
Dua hari telah berlalu sejak bergabungnya Hamka dengan klub sepak bola. Matahari telah melewati puncaknya, beberapa kegiatan ekstrakulikuler/klub sudah ada yang mulai berjalan.
Suara riuh dari masing-masing klub yang ada, membuat Diego yang duduk di depan ruang klub (bersama Hamka dan Rigla) tidak tahan dengan keheningan menunggu para calon anggota baru.
"Siaalll! Kita tidak bisa seperti ini terus!" teriak Diego dengan berdiri secara tiba-tiba membuat kursi yang didudukinya terjungkal.
Hamka terkejut dan memasang wajah canggung, sementara Rigla duduk bersilang tangan dengan memejamkan kedua mata.
"Yah, Hamka memang kasus yang unik ... untuk mendapatkan anggota lagi, kita harus mulai agresif," ucap Rigla.
Hamka mengangguk-anggukkan kepala.
"Hamka, apakah ada kenalanmu yang punya minat dengan sepak bola?" tanya Rigla.
"Ya! Ya! Apa ada?!" ucap Diego dengan ambisius mendekatkan wajahnya ke Hamka.
Hamka yang masih gugup, menelan ludah. "Ma-maaf ... aku tidak tahu. Teman-teman yang aku kenal tidak ada yang punya minat dengan sepak bola ...."
Jawaban tersebut membuat mata Diego yang berapi-api padam seketika.
"Yah ... kalau begitu mau bagaimana lagi ..." ucap Diego bertinggung murung yang kemudian bermain tanah dengan telunjuknya.
Anak ini ... batin Rigla kesal melihat kelakuan Diego.
"Hah ... mari kita melihat klub-klub yang sudah memulai kegiatan klubnya," ucap Rigla beranjak dari kursinya.
"A-apa tak masalah? Bagaimana jikalau ada yang datang?" tanya Hamka.
Diego berdiri, menepuk-nepuk pantatnya, dan berjalan mengikuti Rigla. Melihat Diego yang berjalan begitu saja, membuat Hamka semakin kebingungan.
"Ayo, kamu juga anak baru, kan? Nanti kalau ada yang SEMISALNYA mau bergabung dengan kita, maka orang itu pasti akan menunggu. Karena apa? Karena pesepak bola sejati ..." ucap Diego yang terus berucap seperti seorang motivator yang berkhayal.
Dengan kepala yang sedikit digoyangkan miring ke depan, Rigla memberi isyarat agar Hamka segera ikut dengannya. Hamka yang ragu, berdiri dari tempat duduknya melewati Diego yang masih terus-menerus berbicara.
***
Pintu belakang sekolah terbuka, membuat suasana yang semula ramai menjadi hening. Para siswa yang tadinya sedang berjalan berhenti, yang sedang berbicara menjadi diam. Mereka ketakutan melihat sosok Rigla yang masuk dari pintu belakang.
Para siswa secara otomatis menepi, seperti terdapat karpet merah di hadapan Rigla yang tak boleh mereka sentuh. Hamka yang selama ini hanya melihat dari jauh, atau menjadi salah satu dari mereka yang takut, sekarang merasakan apa yang dirasakan oleh Rigla dan Diego.
"Menyebalkan ..." ucap Diego lirih yang terdengar oleh Hamka.
Menyebalkan ...? Bukankah keren?! Lihatlah ... mereka semua seperti tunduk kepada kalian! batin Hamka yang cukup bersemangat.
__ADS_1
Rigla melirik Hamka sekilas.
Ketiganya berjalan melintasi lorong sekolah seperti seorang raja yang dikawal oleh dua kesatria. Para siswa mencuri-curi pandang bertanya-tanya tentang siapa sosok baru yang ada di dekat Rigla dan Diego. Mereka memasang tatapan iri dan kesal kepada Hamka.
Dan itu pula menjadi kali pertamanya, Hamka mendapatkan perhatian seperti itu.
Ketiganya menaiki tangga menuju ke lantai atas. Ketika ketiganya sudah tidak nampak lagi, para siswa kembali beraktivitas seperti biasa.
"Hah ... hah, hah, hah ..." ucap Hamka terengah-engah lemas dan keringat dingin. Dengan bertumpu pada dinding, ia membiarkan tubuhnya meluncur pelan ke bawah hingga ia duduk.
"Kau pasti sempat berpikir kalau tadi adalah hal yang keren, bukan?" tanya Rigla dengan sorot mata tajam.
Hamka gemetar sesaat, ia tidak menyangka bahwa Rigla bisa membaca isi pikirannya. Dengan kaku, ia mengangkat kepalanya melihat ke wajah Rigla.
"Tatapan yang mereka berikan ... akan menjadi konsumsi sehari-harimu. Jangan pernah berpikir bahwa saat ini sepak bola seindah bayangan masa kecilmu," tegas Rigla memperingati Hamka.
Hamka menelan ludah, menundukkan kepalanya. Ia merasa malu karena sempat tinggi hati atas sesuatu yang bahkan bukan ia yang capai.
Diego merangkul Hamka dan berkata, "Tenanglah, meskipun keras, gini-gini dia memikirkan tentangmu, loh! Seandainya ia bodo amat denganmu, ya dia ga bakal memperingatimu." Diego tersenyum lebar dengan mengacungkan jempolnya.
Hamka tersenyum dengan mata sayu.
Diego berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Hamka. Hamka menerima uluran tangan tersebut dan ketiganya kembali berjalan.
Baru saja mereka membaca papan nama tersebut, pintu ruang klub menjahit tiba-tiba terbuka.
"Sudah kubilang, bukan?! Tapi mengapa kalian masih ngeyel, hah?!" bentak seorang siswi dengan mata terpejam membanting pintu.
Anggota klub jahit yang semula memasang wajah marah dan terlihat ingin meneriaki sang siswi, langsung berubah pucat dan pura-pura tersenyum.
"Ni-Ninda ..." ucap salah seorang siswi yang berada paling dekat dengan sang siswi yang membuka pintu.
"DIAMLAH! Pokoknya aku mau pergi dulu! Selama kalian masih tidak mempertimbangkan permintaanku, aku akan perg-!" ucap Ninda yang kemudian menabrak dada Rigla.
"Ahh! Sekarang apalagi?!" ucap Ninda yang kemudian membuka matanya.
Deng ... wajah kesal berpadu marahnya berubah pucat.
Mmapuslah kita ... batin Ninda dan teman-teman satu klubnya.
"Ninda! Kebetulan sekali. Aku sedang membawa dua juniorku untuk menengok-nengok klub-klub yang ada di sekolah kita! Bisakah kau memperkenalkan klubmu kepada mereka?" ucap Diego menarik pundak Rigla dan Hamka.
"A-ah ... Diego, ya ... ahaha, tentu saja bisa," jawab Ninda tertawa gugup dengan mata terbuka lebar melirik ke arah teman-temannya seolah-olah berteriak meminta bantuan.
__ADS_1
Ninda ... semangat batin teman-teman satu klubnya.
Kalian!! batin Ninda kesal.
"Jadi, bagaimana?" tanya Diego dengan sedikit menaikkan alisnya.
"O-oh, ya ...." Ninda melirik Rigla lalu membanting arah pandangnya. "Silakan masuk ...."
Ninda mulai memperkenalkan para anggota klub menjahit kepada Diego, Rigla, dan Hamka. Para anggota klub menjahit membungkukkan badan ketika diri mereka diperkenalkan oleh Ninda.
"Dan yang terakhir ..."
Suara mesin jahit yang sedang menjahit berbunyi. Seorang siswa dengan rambut agak berantakan, kancing atas terbuka, sedang menjahit dengan kesulitan.
"Oi, Sarr!" bisik salah seorang anggota klub jahit.
"Hah? Ada apa?" jawab Sarr yang masih fokus dengan jahitannya. Sarr sangat fokus dengan jahitannya hingga keringat tanpa sadar menetes dan mengenai jahitannya. "SIALL! Tisu, mana tisu?!" ucapnya yang akhirnya melihat ke sekitar.
Ia menemukan tisunya dan langsung mencoba mengelap keringatnya yang menetes.
"Sial, sial, sial ... eh?" ucap Sarr yang baru sadar dengan kehadiran Rigla.
"EHHH!! MA-MAAFKAN AKU!" ucap Sarr yang cepat-cepat berlari menghadap Rigla dan membungkuk. "Na-namaku Sarr, Alfredo Sarr. Tolong jangan membunuhku!"
Rigla dan Diego memasang wajah datar, sementara Hamka berkedip kebingungan melihat reaksi Sarr dan respons Rigla serta Diego.
"Berdirilah, Sarr ... dia bukan pembunuh. Lagipula, kalau dia itu pembunuh, sudah sejak tadi jarum yang kau pegang ia tancapkan ke bola matamu," ucap Diego dengan sedikit menakut-nakuti Sarr.
Sarr merinding ketakutan mendengar apa yang diucapkan Diego.
"Diego!" bentak Ninda dengan mengacungkan kepalan tangannya.
"Ahaha, bercanda-bercanda!" balas Diego dengan tertawa.
Tawa Diego tiba-tiba terhenti karena mengingat sesuatu.
"Oh, ya ..." ucap Diego yang membuat perhatian semua orang tertuju padanya. "Bukankah Sarr itu pemain bola?"
---===---
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---
__ADS_1