Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 4 - Bendera Perang


__ADS_3

Tangan kanan Michel memegang dagu Elina.


"Benar-benar cantik ..." ucap Michel dengan wajah yang perlahan-lahan semakin dekat.


Senyum penuh napsunya dapat terasa oleh siapa saja yang melihatnya. Bibir Michel mulai mendekat, bak ular berbisa yang akan menyergap mangsanya.


Tuhan ... tolong ... jangan ... jangan dia! Aku tidak ingin ciuman pertama ini direnggut oleh lelaki seperti dia! batin Elina meringis meminta pertolongan.


Sudah sejak awal ia ditarik, Elina berharap seseorang akan menolongnya. Ia yang selalu percaya dari sekian banyak pengagumnya, akan ada setidaknya satu orang yang menolongnya. Namun, nampaknya kepercayaan itu telah sirna.


Elina sudah melihat kenyataan bahwa tak ada kecantikan yang mampu mengalahkan kekuatan. Para pengagumnya tak ada satu pun yang berani berdiri membelanya. Sedih, marah, kesal ... semua perasaan itu bercampur aduk di dalam diri Elina.


Mengapa ...? Bukankah kalian mengagumiku?! Bukankah kalian mencintaiku, menyukaiku, menyayangiku?! Lalu ... lalu mengapa tak ada yang mau menolongku?! teriak murka Elina di dalam hatinya.


Tolong ... siapa saja, tolong! batin Elina dengan air mata mengalir dan bibir Michel yang sudah hampir menyentuh bibirnya.


"Hoam ..."


Satu uapan kantuk yang membuat seisi kelas menjadi kaku. Satu uapan kantuk yang mencegah bibir Michel dan Elina bertemu. Seisi kelas melihat ke satu arah yang sama, Rigla.


"Kupikir kalian ingin bertemu denganku ... jadi, mengapa menyentuh gadis tak bersalah?" ucap Rigla dengan mata terpejam serta memegang leher dengan tangan kiri dan membunyikan lehernya.


Semua orang terkejut mendengar ucapan tersebut.


"Diamlah!" bentak Ardha memukul pipi kiri Rigla.


Rigla bersandar di dinding kelas dengan kaki lurus sementara Ardha jongkok di hadapannya.


"Hoam ..." ejek Rigla dengan menguap.


Ardha memanas, dirinya memberi hantaman beruntun ke wajah Rigla.


"Hah?! Apa kau tidak bisa membalas?! Takut?! Iya, takut?!" teriak Ardha mencoba menunjukkan kekuasaannya sembari terus menghantam Rigla.


Teman-teman satu kelas Rigla menelan ludah. Mereka semakin tak berani untuk bahkan bergerak satu inchi.


"Au!" ucap lirih Elina tak sengaja. Tangan yang semula memegang halus dagunya, berubah seperti alat pemecah kacang\ yang sedang mencoba memecahkan kacang kenari.


Elina ketakutan, jauh lebih ketakutan dari sebelumnya. Wajah penuh kekesalan dan amarah terlihat jelas di muka seorang Michel. Michel melepas pegangan tangannya, berjalan menuju ke arah Rigla.


Melihat Elina yang sudah lepas, teman-teman wanitanya langsung menghampiri dan menadang Elina. Secara sahut menyahut bak ombak yang saling bertabrakan, teman-temannya menanyai kondisi Elina. Teman kelas yang laki-laki pun mulai menghampiri Elina dan menanyai kondisi Elina, menambah bising di kuping Elina.


Elina kesal, tapi menyembunyikannya. Ia mengacuhkan semua pertanyaan itu. Fokusnya hanya tertuju pada satu hal: Rigla.

__ADS_1


Merasakan aura yang mencekam dari belakangnya, Ardha terdiam keringat dingin. Ia yang sudah hafal dengan aura tersebut, langsung menyingkir dair hadapan Rigla.


Dak! Suara yang sangat keras membuat semua orang lagi-lagi terdiam. Kaki kanan Michel berlumuran darah.


Mata Elina melebar, ia menyaksikan sendiri apa yang baru saja terjadi.


"Kita kembali," ucap Michel yang telah melampiaskan amarahnya.


"Baik, Bos," jawab para pengikutnya.


Michel dan pengikutnya keluar dari kelas, diikuti Ardha di belakangnya. Sebelum meninggalkan kelas, Ardha menarik rambut Rigla, memberikan sebuah peringatan. "Jaga sikapmu, Anak Baru! Kalau tak mau seperti ini lagi ... maka hormat-hormatlah kepadaku!" lalu membanting kepala Rigla hingga membentur dinding tempatnya tadi bersandar.


Ardha berjalan dengan wajah penuh kebanggaan, penuh kepuasan. Ia melirik ke seisi kelas yang sudah penuh ketakutan. Ardha menyeringai dan membanting (menutup) pintu dari luar.


Tepat setelah pintu tertutup, Elina langsung berniat untuk berlari menghampiri Ardha. Namun, teman-teman sekelasnya seolah-olah mencegah dirinya untuk mendekati Rigla.


"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Elina.


"Jangan ke sana, Elina! Kau tahu sendiri akan bahayanya bukan?!" jawab salah seorang teman sekelasnya.


Elina melihat ke wajah teman-teman sekelasnya yang lain, dan semuanya nampak setuju dengan apa yang diucapkan oleh si siswi yang menjawab bentakan Elina. Bahkan, tak sedikit yang memasang raut muka yang seolah-olah mengatakan "Aku akan mencegahmu ke sana, walau nyawa taruhannya!"


Elina sangat jengkel, ia belum pernah merasa sejengkel ini seumur hidupnya. Ia yang biasanya sedang dilindungi, diperhatikan, untuk pertama kalinya merasa sangat tidak ingin "dijadikan dewi".


"Minggirla-!" ucap kesal Elina.


Diego datang dengan napas yang terengah-engah serta wajah panik yang tak bisa disembunyikan.


"RIGLA! DI MANA RIGLA?!" teriak Diego dengan muka marah serta kesal.


Tak ada yang langsung menjawab. Elina ingin menunjuk ke arah tempat Rigla berada, namun lagi-lagi dicegah oleh teman-teman sekelasnya.


"Sialan! Rigla, di mana ka-?!" ucap Diego yang tertegun tatkala melihat bekas darah di pojok belakang kelas.


Diego langsung berlari dan tatkala melihat kondisi Rigla, jantungnya serasa akan copot. Lemas, sangat lemas. Ia merasa gagal sebagai kakak kelas sekaligus teman.


Rigla ... benar-benar babak belur. Bersimpah darah dengan kesadaran yang sudah entah ke mana. Baju yang semula putih sudah berubah menjadi merah. Diego menggemeretakkan gigi dan langsung menggendong Rigla di punggungnya. Ia menendang pintu kelas belakang hingga pintu tersebut terhempas.


Diego langsung berlari menuju ke UKS, meninggalkan kekacauan di dalam kelas Rigla.


***


Dua jam telah berlalu. Bel tanda istirahat kedua telah berbunyi. Tepat setelah bel berbunyi, Rigla terbangun dari pingsannya.

__ADS_1


Bantal empuk di kepala dengan embusan pelan dari jendela membuatnya dengan cepat menyadari ia sedang berada di mana.


Rumah sakit ...? Tidak ... sekolah tidak semurah hati itu .... UKS? batin Rigla.


Rigla melirik ke sekitarnya. Tirai krim yang menutupi serta membatasi tempatnya tidur, jendela yang terbuka, dan seorang gadis yang tertidur di atas kursi dengan kepala berada di pinggiran kasur Rigla. Gadis itu dengan tangan disilangkan menjadi alas kepalanya.


Siapa dia ...? batin Rigla.


Gadis berambut pendek ungu itu, tertidur dengan sangat pulas. Seolah-olah itu adalah tidur pertamanya setelah sekian lama tak menyentuh kasur.


Kreek! Suara tirai digeser.


"Rigla!" teriak Diego dengan bersemangat. Raut mukanya menunjukkan seberapa besar rasa syukurnya melihat Rigla telah sadarkan diri.


Teriakan Diego membuat sang gadis yang sedang tertidur terbangun. Ia sempat ngelindur sejenak, namun ketika mengingat akan pasien yang sedang tertidur dan tugansya, ia langsung berdiri dengan wajah memerah.


"Ma-maafkan aku!" ucap sang gadis.


Rigla memberi jawaban dengan kode tangan kiri sedikit diangkat.


"Ba-bagaimana kondisimu ...?" tanya sang gadis.


"Sudah membaik ..." jawab pelan Rigla yang kemudian memejamkan matanya.


"Rigla, biar kuperkenalkan, dia adalah unit kesehatan sekolah sekaligus teman satu kelasku, Iara! Dialah yang mengobatimu," ucap Diego.


Mendengar hal itu, Rigla membuka matanya, melihat ke arah Iara.


"Aku belum bisa berdiri. Maafkan aku karena mengucapkan terima kasih dari posisi berbaring," ucap Rigla dengan tersenyum halus.


Senyuman halus yang dapat membuat setiap gadis jatuh hati padanya, tak terkecuali Iara. Iara tersipu malu mendengar ucapan terima kasih dari Rigla.


"T-tidak masalah, sudah tugasku sebagai unit kesehatan sekolah untuk mengobati siswa yang terluka ..." jawab Iara grogi.


Diego tertawa kecil sejenak. Ia kemudian menaruh kantung kresek berisikan roti dan susu di atas kasur Rigla. Dan dalam sekilas, raut muka serta auranya berubah.


"Rigla, Michel yang melakukan ini padamu?" tanya Diego dengan muka sangat serius.


Rigla memejamkan mata serta mengangkat sedikit kedua alisnya.


Diego yang kesal langsung memukul dinding UKS. "Sial! SIALAN!"


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2