Experiment Number

Experiment Number
BAB 23 PERUBAHAN RENCANA


__ADS_3

Melihat pesan itu, kak Sofi dengan sigap merampas handphone Laura dan menghubungi nomor itu. Saat panggilan kak Sofi di angkat, bos preman itu langsung berkata kepada kami untuk datang esok hari saja untuk membebaskan Sinta. Jika kami ketahuan mencoba menyusup malam ini, maka Laura tidak akan pernah melihat Sinta lagi.


Laura yang mendengar ucapan preman itu langsung berteriak kesal menanyakan keadaan temannya yang sedang mereka tahan. Bos preman itu hanya berkata bahwa temannya baik-baik saja untuk sekarang, tapi tidak tau bagaimana kondisinya hari esok jika Laura tidak datang ke markas mereka dan menyerahkan dirinya.


"Aku akan kesana, sekarang pun aku bisa menuju ke sana, jadi lepaskan teman ku!!" Gertak Laura dengan raut wajah kesal bercampur dengan rasa khawatir akan kondisi temannya.


"Memang lebih baik jika kau kesini malam ini juga, tapi kami tidak menerima tamu saat malam, melainkan hanya menerima m*y*t" Ucap preman itu tertawa kecil.


"Baiklah,aku akan pergi pagi sekali ke markas kalian, jadi aku butuh kalian berjanji padaku sekarang. Aku akan menyerahkan diriku kepada kalian, jadi lepaskan teman ku tanpa luka sedikitpun"


"Baiklah, kau harus menepati janjimu jika kau memang ingin menyelamatkan teman manis mu ini" Ucap preman itu.


"Laura!!!, kumohon jangan kemari. Aku akan mencari cara untuk membebaskan diriku sendiri, jadi tidak perlu khawatir!!" Teriak Sinta yang kebetulan berada di samping bos preman itu.


"Sinta kamu gapapa kan!!?" Teriak Laura khawatir.


"Et...maaf yah, kamu hanya boleh berbicara dengannya besok. Satu lagi,jika kau kemari bersama laki-laki yang menghajar kami tadi, maka kupastikan teman mu ini benar-benar kembali tanpa sedikit pun goresan." Ucap preman itu


Laura berbalik menatap ke arah ku dan juga Kak Kyo, dengan tatapan meminta bantuan. Kak Kyo tanpa kata-kata lain, langsung menerima permintaan preman tersebut.


"Baiklah aku dan satu teman ku lagi akan ikut bersama Laura, jadi tepati juga janjimu" Ucap Kyo


"Tentu saja aku tidak akan melukai gadis ini. Baiklah kalau begitu, sampai ketemu hari esok"


Preman itu menutup telfonnya dan kami pun kembali berdiskusi tentang perubahan rencana, Kyo berkata bahwa dia akan benar-benar pergi bersama Laura esok hari, namun Kak Kyo tidak ingin aku ikut dengan nya , melainkan harus ikut bersama dengan Ciel untuk melakukan penyusupan.


Jika preman itu bertanya dimana aku, kak Kyo akan berkata bahwa aku sedikit telat ke sana. Alasannya memang sedikit tidak masuk akal, tapi setidaknya itu mungkin saja bisa berhasil.


"Laura, untuk malam ini menginap lah di sini karena ada kemungkinan para preman itu akan mendatangi rumah mu. Biar aku yang akan meminta izin ke guru penanggung jawab OSIS" Ucap Sofi


"Tapi aku tidak ingin membuat orangtua ku cemas karena aku tidak pulang, dan apa yang akan ku katakan jika orangtua Sinta menelfon ku" Balas Laura kebingungan.

__ADS_1


"Telfon lah orangtua mu dulu, kau bilang saja kalau sekolah ini memberikan kesempatan menginap semalam untuk kalian berdua. Dan jika nantinya orangtua Sinta menelfon, maka katakanlah alasan yang sama" Saran Sofi


"Apakah mereka akan percaya?aku takut mereka tidak mempercayainya, karena tidak mungkin sekolah sepopuler ini memberikan kesempatan seperti itu tanpa alasan" Ucap Laura khawatir


"Tenang saja, serahkan semuanya kepada si tampan nan gagah ini" Ucap Pak Ali yang tiba-tiba datang entah darimana


"Bapak kenapa bisa ada disini!?" Tanya ku kaget


"Aku ada disini karena bapak adalah guru penanggung jawab organisasi OSIS, bapak juga masuk ke ruangan ini menggunakan pintu rahasia jadi aman" Jawab Pak Ali


"Sebenarnya ada berapa pintu rahasia di ruangan ini?, dan kenapa ruangan seluas ini bisa menjadi ruang OSIS?" Batin ku


"Tring....tring...." Bunyi telfon masuk.


"Bagaimana ini,ibu Sinta menelfon ku" Ucap Laura panik


"Angkat saja dulu,jika dia bertanya dimana kalian sekarang maka ucapkan alasan yang dikatakan Sofi tadi. Jika dia ragu-ragu, maka berikan telfonnya kepada ku" Ucap Pak Ali


"Halo Laura. Tante mau tanya, kamu lagi bareng Sinta kan?, ini tadi tante daritadi telfon dia tapi telfonnya gabisa dihubungi." Tanya ibu Sinta khawatir


"I-iya tante, Sinta bareng saya ko" Jawab Laura melirik ke arah Pak Ali.


"Alhamdulillah, tante sampai cemas karena nomor Sinta gabisa dihubungi. Boleh tolong serahkan telfonnya ke Sinta gak?" Balas Ibu Sinta


"Maaf tante,tapi Sinta udah tidur. kami malam ini lagi nginep di HIGH INTERNASIONAL SCHOOL karena mereka memberi kesempatan kepada beberapa orang terpilih untuk menginap di sekolah ini, maaf kalau kami gak bilang-bilang dulu" Jelas Laura memberi alasan.


"Bagai mana bisa sekolah seperti itu memberikan sesuatu seperti itu?" Ucap Ibu Sinta meragukan.


"Jika tante sedikit ragu dengan ucapan ku, maka tante boleh berbicara langsung kepada salah satu guru di sekolah ini yang kebetulan ada disamping ku" Ucap Laura berusaha meyakinkan Ibu Sinta sambil memberikan handphone nya kepada Pak Ali


"Halo, permisi Bu" Sapa Pak Ali

__ADS_1


"Halo, apa benar ini guru HIGH INTERNASIONAL SCHOOL?." Tanya Ibu Sinta


"Iya benar,saya adalah Muh.Syarif Ali,S.pd.,M.pd.I . Apakah Ibu ingin menanyakan terkait ucapkan anak pemilik handphone ini,benar?" Ucap Pak Ali bertanya


"Pak Ali?, ini beneran Pak Ali dari HIGH INTERNASIONAL SCHOOL?! " Ucap Ibu Sinta kegirangan.


"Iya benar, kalau Ibu kurang yakin bisa VC saja agar Ibu percaya" Beritahu Pak Ali


"Tidak usah Pak, dari suara saja saya sudah tau kalau ini bapak. Secara kan saya fans berat bapak. Oiya Pak, apakah betul sekolah memperbolehkan orang lain menginap di sana?" Tanya Ibu Sinta


"Iya benar, beberapa pengunjung yang terpilih akan diberikan kesempatan menginap di sekolah ini untuk turun ikut merayakan hari jadi HIGH INTERNASIONAL SCHOOL pada hari esok. Ibu tidak perlu khawatir tentang keadaan anak ibu, sekarang dia sedang tertidur kata temannya." Jelas Pak Ali


"Ahaha, baiklah Pak. Lagipula besok juga hari libur, jadi gapapa. Titip anak saya yah Pak,kalau begitu saya tutup telfonnya dulu Pak, Assalamu'alaikum" Balas Ibu Sinta


"Iya bu, waalaikumsalam"


Semua orang di dalam ruangan seketika bernafas lega karena berhasil membuat Ibu Sinta tidak khawatir lagi. Laura pun menelfon orangtua nya dengan alasan yang sama,dan dangan menggunakan bantuan Pak Ali juga.


Malam ini kami semua memutuskan untuk beristirahat agar dapat melaksanakan rencana dengan baik esok harinya. Sebelum kembali ke kamar, aku pergi mengunjungi teman-teman ku dulu untuk membantu mereka membereskan/membersihkan tempat bazar.


Disana aku sedikit kesulitan karena mereka terus bertanya tentang urusan mendadak ku. Dengan alasan bahwa aku disuruh oleh Pak Ali mengurus beberapa perlengkapan kelas di gudang, aku berhasil membuat mereka percaya.


Setelah selesai membereskan tempat kami, aku dan Varro kembali menuju ke kamar untuk istirahat, sesampainya di kamar Varro langsung bertanya sesuatu padaku.


"Cakka, sudah tidak ada orang lain jadi katakan apa urusan lu sebenarnya" Tanya Varro dengan raut wajah curiga


"Apa maksud mu, gua kan udah bilang tadi kalau aku disuruh sama Pak Ali" Jawab ku gelisah


"Eleh bohong banget,jujur ajah kalli. Padahal gua berniat ngebantu kalau misalkan lu punya masalah" Ucap Varro


"Serius ih. Udahlah gua mau tidur, cape! " Balas ku langsung berbaring membelakangi nya.

__ADS_1


Disaat aku sudah hampir terlelap, Varro secara tiba-tiba berkata."Gamungkin tangan lu bisa sampai luka gitu kalau cuma ngurus perlengkapan kelas saja" . Itu membuat ku kaget, namun dengan tenang aku berpura-pura tidak mendengarkannya dan melanjutkan tidur ku.


__ADS_2