
Rigla, Diego, Hamka, dan Michel keluar dari ruang kepala sekolah sementara Pak Yudha dan sang Kepsek sedang berbicara satu sama lain yang cukup privasi.
Ketika pintu sudah ditutup dari luar, Kepsek bertanya, "Pak Yudha, siapa anak itu (yang bertanya tentang tujuan kompetisi)?"
"Dia adalah anak yang kemarin bertanding dengan Michel," jawab Pak Yudha.
Mulut Kepsek sedikit terbuka dan sedikit mengangguk. "Sepertinya Anda harus ekstra dalam menjaga para siswa tahun ini, Pak." Kepsek tersenyum.
"Ya, saya setuju, Pak," jawab Pak Yudha melihat ke arah pintu.
Di luar ruang kepsek, Diego bertanya kepada Rigla, "Rigla, apa maksud pertanyaanmu tadi?"
Rigla tidak menjawab, hanya terdiam bertopang dagu seperti orang yang sedang berpikir. Diego dan Hamka saling melihat satu sama lain, Diego sedikit mengangkat kepalanya ke depan memberi isyarat pertanyaan "Kau tahu?" dan dijawab oleh Hamka dengan gelengan kepala.
Ketika Diego dan Hamka sedang "bertepati", Michel membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Rigla dan yang lainnya.
Diego yang melihat Michel pergi, langsung berteriak memanggilnya. Michel tidak mengindahkan panggilan Diego. "Cih! Anak itu ..." ucap lirih Diego.
***
Beberapa saat yang lalu ...
"Kompetisi ini ... tujuannya apa?" tanya Rigla menatap langsung sang Kepsek.
Pertanyaan Rigla membuat Kepsek dan Pak Yudha terkejut, sementara Diego dan Hamka baru menyadari bahwa kompetisi yang ada terlalu mendadak.
"Mengapa kamu bertanya demikian?" tanya Kepsek.
"Kompetisi yang tiba-tiba diadakan, lebih lagi bertemakan sepak bola ... bukankah terlalu banyak kebetulan?" jawab Rigla.
Kepsek tersenyum, "Saya tidak tahu ..." jawab Kepsek yang membuat Rigla, Diego, dan Hamka sedikit terkejut. "... tapi satu hal yang pasti, ini merupakan kesempatan emas kalian untuk meraih impian kalian melalui sepak bola."
"Maksud Anda?" tanya Rigla.
"Apa kamu berpikir bahwa hadiahnya akan hanya yang ada di poster saja?" jawab Kepsek dengan mengangkat kedua alisnya.
Rigla sedikit tertegun. Ia yang merasa janggal semakin yakin bahwa ada sesuatu yang aneh dari kompetisi ini. "Pak Kepsek, dengan segala hormat ... izinkan saya bertanya satu pertanyaan lagi."
Kepsek mengangguk pelan dengan menutup kedua matanya.
"Anda ... berada di pihak kami, bukan?" tanya Rigla dengan tatapan mata curiga.
Pertanyaan Rigla membuat Diego dan Hamka terkejut hingga menganga. Sementara Pak Yudha juga dibuat terkejut, tapi ekspresi wajahnya tidak seterkejut Diego dan Hamka.
Suasana hening sejenak ....
"Hahahaha ... kamu memang anak yang unik," jawab Pak Yudha yang membuat Rigla, Diego, dan Hamka menelan ludah. "Tapi tenang saja, saya pastikan kalau saya bersama kalian. Jikalau saya berbohong, kamu boleh memenggal kepalaku."
__ADS_1
"Pak Kepsek, itu terlalu ekstrem!" ucap Pak Yudha yang terkejut dengan perkataan sang Kepsek.
"Hahaha, tak apa! Ketika kita mau memasuki kompetisi yang di luar nalar, maka taruhan ringan seperti ini tak ada apa-apanya!" jawab Kepsek yang terlihat lebih antusias daripada sebelumnya.
Rigla yang menatap curiga, menghela napas dan menghadap ke bawah dengan mata terpejam. "Baiklah, saya percaya pada Anda, Pak."
"Terima kasih, oh, jangan lupa dengan pesan saya tadi. Kalau kalian butuh sesuatu, bilanglah," jawab Kepsek.
Ketiganya menganggukkan kepala.
"Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, silakan kalian bertiga untuk kembali ke kelas. Pak Yudha masih ada beberapa hal yang perlu dibahas dengan Pak Kepala," ucap Pak Yudha.
"Baik, Pak," jawab ketiganya yang kemudian berdiri. "Kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih atas segala bantuan dan mohon kerja sama untuk ke depannya, Pak!" ucap Diego yang kemudian membungkuk dan diikuti oleh Rigla dan Hamka.
Kepsek memberi gestur telapak tangan kanan terbuka dan ketiganya kembali menegakkan badan mereka. Rigla dan Hamka berjalan menuju ke pintu, sementara Diego terdiam sejenak melihat Michel yang masih menukuk.
Pak Yudha menepuk pelan punggung Michel. Setelah beberapa saat, Michel beranjak dari tempat duduknya. Diego berjalan di belakang Michel dan menutup pintu dari luar.
***
Ketiganya telah kembali ke kelas masing-masing, kembali mengikuti pelajaran seperti biasa.
Waktu istirahat telah tiba, tepat setelah bel berbunyi, para siswa yang satu kelas dengan Hamka langsung heboh menghampiri Hamka.
Seperti wartawan yang mengedus bau berita hangat, teman-teman sekelasnya melancarkan pertanyaan tanpa henti yang membuat Hamka gelagapan dalam menjawabi setiap pertanyaan yang ada. Ketika ia baru mau menjawab pertanyaan pertama, tiba-tiba ia dihantam dengan pertanyaan kedua.
"Kalian berhentilah!" teriak seorang siswi teman satu kelasnya. Teriakan sang siswi membuat teman-teman sekelasnya terdiam.
"Rihanna ..." ucap Hamka lirih yang kemudian menelan ludah.
Rihanna berjalan menghampiri Hamka melewati teman-teman satu kelas yang membukakan jalan untuknya.
"Apa kamu tak apa?" tanya Rihanna yang kemudian mengulurkan tangan.
JEGREK! Suara pintu dibanting (dibuka dengan digeser) dengan keras.
"HA~MKA!" panggil Diego dengan suara yang menggetarkan ruang kelas Hamka. Panggilan tersebut cukup keras hingga membuat semua siswa menutup telinganya.
"Apakah dia selalu seperti ini?!" ucap kesal Dea yang ikut menutup telinga walau berada di luar ruangan kepada Rigla. Rigla terdiam, bersender pada dinding dengan tangan disilangkan, dan memasang wajah sedikit berkerut seperti sedang menahan kesal dan bisingnya teriakan Diego.
"Oh, kau di sana rupanya ... heh ... sudah jadi anak populer, ya ...?" ucap Diego menyeringai dengan kedua alis dinaik-naikkan.
Ucapan Diego cukup menyita perhatian Rigla dan Dea. Rigla melirik ke dalam ruang kelas Hamka sementara Dea mengintip dari atas pundak kiri Diego.
Hamka memerah, kepalanya seperti mengeluarkan uap panas. Hamka berdiri dengan kedua tangan yang disilangkan lalu digoyang-goyangkan, ia berkata, "Bu-bukan seperti itu, Kak Diego!"
Diego dan Dea tertawa sementara Rigla tersenyum kecil. Hamka dengan ramah menjawab pertanyaan Rihanna yang belum sempat ia jawab. "Aku tidak apa, terima kasih," ucap Hamka yang kemudian sedikit membungkuk dan berjalan menuju ke Diego dan yang lain.
__ADS_1
Rihanna melihat Hamka dari kejauhan dengan sedikit tidak senang. "Cih."
"Ayo kita ke kantin, kita lanjut bahas yang belum sempat kita bahas!" ucap Diego yang kemudian merangkul serta menggeret Hamka. Diego berjalan pergi bersama dengan Hamka, meninggalkan Rigla dan Dea sendirian di depan pintu kelas yang masih terbuka.
"Ada apa?" tanya Dea yang sempat mau mengikuti Diego dan Hamka.
"Gadis itu ... apakah kamu merasakan ada yang aneh dengannya?" jawab Rigla.
Dea langsung melihat kembali ke dalam kelas. Seisi kelas memalingkan wajah karena takut dengan Rigla, hingga akhirnya Dea menemukan sosok gadis yang dimaksud oleh Rigla. Gadis tersebut adalah satu-satunya yang tersenyum ramah ke arah Rigla dan Dea.
"Aku mengerti, akan kuawasi dia," ucap Dea menghadap ke Rigla dengan mengedipkan satu matanya.
Rigla sedikit menunduk sekilas lalu berdiri tegap. Ia menutup pintu dan bersama dengan Dea, berjalan menyusul Diego dan Hamka.
***
Sore hari telah tiba. Seperti biasanya, Rigla; Diego; dan Hamka duduk di depan ruang klub sepak bola.
"Jadi, hari ini belum ada lagi?" tanya Rigla.
"Haha ... begitulah," jawab kaku Hamka.
Diego yang sejak tadi menaruh wajahnya ke meja, tiba-tiba berdiri dan berteriak dengan kedua tangan meninju langit, "HAHHH! Aku bosan! Kapan kita bisa latihan seperti yang lain?!"
Rigla menghela napas sementara Hamka seperti mau menenangkan Diego.
Diego duduk dengan perasaan kesal. "Tahu gini mending aku ikut Dea!"
"Kau tidak bisa, Bodoh. Itu acara dia dengan keluarganya," jawab Rigla.
"Y-ya kalau begitu ... hm ... aku tinggal menjadi keluarganya!" jawab Diego yang tidak mau kalah debat.
Ucapan Diego membuat Rigla dan Hamka terkejut, bahkan Hamka sampai terjungkil dari kursinya.
Suasana hening sejenak. Beberapa saat kemudian, Diego baru menyadari perkataannya dan apa yang dipikirkan oleh Rigla dan Hamka.
"Bu-bu-bu-bukan berarti aku harus menikahinya! Me-me-me-menjadi keluarga bisa berarti ja-ja-jadi adik, atau kakak!" ucap Diego dengan melambai-lambaikan tangan dengan wajah merah dengan udara panas yang terus tersembur dari kedua lubang hidungnya.
"Ekhem ... y-ya ... kami paham," ucap Rigla.
Diego masih terus berbicara untuk mencoba meluruskan kesalahpahaman yang sudah lurus. Ketika Diego sedang terus berbicara dan Hamka mencoba duduk lagi, tiba-tiba beberapa orang berdiri di hadapan mereka.
Ketiganya dengan kompak menoleh ke depan.
"I-izinkan kami bergabung!" ucap beberapa siswa tersebut dengan kompak sembari membungkukkan badan.
---===---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---