
Suasana canggung menyelimuti seisi lapangan utama sekolah, terutama pada Michel dan komplotannya.
"Ada apa?" tanya Dea kepada Elina.
"Ah, tidak ..." jawab Elina yang nampak murung.
"Hmm, apa kamu tahu, bahwa ini semua disebabkan oleh mereka sendiri?" tanya Dea. Mulut Elina sedikit terbuka, bola matanya melihat ke kanan bawah.
Dea menghela napas. "Jujur aku tak begitu peduli padamu, sih. Tertarik sedikit mungkin iya. Tapi, sebagai kakak kelasmu, aku memberikanmu satu peringatan."
Elina melihat ke wajah Dea.
"Jangan mencoba jadi sempurna. Jujurlah pada dirimu sendiri," ucap Dea dengan wajah serius. Mata Elina sedikit terbuka, seolah-olah Dea telah menampar dirinya dengan kalimat yang selama ini bergemuruh di hatinya, namun selalu ia coba tolak.
"Eh, bukankah itu dua? Sudahlah, anggap saja bonus, hahaha!" ucap Dea dengan wajah kikuk. "Dah, ya!" ucap Dea dengan tersenyum melambaikan tangan bersamaan dengan pergi meninggalkan sisi selatan lapangan bersama dengan teman-temannya.
"E-Elina ... nona mungkin nampak kekanak-kanakan, tapi kalau Elina mengenalnya lebih dalam ... nona adalah orang yang sangat dewasa. Oleh karena itu, mohon dengarkanlah nasihatnya dengan baik-baik!" ucap Renatta dengan wajah serius walau belibet.
"Renatta!" panggil Dea dari kejauhan.
Mendengar panggian dari Dea, wajah Renatta memerah. "A-ah, maafkan aku!" ucapnya yang kemudian pergi menyusul Dea. Apa yang baru saja kamu katakan, Renatta?! batinnya.
Eliana tersenyum tipis melihat kepergian Dea dan teman-temannya. Ia kemudian melirik ke arah teman-teman satu kelasnya berada, dan seketika teman-teman sekelasnya mengalihkan pandangan mereka.
"Pasti sulit, bukan?" ucap Diego.
Elina sedikit terkejut mendengar ucapan Diego yang tiba-tiba. Namun, ucapan Diego seolah-olah telah membaca isi hatinya. Eliana menganggukkan kepalanya.
"Kalau mereka memang temanmu, maka mereka akan menurunkan egonya untuk meminta kembali berteman denganmu. Oleh karena itu, jangan coba-coba kau turunkan harga dirimu untuk kembali berteman dengan mereka," ucap Diego yang kemudian pergi memasuki lapangan.
Eliana mengepalkan kuat kedua tangannya.
Sial, sial, sial, sial! baitn Michel depresi dengan memukul-mukul tanah. Komplotannya tidak ada yang berucap sepatah kata pun. Kondisi pertemanan mereka seperti telur di ujung tanduk, salah sedikit langkah saja, maka pertemanan mereka akan hancur seketika.
"Michel," panggil Diego yang berjalan ke arah Michel.
Diego! batin komplotannya Michel.
"Apa maumu? Ingin menertawaiku?" jawab ketus Michel.
Diego berhenti tepat tiga langkah di hadapan Michel.
__ADS_1
"Pertandingan yang bagus."
Mata Michel terbuka sesaat.
"Oi ... apa maksudmu ...?" jawab Michel dengan tatapan tajam. "Aku dikalahkan, dipermalukan seperti itu ... 'pertandingan yang bagus' katamu ...?"
Diego membalikkan badannya dan berjalan pergi menjauhi Michel dan komplotannya.
"Oi, Bajingan! Apa maksudmu?!" teriak salah seorang dari komplotan Michel.
"Ya! Berani-beraninya kau menghina Michel seperti itu!" teriak siswa yang memotret Rigla.
Satu per satu dari komplotan Michel mulai meneriaki Diego. Michel yang masih kesal kemudian baru tersadar oleh sesuatu. Mulutnya yang ingin berteriak, tiba-tiba terasa berat untuk digerakkan. Mata yang semula menatap dengan penuh kemarahan, berubah menjadi tatapan mata yang baru menyadari sesuatu, mata yang seolah-olah mengatakan "Jadi itu maksudmu ...."
Aku tak ingin mengucapkannya ... tapi ... sial! Kalau ada waktunya akan kuucapkan secara langsung saja! batin Michel kesal menatap tanah.
***
Di dalam ruang sepak bola, Rigla melepaskan kedua sarung tangan serta atasannya.
Ketika baju yang hampir terlepas terhenti di pergelangan tangannya, ia teringat dengan apa-apa yang telah Michel dan komplotannya lakukan pada dirinya dan kedua temannya, Fergie dan Diego. Rigla menukuk dengan wajah murung.
"Ibu ... apakah aku melakukan hal yang benar ...?"
***
Canggung sekali ... apakah aku harus meminta maa- batin Elina yang kemudian teringat dengan kata-kata Diego dan Dea. Tidak-tidak ... benar kata kak Diego dan kak Dea. Aku tidak boleh menundukkan kepala hanya agar mendapat 'tempat'. Aku juga harus mulai jujur pada diriku sendiri!
Jujur pada diri sendiri ...? Apa maksudnya? batin Elina yang baru tersadar dengan maksud ucapan Dea yang belum ia mengerti.
Drekk, pintu belakang terbuka. Rigla datang dengan tas tali yang berisikan perlengkapan sepak bolanya. Seisi kelas melihat ke arahnya dan langsung mengalihkan pandangan dengan ketakutan begitu Rigla melihat balik ke arah mereka. Meski begitu, ada satu siswa yang benar-benar tak berani melihat satu milimeter pun ke arah Rigla.
Ia adalah siswa yang 'memberi peringatan' kepada Fergie untuk tidak berteman dengan Rigla. Siswa tersebut gemetar bukan main. Ia benar-benar takut dengan apa yang akan dilakukan Rigla kepadanya.
Elina tidak menyadari kedatangan Rigla yang membuat seisi kelas menjadi lebih canggung. Ia masih sibuk memikirkan maksud dari perkataan Dea mengenai 'jujur pada diri sendiri'.
Jujur pada diri sendiri? Apa maksudnya? Aku tahu selama ini aku mencoba untuk jadi sempurna ... tapi maksudnya jujur dengan diri sendiri?
Rigla berjalan mendekati tempat Elina duduk.
Jujur? Apakah jujur dengan perasaan?
__ADS_1
Para siswa kebingungan melihat Rigla berjalan ke arah papan tulis.
Jujur dengan perasaan ...? APAKAH ITU ARTINYA JUJUR DENGAN RASA SUKA? Suka ...? Suka dengan siap-? batin Elina yang kemudian langsung teringat dengan seseorang.
"Ahhh! Tidak mungkin dengan orang itu, bukan?!" ucap Elina yang langsung berdiri wajah semerah tomat.
"Elina,"
Elina tertegun. Suara ini ...! batin Elina yang seperti mengenal suara yang memanggilnya. Ia dengan terkaku-kaku, melihat ke arah orang yang memanggilnya.
"... terima kasih, karena sudah mendukungku," ucap Rigla dengan tersenyum sembari mengulurkan tangan.
Seisi kelas terkejut melihat apa yang baru saja mereka lihat dan dengar. Pertama, teriakan Elina, yang kedua, ucapan terima kasih Rigla kepada Elina.
Para siswa laki-laki yang langsung berpikir bahwa Rigla sedang mencoba modus kepada Elina, langsung gregetan ingin menghajar Rigla. Namun, mereka yang sadar bahwa akan langsung dibantai habis oleh Rigla, hanya bisa menggemeratakkan gigi dengan kepala yang berurat.
"S-s-sama-sama ... pangeranku ..." jawab Elina dengan malu-malu kaku.
Eh? batin seisi kelas (kecuali Rigla).
"PANGERANKU?!" teriak para siswa dengan heboh bukan main.
Elina langsung bertinggung malu menutupi kedua wajahnya. Wajah yang semula sudah semerah tomat, sekarang seperti air panas yang baru saja mendidih.
Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh, Elina bodoh!!! batin Elina yang seperti ingin melompat dari lantai teratas gedung pencakar langit.
Rigla tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya terbuka lebih lebar daripada biasanya. Mulutnya juga sedikit terbuka. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Seisi kelas yang semula takut dengan kehadiran Rigla dan merasa sungkan dengan Elina, langsung berbisik-bisik tentang maksud 'pangeranku' yang diucapkan oleh Elina.
"Tapi itu tidak salah! Bukankah waktu itu Rigla seperti menyelamatkan Elina dari Michel?" ucap seorang siswi.
"Ya, ya! Apa sejak saat itu Elina jatuh hati kepadanya?!" balas siswi lainnya.
Apa yang diucapkan oleh sang siswi membuat seisi kelas semakin heboh.
AHHHHHH!!!! teriak Elina malu semalu-malunya di dalam batinnya.
---===---
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
__ADS_1
---===---