aku ajak ke toko yang berjualan susu yang sangat enak! Aku kenal dengan penjualnya!" ucap Diego yang melompat dan merangkul Rigla. "Kau juga akan ikut kan, Ka?"


Hamka menjawab, "Y-ya, dengan senang hati!"


***


Hari telah berganti, waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Rigla sedang mencatat apa yang tertulis di papan tulis. Sang guru sedang menjelaskan materi yang sedang ia berikan. Suasana tenang seperti jam belajar pada umumnya.


"RIGLAA!" teriak Diego yang (membuka) membanting pintu yang membuat seisi kelas terkejut tak terkecuali sang guru yang sedang mengajar.


Manusia tak tahu adab ... batin Rigla dalam hatinya.


"KEMARILAH! CEPAT-CEPAT!" teriak Diego dengan mengayun-ayunkan tangannya seperti tukang parkir yang menyuruh mundur.


Rigla menghela napas menahan malu, berdiri dari kursinya dengan diperhatikan oleh teman-teman dan gurunya.


"Ehm, Nak Diego ... ada urusan apa sampai memanggil Rigla?" tanya sang guru laki-laki yang sedikit ketakutan.


"Oh, maaf mengganggu, Pak! Ada urusan mendesak mengenai kompetisi sepak bola antar sekolah!" jawab Rigla dengan bersemangat yang membuat semua orang terkejut tak terkecuali Rigla.


"Kompetisi?" tanya Rigla yang baru berjalan beberapa langkah dari kursinya.


***


"International Standard High School Football Championship ..." ucap Rigla membaca judul dari poster tersebut.


"Dan tak hanya itu saja! Lihatlah ini!" ucap Diego menunjuk bagian yang dimaksudnya.


" 'Kejuaraan ini wajib diikuti oleh setiap sekolah yang terdapat poster ini di dalamnya'? Tunggu ... jadi maksudnya ..." ucap Rigla yang disambung oleh Diego.


"YA! KEJUARAAN PERTAMA KITA!! Oh ya, apa kau tahu kelas Hamka?!" teriak Diego yang menggelegar hingga dapat terdengar ke seluruh penjuru lorong sekolah.


"Kecilkan suaramu, pelajaran sedang berlangsung. Aku tahu maksud pertanyaanmu, tapi kita akan menghampirinya saat jam isitrahat," jawab Rigla.


"Hehh, tidak seru ... semangatku keburu menghilang ..." jawab Diego dengan sedikit murung.


Rigla memasang wajah datar setelah mendengar jawaban Diego. Ia kemudian mengedipkan matanya beberapa kali, sedikit menggoyangkan kepalanya, dan berkata, "Sekarang ... mau tidak mau kita harus mendapatkan minimal 11 orang."


"Ya, pekerjaan kita semakin mengasikkan!" jawab Diego dengan merangkul Rigla.

__ADS_1


***


Bel tanda istirahat baru saja berbunyi dan Diego langsung membanting pintu kelas Hamka. "HA~AMKA! KE~MA~RI~LAH!" ucapnya dengan bernada manis yang di telinga para siswa seperti panggilan para ganster kepada babunya.


Wajah Hamka memerah, ia benar-benar malu dengan sikap kedua teman satu klubnya. Dengan menunduk, ia berlari kecil menuju ke Diego dan Rigla yang sedang menunggu di dekat pintu kelasnya.


"Kak Diego, Rigla, bisakah kalian tidak masuk ke kelas orang sembarangan ... mana masih ada gurunya!" bisik Hamka dengan menutupi mulutnya dari samping.


"Ya, aku setuju denganmu," jawab Rigla.


"Ah! Aku ada informasi lebih penting buatmu!" jawab Diego yang tidak mendengarkan ucapan Hamka.


Orang ini tidak mendengarkanku/nya batin Hamka dan Rigla.


"Sekolah kita akan mengikuti kompetisi sepak bola!" teriak Diego dengan kedua tangan diangkat tinggi menjunjung ke langit.


Ucapan Diego membuat Hamka dan seisi kelas terkejut.


"Benarkah?!" tanya Hamka dengan sangat bersemangat.


"Ya, ya! Ayo kita bahas di kantin!" ucap Diego yang kemudian merangkul Hamka dan berjalan pergi meninggalkan kelas.


Rigla menghela napas melihat Diego yang pergi begitu saja dan Hamka yang termakan umpan manis Diego. Rigla membungkuk memberi salam kepada sang guru dan menutup pintu dengan pelan lalu berjalan mengikuti Diego dan Hamka yang sedang asik bercengkerama.


Di kantin, kedatangan Diego dan Hamka membuat suasana kantin berubah menjadi lebih hening. Yang semula berteriak memanggil ibu kantin untuk segera melayani pesanan mereka, menjadi lebih pelan.


Dan ketika Rigla datang, seisi kantin melihat Rigla dan langsung terdiam. Diego dan Hamka duduk di salah satu tempat duduk yang kosong, sementara Rigla berjalan menuju ke ibu kantin.


Dreg! Seperti tentara yang membuka jalan kepada sang jenderal, para siswa secara otomatis membukakan jalan untuk Rigla.


Rigla menghela napas dan kemudian berkata, "Kalian pesanlah duluan, aku masih mau melihat-lihat menunya."


Para siswa menelan ludah, tidak berani untuk memesan kepada sang ibu kantin yang sedang menganggur. "Ada apa dengan kalian? Waktu istirahat tidak panjang, cepatlah pesan!" ucap sang ibu kantin.


Tangan para siswa senggol-menyenggol pelan, memberi kode untuk maju pesan terlebih dahulu. Tak ada yang berani pesan hingga akhirnya seseorang memesan.


"Bu, saya beli donat sama es coklat satu!" ucap Dea yang berdiri di samping Rigla.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2