
Pesan: Mohon maaf dua hari ke belakang tidak ada update chapter dikarenakan Author yang jatuh sakit. Sekian dan selamat membaca!
Hari demi hari terus berlanjut, hingga tanpa sadar dua pekan telah berlalu. Popularitas klub sepak bola setiap harinya semakin naik. Setiap harinya pula, semakin banyak siswa yang datang hanya untuk menonton klub sepak bola latihan.
Perlahan namun pasti, para siswa mulai menerima keberadaan klub sepak bola sekolah mereka. Dan hal itu tentu membuat senang Rigla dan kawan-kawan. Namun, seperti halnya dunia nyata, ketika ada seseorang yang sedang senang, pasti ada orang yang tidak senang.
"Brengsek!" ucap kesal siswa yang memotret Rigla dengan memukul dinding gedung belakang sekolah.
Teman-teman Michel yang pernah membully Rigla berkumpul di gedung belakang sekolah, membolos dengan membawa sekotak rokok.
"Fyuh ... aku tahu perasaanmu. Tapi mau gimana lagi, kau tidak ingat kekuatannya?" balas siswa yang memberi peringatan kepada para siswa.
"Ya ... tapi gara-gara itu kita kehilangan kedudukan di sekolah!" ucap kesal siswa yang memotret Rigla.
Rokok yang belum habis dijatuhkan oleh siswa pendiam yang selalu membersamai Michel. Ia kemudian menginjak dan mematikan rokok tersebut dan kemudian berniat untuk pergi.
"Mau ke mana kau?" tanya siswa yang memberi peringatan.
"Kelas."
"Brengsek, apa kau akan meninggalkan grup ini juga?!"
"Apa salahnya? Satu-satunya alasanku bergabung adalah karena Michel. Michel sudah pergi, sudah tak ada lagi alasanku untuk berada di sini."
Ucapan ketusnya membuat komplotan Michel marah.
"Bajingan! Kemari kau! Akan kuhabisi kau!" teriak siswa yang memberi peringatan.
Dak! Sebuah hantaman langsung melayang, mengenai tepat pipi kanan dari siswa yang berniat pergi. William sempat terhuyung, namun dengan cepat ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya lagi. Ia kemudian melihat ke arah yang memukulnya..
"William ... sejak awal kau hanya diam saja ... dan tiba-tiba kau ingin pergi begitu saja? Baik ... boleh ... tapi aku akan menghajarmu terlebih dahulu!" ucap siswa yang menyampaikan tantangan ke Rigla.
Para siswa yang merupakan komplotan lama Michel langsung beranjak dari tempatnya dan berniat menghajar William.
William memasang kuda-kuda dasar karate. Ia kemudian mengeluarkan hembusan angin yang cukup kuat hingga membuat mereka yang berniat menyerangnya terseret mundur.
"Bajingan ... aku tak pernah tahu kalau dia punya Novis ...!"
Hembusan angin tersebut semakin kuat hingga membuat komplotan lamanya terhempas semua dan menabrak dinding maupun pohon, dan pingsan seketika.
William kemudian menghela napas dan membalikan badannya. Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan teman-teman lamanya terkapar tak sadarkan diri.
__ADS_1
***
Waktu istirahat telah tiba. Seperti hari-hari biasanya, Rigla; Diego; Hamka; dan para anggota klub sepak bola berkumpul di kantin. Seperti biasanya pula, mereka menjadi sorotan dari para siswa. Namun, kali ini ada yang berbeda. Semua sorot mata tertuju pada seseorang.
Seseorang yang membungkuk di hadapan mereka.
"Bergabung ... dengan klub kami?!" tanya Diego dengan tak percaya.
William masih membungkuk tanpa menjawab.
"Alasannya?" tanya Rigla yang kemudian meneguk Aqua.
"Aku ingin bermain bola."
Jawaban tersebut membuat Rigla sedikit tersedak dan yang lain terkejut. William, meskipun ia selalu diam, tapi semua orang mengenalnya. Bisa dikatakan, ia merupakan tangan kanan dari Michel.
William tak seperti komplotan Michel pada umumnya. Ia jarang melakukan aksi, bahkan bisa dikatakan ia tak akan bertindak jikalau tidak diperintahkan oleh Michel.
"Tunggu tunggu tunggu ... bukankah kau tangan kanannya Michel?" tanya Diego yang masih tak percaya.
William tak menjawab. Namun, tangannya mengepal. Rigla dan Diego menyadari hal itu.
"Dea!" ucap Diego.
"Bukankah kalian butuh anggota? Dengan adanya dia, maka kalian punya delapan anggota, kan? Bukannya gimana-gimana, tapi klub kalian itu unik. Mendapatkan satu anggota itu hitungannya sudah sangat berharga, kan?"
Seperti biasa, ucapan Dea adalah fakta yang menyakitkan.
"Aku tak tahu motifmu apa (mengarah ke William), tapi aku setuju dengan Dea. Sisanya tergantung Diego," ucap Rigla yang kemudian beranjak dari bangkunya.
"Heh?! Aku?!" ucap Diego menunjuk dirinya.
Rigla tak merespons dan hanya fokus berjalan menuju ke ibu kantin. Diego kemudina melihat kembali ke William, dan William masih bergeming dengan posisi membungkuknya.
Diego kemudian berpikir keras. Ia kemudian melirik ke teman-teman klub yang ada di sampingnya. Lirikan tersebut membuat para anggota klub langsung memalingkan wajah karena tahu akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
"Hm hm hm, aku sudah memutuskannya."
Para anggota klub melirik sedikit ke arah Diego. William masih terus membungkuk.
"Kalau mereka berkata 'ya', maka kamu diterima! Oleh karena itu, bye bye! Aku mau pesan makan dulu!" ucap Diego yang kemudian lari menyusul Rigla.
__ADS_1
"Kak Diego!" teriak para anggota klub tak terima.
Deng ... suasana hening penuh kecanggungan menyelimuti para anggota klub yang tersisa. Mereka melihat ke tempat di mana Dea terakhir kali berada, tapi ternyata Dea juga ikut lari bersama Diego.
"Bagaimana ini ...?" ucap Hamka dan yang lainnya.
Hamka dan yang lainnya melihat ke arah William.
"Te-terima saja!" ucap Bima yang seperti biasa selalu gugup.
Hamka dan yang lain melihat ke arah Bima.
"A-apakah kalian tidak ingat tentang ... uhm ... awal kita mau bergabung ke klub? Kegugupan yang kita lalui?"
Ucapan Bima seperti tongkat baseball yang menghantam memori Hamka dan yang lainnya. Mereka teringat dengan saat-saat di mana mereka gugup dan takut bukan main. Kegugupan untuk mencoba meraih cita-cita, ketakutan karena tidak diterima baik oleh Rigla dan Diego maupun oleh warga sekolah.
Bima yang melihat wajah teman-temannya sedang menukuk, sedikit murung mengingat masa lalu, (Bima) tersenyum. "Oleh karena itu, mari kita terima."
Hamka dan yang lainnya mengangkat kepala dan tersenyum. "Sepertinya tak ada yang keberatan dan sepakat dengan apa yang dikatakn oleh Bima," ucap Hamka yang melihat satu per satu wajah dari teman-teman satu klubnya.
"Baiklah, kami berlima sepakat untuk menerimamu. Selamat datang di klub sepak bola, Kak William!" ucap Hamka yang kemudian berdiri dan mengulurkan tangan diikuti (berdiri) oleh Bima dan yang lainnya.
William kemudian mengangkat kepalanya, melihat tangan yang diulurkan kepadanya. Mulutnya sedikit terbuka tak percaya.
"Kalian ... serius menerimaku?" tanya William.
"Ya, tentu saja!" ucap Diego yang tiba-tiba datang dan merangkul serta menegakkan tubuh William.
Ini dia orangnya ... batin Hamka dan yang lainnya.
"Seperti yang kamu dengar, mulai hari ini kamu adalah anggota klub kami! Jangan lupa datang latihan, ya!" ucap Diego yang kemudian memakan sosis tusuk.
Dada William sedikit sesak, matanya sedikit berkaca-kaca. "Ya ... senang bisa bergabung dengan kalian."
---===---
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!
---===---
Lalu ... tanganku ini bagaimana? batin Hamka menahan malu.
__ADS_1