Experiment Number

Experiment Number
BAB 6 HUJAN


__ADS_3

...mengandung beberapa adegan kekerasan....


Sejak kejadian itu Varro terus menjaga Yuna dari dekat dan melarang Yuna untuk pergi sendiri. Sampai suatu ketika masalah yang asli muncul, saat Varro mengajak Yuna ketemuan di sebuah kafe dekat taman yang jaraknya sedikit jauh dari pusat kota pada saat malam.


Varro yang tengah makan bersama Yuna tiba-tiba saja mendapatkan sebuh pesan berisi ancaman. Di dalam pesan itu tertulis agar Varro pergi ke taman dekat kafe tersebut untuk menemui si pengirim,jika Varro tidak pergi maka salah satu temannya yang berada di sekitar Varro akan langsung menghabisi nyawa Yuna.


Tentu saja Varro menolak karna dia merasa dapat melindungi Yuna. Namun para orang itu mengancam kembali Varro dengan mengirim gambar Ayah tirinya yang sedang disekap.Orang itu berkata "Apakah kau ingin melihat foto ayah mu yang berlumuran darah karna tidak menemuiku? "


Kata kata itu membuat Varro kehilangan pilihan,dengan wajah pura-pura tenang Varro berbohong kepada Yuna untuk menerima panggilan dari ayahnya. Yuna yang percaya hanya mengiyakan nya,Varro memasang wajah tenang saat berada di dalam cafe namun saat melangkah kan kakinya keluar seketika raut wajahnya berubah drastis menjadi raut wajah yang penuh emosi.


Dengan langkah dan raut wajah yang emosi,Varro pergi menemui orang yang mengancamnya. Sampai di tempat itu ada setidaknya lima orang berpakaian hitam menggunakan topeng.


Varro bertanya apakah mereka yang mengirimkannya sebuah ancaman,jika iya apa tujuannya dan siapa yang mereka incar.Dari belakang seseorang berbisik ke telinga Varro dengan kata "aku menginginkan mu".Seketika Varro reflek membalik badannya dan melayangkan pukulannya ke wajah orang tersebut,namun orang itu mampu menangkis pukulan Varro.


" Ah......aku sedikit iri kepada kalian para anak experimen yang mendapatkan kemampuan secara instan " Ucap peria bertato laba laba itu.


"Apa maksud mu dengan anak experimen?!!" Tanya Varro


"Hahahaha sayang sekali ingatan kalian semua di hapus,padahal akan lebih menarik jika kalian mengetahuinya"


"Diam!!!, apa mau mu sialan.mengapa kau mengancam ku dengan cara yang sangat licik!!? " Teriak Varro.


"Jika ingin mengancam maka tentu saja harus licik, dan sudah ku katakan kalau aku menginginkan mu"


Emosi Varro semakin naik hingga membuat nya kehilangan kendali. Karna orang orang berpakaian hitam itu merasa tidak dapat membawanya dengan keadaan sadar maka mereka terpaksa mencoba membawa Varro dengan keadaan tidak sadar.


Mereka melawan Varro secara langsung namun dengan kekuatan biasa mereka tidak akan mampu menghentikan Varro yang berkemampuan petarung. Beberapa menit berlalu dan Varro berhasil menumbangkan 4 orang dan sisa pria bertato itu.


Pria itu berbeda dari 4 orang lainnya,dia lebih pandai bertarung dan menggunakan beberapa jurus taekwondo dengan baik hingga akhirnya dia berhasil memojokkan Varro.


Dilain tempat Yuna yang sedang merasa cemas karna Varro tidak kunjung datang langsung keluar mencari Varro setelah membayar pesanannya.


Dengan kedua bola matanya,Yuna mendapati Varro yang sedang dipojokan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Melihat itu Yuna merasa marah,dia mengambil sebuah balok yang tidak jauh dari pandangannya.


Yuna mencari kesempatan untuk memukul orang itu dari belakang, Varro yang melihatnya memberi isyarat kepada Yuna untuk pergi dan tidak ikut campur namun karna sikap keras kepalanya Yuna tidak menghiraukan Varro dan melambungkan balok yang ada di tangannya ke kepala orang bertato tersebut.

__ADS_1


Namun pukulannya berhenti sekejap saat sebuh pisau menancap tepat di bagian perut Yuna dan mengenai pembuluh darahnya.


"Kau melupakan ku gadis kecil" Ucap orang yang diberi tugas untuk mengawasi Yuna di cafe tadi.


"Apa yang kau lakukan!, ahh sudah lah mayatnya bisa di urus nanti" Ucap pria bertato tersebut.


Menyaksikan orang yang dicintainya tergeletak dengan luka tusuk di badannya membuat Varro seketika membulatkan matanya dan membuat nya kehilangan akal sehat. Perasaannya tidak karuan dan pikirannya hanya berisi rasa ingin menyingkirkan orang-orang yang telah melukai orang yang dicintainnya.


Saat pria bertato itu sedang lengah Varro dengan sekejap memukul pria itu hingga terlempar dan menabrak pohon. Dalam satu kali pukulan pria itu dapat ia buat hilang kesadaran.


Varro memalingkan pandangannya ke pria yang menusuk Yuna dan melangkah mendekatinya. Tatapan Varro membuat orang itu merinding dan berniat untuk kabur dari tempat itu.


Saat hendak lari tiba-tiba saja tangan Varro sudah berada di pundak pria itu.


"Apa yang kau lakukan brengsek,padahal kau hanya anak anak.kenapa kau bisa sesombong itu hanya karna berhasil memukuli bos kami. Jika saja bos kami tidak lengah,pasti sudah dia sudah menghabisimu"


"Haha,ternyata aku sangat beruntung karna bos mu lengah" Ucap Varro dengan tatapan kosong


Varro meluapkan segala emosinya dengan memukul pria itu hingga tulang wajah dan tangannya patah.


"Karna dia mengganggu" Ucap pria itu yang sudah setengah sadar.


"Penggangu kau bilang?,bukankah yang sebenarnya mengganggu itu kalian yah?!"


Kata kata itu membuat Varro semakin emosi dan lanjut memukuli pria itu. Pukulannya berhenti ketika mendengar namanya dipanggil oleh Yuna yang rupanya masih sadar.


Itu membuatnya tersadar dan langsung lari ke sisi Yuna.


"Yuna darah mu" Ucap Varro panik


"Darah ku merah?" Balas Yuna dengan suara serak dan kesadaran yang mulai hilang.


"Kumohon jangan bercanda Yuna,kita harus segera pergi ke rumah sakit. Darah mu banyak yang keluar"


"Var tunggu,jangan membawaku.Aku ingin seperti ini,teruslah disisiku"

__ADS_1


"Apa maksud mu Yuna,kau bisa saja ma-" Ucap Varro


"Cukup Varro" Balas Yuna memotong perkataan Varro.


Dengan hati yang berat terpaksa Varro nenuruti permintaan Yuna. Dia duduk dan memangku tubuh Yuna yang berlumuran darah.


"Kamu tau? Tadi siang aku sempat bertemu laki-laki yang melarang ku pergi menemui mu malam ini" Ucap Yuna.


"Lantas mengapa kau pergi menemui ku?" Tanya Varro


"Karna aku ingin menemui orang yang tidak akan perna kucintai ini" Jawab Yuna


Mendengar ucapan Yuna,Varro akhirnya meneteskan air berwarna bening dari kedua matanya.Dia bukannya bersedih karna Yuna berkata tidak menyukai nya,melainkan Yuna yang tidak menghiraukan segalanya hanya untuk menemui Varro.


"Haha, kamu gagal membuat ku jatuh cinta.Dengan begini aku yang menang" Ucap Yuna yang memaksakan dirinya berbicara.


"Kumohon cukup Yuna,jangan memaksakan dirimu" Ucap Varro khawatir dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku benar-benar tidak mencintai mu,sangat tidak mencintai mu,jangan menangis dasar laki-laki bodoh" Teriak Yuna dengan sisa tenaganya.


Mata yang bersinar dan senyuman yang terbentuk di bibirnya mengakhiri semuanya.


Yuna yang dia sayangi mati di atas pangkuannya membuat nya merasa sangat bersalah dan akhirnya mengutuk dirinya sendiri.


Kematian Yuna bersamaan dengan turunnya hujan,seakan akan langit juga bersedih atas kepergiannya.


Sorot lampu taman menyinari mereka berdua dan darah yang mengalir di segala sisih akibat hujan menjadi saksi dari akhir perjuangan Varro.


"Sayang sekali,padahal aku belum menyatakan perasaan ku kepada mu. Bagai mana caranya aku tau jawaban mu jika sekarang aku mengungkapkan perasaan ku yang sesungguhnya ke dirimu yang bahkan tidak bisa berbicara lagi" Ucap Varro sambil menutup kedua mata Yuna.


Rintihan hujan menghapus bekas air matanya. Dengan perlahan dia mengangkat tubuh Yuna dan membawanya ke mobil orang-orang tadi.


Orang-orang yang tadinya dia hajar langsung ia ikat bersama lalu menelpon ke kantor polisi untuk menangkap orang-orang tadi dengan kasus penculikan dan pembunuhan.


Di dalam mobil dia menemukan beberapa berkas dan surat perintah yang berisi perintah untuk membawa Varro ke tempat seseorang.

__ADS_1


Isi dari berkas itu merupakan beberapa informasi terkait orang-orang yang mengincarnya


__ADS_2