Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 19 - Perkenalan


__ADS_3

Waktu pulang telah tiba, tepat setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi, terdengar suara gemuruh dari luar kelas Rigla.


Pintu dibanting dengan kuat, Rigla yang sudah terbiasa tidak seterkejut dulu.


"Rigla! Ayo cepetan!" teriak Diego.


Rigla mengemasi barang bawaannya, menentengnya, dan berjalan menuju ke pintu keluar. Teman-teman sekelasnya hanya bisa melihat dari jauh, begitu pula dengan Elina.


"Cepat, cepat, cepat! Hari ini hari pertama klub kita dimulai, loh! Cepatlah!" ucap Diego yang tak sabar. Rigla tersenyum tipis dan menutup pintu dari luar.


***


Keduanya berjalan menuju ke ruang klub sepak bola. Rigla bertanya apakah mereka tidak menghampiri Hamka, dan dijawab oleh Diego bahwa Hamka ada sesuatu yang harus diurus terlebih dahulu. Rigla yang mendengar hal itu menaruh sedikit kecurigaan.


Dari kejauhan, Philip dan ketiga temannya telah berada di depan ruang klub. Melihat adanya banyak anggota, membuat Diego semakin berapi-api.


"Yosh! Kita langsung gas latihan saja!" ucap Diego sembari memutar-mutar tasnya yang menggunakan tali selempang.


"Kita belum tahu posisi mereka, bukan?" ucap Rigla yang langsung membuat Diego berubah menjadi patung. "Kita rapat sebentar, menentukan dan mencari tahu posisi, baru memulai latihan." Rigla berjalan meninggalkan Diego yang masih menjadi patung.


Melihat Rigla yang berjalan ke arah mereka, Philip dan yang lainnya melambaikan tangan; menyapa Rigla. Rigla membalas dengan sedikit mengangkat tangan kanannya ke atas.


"Kalian cepat juga, ya," ucap Rigla.


"Te-tentu saja! Ini untuk membuktikan bahwa ka-kami sangat serius dalam klub ini!" jawab Aji.


"Tidak perlu gugup, santai saja. Lagipula aku satu angkatan dengan kalian, kan," ucap Rigla dengan membuka pintu ruang klub. "Masuklah."


Rigla memasuki ruang klub, diikuti Philip dan tiga orang yang lainnya dengan wajah kagum melihat betapa bersih dan rapinya ruang klub.


"Maaf kalau tidak sopan ... tapi tak kusangka kalau ruangan ini akan sebersih ini ..." ucap Philip.


"Hahaha, sampaikan pujian itu kepada Fergie," jawab Rigla tertawa kecil.


Philip dan ketiga temannya berkedip sedikit terkejut. Mereka tak menyangka akan mendengar tawa dari Rigla, walaupun itu adalah tawa kecil.


"Pilih loker kalian, lalu ini," ucap Rigla yang memberikan empat kertas yang sudah ada nama dari masing-masing anggota baru. "Tempellah di loker kalian."

__ADS_1


"O-ohh!" ucap Philip dan tiga orang lainnya dengan mata berbinar tatkala melihat lembaran-lembaran kertas yang diberikan oleh Rigla.


Keempatnya dengan cepat berlari menuju ke loker yang mereka sudah targetkan. Mereka bahkan sampai berdesak-desakan dan berkelahi kecil dalam menentukan loker mana yang akan menjadi "kepunyaan" mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya kegaduhan tersebut telah usai dengan setiap nama telah tertempel di bagian depan-atas loker masing-masing.


"Permisi, maaf aku terlam-WOAHH!" ucap Diego yang baru datang lalu terkejut dengan mata yang juga berbinar. "Ri-Ri-Rigla, na-na-nama yang ada di loker ... jangan bilang?!"


"Punyamu," ucap Rigla dengan memberikan lembar kertas yang bertuliskan nama Diego.


"O-OOHHH!!!" teriak Diego mengangkat kertasnya tinggi ke langit. "A-aku ... lokerku yang mana?!"


"Pilihlah sendiri," jawab Rigla.


"Kalau begitu ..." ucap Diego.


***


"Hah ... kenapa harus di sampingku ...?" ucap lemas Rigla menghela napas.


"Hahahaha! Bukankah kita sahabat sejati seumur hidup berjuang bersama hingga menaklukkan dunia?!" ucap Diego dengan merangkul Rigla.


"Kalian kenapa ...?" tanya Rigla dengan wajah datar.


Philip dan yang lainnya menggeleng-gelengkan kepala.


***


Setelah selesai membagi loker, Rigla menggeser sebuah papan tulis dorong dan ditaruhnya di tengah-pojok ruang klub sepak bola. Ia telah menuliskan nama setiap anggota yang ada di papan tulis tersebut dan ada dua bagian kosong tepat di samping nama yang tertulis di papan tulis.


"Baiklah, untuk mengawali kegiatan sekaligus menjadi pembukaan, kita akan mulai dari perkenalan diri masing-masing. Silakan, yang mau memperkenalkan diri terle-" ucap Rigla yang belum selesai dan dipotong Diego.


"Namaku Diego! Diego Pamungkas! Namaku seperti ini karena ayahku orang Argentina dan ibuku orang Indonesia. Aku dari kelas 11-C. Hobiku bermain sepak bola, menonton sepak bola, bermain game sepak bola. Posisiku adalah striker! Senang bertemu kalian semua!" ucap Diego dengan bangga menepuk dada.


Philip dan ketiga temannya bertepuk tangan. Perkenalan dilanjutkan oleh Philip.


"Na-namaku Philip, Philip Neres. Aku dari kelas 10-B. Hobiku ... segala suatu yang berkaitan dengan sepak bola! Posisi ... belum ada .... Mo-mohon kerja samanya!" ucap Philip yang kemudian membungkuk.


Perkenalan Philip diakhiri dengan tepuk tangan yang lain. Perkenalan demi perkenalan terus berlanjut hingga akhirnya tinggal tersisa Rigla. Perkenalan Philip dan ketiga temannya memiliki kurang lebih sama, bahkan keempatnya sama-sama belum tahu tentang posisi yang cocok untuk mereka.

__ADS_1


"Aku yang terakhir, ya ..." ucap Rigla yang kemudian berdiri. Ketika Rigla baru berdiri, pintu terbuka. Hamka datang dengan sedikit terengah-engah.


"Oh, Hamka!" ucap Diego yang kemudian menghadap ke Philip dan yang lainnya dan menujuk Hamka. "Namanya Hamka, Aditya Hamka. Dia seorang ... eh, aku belum pernah bertanya padanya juga .... Dari kelas ... aku juga lupa, hahaha!"


Perkenalkan yang benar, dong ... batin Hamka dan orang-orang yang ada di dalam ruangan kecuali Rigla. Rigla menghela napas.


"Hamka, perkenalkan dirimu," ucap Rigla.


"Ba-baik!" jawab Hamka yang kemudian bersikap siap seperti seorang tentara. "Namaku Hamka, Aditya Hamka. Dari kelas 10-C. Hobiku bermain sepak bola. Cita-citaku menjadi pemain sepak bola!"


Philip dan yang lain bertepuk tangan. Firman kemudian teringat dengan belum disebutkannya posisi Hamka. Ia bertanya kepada Hamka dan Hamka memasang wajah bingung.


"Jadi kau sama saja, ya ..." ucap lirih Rigla dan Diego.


"Baiklah, yang terakhir aku. Namaku Rigla, Rigla Balasti. Dari kelas 10-A. Posisiku ..." ucap Rigla yang sejak awal lancar, namun terdiam sedikit murung sejenak.


Diego dan yang lain melihat Rigla dengan sedikit kebingungan.


"Ma-maaf. Posisiku adalah kiper. Senang bertemu kalian dan mohon kerja sama untuk ke depannya," ucap Rigla yang sedikit menggelengkan kepala dan memejamkan mata; mencoba mengembalikan fokus.


Diego dengan cepat langsung menyahut dengan bertepuk tangan sembari berkata, "Baiklah, dengan ini kita semua sudah perkenalan! Untuk posisinya, mari kita pikirkan dengan mencobanya langsung ke lapangan!"


Ucapan Diego membuat Hamka dan yang lainnya bersemangat. Diego yang diam-diam sudah mengambil kertas bertuliskan nama Hamka, langsung memberikannya kepada Hamka dan menyuruhnya untuk memilih loker lalu menempelkan kertas tersebut.


Hamka yang terkejut langsung asal memilih loker dan menempelkan kertasnya. Ia dibuat tergesa-gesa karena Diego yang terus mendesaknya agar lebih dan lebih cepat. Rigla yang tahu maksud dari Diego, hanya tersenyum sembari berkata dalam hatinya "Terima kasih."


Setelah Hamka selesai menempel dan menaruh tasnya, Diego menepuk tangannya untuk memusatkan perhatian kepada dirinya.


"Baiklah, semuanya sudah mendapat loker, semuanya juga sudah berkenalan. Saatnya kita mulai kegiatan klub pertama kita!" teriak Diego yang kemudian meninju langit.


"Yaa!" jawab antusias Hamka dan yang lainnya.


---===---


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---

__ADS_1


__ADS_2