
Sebelum chapter ini dimulai, Author ingin berterima kasih kepada teman-teman pembaca sekalian yang sudah membaca, memberi like, maupun menjadikan novel ini menjadi favorit teman-teman pembaca sekalian. Adapun hal yang lain, Author ingin memberi tahu tentang ketidakkonsistenan atau keanehan tanda baca /*/.
Hal tersebut disebabkan, Author jarang menulis satu chapter penuh langsung selesai. Biasanya Author jadikan Draft terlebih dahulu, lalu ketika ada waktu dan ide, Author lanjutkan. Namun, Author baru menyadari bahwa menjadikan chapter yang ditulis sebagai Draft, akan merubah tulisan yang seharusnya miring atau ditulis tebal menjadi tulisan tegap dengan tanda /* atau **/.
Oleh karena itu, atas ketidaknyamanannya, Author mohon maaf.
Selamat membaca dan semoga terhibur!
***
1 Agustus 2015, adalah hari bersejarah bagi klub sepak bola SMA Allagi, tempat di mana Rigla dan yang lain bersekolah. Sekolah berjalan seperti biasa, hingga akhirnya sore hari pun tiba.
Seperti biasa, setiap klub memulai aktivitas klubnya masing-masing. Semua berjalan normal, hingga klub sepak bola datang memasuki lapangan sepak bola. Semua orang melihat ke arah para anggota klub sepak bola, berbisik-bisik menyebarkan rumor yang tidak jelas. Rigla dan Diego berjalan membawa sebuah gawang kecil, sementara anggota yang lain berjalan membawa peralatan-peralatan latihan yang lainnya.
Tak seperti Rigla dan Diego yang sudah tak acuh, Hamka dan yang lainnya masih merasa tidak nyaman dengan tatapan tidak senang dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Apakah segini cukup?" tanya Diego menaruh gawang kecil.
Lapangan yang digunakan dalam 3v3 memiliki luas satu sisi lapangan/seperempat dari total luas lapangan.
"Aku rasa cukup," jawab Rigla yang memindahkan tiang gawang lainnya.
"Yosh! Mari kita mulai!" ucap Diego yang berlari kecil menuju ke tengah lapangan, bersiap memulai Kick-Off.
Beberapa saat sebelumnya, ketika masih di dalam ruang klub, Rigla membagi tim dengan masing-masing dipimpin oleh Diego dan Hamka. Tim Diego terdiri dari Diego, Philip, dan Bima. Di tim Hamka ada Hamka, Aji, dan Firman.
"A-aku melawan Kak Diego?!" ucap Hamka dengan menunjuk dirinya.
"Hahaha! Mari kita buat permainan yang menyenangkan!" ucap Diego menepuk-nepuk punggung Hamka.
Philip dan teman-temannya saling berhadapan dan bersalaman.
"Tim Kak Diego tak akan kalah," ucap Philip dengan memberi tos ke depan.
Rigla meniupkan peluit, Diego mengoper ke belakang. Bola diterima oleh Bima dan dibawanya ke depan. Bima dihadang oleh Aji, namun ia dengan cepat mengoper satu-dua ke Philip. Bima kembali membawa bola meninggalkan Aji yang nampak terkejut dengan operan cepat Bima-Philip.
"Oper, oper!" teriak Diego yang berada di area gawang lawan.
Philip melambungkan bola ke area gawang lawan. Diego menyeringai melihat bola yang akan datang kepadanya. Ia langsung mengambil kuda-kuda untuk melancarkan tendangan salto.
"Fire Shoo-!" teriak Diego dengan mengeluarkan api di kaki kanannya.
Hamka melompat, menyapu bola ke depan.
"Hamka?!" ucap Diego yang kemudian terjatuh ke tanah dengan wajah tidak percaya.
"Serangan balik!" teriak Hamka dengan satu tangan ke depan.
__ADS_1
Firman menerima bola yang disapu oleh Hamka. Ketika ia baru menyentuh bola, Bima sudah berada di belakangnya. Namun, Firman dengan tenang melakukan gerakan yang sangat indah seperti seorang seniman memainkan kuasnya.
Dengan sedikit mendorong bola menggunakan bagian belakang kaki kirinya, Firman berputar dan bola melewati kedua kaki Bima (mengolongi Bima). Firman langsung berlari dan memberikan umpan menggunakan kaki luarnya sehingga bola bergerak seperti bulan sabit.
Aji dengan cepat menerima bola tersebut, serangan balik cepat tidak dapat ditahan oleh Tim Diego. Aji dengan mudah melesatkan bola ke dalam gawang.
Aji melakukan selebrasi, diikuti oleh tos dari Firman dan Hamka. Ketiganya berselebrasi dengan cukup meriah hingga membuat Tim Diego terbakar oleh amarah.
"Kita balas ketertinggalan ini!" ucap Diego dengan mata berapi-api.
"YA!" balas Philip dan Bima.
***
Permainan dilanjutkan dengan tendangan gawang dari Tim Diego. Bima mengoper kepada Philip, Philip menggiring pelan bola ke depan, mencoba mencari ruang. Aji datang menghadang, Philip mencoba mempertahankan bola. Duel sengit terjadi antara keduanya. Philip mencoba mencari ruang untuk mengoper bola, tapi Diego dijaga ketat (oleh Hamka) hingga tak ada ruang untuk dioperkan bola.
Sementara itu Bima nampak ragu-ragu karena tidak berani mengambil risiko seperti sebelumnya. Philip mengecap kesal karena kebingungan dalam mengambil keputusan. Aji yang melihat celah kecil tersebut, langsung menyikatnya. Ia dengan cepat menerjang Philip dan mencuri bola lalu memulai kembali serangan balik.
Philip sedikit terpeleset karena terkejut, namun dapat langsung bangkit. Namun, perbedaan sepersekian detik tersebut sangatlah fatal, terutama lawannya adalah pemain tercepat.
Aji dengan cepat membawa maju bola ke depan, Bima yang masih berada di belakang di hadapkan dengan situasi 1v2. Aji mencoba memainkan bola, memancing agar Bima mendekat kepadanya. Namun, Bima terus berada di posisi yang pas, membuat Aji kesulitan dalam menendang maupun mengoper bola.
Waktu yang telah diberikan Bima tidak disia-siakan oleh Philip. Philip yang terus berlari langsung menekel bersih Aji dari belakang. Aji terjatuh, namun bukan sebuah pelanggaran. Bola keluar, memberikan tendangan sudut untuk Tim Hamka.
Philip berdiri dan dengan bangga beradu dada dengan Bima.
"Huagh!" teriak Philip dan Bima seperti gladiator yang baru saja memenangkan pertarungan. Dari kejauhan, Diego mengepalkan tangan kuat, mengangkatnya hingga sejajar dengan dada, dan sedikit menggerakkannya sembari berkata, "Bagus!"
***
Namun, semua itu hanyalah tipuan cerdik dari Tim Hamka.
Aji langsung berlari mendekati Firman, membuat Tim Diego lengah dan kehilangan fokus. Firman dengan cepat menendang bola, membuat Tim Diego panik walau hanya sepersekian detik. Bima, Philip, dan Diego langsung terfokuskan dengan Aji yang berlari mendekati Firman. Sehingga mereka tak sadar, bahwa ada satu lagi pemain yang sudah berada di posisi yang sangat nyaman untuk menendang.
Firman menendang bola bukan ke arah Aji, melainkan Hamka.
Bola yang melesat melewati Aji membuat Tim Diego terkejut. Ketiganya hanya bisa melihat ke mana bola melaju dan mempasrahkan segalanya kepada Yang Di Atas.
Hamka berlari menuju ke titik yang sudah ia perkirakan, di mana bola dengan kakinya akan bertemu. Hamka menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua kekuatan di kaki kanannya.
Pertandingan yang intens antara kedua tim tersebut, sudah sejak awal menyita perhatian semua orang. Mereka yang tadinya berbisik-bisik, dibuat terdiam dengan aksi dari para anggota klub sepak bola. Mereka yang tadinya sedang melaksanakan aktivitas klub, terbius dengan memukaunya gerakan dari Aji dan yang lain.
Mereka yang sudah berniat pulang sekolah, mengurungkan niatnya dan memilih meluangkan waktu dengan pandangan kagum melihat keindahan taktik dan kerja sama para anggota klub sepak bola.
Semua orang yang ada di sekitar tersebut, terfokuskan perhatiannya kepada Hamka, yang sudah siap menendang bola. Semua orang tanpa sadar berteriak, "TENDAAANGG!!".
Teriakan dukungan tersebut membuat Hamka semakin percaya diri. Dadanya semakin dibusungkan, kekuatannya semakin dimaksimalkan. "Huagghhh!!" teriak Hamka dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Tuing~ bola melewati kakinya begitu saja.
Semua orang berubah menjadi patung, tak ada yang bisa bereaksi karena ekspetasi mereka benar-benar hancur oleh hal yang sepele tersebut.
Hamka langsung bersimpuh dengan kepala yang menukuk. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
A-a-a-a-a-a-a-apa yang baru saja aku la-la-la-lakukan?!!! teriak Hamka di dalam hatinya.
Semua orang tertawa, tak terkecuali Tim Diego dan Tim Hamka. Ketika tawa sedang pecah-pecahnya, Diego baru menyadari bahwa bukan hanya "mereka" yang tertawa, tapi semua orang yang ada di sekitar lapangan.
Melihat sepak bola seperti mulai diterima, membuat Diego semakin bersemangat. Dengan membusungkan dadanya, ia berteriak, "Ayo kita mulai serangan balik!" dan diikuti "Ya!" oleh teman-teman satu timnya.
***
Pertandingan selama lima belas menit telah berakhir. Walaupun terkesan sangat singkat, namun dalam lima belas menit tersebut telah terjadi banyak hal. Kemampuan tiap individu semakin terlihat, kerja sama antar pemain semakin meningkat. Dan yang paling penting, sepak bola "mulai" diterima oleh para siswa di sekolah Allagi.
Rigla meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan. Skor akhir adalah 3-4, dengan kemenangan diraih oleh Tim Hamka.
"Kita menang!" teriak Hamka diikuti sorakan dari Aji dan Bima.
"Pertandingan yang bagus. Aku tak sabar untuk pertandingan-pertandingan yang lainnya," ucap Philip menghampiri Tim Hamka bersama Bima.
"Terima kasih, terima kasih," jawab Hamka. "Hm? Kak Diego mana?"
Kelimanya seperti orang linglung, mencari di mana Diego. "Ah, itu ... dia ..." ucap Firman yang kemudian berekspresi sedikit jijik. Keempat lainnya melihat ke arah yang ditunjuk Firman, dan keempatnya juga memasang ekspresi yang serupa.
Diego yang bertungging murung seperti anak kecil, membuat kelima orang tersebut sedikit jijik.
Prok ... prok ... prok ...
Suara tepuk tangan perlahan-lahan semakin cepat dan keras. Suara tepuk tangan tersebut membuat kedua tim kebingungan. Diego yang masih bertungging mengangkat kepalanya, melihat ke sekitarnya. Hamka dan yang lainnya juga melihat ke sekitarnya.
Para siswa memberikan tepuk tangan atas pertandingan hebat yang telah dilakukan oleh kedua tim.
"Keren! Aku tak sabar untuk melihat aksi kalian lagi!"
"Diego! Tendangan api benar-benar dahsyat!"
"Aku tak tahu siapa dia, tapi dia sangat cepat!"
Pujian demi pujian dilancarkan, membuat para anggota klub tersipu malu namun bangga. "Apakah ... ini yang disebut pujian?" adalah kata yang terlintas di benak Hamka dan keempat orang lainnya. Hanya empat ... karena Diego ....
"Ohh! Terima kasih, terima kasih!"
Dengan bangga berdiri tegap dengan kedua tangan dilambaikan seperti seorang juara yang dilempari bunga oleh para penggemarnya.
---===---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---