Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 16 - Rekrut Anggota Bagian 3


__ADS_3

Dea kemudian berjalan ke meja kasir yang berada tepat di samping sang ibu kantin, membayar serta mengambil pesanannya. Ia kemudian berjalan melewati para siswa yang masih belum berani untuk bergerak.


"Kalian tidak lapar? Bukannya Rigla sudah memberi izin kepada kalian?" tanya Dea dengan menoleh ke para siswa.


Para siswa yang sempat melihat Dea, memalingkan wajahnya tepat setelah mereka melirik sedikit ke wajah Rigla.


Hah ... merepotkan ... batin Rigla yang kemudian berjalan memesan makanan.


"Saya Aqua satu, Bu," ucap Rigla yang kemudian menyodorkan uangnya ke penjaga kasir.


"Sebentar," jawab sang Ibu Kantin yang mengambil sebotol Aqua dari kulkas dan memberikannya kepada Rigla.


Rigla berterima kasih dan berjalan pergi menuju ke tempat Diego dan Hamka duduk.


"Jadi, apa menyenangkan ditakuti satu sekolahan?" tanya Dea yang menunggu Rigla selesai memesan. Rigla memberi balasan wajah masam. "Ahahaha, bercanda-bercanda!" ucap Dea dengan tertawa.


Rigla duduk berhadapan dengan Diego dan Hamka, diikuti dengan Dea yang duduk di sampingnya.


"Oh, Dea! Apa kau mau bergabung dengan klub kami?" tanya Diego yang membuat Rigla dan Hamka terkejut.


"Boleh, jadi apa aku?" tanya Dea.


"Manajer gimana?" balas Diego.


"Oke."


Percakapan singkat, tak ada dasar yang membuat jidat Rigla berkedut. Rigla meremas botol minumnya dan membuat air muncrat membuka paksa penutup botol.


"A-ada apa, Rigla?" tanya Diego yang sedikit terkejut melihat Rigla tiba-tiba marah.


"Kak Diego memang tidak peka, ya ..." ucap Hamka menghela napas dibarengi dengan tawa kecil dari Dea.


Keempatnya kemudian mulai membahas tentang turnamen/kompetisi yang akan segera bergulir. Dea yang baru pertama kali mendengar tentang kompetisi tersebut bertanya-tanya tentang banyak hal. Mulai dari siapa penyelenggara, kapan dilaksanakan, hingga hadiah dari kompetisi tersebut.


"Oi, oi, aku tahu kamu baru bergabung tapi satu-satu pertanyaannya!" ucap Diego yang tidak kuat mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Dea.


"Ahaha, sebertinya aku telalu belsemangat ..." jawab Dea menutup mulutnya yang sedang mengunyah makanan.


"Kunyah dulu baru ngomong," ucap ketus Diego yang membuat jidat Dea berkedut.


"Penyelanggaranya adalah Menteri Olahraga Indonesia, waktu pelaksanaannya tiga bulan lagi (Oktober). Untuk hadiahnya aku tadi tidak membacanya," jawab Rigla yang habis meneguk minumannya.


"Ooo, lalu anggota kalian bagaimana?" tanya Dea.


Srekk! Seperti sebuah sabit malaikat maut yang menusuk tepat di dada, pertanyaan Dea menusuk tajam dada Rigla, Diego, dan Hamka. Ketiganya tertegun tak bisa berkata apa-apa.


Sepertinya aku baru saja melewati batas ... batin Dea melihat ketiga orang di dekatnya memasang wajah kaku dan menahan malu.

__ADS_1


***


Keempatnya telah selesai berbicara, mereka berniat untuk kembali ke kelas masing-masing karena bel tanda berakhirnya waktu istirahat telah berbunyi.


Di dalam kelas, Rigla; Diego; dan Hamka tidak fokus dalam mengikuti pelajaran. Otak mereka telah dipenuhi dengan sepak bola. Mereka benar-benar harus memutar otak untuk menemukan cara agar setidaknya kuota 11 orang segera terpenuhi.


Ketika Rigla sedang melamun melihat ke langit, pintu kelasnya terbuka. Pak Yudha datang dan meminta izin untuk meminjam Rigla.


"Rigla," ucap guru yang sedang mengajar.


Rigla tidak merespons.


"Rigla!" teriak Pak Yudha yang menggetarkan seisi kelas.


Rigla sedikit terkejut dan langsung melihat ke arah pintu kelas. Rigla langsung berdiri dan bertanya, "Ada apa, Pak?"


"Ikut aku sebentar," ucap Pak Yudha dengan gestur tangan menyuruh mendekat.


Rigla segera berjalan menuju ke pintu kelas. Ia memberi salam kepada sang guru dan Pak Yudha berkata, "Mari, Pak, maaf mengganggu."


Pintu di tutup dari luar. Rigla yang dua kali dipanggil keluar kelas, membuat Elina penasaran.


Pasti tentang sepak bola ... tapi ada apa? batin Elina.


***


"Kamu sudah tahu alasannya, kan?" jawab Pak Yudha dengan santai.


"Kompetisi ..." ucap lirih Rigla.


Pak Yudha mengangguk. Beberapa saat kemdian, mereka melihat Diego dan Hamka yang sudah berada di depan pintu ruang kepala sekolah. Pak Yudha dan Rigla berhenti di dekat Diego dan Hamka. Diego memperkenalkan Hamka yang merupakan anggota baru klub sepak bola.


"Hamka, ya ... oh, perkenalannya setelah ini saja karena sekarang ada yang lebih mendesak," ucap Pak Yudha. "Sebelum kita masuk ke dalam ruangan, aku ingin memberikan satu peringatan. Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap tenang. Bisakah kalian berjanji padaku?" tanya Pak Yudha.


Rigla mencium adanya kejanggalan, sementara Diego dan Hamka langsung menjawab, "Ya."


Pak Yudha mengangguk, memegang gagang pintu, dan membukanya.


"Selamat siang, Pak. Saya sudah membawa orang-orangnya," ucap Pak Yudha memasuki ruang kepala sekolah.


Ketika Rigla, Diego, dan Hamka akan menginjakkan kaki ke dalam ruang kepala sekolah, mereka terhenti sejenak. Diego dan Hamka dengan cepat langsung melihat ke arah Rigla. Mata melotot dengan urat di pelipis yang mengencang menunjukkan seberapa murkanya Rigla saat ini.


Di dalam ruangan tersebut, terdapat Michel beserta komplotannya. Begitu tahu bahwa Rigla melihat mereka, Michel dan komplotannya langsung merinding dan memalingkan wajah dengan keringat dingin.


"Rigla ..." ucap Diego dan Hamka.


Rigla memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tetap tenang. "Ayo," ucap Rigla.

__ADS_1


Rigla memasuki ruang kepala sekolah diikuti oleh Diego dan Hamka.


"Silakan duduk," ucap sang Kepsek dengan gestur tangan mempersilakan Rigla dan yang baru datang untuk duduk.


Dua sofa besar berhadapan, diduduki oleh kubu Rigla dan kubu Michel. Sementara Kepsek dan Pak Yudha duduk di sofa tunggal yang berhadapan pula.


"Mari kita langsung ke pembicaraan utamanya. Apakah kalian sudah membaca poster yang tertempel di papan pengumuman?" tanya Kepsek.


Semua orang mengangguk.


"Bagus, berarti tak perlu bertele-tele. Tujuan utama saya memanggil kalian ke sini adalah untuk meminta kalian menjadi perwakilan dari sekolah kita dalam mengikuti kompetisi tersebut. Sebagaimana yang kalian ketahui, kompetisi tersebut bersifat wajib. Dengan jumlah kalian, maka setidaknya kuota minimum yaitu 11 orang dan 1 pelatih telah terpenuhi," ucap Kepsek.


Suasana hening tercipta. Tak ada yang berbicara setelah sang Kepsek berhenti berbicara.


"Pak Kepsek, dengan segala hormat, kompetisi ini akan dipenuhi oleh para siswa yang memiliki Novis. Mereka yang tidak memiliki Novis, jikalau Anda mengirimkannya ke lapangan hijau, sama seperti Anda menyuruh prajurit Anda untuk bunuh diri," ucap Pak Yudha.


"Meski berat diakui, tapi apa yang diucapkan oleh Pak Yudha itu benar, Pak .... Di antara kami, hanya Michel yang memiliki bakat tersebut," ucap salah seorang teman Michel yang dulu mengancam para siswa agar menjauhi Rigla dengan menahan kesal dan berberat hati..


"Ya, benar apa yang dikatakan oleh Reva," ucap teman Michel yang lainnya dengan berat hati pula. Teman-teman Michel dengan menahan kesal atas lemahnya diri mereka, menatap ke lantai dengan tangan dikepalkan kuat.


Michel yang sejak awal menukuk dengan kedua tangan disatukan, tak memberi respons apa-apa. Pak Kepsek yang mengerti akan bahayanya permainan sepak bola untuk orang biasa, menghela napas dan hanya bisa setuju dengan teman-temannya Michel.


"Baiklah, sepertinya saya sudah terlalu egois. Saya mohon maaf. Bagi yang tidak berkepentingan, silakan meninggalkan ruangan ini," ucap sang Kepsek.


Teman-teman Michel dengan wajah murung dan berberat hati, berjalan pergi meninggalkan Michel. Mereka sempat menepuk punggung Michel, bermaksud memberikan sedikit semangat kepadanya.


Pintu ditutup dari luar, meninggalkan Kepsek, Diego, Rigla, Hamka, dan Michel.


"Pak Kepsek, untuk saat ini, hanya merekalah yang diketahui memiliki Novis," ucap Pak Yudha.


Sang Kepsek melihat satu per satu siswa yang ada di hadapannya. "Empat orang ... masih butuh tujuh orang. Saya dengar, kalian sudah mencoba untuk merekrut anggota, tapi dilihat dari yang hadir ... sepertinya memang sulit untuk menemukan anggota."


Rigla, Diego, dan Hamka memalingkan wajah ke tanah dengan murung, merasa malu terhadap gagalnya mereka dalam merekrut anggota.


"Tak apa, mulai saat ini, saya akan mendukung kalian. Sillakan menghubungi saya tentang apa yang kalian butuhkan dalam proses pengrekrutan anggota ini," ucap Kepsek.


Diego dan Hamka yang semula murung, langsung melihat ke arah sang Kepsek dengan tersenyum lebar. "Te-terima kasih, Pak!" ucap keduanya dengan kompak. Keduanya kemudian dengan sangat bersemangat membahas tentang apa yang akan mereka lakukan. Pak Yudha dan sang Kepsek tersenyum melihat semangat kedua anak muda yang ada di hadapan mereka.


"Pak Kepsek ... bolehkah saya bertanya satu hal?" tanya Rigla yang masih menukuk.


"Silakan," jawab Kepsek dengan tersenyum.


"Kompetisi ini ... tujuannya apa?" tanya Rigla menatap langsung sang Kepsek.


---===---


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!

__ADS_1


---===---


__ADS_2