Experiment Number

Experiment Number
BAB 31 MASALALU III


__ADS_3

"Menghajar ku?, maaf tapi kurasa kau bakal lebih tidak diuntungkan lagi jika ingin menghajar ku secara langsung." Ucap sokbong G711


Beberapa anak buah dari pria jahat itu juga membantu pria itu melawan G711, namun mereka masih tidak bisa menjatuhkan G711. Sebanyak apapun jumlah mereka, mereka akan sangat sulit menghadapi seseorang yang lebih kuat dari mereka. Mereka bisa menang jika hanya mendapatkan keberuntungan saja, karena pada dasarnya, orang kuat akan kalah dengan orang yang beruntung.


Semakin lama mereka bertarung, semakin terlihat pula siapa yang akan menjadi pemenangnya. Di sisi G711 sudah terlihat sangat lelah, sedangkan di sisi pria jahat itu juga sudah tidak bisa lagi menggunakan senjata pistolnya.


Ck...ck.... Suara pistol yang sudah kehabisan peluru.


"Chi...." Keluh pria jahat itu membuang pistolnya. "Sekarang tinggal kau dan aku yang akan bertarung tanpa senjata" Ucap pria jahat.


"Aku sudah menantikan nya, apakah kau dapat membuat ku tersudut tanpa senjata?" Ejek G711.


"Hahaha, jangan meremehkan ku di saat dirimu sudah sangat kelelahan" Balas pria jahat itu.


"Sudah kubilang kalau aku ahlinya dalam bela diri, keadaan seperti ini tidak akan membuat ku kalah dari mu." Ucap sombong G711.


"Tidak usah sombong dulu!!, hya!!" Ucap pria jahat itu menyerang G711 dengan tangan kosong.


Pertarungan berlanjut dengan sengit, seperti yang dikatakan G711 bahwa dialah yang lebih unggul dalam pertarungan tanpa senjata. Sekarang pria jahat itu sedang dalam keadaan terpojok, karena salah melangkah, akhirnya dia terjatuh dan G711 langsung menindih badannya.


Namun siapa sangka, pria itu malah menggunakan kesempatan itu dengan mencoba membuat pandangan mata G711 menjadi terganggu dengan cara melemparkan segenggam tanah.


Sesuai rencananya, tanah itu mengenai langsung mata G711 yang akhirnya membuatnya kesakitan. Melihat peluang besar itu, dia tanpa segan-segan langsung menusuk G711 dari belakang menggunakan pisau yang berada di kantong nya.


Pisau itu mengenai langsung bagian pembuluh darah G711 yang membuat darahnya mengalir sangat deras. Dibalik pintu rumah kecil itu, Ciel dengan wajah tak percaya sedang menyaksikan orang yang sudah merawatnya dengan baik sedang ditikam oleh pria jahat yang ingin mengambilnya.


Pria itu itu tanpa balas kasih, langsung mencabut pisau yang ia tancap kan ke tubuh G711. Itu membuat G711 semakin kesakitan dan darahnya semakin banyak pula yang mengalir.


Ciel yang syok berat, langsung berlari ke arah G711 dan mencoba menutupi lukanya dengan tangan kecilnya itu.

__ADS_1


"Paman...paman...bertahanlah" Ucap Ciel menangis.


"Kenapa kau masih berada disini?, seharusnya kamu pergi dari tempat ini!" Balas pria itu menahan rasa sakit.


"Tapi pam-" Lawan Ciel.


"Sudah cukup menangis nya, ayo ikut dengan ku!!" Gertak pria jahat itu menarik tangan Ciel.


"Tidak mau, lepaskan aku!!" Teriak Ciel melawan


Dengan cepat G711 menggenggam tangan pria jahat itu dengan erat, dan menyuruh nya untuk melepaskan tangannya dari tangan Ciel. Pelan-pelan dia bangkit, dan menahan rasa sakit dari tusukan tadi.


"Paman?, paman jangan memaksakan diri. Darah paman yang keluar semakin banyak" Ucap Ciel dengan perasaan yang sedang campur aduk.


"Aku baik-baik saja." Ucapnya menenangkan Ciel "Jangan khawatir aku a-" Ucap G711.


Dor....


Tubuhnya begitu gemetar tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan di depan matanya. Setahun, walaupun itu hanyalah waktu yang sedikit, tapi itu merupakan waktu paling berharga bagi Ciel. Dia mengingat kembali waktu pertamakali Ciel bertemu dengan paman itu. Walaupun menurutnya paman itu sangat menyeramkan, tapi paman itu adalah orang satu-satunya yang mengerti perasaan Ciel.


Perasaan syok membuat Ciel akhirnya kehilangan kesadaran, dan entah apa yang pria jahat itu lakukan setelahnya. Apa yang Ciel ingat setelahnya adalah, dia berada di sebuah tempat yang berbeda lagi. Serta kehidupan yang berat sedang menantinya.


-Kembali ke markas penjahat-


"Bagaimana Ciel, apakah rasa rindu mu sudah meredah setelah melihat apa yang ada di tangan ku ini? " Tanya bos preman itu kepada Ciel yang sedang menatapnya dengan tatapan kosong.


"Kak Kill....!! Apa yang kau lakukan, cepat sadarlah, aku tak tau apa masalah mu, tapi jangan dengarkan kata-kata nya!!" Teriak Varro sambil menghajar anak buah bos preman itu.


Bos preman itu hanya menatap kearah Varro yang berisik, setelah itu kembali menatap Ciel.

__ADS_1


"Lepaskan tangan mu dari benda itu" Ucap Ciel dengan suara kecil.


"Haaaa, keraskan suaramu. Ayah tua mu ini tidak dapat mendengarnya" Balas bos preman itu bercanda.


"Kubilang. Lepaskan tangan mu dari benda itu brengsek!!" Kesal Ciel, dan langsung melambungkan pukulannya ke arah bos preman yang ada tepat di hadapannya.


Namun bos preman itu dapat dengan mudah menghindari pukulan Ciel,bos preman itu hanya memandang jahat ke arah Ciel yang sedang emosi.


"Wah.....wah.....wah....., padahal aku ingin sekali memberimu sesuatu yang ada di tangan ku ini. Tapi karena kamu melawan, terpaksa aku mengurungkan niat ku hahaha" Ucap bos preman tertawa besar.


"Berhenti mempermainkan ku dengan cara seperti itu, mulai sekarang aku tidak akan pernah menghiraukan semua candaan mu itu. Jadi lawan lah aku dengan serius" Gertak Ciel.


"Baiklah jika itu mau mu, aku akan mengajarimu cara bertarung yang benar mulai saat ini. Tentu saja sebagai ayah mu" Balas bos preman itu, sambil menaruh benda yang ada di tangan nya.


"Jangan banyak bacot bajingan!!" Kesal Ciel, langsung menyerang bos preman tersebut, serta terus mencoba mencari kesempatan untuk menggunakan kemampuannya kepada bos preman itu.


Sementara itu, Cakkra, Varro, dan Kyo. Masih terus berusaha untuk bertahan, Kyo saat ini bisa dibilang sangat diuntungkan karena ada banyak barang yang dapat dia gunakan sebagai senjata di ruangan ini. Sedangkan Varro juga sudah berhasil menumbangkan dua petinggi serta anak buah di tempat ini.


Yang perlu di khawatirkan sekarang adalah Cakkra. Kemampuannya sangatlah tidak berguna dalam pertarungan, dia tidak dapat mengatur waktu masa depan yang selanjutnya akan dia lihat. Kemampuan bertarung nya juga masih terbilang masih sangat mudah untuk dibaca.


Walaupun begitu, Cakkra masih terus berusaha untuk bertahan sampai bantuan tiba.


"Jagalah bagian belakang kepalamu anak muda!!" Gertak salah satu preman yang melancarkan serangannya ke arah Cakkra.


Cakkra yang tidak sempat untuk menghindari, akhirnya terkena serangan nya. Tapi untung saja serangan itu tidak membuat Cakkra tumbang.


"Beraninya kau memukul ku, rasakan ini!!" Kesal Cakkra memukul wajah preman itu.


"Cakkra!, kau gak kenapa-napa kan?!" Tanya Varro.

__ADS_1


"Tentu saja, serangan seperti itu tidak akan menumbangkan ku!!" Jawab Cakkra.


__ADS_2