Era Of Footballer

Era Of Footballer
Chapter 6 - Satu Pekan Bagian 1


__ADS_3

Waktu pulang sekolah telah tiba. Tak seperti hari-hari sebelumnya, para siswa kelas 10 tiba-tiba mendapat labrakan dari para kakak kelas.


Ada yang ketika baru berjalan keluar kelas tiba-tiba terpeleset hingga kepalanya membentur keras lantai, ada yang ban motornya dikempesin, ada yang tasnya dibuang ke kolam ikan sekolah, dan ada pula yang pulang berpasangan; sang wanita 'diambil' oleh para kakak kelas.


Keesokan harinya telah tiba. Para guru telah menerima laporan tersebut, namun tak ada respons berarti. Para kelas 10 yang ketahuan cepu, langsung kembali 'diusili' dengan jauh lebih parah dari para siswa yang diusili kemarin. Mereka yang cepu ditelanjangi dan digantung di tiang bendera sekolah, menjadi tontonan memalukan seisi sekolah.


Para kakak kelas memotret mereka yang cepu, mengunggahnya ke medsos mereka masing-masing dengan gelak tawa yang menggelikan. Sedangkan mereka yang kelas 10, hanya bisa terdiam dengan memalingkan wajah.


"Oi, kelas 10! Kalian lihat teman kalian ini! Berani cepu dan melawan lagi, nasib kalian akan seperti ini!" teriak seorang kakak kelas berambut hitam dengan ujung berwarna merah maroon.


Siswa kelas 10 hanya bisa menundukkan kepala, memahami bahwa sekarang posisi mereka tak lebih dari domba di dalam kandang singa. Sosok yang dapat dimangsa kapan saja.


Di dalam kelas Rigla, semua orang menjauhi Rigla. Benar-benar memberi jarak seolah-olah ada dinding tebal yang memisahkan. Bahkan mereka yang duduk di depan dan samping Rigla, menjauhkan mejanya dari tempat Rigla duduk.


Model meja-kursi kelas menggunakan seperti yang di sekolah Jepang, atau seperti yang ada di perkuliahan.


Elina melirik Rigla, merasa tidak enak serta muak dengan teman-temannya. Namun, harga diri sebagai Malaikat Sekolah membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Seandainya ia membantu Rigla, maka dirinya akan dicap rendah setara dengan Rigla.


Apa yang bisa aku lakukan ...?! Sial! batin Elina dengan gigit jari menatap ke mejanya.


Waktu istirahat telah tiba. Secara tiba-tiba, dari jendela kelas yang berada tepat di samping kiri Rigla, ember penuh air comberan dengan tali mengikat pegangan ember melesat masuk memecahkan kaca, menabrak Rigla yang sedang tertidur.


Kombinasi air yang kotor dengan bau menyengat serta serpihan pecahan kaca membuat kondisi Rigla tampak mengenaskan. Namun, seperti tak ada apa-apa, Rigla terbangun dan meregangkan tubuhnya. Ia membersihkan serpihan kaca yang menempel pada dirinya seolah-olah membersihkan debu kecil di pakaian.


Rigla melihat ke luar jendela yang sudah tak ada kaca dan terdiam sejenak.


Tak berselang lama, pintu belakang kelas tiba-tiba terbuka dengan cara dibanting. Seorang siswi rambut kepang dua berkacamata bundar berteriak, "Sialan kau! Gara-gara kamu, pacarku harus digantung memalukan seperti itu!" dan melempar penghapus papan tulis ke kepala Rigla.


Seisi kelas terkejut melihat tindakan si gadis berkacamata itu, namun mereka bisa mewajarkan tindakan si gadis. Tak ada yang membela Rigla, hanya menonton dari kejauhan. Para siswa di luar kelas melirik sekilas dan melanjutkan tindakan mereka seolah-olah tak ada apa-apa.

__ADS_1


Hanya ada dua orang dari sekian banyak orang yang melihat kejadian tersebut yang menaruh rasa peduli terhadap Rigla, yaitu Elina dan seorang siswa berbadan kecil yang duduk di kuris depan.


Lagi-lagi ... lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa! batin sang siswa dengan meremas samping celananya. Elina juga menaruh rasa kekesalan yang sama walau berbeda alasan. Keduanya menggertakkan gigi, merasa kesal karena tak bisa membantu.


Pengecut ... kenapa aku sangat pengecut, sih?! batin sang siswa menatap ke lantai. Sementara itu, Elina yang sempat mau bergerak, langsung tahu bahwa ia diawasi oleh teman-temannya, teman-teman yang mencegahnya menolong Rigla tatkala 'dinakali' oleh para kakak kelas.


Si gadis berkacamata lari pergi sembari menangis, membiarkan pintu terbuka membuat orang yang lewat bisa langsung melihat kondisi Rigla yang sebagian wajah dan pakaiannya dipenuhi bubuk kapur.


Seorang kakak kelas yang merupakan teman dari geng Michel tak sengaja melihat Rigla dari luar kelas. Ia langsung tertawa terbahak-bahak, mengeluarkan HP-nya, dan memotret Rigla. "Bahahahaha! Apa itu?! Hantu sekolah?! BAHAHAHAHA!" ucapnya yang kemudian mengunggah foto Rigla ke media sosialnya.


Si kakak kelas kemudian pergi dengan tertawa terbahak-bahak hingga sedikit keluar air mata. Pintu dibiarkan terus terbuka hingga bel tanda istirahat berakhir berbunyi.


Sang guru masuk dan terkejut melihat penampilan Rigla. "Kamu, yang duduk di pojok sana. Apa yang terjadi padamu? Pergilah ke kamar mandi dan bersihkan dirimu!" ucap sang guru wanita dengan wajah khawatir.


Pem=bully-an atau perundungan merupakan hal yang sering terjadi tak hanya di sekolah tersebut, tapi juga di seluruh sekolah di negeri yang Rigla tinggali. Angka kematian akibat kasus perundungan terus meningkat tiap tahunnya. Banyak guru yang tutup telinga dan mata dalam hal ini, banyak kasus yang ditutup-tutupi oleh pihak sekolah demi melindungi nama baik sekolah.


2010, kematian akibat perundungan mencapai perbandingan 1 dari 100 siswa. 2013, perbandingan tersebut naik ke 2 dari 95 siswa. Dan data terakhir yang dirilis oleh salah satu media yang ada menyebutkan, angka perbandingan telah mencapai 4 dari 90 siswa.


Sang guru membuka kelas; menyapa para siswanya. Senyuman palsu berkedok tulus ia tampakkan. Ia mengabsen satu per satu seperti biasanya, setelah mengabsen, ia menghadap ke papan tulis dan bersiap menulsi materi. Anak itu ... kalau tidak salah, namanya Rigla. Pemain sepak bola ... itulah yang kudengar dari pak Yudha. Hah ... tahun lalu Diego, sekarang dia ... batin sang guru dengan sedikit murung.


Suara pintu terbuka terdengar. Rigla datang dari pintu belakang. Ia menutup tanpa membalikkan badan dan kemudian sedikit membungkuk memberi hormat kepada sang guru. Sang guru mengangguk dengan sedikit tersenyum.


Rigla duduk kembali di kursi, dengan dilirik tak sedap oleh teman-teman sekelasnya.


Persis ... ini persis seperti yang dialami Diego tahun lalu, batin sang guru.


***


Bel tanda bergantinya pelajaran berbunyi. Sebelum keluar kelas, sang guru berpesan, "Rigla, setelah pulang sekolah, bisakah kamu menemui ibu?"

__ADS_1


Seisi kelas langsung memberikan respons negatif. Mata yang sedikit melebar dengan lirikan yang lebih tajam dari sebuah silet membuat suasana di dalam kelas menjadi suram. Elina menggigit bibir bawahnya dengan kesal, begitu pula dengan sang siswa berbadan kecil yang meremas kuat celana bagian atas pahanya.


Sang guru tersenyum kaku, tapi tetap mencoba bersikap tenang dan tak tahu apa-apa. Ia menutup kelas dari luar dan ketika pintu tertutup, bisikan-bisikan gosip langsung terdengar.


***


Istirahat kedua telah tiba. Seperti istirahat pertama, tak ada satu pun siswa kelas 10 yang berani keluar kelas. Mereka semua takut akan serigala lapar di luar kelas. Namun, dari lorong sekolah tiba-tiba terdengar suara keras dari megafon.


"Yok, yok, yok! Yang kelas satu boleh keluar kelas, asalkan menjauhi bajingan bernama Rig-huek!"


Suara tersebut terus diputar berulang kali. Dari jendela kelas terlihat dua orang kakak kelas berjalan dengan senyuman lebar dengan megafon berada di tangan salah satu kakak kelas yang berjalan. Ketika suara tersebut sudah hampir hilang, para siswa saling melirik satu sama lain.


Seperti pagar yang baru dibuka, para domba tersebut langsung berlari keluar dengan kegirangan.


Mereka yang telah 'mendapatkan izin', langsung dapat bernapas lega. Satu syarat yang mudah, hanya menjauhi Rigla. Namun, ada beberapa pihak yang tak senang dengan syarat tersebut.


***


Waktu pulang sekolah telah tiba. Para siswa kelas 10 masih berada di dalam kelas. Ketakutan, takut dirundung oleh para kakak kelas. Namun, seperti waktu istirahat kedua, suara megafon kembali terdengar.


"Waktu pulang telah tiba. Pulanglah! Tak perlu takut, asalkan kalian jauhi si bajingan itu!"


Para siswa kelas 10 menyeringai. Ketika suara megafon telah menghilang, mereka menghela napas lega. Para siswa keluar kelas seperti tak pernah terjadi apa-apa.


Di dalam kelas Rigla, ketika para siswa di kelas tersebut hendak keluar, tiba-tiba seorang siswa mengatakan sesuatu yang membuat seisi kelas terkejut.


"Ri-Rigla ... kan? Bo-bolehkah aku berteman denganmu?" ucap sang siswa berbadan kecil.


---===---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa klik tanda suka dan favorit, ya!


---===---


__ADS_2