
Diego menghela napas berat dengan sorot mata tajam penuh amarah. Diego menarik tangannya dan bekas kepalan tangan di dinding terlihat dengan jelas. Terdapat juga retakan di sekitar bekas pukulan Diego.
Iara langsung menyadari tangan Diego yang meneteskan darah. Ia langsung bergegas menuju ke kotak P3K.
"Michel ... tak kusangka ia bisa membuatmu sampai seperti ini ..." ucap Diego duduk termenung di pinggir kasur Rigla. Kedua tangannya saling mengisi sela di antara jari-jari, menjadi penadang kepala yang melihat ke bawah.
"Apa maksudmu?" tanya Rigla dengan membunyikan lehernya.
Diego melirik.
"Aku hanya teledor. Aku tidak tahu bahwa akan ada seseorang yang menyerangku dengan menggunakan Korium," jawab Rigla. "Yah, sepertinya aku terlalu menganggap remeh sekolah ini."
"Apa maksudmu?" tanya Diego yang seperti merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rigla.
"Salah satu bawahan si Bangsat yang menendangku berkata 'Jaga sikapmu, Anak Baru! Kalau tak mau seperti ini lagi ... maka hormat-hormatlah kepadaku!'. Jadi simpelnya, mengikuti pandangannya, aku hanya perlu membuat dia menjaga sikap, bukan?" jawab Rigla membunyikan jari-jarinya.
"Rigla ... jangan bilang ...!" ucap Diego dengan mata melebar.
Rigla menyeringai.
***
Bel tanda sekolah telah berakhir berbunyi. Para guru yang mengajar satu per satu telah menutup kelas. Siswa-siswi entah sendiri, berdua, atau berkelompok secara bergantian keluar dari kelas. Ada yang bersiap untuk melaksanakan ekstrakulikuler, ada yang bekerja part-time, ada juga yang berpacaran.
"Kita mau ke mana, nih?" tanya salah satu siswi yang berada di suatu grup yang terdiri dari enam orang.
"Hm ... karaoke?" ajak salah seorang siswi lainnya.
"Boleh-boleh!" jawab lima orang siswi secara serentak dan bersemangat.
Penampilan mereka yang modis dengan pernak-pernik yang mengkilau membuat siapa pun dapat mengetahui bahwa kelima orang yang sedang berjalan di lorong sekolah tersebut adalah orang-orang golongan atas. Satu orang yang tersisa, berada di barisan paling belakang. Sendirian, nampak murung. Dan siapa pun yang melihat dapat tahu bahwa sang gadis yang sendirian, tidak lebih dari sekadar babu.
"Renatta," panggil salah seorang gadis dengan rambut pirang bermata biru laut.
"Y-ya ...?" jawab sang gadis yang berada di barisan paling belakang.
"Setelah ini kami mau ke karaoke. Kau, antarkan barang-barang kami," ucap sang gadis berambut pirang.
"Ba-baik ..." jawab Renatta dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
Keempat gadis di kelompok tersebut tertawa kecil. Mereka masih tak menyangka bahwa akan ada seorang gadis yang bisa disuruh-suruh seperti ini. Sang gadis berambut pirang tersenyum sombong, memalingkan wajahnya, dan berjalan meninggalkan Renatta bersama dengan keempat temannya.
"Dea, kamu hebat sekali, ya!" ucap salah seorang gadis.
"Hm?" balas sang gadis berambut pirang.
"Maksud kami, bisa punya pesuruh seperti Renatta yang rela melakukan apa saja ... bukankah itu hebat?!" ucap gadis lainnya.
"Hahaha, bisa saja!" jawab Dea dengan tertawa bangga.
Kelimanya pergi meninggalkan Renatta dengan tumpukan barang-barang dari Dea dan teman-temannya.
Ketika kelimanya sedang tertawa ria, tiba-tiba seorang siswa berjalan di hadapan mereka.
Dea tidak senang. Ia yang memiliki pesona kuat, membuat siapa saja menyingkir ketika ia akan menapakkan kaki di jalur jalannya. Tak peduli bahwa itu guru sekali pun. Namun, seorang siswa yang datang dari antah-berantah tiba-tiba muncul di jalannya.
Teman-teman Dea langsung tahu akan ketidaksenangan Dea dan bergegas mengusir siswa yang ada di jalan sang Dea.
"Hei, kau! Kau tidak tahu siapa yang akan lewat, ya?!" bentak seorang gadis dari kelompok Dea.
"Hm?" jawab Rigla dengan wajah datar mengangkat kedua alisnya.
Wajah sengak Rigla membuat Dea dan teman-temannya naik pitam.
"Tidak, Laura ... SAMPAH masih lebih bagus darinya!" bentak gadis lainnya.
Rigla yang menghentikan langkahnya untuk mendengar apa yang ingin diucapkan oleh gadis-gadis yang ada di hadapannya, kembali melanjutkan langkahnya dengan gaya tak acuh. Tentu, hal itu mengejutkan semua orang yang melihat tak terkecuali Dea itu sendiri.
Dea tertegun, untuk pertama kalinya ada orang yang melewatinya begitu saja tanpa memberi reaksi apa-apa.
"Oi, Brengsek!" teriak Dea kesal tanpa melihat Rigla. Rigla tak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya walau tahu bahwa ia yang dipanggil. Mengetahui dirinya tidak diacuhkan, Dea membalikkan tubuhnya dengan raut muka tak percaya. "Aku memanggilmu, Brengsek! Sampah! Hina!"
Rigla berhenti sejenak. Dea menyeringai percaya diri. Kau pasti merasa terhormat karena telah dipanggil olehku, bukan? Lihatlah kemari ... lihatlah kemari dan katakan seperti yang orang-orang rendahan itu katakan! batin Dea.
Tep ... sepasang earphone Rigla kenakan.
Dea, teman-teman sekelompoknya, dan semua orang yang menyaksikan seperti berubah menjadi batu dan kemudian pecah.
***
__ADS_1
Pintu digeser, Rigla memasuki kelas dengan kedua mata yang masih dipejamkan. Walau begitu, ia tahu bahwa siswa-siswi yang masih ada di kelas, terus memperhatikannya. Dan ia juga tahu, di antara siswa-siswi di kelas tersebut, ada satu orang yang memperhatikannya dengan pandangan yang berbeda.
Gadis itu ... batin Rigla dengan sedikit menghela napas.
Rigla mengemas barang-barangnya lalu pergi dari kelas tanpa mengucapkan sepatah kata. Meninggalkan kelas dengan keheningan penuh kecanggungan.
Nama Rigla telah menyebar di seluruh penjuru sekolah. Kabar mengenai dirinya yang telah bergabung ke klub sepak bola juga telah sampai ke telinga setiap siswa yang ada di sekolah.
Nama yang asing tiba-tiba naik daun, tentu membuat banyak pihak tidak senang. Terutama, mereka yang menaruh 'kebencian' terhadap Rigla.
Keesokan harinya ... Dak! Pintu dengan kuat digeser. Seorang siswa dengan penampilan menyerupai anak geng memasuki kelas Rigla. Semua siswa yang ada di kelas ketakutan, ingatan kemarin masih terpampang jelas di benak mereka bak cat yang masih basah.
"Oi, Bajingan ... satu pekan lagi ... sepulang sekolah, datanglah ke lapangan sepak bola," ucap pria tersebut setelah menjitak kepala Rigla. Ia menyeringai, meremehkan bahkan merendahkan sosok Rigla.
Sebelum meninggalkan kelas, ia meludahi Rigla, membuat seisi kelas kesal, terutama Elina. Namun, seperti kemarin, teman-teman kelasnya lagi-lagi 'melindunginya'. Dan sama seperti kemarin, kekesalan Elina kembali memuncak.
Rigla ... apa yang akan kaulakukan?! batin Elina khawatir.
***
Tak seperti Rigla yang biasa saja, seisi sekolah justru heboh dengan kabar tersebut. Pembicaraan mengenai tantangan tersebut menyebar dengan cepat ke seluruh sekolah bak bendungan yang baru dibuka.
"Rigla? Yang anak baru temannya si Diego itu?"
"Benarkah? Sepulang sekolah Michel akan menghajarnya?!"
"Wah, kita tidak bisa melewatkan ini!"
"Ya!"
Waktu istirahat telah tiba. Banyak siswa yang berbondong-bondong datang ke kelas Rigla. Untuk pertama kalinya, bukan untuk melihat sang Malaikat Sekolah, melainkan melihat sosok yang nanti akan melawan sang Malaikat Kematian Sekolah, Michel.
"Itu anaknya?"
"Beneran?"
Para siswa dibuat kecewa dengan penampilan Rigla yang tak sesuai ekspetasi mereka. Berbadan standar, rambut cukup panjang dan berantakan, dan tidak terasa sama sekali aura preman/anak nakalnya. Para siswa satu per satu pergi dengan rasa kecewa, walau sebagian lainnya masih ada yang menetap di luar kelas, berharap Rigla akan melakukan sesuatu selain tidur dengan kepala beralaskan tas di atas meja.
---===---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---