
DEM! Sebuah shockwave keluar hingga membuat para siswa sedikit terdorong ke belakang.
Beberapa saat kemudian, semua orang dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat, terutama sang penendang, Michel. Bola yang ditendang dengan kekuatan penuh, bola yang dapat menembus sebuah dinding dengan mudah, ditahan dengan satu tangan oleh Rigla.
Rigla mengangkat kepalanya perlahan, matanya ia buka secara perlahan pula.
"Holy Knight ... entahlah .... Sebuah nama yang terlalu hebat untuk tendangan seperti itu," ucap Rigla melepaskan bola dari tangannya.
Rigla melirik ke sekitar dan yang ia temui hanyalah wajah tidak percaya. Ia melirik ke belakang, ke orang-orang yang mendukungnya, dan yang ia temui juga hanyalah wajah tidak percaya. Semuanya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, tak terkecuali Diego.
Tendangan tadi ... sudah pasti itu Holy Knight milik Michel! Dan Rigla ... menahannya dengan satu tangan?! Bahkan tanpa mengeluarkan Novis! batin Diego dengan mulut menganga tak percaya. Dia ... sudah kuduga! Tidak, lebih dari yang kuduga! Aku tahu kalau dia hebat, tapi ini lebih dari hebat!
Rigla tersenyum tipis ke arah Diego. Diego yang merasakan senyuman tersebut, langsung meninju langit dan berteriak, "RIGLAA!!"
Elina, Renatta, dan Dea beserta kelompoknya terkejut mendengar teriakan Rigla yang seperti memanggil orang dari gunung yang berbeda. Teriakan Rigla juga mengejutkan orang-orang di sekolah tersebut. Tapi bagi Michel, teriakan tersebut merupakan sebuah penghinaan.
"DIAMLAH! Tidak ... tidak mungkin kau bisa menahan tendanganku seperti itu!" teriak Michel tak terima.
"Tak terima? Maka tendanglah lagi," balas Rigla mendorong pelan bola dengan bagian bawah kaki kanannya.
Bola berjalan pelan ke arah Michel. Michel yang kesal, apalagi diberikan bola dan diremehkan oleh Rigla, langsung menendang bola dengan Holy Knight Shoot-nya.
"HOLY KNIGHT SHOOT!" teriak Michel.
Kesatria bersayap kembali keluar mengiringi laju sang bola. Rigla tidak menepis bola, tapi menamparnya dengan punggung tangan kanannya.
Bola melesat ke langit seperti roket yang baru diluncurkan. Kembali membuat semua orang yang ada di lapangan terdiam layaknya patung dengan mulut terbuka.
Bola kembali dari langit seperti sebuah meteor, lalu menghantam tanah dengan kuat tepat di samping Rigla. Bola hampir tertanam di dalam tanah, dengan retakan yang dapat ditemui di sekitarnya.
"Puas?" tanya Rigla.
Michel menelan ludah. Ia sudah yakin bahwa tendangan yang ia baru saja keluarkan adalah tendangan pamungkasnya. Geng Michel mulai gemetaran.
"Mi-Michel! Tendanglah seperti biasa kamu menendang! Tendangan fantastis itu!" ucap siswa yang memotret dan menertawai Rigla.
"Y-ya! Bukankah kau Michel sang Malaikat Kematian?!" ucap siswa yang meneriaki agar para siswa menjauhi Rigla.
Satu per satu siswa yang ada mulai meneriaki nama Michel. Mereka yang masih tidak percaya dengan kenyataan, mereka yang takut akan kenyataan, mereka yang takut ... akan apa yang telah mereka perbuat.
"Ada apa, Michel? Bukankah semua orang sedang mendukungmu, menyoraki namamu?" ucap Rigla.
Michel gemetar takut mendengar ucapan Rigla.
__ADS_1
"Sekarang, jawab jujur pertanyaanku ..." ucap Rigla dengan tatapan mata tajam yang seolah-olah berkata 'kubunuh kau kalau kau berbohong'. Aura hitam perlahan-lahan keluar dari tubuh Rigla.
Michel meneguk ludah, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Gemetar yang lebih dahsyat dari getaran sebuah gempa ia rasakan.
"... siapa yang menyentuh temanku, Fergie?" ucap Rigla yang mengeluarkan aura hitam seperti api yang bergejolak.
"Bu-bukan aku!" jawab Michel yang terjatuh ke belakang dengan posisi bertongkat lutut.
Semua orang dibuat terkejut dengan melihat terjatuhnya seorang Michel, sosok yang paling ditakuti satu sekolah.
Rigla mengambil bola yang tertanam di dalam tanah.
"Kau tahu jenis bola apa ini, kan?" ucap Rigla dengan sedikit menyeringai. Michel mengangguk takut. Senyuman di wajah Rigla menghilang bersamaan dengan tangan kanan yang menggenggam bola tersebut dengan sangat kuat hingga meletuskan bola tersebut.
Semua orang lagi-lagi dibuat terkejut.
Bola itu ... adalah bola yang dibuat dengan khusus untuk menahan kekuatan Novis seseorang. Dan Rigla ... menghancurkannya dengan satu tangan?! batin Diego.
"Aku beri satu kesempatan ..." ucap Rigla melepaskan bola yang sudah meletus dan mendekati Michel.
Mata Michel melebar, ia sudah tahu maksud dari pertanyaan Rigla. Ia juga sudah tahu apa yang akan terjadi kepadanya jikalau ia tidak mau menjawab pertanyaan Rigla.
Setiap langkah yang dibuat oleh Rigla, membuat beberapa siswa terjatuh takut.
"... siapa ..." ucap Rigla yang semakin dekat dengan Michel.
Komplotan Michel melihat Michel dengan wajah ketakutan. Mereka yang ketakutan, langsung berniat lari meninggalkan lapangan.
Bajingan sialan! Kalian mau meninggalkanku?! baitn Michel yang merasa terkhianati.
Tek ...
Michel yang mendengar suara tapakan kaki sudah sangat dekat dengannya, langsung membanting wajahnya ke depan. Ia melihat sepasang kaki sudah ada di hadapannya.
Rigla bertinggung di hadapan Michel.
"... yang melukai-" ucap Rigla dipotong teriakan ketakutan Michel, "MEREKA! MEREKA YANG LARI ADALAH YANG MELUKAI TEMANMU!"
Deng ... jantung semua orang seperti copot seketika. Komplotan Michel yang tadinya berlari, langsung berhenti seperti dibekukan. Semua orang menelan ludah, ketakutan dengan kata 'mereka' yang dimaksud oleh MIchel.
Mereka, apakah itu termasuk aku? Michel ... kau mengadu?! batin setiap orang yang ada.
Rigla melirik ke kanan, depan, dan kiri. Para siswa secara reflek langsung mundur beberapa langkah, walau Rigla sangat jauh dari hadapan mereka.
__ADS_1
Michel bajingan ... kau mengadukanku atas perintahmu?! batin komplotan Michel melihat ke arah Michel dan Rigla.
Rigla berdiri, lalu berbalik dan berjalan kembali ke gawangnya, membuat bingung semua orang. Komplotan Michel yang sudah was-was akan dihajar oleh Rigla, kebingungan melihat Rigla yang kembali ke gawangnya.
"Rigla?" tanya Diego melihat Rigla yang berjalan meninggalkan lapangan.
"Pertandingan sudah selesai, apalagi yang harus aku perbuat?" jawab Rigla berjalan melewati Diego.
Rigla pergi begitu saja, seperti tak ada kejadian apa-apa.
Diego melihat ke arah Michel yang ketakutan dan menatap ke tanah dengan lemas. Diego menyipitkan matanya dan menggemeratakkan giginya. Ia berbalik badan dan meraih lengan Rigla.
"Rigla," ucap Diego.
"Apa yang kauharapkan? Menghajar mereka?" tanya Rigla tanpa melihat ke wajah Diego.
Diego tertegun mendengar ucapan Rigla. "Bukan begitu ... tapi, setelah semua perlakuan yang mereka lakukan padamu bahkan Fergie, apa kau yakin akan meninggalkan mereka begitu saja seoalah tak terjadi apa-apa?" tanya Diego.
"Tak terjadi apa-apa ... hahaha," jawab Rigla dengan tertawa kecil. "Tentu saja aku paham dengan maksudmu, tapi ... pertandingan sudah aku menangkan, yang mana artinya pertandingan sudah berakhir. Bukankah begitu kesepakatannya?"
"Lalu ... seandainya pertandingan belum berakhir ...?" tanya Diego.
Rigla melihat ke wajah Diego dengan mata melotot penuh amarah.
"Kubunuh mereka."
Mulut Diego terbuka. Pegangan tangannya terhadap lengan Rigla melemah. Rigla memalingkan wajahnya dan berjalan pergi meninggalkan Diego dan yang lainnya.
Elina yang melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi, menepuk pundak Diego. "K-Kak Diego ...?"
Diego mengepalkan kedua tangannya dan melihat ke arah Michel beserta komplotannya yang dalam suasana canggung
Kau benar, Rigla ... meskipun ini kenyataan yang pahit, tapi kau benar, batin Diego.
Pak Yudha yang tadinya sudah bersiap untuk melerai jikalau Rigla melayangkan sebuah tinju, tersenyum bangga dengan Rigla yang dapat menahan diri.
"PRITT! Pertandingan antara Michel dengan Rigla, dinyatakan telah berakhir dan pertandingan dimenangkan oleh ..." ucap Pak Yudha.
Seorang pemain sepak bola ... akan menyelesaikan semuanya di atas lapangan, batin Diego melihat ke arah Michel yang dikelilingi komplotannya dengan suasana canggung.
"... Rigla!"
---===---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---