Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 12 - Impian Fergie


__ADS_3

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Rigla dan para siswa lainnya mengemasi barang-barangnya.


Bagaimana bisa aku keceplosan ... batin Elina yang masih terbayang-bayang dengan ucapan 'pangeranku'. Elina mengemasi barangnya dengan sedikit gemetaran, berwajah merah.


Elina menarik napas dalam-dalam, meningkatkan kepercayaan dirinya. Elina, PD-lah! PD ... PD-lah! batin Elina yang kemudian secara perlahan-lahan melirik ke arah tempat Rigla duduk.


Sudah ... pergi? batin Elina. Ya, tentu saja ... ada hal penting baginya, bukan? sambungya yang kemudian tersenyum.


***


Rigla berjalan dengan tergesa-gesa. Di depan gerbang sekolah, telah ada Diego yang menantinya.


"Rigla! Aku sudah memesan Gocar!" panggil Diego sembari melambaikan tangannya.


Tepat ketika Rigla menghampiri Diego, mobil yang akan mereka tumpangi datang. Keduanya langsung menaiki mobil dan pergi meninggalkan sekolah menuju ke rumah sakit, tempat Fergie dirawat.


Sebelum mereka menuju ke rumah sakit, mereka sempat mampir sejenak ke toko buah untuk membeli buah tangan.


***


Mobil berhenti di depan lobby rumah sakit, keduanya turun, berterima kasih kepada sang supir, dan langsung bergegas menuju ke resepsionis rumah sakit.


Setelah mendapatkan kamar tempat Fergie dirawat, keduanya langsung bergegas. Kamar Fergie berada di lantai 8 rumah sakit, sebuah lantai yang hanya berisikan satu orang per kamar dengan fasilitas yang lebih dari cukup untuk sekadar rawat inap.


Keduanya tiba di depan pintu kamar Fergie. Keduanya menelan ludah, mereka tidak tahu sikap seperti apa yang harus mereka hadapi ketika menghadap ke kedua orang tua atau wali Fergie.


"Rigla ... kau siap?" tanya Diego yang sudah memegang gagang pintu. Rigla mengangguk.


Diego membuka pintu dan terlihat seorang wanita yang sudah berusia sedang duduk di dekat Fergie sembari membaca sebuah buku. Tempat duduk wanita tersebut membelakangi Diego dan Rigla.


"Permisi," ucap Diego dengan ramah.


Wanita tersebut mengangkat kepalanya, dan menengok perlahan ke arah Diego dan Rigla.


"Ah, kalian pasti temannya Fergie. Mari-mari," sambut ramah sang wanita.


Kamar tersebut memiliki semacam ruang tamu kecil tepat setelah memasuki kamar. Di samping kanan terdapat sebuah rak sepatu dan di samping kiri terdapat pintu kamar mandi.


Diego dan Rigla duduk di sofa yang ada, dan sang wanita menutup bukunya lalu menaruh buku tersebut di meja kecil dekat tempat Fergie berbaring.


Sang wanita menuangkan teko yang berisikan air panas ke atas gelas yang sudah berada di atas nampan. Mencelup-celupkan kantung teh dan menambahkan sesendok gula.


Sang wanita membawa nampan tersebut dan menghidangkannya kepada Rigla dan Diego. Setelah itu, sang wanita duduk di sofa tunggal.


Suasana sempat hening sejenak. Diego mencoba mencairkan suasana tersebut dengan memberikan buah tangan yang telah ia dan Rigla beli sebelumnya.


"Tante, mungkin tidak seberapa, tapi semoga ..." ucap Diego yang kehabisan kata-kata karena terlalu gugup.

__ADS_1


Sang wanita tersenyum ramah sembari menerima pemberian buah tangan Rigla dan Diego. "Terima kasih, Nak."


Suasana sempat kembali hening sejenak. Diego dan Rigla terdiam takut salah langkah. Bagi mereka, mereka adalah penyebab dari kondisi Fergie yang sekarang sedang berbaring di atas kasur rumah sakit.


Sang wanita tersenyum melihat sikap Rigla dan Diego yang nampak gugup tak berani berbicara. "Fergie, dia adalah anak yang sangat menyukai sepak bola. Kegemarannya bermula ketika ia tak sengaja melihat di salah satu acara TV, tentang pertandingan antara dua klub besar liga inggris. Sejak saat itu, ia benar-benar jatuh hati kepada sepak bola.


"Ia adalah anak yang pantang menyerah. Setiap harinya, ia selalu berlatih mengolah si kulit bundar. Tapi apalah daya, fisiknya yang lemah membuat ia harus mengubur dalam-dalam impiannya. Meski begitu, ia tidak menyerah. Ia tetap mempelajari sepak bola, dan bercita-cita menjadi seorang manajer klub sepak bola yang hebat! Seorang manajer yang bisa diandalkan, seorang manajer yang dapat meracik strategi tak terkalahkan.


"Dia selalu bercerita tentang kalian berdua. Tentang bagaimana kalian bisa tetap kukuh pendirian, walau satu sekolah menyudutkan kalian. Ia selalu menceritakan kalian berdua dengan mata yang mengeluarkan kilapan bintang. Seandainya dia sekarang sudah sadar, maka saat ini dia sudah ada di depan kalian, membentangkan kedua tangannya dengan wajah yang sangat serius, tapi imut.


"Lalu dia akan berkata, 'Ma, jangan salahkan mereka! Akulah yang memutuskan untuk membantu mereka!' yah ... pasti akan begitu, hahaha."


Sang wanita menarik napas pelan, tawa di wajahnya berubah menjadi senyuman lembut.


"Oleh karena itu, jangan salahkan diri kalian. Berteman baiklah dengannya. Karena kesempatan seperti ini ... adalah kesempatan yang telah ia cari selama ini. Kesempatan yang lebih berharga dari sebuah emas sekali pun."


Rigla dan Diego menghadap ke lantai. Kedua tangan Rigla yang telah menyatu sejak awal duduk bergemetar. Begitu pula dengan Diego yang matanya berkaca-kaca.


***


Matahari sudah akan terbenam. Rigla dan Diego sudah berada di luar rumah sakit. Keduanya telah melihat seperti apa kondisi Fergie.


Dak! Diego memukul dinding pagar rumah sakit.


"Aku bahkan belum mendengar permintaan maaf dari para bajingan itu!" ucap kesal Diego dengan terhadap ketidakbertanggungjawabannya Michel dan komplotannya.


Rigla hanya diam menatap matahari yang sudah akan terbenam. Beberapa saat setelah suasana hening tercipta ...


"Belum, masih kekurangan anggota," jawab Diego.


"Tenggat waktu agar klub dapat terbentuk secara resmi sampai kapan?" tanya Rigla.


"Dua pekan lagi," jawab Diego yang telah berdiri tegap.


Keduanya terdiam sejenak.


"Berarti kita akan pulang di waktu matahari terbenam terus mulai dari sekarang ..." ucap Rigla dengan memejamkan matanya dan menghela napas.


Diego tidak paham dengan maksud ucapan Rigla. Diego bertanya tentang maksud perkataan Rigla, namun Rigla selalu menghindar. Bahkan ketika keduanya berjalan pulang, Diego masih terus bertanya tentang maksud perkataan Rigla.


Anak ini ... apa hanya sepak bola yang ada di otaknya ...? batin Rigla yang mulai jengkel dengan pertanyaan tiada henti dari Diego.


Keduanya memasuki sebuah minimarket, membayar, lalu keluar dari minimarket dan Diego masih terus-menerus bertanya tentang maksud perkataan Rigla.


"Hah ... baiklah. Maksudku mulai besok, kita akan bekerja keras mencari anggota baru. Puas?" jawab Rigla dengan membuka botol minum yang baru dibelinya.


"Ohh! Ahahahaha! Kenapa tidak langsung bilang saja, wahai malu-malu kucing!" ucap Diego dengan tawa menepuk punggung Rigla yang sedang minum.

__ADS_1


Rigla yang keselek, langsung menatap Diego dengan tatapan ingin membunuh. Diego memalingkan wajahnya dan memasuki minimarket sembari berkata, "O-oh! A-aku lupa membeli sesuatu!" lalu bersiul menjauh.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Rigla berjalan menuju ke sekolah. Sekarang, tatapan 'merendahkan' yang dulu selalu ia dapatkan telah menghilang. Namun, tatapan tersebut tak hanya sekadar menghilang. Tatapan tersebut berubah menjadi pengalihan wajah karena ketakutan.


Setiap siswa yang bertemu atau berpaspasan dengannya akan langsung mengambil jalan memutar. Jikalau ada yang nekat lewat pun, mereka akan menutupi wajahnya entah dengan kedua tangan atau barang lainnya.


"Ahahaha! Rigla, sepertinya kedudukanmu sudah berubah," ucap Pak Yudha tertawa melihat para siswa yang ketakutan melihat Rigla.


"Ya, Pak ..." jawab Rigla yang menghela napas.


Rigla berjalan melewati koridor sekolah bak seorang raja yang berjalan di atas karpet merah. Tak ada satu pun orang yang berani menyentuh karpet merah tersebut.


"Oi, Rigla! Katanya anak ini mau bergabung dengan klub kita!" ucap Diego yang merupakan satu-satunya orangy ang berani berjalan di atas karpet merah sang raja.


Diego menarik anak tersebut dengan memegangi kedua sisi pundak sang anak.


Rigla melihat ke sang anak yang ketakutan terhadap Diego, terlebih kepada dirinya.


"Diego, apa kau yakin dia mau bergabung?" tanya Rigla dengan curiga.


"Ya, ya! Tadi aku membagikan selebaran ajakan untuk bergabung ke klub kita, dan anak ini langsung menerimanya!" jawab Diego dengan sangat bersemangat.


"Apa itu benar?" tanya Rigla.


Sang anak menggeleng-gelengkan kepala.


"Lalu kenapa kau mengambil selebaran tersebut?" tanya Rigla.


"Selebaran itu terbang begitu saja ke wajahku! Lalu apa yang harus aku lakukan?! Membiarkan mataku tertutup dan menabrak dinding?!" jawab protes sang anak walau ketakutan.


Rigla menghela napas sejenak lalu menjitak kepala Diego. "Kau boleh pergi," ucap Rigla kepada sang anak.


"Tapi Rigla! Aku sudah bersusah payah mendapatkan-!" ucap Diego yang tak terima bahwa sang anak tidak jadi bergabung ke klubnya.


"Bukankah bermain sepak bola harus berdasarkan hati? Bagaimana mungkin anak tersebut bermain sepak bola jikalau terpaksa? Apa kau tidak malu dengan jati diri sepak bolamu?!" ucap Rigla memegang kedua pundak Diego dan menatap mata Diego.


Diego membusungkan dadanya. Seolah-olah puluhan nuklir meledak di dalam tubuhnya. Matanya berubah menjadi api yang membara.


"Kau ... kau benar! Aku telah salah dalam mengambil jalan perekrutan ini! Aku ... aku akan berusaha lebih keras lagi, Rigla!" ucap Diego dengan sangat bersemangat.


Rigla mengangguk dan melepaskan Diego. Diego langsung berlari sembari berteriak, "OIII! KALAU KAU MENYUKAI SEPAK BOLA, HUBUNGILAH AKU!" sepanjang koridor hingga keliling sekolah. Bahkan seorang guru sampai meneriaki Diego agar tidak berteriak dan berlari di dalam lorong sekolah.


Memalukan ... apa yang baru saja aku katakan, itu memalukan .... Tapi tak ada cara lain, hanya tipe kata seperti inilah yang efektif terhadap manusia kepala bola itu, batin Rigla yang menahan malu dan kemudian berjalan menuju ke kelasnya.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2