
Masih di hari yang sama, Rigla dan anggota klub sepak bola lainnya telah berada di tengah lapangan sepak bola.
"Setelah tadi kita mengetahui Novis masing-masing, sekarang, kita akan mulai latihan untuk menggunakannya. Untuk itu, Rigla, aku serahkan padamu," ucap Diego.
"Ahaha ..." tawa kaku Hamka dan yang lainnya.
Pada akhirnya aku juga ... batin Rigla menghela napas. "Baiklah, mari kita mulai dari membagi kelompok. Mereka yang berada di posisi gelandang tengah dan menyerang, akan dilatih oleh Diego. Sementara yang bertahan, ikuti aku. Lapangan tengah ini menjadi pembatas dari kedua tim yang berlatih."
"Baik!"
Latihan pun dimulai. Diego menunjukkan cara mengumpulkan dan mengeluarkan kekuatan Novis yang tersimpan dalam diri tiap orang.
"Caraku menggunakan Novis adalah dengan memikirkan sesuatu yang membuatku bersemangat. Semakin aku bersemangat, maka Novis-ku akan semakin kuat!"
Diego kemudian menarik napas dalam-dalam dan berteriak. Api seketika muncul seperti sebuah ledakan. Ketika ledakan tersebut telah menghilang, hanya tersisa api yang berkobar di permukaan tubuh Diego.
Aji dan Firman bertepuk tangan dengan terkagum-kagum.
Ledakan tersebut cukup kuat hingga menarik perhatian dari kelompok Rigla. Rigla belum memulai sesi latihannya. Ia ingin menghemat energi dengan membiarkan Diego unjuk gigi terlebih dahulu.
"Seperti yang kalian bisa lihat, ketika seseorang menggunakan Novis Api, ia bisa mengeluarkan ledakan dan api seperti itu," ucap Rigla.
Hamka dan yang lain kembali melihat ke arah Rigla.
"Tapi tak semua orang bisa mengeluarkan api seperti itu. Karena tiap orang memiliki Novis-nya masing-masing. Jadi, jangan terlalu terpaku dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Diego dan fokuslah dengan apa yang kalian bisa lakukan."
"Baik!"
Philip kemudian terlintas satu pertanyaan. Philip kemudian mengangkat satu tangan, Rigla mempersilakannya.
"Rigla, kalau boleh tahu, apa Novismu?"
Pertanyaan Philip membuat semua orang menjadi penasaran. Rigla sedikit tersenyum dan menjawab, "Akan sedikit menakutkan untukku memperlihatkannya. Tapi kalau kalian tak apa, maka aku akan menunjukkannya?"
Philip dan yang lainnya menelan ludah. Mereka langsung teringat dengan sosok Rigla yang "mengamuk" ketika melawan Michel. Dengan sedikit gemetar. Philip kembali berkata, "Ka-kalau begitu ... tidak jadi ... ahaha." Hamka dan yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Philip.
Rigla tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, mari kita mulai latihannya."
"Baik!"
"Pertama-tama, lebarkan jarak kalian terlebih dahulu."
Hamka dan yang lainnya berjalan menyebar.
"Sekarang, aku ingin kalian ingin mengingat baik-baik Novis kalian. Kemudian, kalian bayangkan tentang apa yang berkaitan erat dengan Novis kalian."
Hamka dan yang lainnya mengangguk. Mereka kemudian memejamkan mata dan dengan sangat serius, membayangkan hal yang berkaitan erat dengan Novis mereka masing-masing.
Glubuk, glubuk ....
Gelembung air perlahan-lahan muncul dari sekitar tubuh Philip. Philip yang mendengar suara gelembung air membuka sedikit matanya. Ia yang terkejut, langsung berteriak dengan sangat bersemangat. "O-OHH!"
__ADS_1
Teriakannya mencuri perhatian semua orang yang ada di lapangan. Mereka yang memejamkan matanya langsung membuka mata dan melihat ke Philip. Melihat Philip yang berhasil, membuat mereka semakin bersemangat. Mereka langsung kembali memejamkan matanya dan semakin meningkatkan fokusnya.
"Kerja bagus, Philip," ucap Rigla menghampiri Philip.
"Te-terima kasih ... ini semua berkatmu!" jawab Philip dengan sedikit membungkuk.
"Benarkah? Terima kasih kalau begitu. Tapi kamu yang bisa mengeluarkan gelembung air, jadi kamu juga harus mengapresiasi dirimu."
"Y-ya!"
"Aku ... berhasil!" ucap Hamka yang tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"A-aku juga!" ucap Bima yang sama tak percayanya.
Hamka terus melihat ke kedua tangannya yang berubah menjadi besi. Sementara itu, Bima yang masih tak percaya dirinya bisa terbang di udara. Pusaran angin cukup kuat dimunculkannya hingga bisa membuatnya terbang di udara.
"Oh, Bima! Kamu bisa terbang!" ucap Philip dengan bersemangat melihat Bima. "Hamka! Tanganmu ... tanganmu berubah jadi besi?!"
Hamka dan Bima kemudian melihat ke Philip dan Rigla.
"A-aku tak tahu apa yang terjadi! Ketika aku membuka mata ... tiba-tiba a-aku sudah ada di atas siniiiii!" ucap Bima yang tiba-tiba terbang semakin tinggi.
"Aku tadi membayangkan seorang kesatria yang mengenakan zirah besi ... dan ... lihatlah!" ucap Hamka menghampiri Philip dan Rigla dengan bersemangat kemudian menunjukkan kedua tangannya.
"Ohh! Ini sangat keras!" ucap Philip mengetuk-ngetuk kedua tangan Hamka.
Dari sisi lapangan lainnya, Diego; Aji; dan Firman melihat ke kelompok Rigla dengan ternganga. Mereka kagum dengan apa yang baru saja dilakukan oleh kelompok Rigla.
"Y-ya! Ki-kita tidak boleh kalah dengan mereka!" jawab Diego yang kemudian meninju ke langit.
"Ya!"
***
Latihan pun terus dilanjutkan. Latihan yang berjalan dengan kondusif dan penuh kesenangan tersebut, kembali mencuri perhatian para siswa di sekolah tersebut.
"Oh, lihatlah! Dia bisa terbang ke udara!" ucap seorang siswa.
"Dan dan, lihatlah dia! Wahh, enaknya bisa duduk di atas gelembung air!" ucap seorang siswi.
"Apa itu?! Kereenn!! Tangannya bisa berubah jadi besi!" ucap seorang siswa.
Para siswa yang biasanya menyebarkan dan membisikkan rumor tidak menyenangkan, sekarang berubah menjadi ucapan penuh kekaguman.
Perhatian yang didapatkan oleh Hamka dan yang lain, cukup mengganggu konsentrasi mereka.
"Hamka!" panggil seorang siswi.
Hamka yang mengenal dengan jelas suara tersebut, langsung membuka matanya dan melihat ke arah sang siswi.
"Ri-Rihanna?!" ucap Hamka terkejut hingga tangan besinya berubah kembali ke normal.
__ADS_1
Rihanna berlari diikuti oleh teman-temannya menuju ke Hamka. Rihanna menghampiri Hamka, memegang kedua tangannya.
"Wah! Kamu keren sekali! Perlihatkan padaku lagi dong!" ucap Rihanna dengan mata berbinar.
"Ba-baiklah kalau kamu meminta ..." jawab Hamka tersipu malu, tak berani melihat wajah Rihanna.
Hamka menarik napasnya dalam-dalam dan memejamkan matanya. Ia kemudian berkonsentrasi dan tangannya kembali berubah menjadi besi.
"Wah! Lihatlah, sudah kubilang dia keren, bukan?!" ucap Rihanna memamerkan Hamka kepada teman-teman gadisnya.
Teman-teman Rihanna mengangguk setuju dengan wajah yang juga terkagum dengan tangan Hamka.
Keributan yang diciptakan oleh Rihanna dan teman-temannya tidak hanya mengganggu Hamka, namun juga Philip dan Bima. Keduanya terus mencoba berkonsentrasi dengan kedua mata yang ditutup, namun kebisingan dan kegaduhan yang tercipta jauh lebih besar daripada konsentrasi mereka.
"Hamka, bisakah kamu menyuruh pacarmu untuk pergi dulu? Kalian bisa melanjutkan bermesraannya setelah latihan selesai," ucap Rigla dengan cukup keras hingga semua orang dapat mendengar ucapannya.
Semua orang menelan ludah. Siapa pun paham bahwa itu merupakan sebuah usiran yang sangat keras.
"Pa-pacar?! Ti-tidak, Rigla. Di-dia bukan pacark-!" jawab Hamka yang kemudian melihat ke arah Rihanna.
Rihanna memberikan tatapan memelas seperti seekor kucing meminta perlindungan. Hamka menelan ludah, lalu menghela napas. Ia kemudian melepaskan genggaman tangan Rihanna dan berkata, "Maaf, tapi aku sedang latihan."
"Kamu ... mau mengabaikanku ...?" ucap Rihanna mundur perlahan dengan mata berkaca-kaca.
"Ti-tidak! Bukan begitu maksudk-" jawab Hamka.
"Terserahlah!" sela Rihanna yang kemudian berlari pergi meninggalkan lapangan.
Tangan Hamka terangkat ke depan; mencoba untuk menggapai Rihanna. Ia kemudian melihat ke teman-temannya Rihanna dan ia melihat wajah-wajah judes yang mengatakan "Memangnya kamu siapa? Berani-beraninya kamu melakukan hal itu ke Rihanna."
Teman-teman Rihanna kemudian pergi mengejar Rihanna, meninggalkan Hamka sendirian dengan kekecewaan dan kesedihan.
Bisikan tak sedap kembali terdengar.
"Lihatlah, dia mengusirnya."
"Ya, baru saja bisa mengeluarkan Novis sudah sombong tujuh langit."
"Ya, dan orang itu ... sudah kuduga aku tidak suka dengannya."
Hamka menukuk, mengepalkan kuat tangannya. Ia menggertakkan giginya.
Philip dan Bima yang sudah membuka mata sejak mendengar ucapan keras Rigla, hanya bisa memandang Hamka dengan perasaan tercampur aduk.
"Rigla, mari kita akhiri latihan hari ini," ucap Diego yang menghampiri Rigla bersama Aji dan Firman.
"Ya, aku setuju," jawab Rigla yang kemudian memicingkan mata ke arah Rihanna berlari.
---===---
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
__ADS_1
---===---