Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 22 - Novis


__ADS_3

Sore hari telah tiba. Di dalam ruang klub sepak bola, Rigla berdiri di hadapan teman-teman satu klubnya, bersanding dengan papan tulis.


"Hari ini kita akan membahas tentang Novis," ucap Rigla yang membuat teman-temannya excited. "Berdasarkan sejarahnya, pengguna Novis pertama muncul 35 tahun yang lalu. Dan sisanya adalah sejarah."


Sangat singkat! batin Hamka dan yang lain.


"Yosh, aku mengerti!" ucap tegas Diego dengan uap yang disemburkan dari kedua hidungnya.


Tidak ... dia tidak mengerti ... batin Hamka dan yang lain.


"Ada pepatah yang mengatakan, mereka yang memiliki Novis adalah pemain sepak bola. Namun, pemain sepak bola belum tentu memiliki Novis," ucap Rigla yang membuat Hamka dan yang lainnya menelan ludah.


"Be-benarkah itu?!" ucap Diego yang berdiri dengan terkejut tak percaya dan membuat kursi terjungkal.


Kau sudah punya, Bego! batin Hamka dan yang lainnya menahan kesal.


"Kekuatan apimu adalah Novis-mu, Bodoh," ucap Rigla.


Terima kasih, Rigla! batin Hamka dan yang lainnya.


"O-oh ... begitu, ya ... ha .. haha ... hahaha!" ucap Diego yang terkaku-kaku kemudian tertawa. "Lalu, Novis yang lain apa?"


Deng ... ucapan polos tak dipoles Diego membuat Hamka dan yang lainnya tersentak; gugup terdiam.


"Oleh karena itu, hari ini kita belum latihan di lapangan lagi," ucap Rigla yang kemudian berjalan mengambil sesuatu di lokernya dan membuat Diego dan yang lain bertanya-tanya penasaran.


"Rigla, jangan-jangan?!" ucap Diego dengan bersemangat.


"Ya, kepala sekolah membelikan ini untuk kita," ucap Rigla menunjukkan sebuah benda.


Benda tersebut berbentuk persegi yang terbuat dari bahan logam. Bagian atas permukaan benda tersebut terdapat sebuah garis persegi panjang yang di bagian bawahnya terdapat tulisan sejajar ke bawah: Name, Novis.


"Sesuai dugaan Diego, benda ini adalah Alat Pendeteksi Novis."


Ucapan pembenaran Rigla membuat Diego dan yang lainnya bersemangat. Saking bersemangatnya, mereka berteriak "Oh!" secara tidak sadar.


"Jadi, siapa dulu yang mau mencob-"


Desh! Seperti sebuah badai yang menyambar, Diego langsung berdiri tepat di hadapan Rigla dengan mata berbinar-binar. Rigla memasang tatapan jijik lalu menghela napas. "Baik, baik ... aku mengerti."


Rigla kemudian menarik sebuah meja kecil dan menaruh Alat Pendeteksi Novis di atas meja. Ia kemudian mencolokkan Alat Pendeteksi Novis ke stop kontak.


Garis persegi panjang yang ada di permukaan bagian atas Alat Pendeteksi Novis menyala (berwarna putih). "Yosh, silakan taruh tanganmu di atas sini."


Diego sedikit menggulung lengan baju tangan kanannya.


"Kau pakai seragam lengan pendek, Bodoh," ucap Rigla ketus.


"O-oh ... ahahaha ... a-aku cuma mau ... mengetes teman-temanku masih konsentrasi atau tidak, hahaha!" ucap Diego membuat pembelaan dan tertawa gugup.


Apa yang membuatnya gugup ... batin Rigla terheran-heran. Seandainya yang lain, aku bisa memaklumi.

__ADS_1


Tangan kanan Diego menempel di atas Alat Pendeteksi Novis. Cahaya yang semula tenang berwarna putih perlahan semakin terang dan berubah menjadi biru.


"O-ohh! A-apa ini?!" ucap Diego terkagum tak percaya. Hamka dan yang lain melihat dengan gugup.


Cahaya perlahan redup, kembali berubah menjadi warna putih.


Name: Diego Pamungkas


Novis: Fire


"Ohh! Lihatlah! Ini benar-benar bekerja!" ucap Diego mengangkat Alat Pendeteksi Novis hingga membuat kabel tercopot dari stop kontak.


"Eh ...?"


***


"Selanjutnya," ucap Rigla yang sehabis menendang keluar Diego.


"Rigla! Buka! Aku janji tak akan gaduh lagi!" teriak Diego menggedor-gedor pintu ruang klub.


Suara teriakan dan berisik Diego tidak dapat terdengar oleh Hamka dan yang lainnya. Suara detak jantung mereka jauh lebih kuat daripada teriakan berisik Diego. Suara batin yang terus-menerus meyakinkan diri bahwa mereka memiliki Novis, suara yang terus-menerus berbisik apa yang akan terjadi jikalau diri mereka tidak memiliki Novis.


"Apakah ini keputusan yang tepat?", "Bagaimana jikalau aku tidak memiliki Novis?", dan yang lainnya terus menghantui isi kepala mereka.


Rigla menghela napas. Ia tiba-tiba menarik tangan Hamka dan menempelkannya ke atas Alat Pendeteksi Novis.


"Ri-Rigla?!" teriak Hamka terkejut yang masih gugup.


Name: Aditya Hamka


Novis: Earth


"O-OHHH!!" teriak Hamka dan yang lain dengan sangat bersemangat. Philip dan yang lain mengucapkan selamat kepada Hamka.


"Kau berhasil, Hamka!" ucap Aji menepuk-nepuk pundak Hamka.


"Ahaha ... terima kasih," jawab Hamka tersipu malu akan pujian-pujian yang datang kepadanya.


Aji menarik napas dalam-dalam. Meyakinkan diri dan menenangkan diri. "Yosh, selanjutnya aku!"


"Kau pasti bisa, Ji!" ucap Philip diikuti dukungan dari teman-temannya yang lain.


Aji menempelkan tangannya.


***


Satu per satu anggota maju menempelkan tangannya. Setiap cahaya kembali redup, teriakan penuh semangat dilantunkan, membuat Diego yang ada di luar ruangan semakin iri. Ia mencoba mencoba menguping dari luar ruangan, namun perasaan tidak puas hanya membuatnya semakin kesal.


"Mereka dapat apa saja?! Oi, Riglaaaaa! Biarkan aku masuk!" ucap Diego yang terus menggedor-gedor pintu.


Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Diego terjungkal masuk.

__ADS_1


"Oi, kalau buka bilang-bilang, dong!" ucap Diego berdiri tak terima.


"Jadi, tendang keluar lagi?" balas Rigla dengan datar.


"Tidak ... terima kasih ..." ucap Diego menukuk seperti anak kecil yang habis dimarahi orang tuanya. "Tu-tunggu dulu, jangan mengalihkan topik! Hamka, Philip, dan yang lain. Kalian dapat Novis, kan?!" ucapnya dengan penuh semangat walau dalam hatinya deg-degan.


Hamka dan yang lain memasang wajah murung. Membuat semangat Diego yang setinggi langit menurun serendah palung mariana. "Ti-tidak mungkin ...."


"Pa-pasti ada yang salah dengan alatnya!" ucap Diego khawatir dan tidak mencoba menolak kenyataan. "Ri-Rigla! Alat itu pasti rusak!"


"Hah? Kau benar-benar bodoh rupanya, ya," jawab Rigla yang kemudian berbalik dan menghela napas.


"Heh?"


Diego menoleh ke wajah Hamka dan yang lainnya. Hamka dan yang lainnya tak bisa menahan tawa. Tawa pun pecah, membuat Diego malu bukan main.


"Kalian berani-beraninya membodohiku!" teriak Diego mengejar Philip dan yang lain yang berlari kabur dari ruang klub.


Ketika semua orang pergi ke luar, meninggalkan Rigla sendiri di dalam ruangan, Hamka menghampiri Rigla. "Ri-Rigla ...."


"Hm?" jawab Rigla yang kembali merapikan Alat Pendeteksi Novis.


"Be-benda itu ... bukan berasal dari kepala sekolah, kan?"


Rigla sedikit terkejut dengan ucapan Hamka. Tanpa berpaling dan terus merapikan barangnya, Rigla menjawab, "Atas dasar apa kamu menyimpulkan hal itu?"


Hamka menelan ludah, ia gugup untuk menjawab pertanyaan dingin Rigla. Namun, ia meneguhkan hati dan menjawab, "Ta-tadi ketika Kak Diego mengangkat benda itu ... aku tak sengaja melihat sebuah foto di bagian bawahnya."


Mata Rigla sekilas melebar. Ia tersenyum dan menoleh ke arah Hamka, "DIa kakakku. Dan kamu benar, ini bukan dari kepala sekolah. Ini hadiah dari kakakku."


Mulut Hamka sedikit terbuka. Tatapan sayu dari seorang Rigla yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah tatapan yang menyimpan kesedihan mendalam. Sebuah bendungan air mata yang dapat pecah kapan saja.


"A-"


Belum sempat bertanya, Diego memanggil dari daun pintu, membuat Rigla dan Hamka melihat ke arahnya. "Rigla, Hamka, ayo kita latihan!"


"Ya, aku akan menyusul. Hamka, kamu duluan saja." jawab Rigla.


Hamka kembali melihat ke arah Rigla. Ia mengepalkan tangannya, menahan egonya. Ia tahu bahwa ada sesuatu di balik foto tersebut, terdapat sesuatu yang disembunyikan oleh Rigla.


"Belum saatnya." Adalah kalimat yang terlintas di benak Hamka.


Hamka menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Dengan sedikit gugup dan canggung, ia tersenyum dan berkata, "Ba-baiklah, aku akan segera ke sana!" dan berlari keluar ruang klub.


Hamka berlari melewati Diego. Setelah Hamka berlari cukup jauh, Rigla berkata, "Diego ..." dan langsung disahut oleh Diego, "Cepatlah ke lapangan, yang lain sudah menunggu," dengan tersenyum dan kemudian berlari mengejar Hamka.


"Ya ... terima kasih," ucap Rigla yang kemudian melihat ke langit.


---===---


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!

__ADS_1


---===---


__ADS_2