Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 18 - Pelindung


__ADS_3

Rigla, Hamka, dan Diego terkejut melihat empat orang yang membungkuk di hadapan mereka.


Dengan mengangkat pinggiran meja dan melemparnya ke langit, Diego bersemangat menjawab, "YAAA!!!"


Keempat orang yang membungkuk sedikit tersentak karena terkejut mendengar teriakan Diego dan melihat bayangan meja yang terlempar. Hamka langsung mencoba menenangkan Diego sementara Rigla menyambut kedatangan empat orang yang berniat mendaftar tersebut.


"Angkat kepala kalian. Sebutkan nama dan kelas," ucap Rigla.


Keempatnya dengan tidak kompak mengangkat kepalanya.


"Na-namaku Philip, Philip Neres. Aku kelas 10 B."


"Ka-kalau aku, Aji Samson. Aku dari kelas yang sama dengan Philip."


"Na-nama saya Firman Dimas. Dari kelas yang sama juga."


"Bi-Bima, Bima Bahari. Da-dari kelas yang sama pula."


Keempatnya telah berdiri tegap. Rigla, Hamka, dan Diego tersenyum melihat empat orang yang ada di hadapan mereka.


"Ini formulirnya, silakan diisi," ucap Rigla menyodorkan empat lembar formulir. Philip menerima lembar tersebut dan membagikannya ke ketiga teman sekelasnya. Keempatnya mengeluarkan alat tulis dari tas mereka dan mulai mengisi formulir.


"Empat orang, ya ..." ucap Hamka.


"Hahaha! Ini sudah sangat bagus! Sekarang ... tunggu, sekarang kita bisa latihan paling tidak 3 lawan 3!" ucap Diego yang tiba-tiba (merasa) tercetus ide brilian hingga lampu terang seperti muncul di atas kepalanya.


"Yah, sebenarnya itu bukan ide yang buruk. Tinggal bagaimana kita mendapatkan lapangan untuk latihannya," ucap Rigla yang memegang dagu dengan tangan kanannya.


"Ya, besok aku akan meminta izin kepada kepala sekolah!" ucap Diego dengan percaya diri memegang pinggangnya.


Setelah beberapa saat, Philip dan ketiga temannya telah selesai mengisi formulir dan menyerahkannya kepada Rigla.


"Baiklah, mulai hari ini kalian berempat resmi menjadi anggota klub ini. Mohon kerja sama untuk ke depannya," ucap Rigla dengan tersenyum lembut.


"Woah ..." ucap Philip dan ketiga temannya tanpa sadar dengan mata berbinar-binar.


Rigla dan Hamka memasang wajah bingung melihat reaksi Philip dan yang lainnya.


"Ma-maafkan kami. Ka-kami tak menyangka kalau ka- Anda ... akan seramah ini!" ucap Philip membungkuk yang diikuti oleh ketiga temannya dengan tidak kompak.

__ADS_1


Rigla menghela napas sementara Hamka tertawa kecil kaku.


"Tak apa, tak apa! Semua orang berpikiran yang sama denganmu, kok!" ucap Diego yang tiba-tiba merangkul Philip dan menegakkan tubuh Philip paksa.


"A-aku mengerti, K-Kak," ucap Philp.


***


Hari telah berganti. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Rigla seperti siswa pada umumnya mencatat apa yang telah tertulis di papan tulis.


"Baik anak-anak, untuk hari ini sampai sini dulu. Apakah ada yang punya pertanyaan?" tanya Bu Dinda (guru yang mengkhawatirkan Rigla pada chapter sebelum-sebelumnya).


Tidak ada murid yang merespons pertanyaan Bu Dinda, semuanya fokus menulis. Bu Dinda tersenyum tipis. Ia kemudian duduk di kursi guru dan meneguk segelas air. Ia menaruh botolnya dan melihat wajah murid-muridnya.


Rigla ... batin Bu Dinda dengan raut muka khawatir ketika melihat Rigla yang sedang melihat ke langit.


Beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika Rigla menemui Bu Dinda setelah insiden dirinya "diganggu" oleh para kakak kelas di ruang klub sepak bolanya. Tepat ketika pintu dibuka dan Bu Dinda melihat kedatangan Rigla, Bu Dinda dengan sigap langsung menghampiri Rigla dengan kecemasan seperti seorang ibu melihat anaknya terluka.


"A-apa yang terjadi denganmu? Mengapa kamu basah kuyup seperti ini? Siapa yang melakukannya?" tanya Bu Dinda dengan khawatir berpadu marah.


"Ibu sudah tahu siapa pelakunya. Tapi tak apa, Bu, saya baik-baik saja," jawab Rigla dengan sedikit tersenyum.


Bu Dinda memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menarik tangan Rigla dan membawanya ke UKS.


"Permisi, mohon maaf mengganggu," ucap Bu Dinda dengan membuka pintu UKS.


"Oh, Bu Dinda, ya. Hm ... kamu pasti anak yang sedang dibicarakan itu," ucap penjaga UKS. Rigla membalas dengan sedikit membungkuk dan memejamkan mata.


"Rigla, kamu duduklah di sini dulu. Ibu ambilkan handuk sebentar," ucap Bu Dinda menyuruh Rigla duduk di sofa yang berada di depan pintu masuk.


Rigla mematuhi perintah Bu Dinda.


Setelah Bu Dinda membawakannya handuk dan Rigla melepas serta menjemur pakaiannya, keduanya mulai berbicara.


"Rigla, jujurlah pada Ibu," ucap Bu Dinda yang duduk berhadapan dengan Rigla. Rigla seperti biasanya menutup matanya, namun ia mengangguk. "Apakah ... ini perbuatan Michel dan teman-temannya?" tanya Bu Dinda. Rigla membalas dengan anggukan.


Bu Dinda yang geram tanpa sadar mencengkeram kedua lututnya. Ia menatap ke lantai dengan mata berkaca-kaca. Anak itu lagi! batin Bu Dinda dengan menggigit bibirnya.


Rigla melihat Bu Dinda yang merasa sangat bersalah. Rigla merasakan ketulusan yang mendalam dari ucapan dan tingkah laku Bu Dinda. Rigla tersenyum tipis dan berkata dalam hatinya, "Guru yang langka ...."

__ADS_1


"Bu Dinda tenang saja," ucap Rigla yang kembali memejamkan matanya. Bu Dinda mengangkat kepalanya dan melihat ke wajah Rigla dengan wajah yang seolah bertanya "Maksudmu?"


"Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan, tapi tidak bisa saya sampaikan. Namun intinya ..." ucap Rigla yang kemudian membuka matanya. "selama ia belum menyentuh dan melewati batas tertentu, saya tidak akan membunuhnya."


Rigla beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Bu Dinda yang syok mendengar ucapan Rigla. "Tu-tunggu dulu, Rigla! Apa maksud perkataanmu?! Membunuh? Apa kamu tahu arti dari membunuh?!" ucap Bu Dinda yang ikut berdiri dan mencoba mencegah Rigla melewati batas-batas tertentu.


"Tenang saja, Bu. Seperti yang saya bilang, selama ia 'belum' melewati batas tertentu," jawab Rigla tersenyum seperti menutupi sesuatu.


Bu Dinda menelan ludah dengan wajah sedikit ketakutan dan khawatir dengan Rigla ke depannya. Rigla telah meninggalkan UKS dan Bu Dinda kembali duduk dengan sangat lemas. Penjaga UKS menghampiri Bu Dinda dengan secangkir teh hangat sembari berkata, "Anak itu ... tak kalah uniknya dengan Diego, ya." Dan tertawa kecil sementara Bu Dinda menghela napas berat.


***


Hari pertandingan telah tiba. Bu Dinda yang mendengar kabar mengenai Fergie, tanpa sadar menjatuhkan gelas berisikan teh yang sedang dibawanya. Ia dengan cepat langsung berlari mencari Pak Yudha. Ia mencari Pak Yudha karena ia tahu akan sia-sia untuk berbicara dengan Rigla.


Setelah berlari dengan panik, mencari ke sana kemari, Bu Dinda akhirnya bertemu dengan Pak Yudha. Bu Dinda kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan Fergie. Cerita Bu Dinda membuat Pak Yudha terkejut bukan main. Pak Yudha melampiaskan amarahnya dengan memukul dinding sekolah hingga retak.


"Maaf, Bu Dinda, semoga saya tidak menakuti Anda. Tapi, Fergie merupakan salah satu anak asuhku ..." ucap Pak Yudha dengan tatapan tajam ke tanah seperti orang yang siap membunuh tanah itu sekali pun.


Bu Dinda mengerti alasan kemarahan Pak Yudha. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan membungkuk sembari berkata, "Oleh karena itu, saya minta tolong kepada Bapak, untuk mencegah Rigla melewati batas!"


Pak Yudha yang mendengar permintaan Bu Dinda langsung kembali tersadar dari mode mengamuknya. Ia kemudian bertanya kepada Bu Dinda dari maksud "melewati batas". Bu Dinda menceritakan apa yang diucapkan oleh Rigla ketika di UKS.


Pak Yudha yang mengerti langsung menjawab permintaan Bu Dinda dengan sepenuh hati. Ia dengan lantang berkata, "Tentu, Bu! Saya tidak akan membiarkan anak murid kesayangan saya menjadi seorang pembunuh!" Bel tanda masuknya sekolah berbunyi.


"Bel sudah berbunyi, saya ada kelas. Terima kasih sudah memberi tahu saya informasi yang sangat berharga dan berbahaya ini, Bu," ucap Pak Yudha.


"Tidak masalah, Pak. Yang terpenting, saya mohon bimbingannya terutama untuk Rigla dan Diego. Mereka ... anak yang berbakat," ucap Bu Dinda dengan mata berkaca-kaca.


***


"Permisi, Bu, saya mau bertanya soal ini," ucap seorang siswi menghampiri Bu Dinda yang sedang sedikit melamun.


"O-oh, ya! Yang mana, ya? Sini coba Ibu lihat," ucap Bu Dinda mencoba kembali fokus.


---===---


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---

__ADS_1


__ADS_2