Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 20 - Pembagian Posisi dan Latihan Pertama


__ADS_3

Rigla, Diego, Hamka, Philip, Aji, Bima, dan Firman berjalan menenteng peralatan latihan sepak bola menuju ke lapangan. Rigla dan Diego berjalan dengan santai sementara yang lain berjalan dengan sedikit membungkuk, kaku, dan gugup.


Diego dan Rigla yang sudah sampai duluan di tengah lapangan menoleh ke arah Hamka dan yang lain, yang masih gugup gemetar di tiap langkahnya.


"Kalian cepatlah! Tak ada yang perlu kalian takuti!" panggil Diego dengan melambaikan tangannya.


Hamka dan yang lainnya menelan ludah. Kelimanya berkata dalam hati, "Ini sudah cepat!" Ke mana pun mereka melihat, selalu ada siswa yang melihat ke arah mereka berlima. Tatapan yang penuh pertanyaan, ketidaksenangan membuat mereka semakin gemetar.


Setelah cukup lama, akhirnya kelimanya sampai di hadapan Rigla dan Diego. Kelimanya langsung duduk lemas dengan menghela napas berat seolah habis melewati rintangan Ninja Warrior.


"Ahahaha! Kalian pasti akan kebiasaan dengan semua ini. Tenang saja!" ucap Diego yang kemudian berjalan mengambil bola. "Rigla, aku mau mencoba tendanganku. Aku ingin tahu seberapa efektifnya tendangan ini! Jangan sungkan untuk menilainya!"


Rigla mengangguk dan berjalan menuju ke pos penjaga gawang. Ia berjalan dengan memejamkan mata dengan sedikit membungkuk. Ketika ia sudah sampai dan membuka mata, ia melihat beberapa siswa klub lari terdiam sejenak melihatnya. Dan begitu ia membuka matanya, para siswa tersebut langsung kembali berlari dengan tergesa-gesa.


Rigla membalikkan badannya, membunyikan jari-jemarinya. "Tendanglah!"


Diego menyeringai, mengambil ancang-ancang.


"Oi, oi, oi! Kita harus menepi!" ucap Hamka panik melihat senyuman dan kuda-kuda Diego. Hamka dan teman-temannya yang sedang duduk istirahat, langsung berlari panik menuju ke pinggir lapangan.


Dengan pose seperti Cristiano Ronaldo yang bersiap mengambil tendangan bebas, Diego menghela napas. Api secara perlahan muncul dari betisnya. Ia kemudian berlari menuju bola dengan api yang semakin berkobar. Tiap langkahnya meninggalkan jejak api yang terus menyala.


Kaki kirinya berada tepat di samping bola. Bola sedikit melambung ke atas dan Diego berteriak, "Fire Shoot!" Kaki kanan Diego menyentuh bola hingga waktu seperti berhenti selama tiga detik. Api yang telah membara di kedua kakinya, terserap oleh sang bola.


Bola ia tembakkan ke Rigla. Bola melesat membelah lapangan dengan api yang mengiringi jalurnya. Bola melesat tidak terlalu tinggi, bahkan terhitung rendah. Bola hanya berada 15 cm di atas permukaan tanah.


Rigla berlutut dengan tenang. Ia membuka kedua tangannya ke depan seperti orang tua yang menyambut bayinya yang baru belajar merangkak. Ia dengan mudah menangkap bola berapi yang ditendang oleh Diego.


Bola terus berputar walau sudah ditangkap oleh Rigla, seperti bola tersebut terus memaksa agar dapat terlepas dari kedua tangan Rigla. Setelah beberapa saat, bola tersebut berhenti berputar. Api menjadi padam, meninggalkan bekas gosong di permukaan bola dan kedua tangan Rigla.

__ADS_1


"Rigla!" teriak Diego bersemangat menghampiri Rigla. "Sudah kuduga kau bisa menahan tendanganku! Tapi aku sedikit kecewa karena kamu menahannya dengan sangat mudah ... hahaha. Jadi, bagaimana?"


Rigla berdiri, membersihkan lututnya, lalu melemparkan bola tersebut ke Diego. "Tendanganmu lumayan, kok. Apalagi untuk sekelas anak SMA. Tapi, tendangan seperti ini tidak akan dapat bersaing di kelas internasional."


"Heh?!" ucap Hamka dan yang tadi menepi dengan terkejut. Rigla dan Diego menoleh ke samping, melihat Hamka dan yang lain menghampiri mereka.


"Seperti yang kalian dengar, tendanganku belum cukup kuat. Itu artinya, kita harus latihan lebih ekstra dari sekarang!" ucap Diego meninju ke arah Hamka (tidak sampai menyentuh Hamka).


Ki-kita ...? batin Hamka dan yang lain dengan wajah kaku.


"Baiklah, sekarang aku ingin melihat kemampuan kalian. Dribble, Shooting, Passing, dan yang lainnya. Aku sudah membuat daftar apa saja yang perlu kalian lakukan," ucap Rigla menunjukkan lembaran tabel yang sudah ada nama masing-masing anggota klub.


"Ohh!" ucap Diego dan yang lain dengan mata berbinar.


***


Latihan pertama klub dimulai. Rigla dan Diego menilai kemampuan dasar dari para anggota baru tersebut, lalu mencocokkannya dengan posisi yang paling pas untuk kemampuan dari masing-masing anggota tersebut. Meskipun praktik dasar tidak dapat menentukan posisi sebenarnya, setidaknya dengan praktik dasar tersebut sudah ada ancang-ancang posisi mana yang pas untuk para anggota baru.


"Baiklah, aku telah memutuskan untuk posisi kalian. Jikalau tidak suka, silakan angkat tangan. Ingat, ini hanya untuk sementara, penilaianku semata. Posisi kalian bisa berganti ketika kita sudah mulai latihan tanding atau bahkan setelah pertandingan resmi," ucap Rigla.


Semuanya mengangguk paham.


Kamu kenapa ikut mengangguk ... batin Rigla melihat Diego ikut mengangguk.


"Yang pertama, Hamka. Tendanganmu tidak begitu kuat, kecepatanmu juga tidak begitu kencang. Tapi keseimbangan dan pertahananmu bagus. Aku merekomendasikanmu untuk menjadi Centre-back."


"Oh! Sa-saya terima!" jawab Hamka yang cukup terkejut dengan kemampuannya diikuti tepuk tangan dan ucapan selamat dari yang lain.


"Selanjutnya, Aji. Kamu adalah yang paling cepat di antara yang lain. Bahkan lebih cepat dari Diego. Olah bolamu juga bagus, tendanganmu akurat walau di bagian kekuatan kurang. Umpanmu juga bagus. Aku merekomendasikanmu untuk menjadi Winger."

__ADS_1


Mendengar pujian dihantarkan kepadanya, membuat Aji tersipu malu. "Sa-saya terima! Te-terima kasih!" ucapnya diikuti dengan ucapan selamat dan tepuk tangan.


"Bima, dari segi fisik kamu nomor dua setelah Hamka. Operanmu adalah yang paling akurat. Pengambilan keputusanmu juga bagus. Untuk seorang gelandang bertahan yang akan memulai serangan, kamu sangat cocok."


Ucapan Rigla membuat Bima terbang ke langit ke tujuh.


"Panik dan gugup adalah kekurangan terbesarmu. Seandainya kamu bisa mengatasi kedua hal tersebut, kamu bisa menjadi gelandang bertahan yang tidak ingin dihadapi oleh siapa pun. Bagaimana?"


Kritikan Rigla sedikit menusuk Bima, tapi ia sadar akan kekurangan tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Ge-gelandang bertahan. Sa-saya akan menjadi gelandang bertahan!" ucapnya dengan gugup.


"Dan dia gugup lagi," celetuk Philip yang diikuti tawa dari yang lain dan senyuman malu seorang Bima. Setelah suasana kembali tenang, Rigla melanjutkan pengumumannya.


"Selanjutnya, Firman. Tendanganmu keras, operanmu akurat. Untuk bertahan kamu bisa, untuk menyerang kamu bisa. Fisik kamu lumayan. Bisa dikatakan, kamu pemain serba bisa. Gelandang tengah yang menjadi maestro lapangan hijau, aku rasa kamu cocok untuk posisi itu."


Firman membusungkan dadanya dan dengan tegas menjawab, "Terima kasih! Saya akan mengambil posisi itu!" ucapnya diikuti tepuk tangan dan ucapan selamat.


"Terakhir, Philip. Dengan ukuran tubuhmu yang tidak begitu tinggi, banyak lawan akan meremehkanmu. Tapi, kemampuanmu dalam mencuri bola, membuang bola, membuka ruang, mengolah bola, dan mempertahankan bola membuat siapa pun terkejut. Ketenanganmu dalam mengantisipasi datangnya bola, menggunakan ide cerdik dalam mengatasi tinggi juga menjadi kelebihan besarmu. Aku menyarankan posisi yang sama seperti legenda Bayern Munchen, Philipp Lahm, yaitu Bek Kanan atau Kiri."


"Dengan senang hati saya terima posisi tersebut!" jawab Philip diikuti ucapan selamat dan tepuk tangan dari yang lainnya.


"Baiklah, dengan ini, masing-masing dari kita sudah mendapatkan posisi. Untuk sisanya, aku serahkan pada Diego," ucap Rigla yang kemudian berjalan mundur beberapa langkah.


"Yosh, kita sudah memiliki 7 anggota. Tinggal 4 orang lagi, kita bisa menjadi tim yang utuh. Hingga hari di mana kita mendapatkan 4 orang lagi tiba, kita akan terus berlatih dengan jumlah anggota yang ada. Jangan sungkan untuk mengembangkan dan menunjukkan kemampuan kalian di lapangan ini! Karena siapa tahu, ada yang tertarik begitu melihat latihan serta usaha keras kita!" ucap Diego diikuti anggukan kepala dari anggota yang lain.


"Latihan hari pertama klub sepak bola, telah selesai! Besok sore kita akan mulai latihan tanding! Silakan pelajari posisi kalian masing-masing agar besok dapat dimaksimalkan," ucap Diego.


Hm ... ya ga salah juga ... tapi besok masih latihan 3v3 .... batin Rigla menghela napas memegang dahi dengan tangan kirinya.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2