
Beberapa menit berlangsung, Ciel dan bos preman itu terus berbincang tentang sesuatu yang sama sekali tidak kami fahami. Mungkin saja apa yang mereka perbincangkan adalah masalah yang selama ini Kak Ciel sembunyikan dari para OSIS.
Tak lama kemudian, Ciel menutup telfon dengan ekspresi wajah penuh amarah. Cakka hanya dapat diam, dan berusaha untuk tidak bertanya sampai waktu yang tepat.
"Hey, berikan aku kunci ruangan ini! " Ucap Ciel kepada preman itu.
"I-iya" Balas preman itu memberikan kunci kepada Ciel.
Kami membuka ruangan itu walaupun sudah tau kalau semuanya di luar rencana awal kita. Setelah membebaskan Sinta, kami berdua akan menuju ke ruangan bos preman itu untuk membantu Varro, Kyo, dan Laura untuk melarikan diri.
Tapi ternyata apa yang difikirkan tadi tidaklah semudah itu. Sinta sama sekali tidak ada di dalam gudang yang kami buka.
Di dalam gudang itu, tersimpan sebuah ruangan yang berisi sesuatu diluar pemikiran kami. Sangking terkejutnya, Cakkra hampir saja memuntahkan semua yang ada di lambungnya. Organ, itulah yang ada diruangan itu.
Organ-organ manusia yang di letakkan di dalam sebuah tabung kaca, dan beberapa sample darah tertara rapi disetiap sudut ruangan.
"Hoh, ternyata kecurigaan ku memang benar" Ucap Ciel dengan ekspresi wajah biasa saja. "Sofi, apakah kau mendengarkan ku?" Panggil Ciel.
"Ah, iya. Bagaimana, apakah Sinta berada di dalam sana? " Jawab Sofi.
"Tidak, tidak ada sama sekali. Tapi kurasa kami berdua baru saja menemukan sesuatu yang hebat, aku akan mengirimkannya padamu. Segera lapor ke pihak berwajib setelah kau melihatnya" Ucap Ciel sambil mengirimkan gambar ruangan yang sudah ia foto kepada Sofi.
"Baiklah, apakah kau bisa mengurus para preman yang ada disitu sampai pihak berwajib datang?" Tegas Sofi.
"Tentu sa-" Balas Ciel
"Tunggu!!, apa maksudnya. Bukankah berbahaya jika menghubungi polisi sekarang, Sinta masih berada di genggaman mereka. Bisa saja mereka menggunakan Sinta sebagai pelindung." Gertak Cakkra memotong perkataan Ciel.
"Kau kira anggota OSIS tidak memperkirakan hal ini Cakkra, berhenti bertanya dan sekarang ikuti perintah Ciel." Ucap Sofi
__ADS_1
"Ba-baik!" Tegas Cakkra.
Cakkra hanya mendengarkan perintah Sofi, dan mengikuti Ciel menuju ke tempat bos preman itu. Kami meminta petunjuk dari preman tadi, terkait tempat-tempat yang ada di gedung ini.
Sampailah kami di tempat Varro, Kyo, dan Laura berada. Sebelum masuk, kami diberitakan oleh Sofi, agar preman yang bersama kita saja yang membuka pintu. Karena di dalam ruangan, para petinggi dari preman itu sedang berkumpul dan menunggu kami tiba.
Alat penyadap di telinga Kyo, Varro, dan Laura sudah mereka temukan, sehingga mereka yakin bahwa kami bersekongkol. Saat kami masuk, para preman-preman itu langsung menyodorkan senjata mereka kearah kami bertiga.
"Wah, wah, wah. Ternyata kau menghianati kita yah Roy(nama preman yang bersama kami) " Ucap petinggi ke 4 preman itu.
"Aku sejak awal tidaklah ingin menjadi bagian dari kalian, begitupula dengan teman-teman ku yang lainnya." Gertak Roy.
"Hey!!, lepaskan laki-laki di sebelah kanan itu!" Perintah bos preman tersebut.
"Baik bos!!" Ucap petinggi preman ke 3 sambil mendorong Ciel kearah bosnya.
"Chi..!! Lepasin gua!" Ucap Ciel kesal.
Dengan tatapan dingin, Ciel bertanya mengapa di ruangan ini sangatlah ramai, dan siap tiga orang yang mereka tahan itu. Ciel yang berniat untuk pura-pura tidak mengenali Varro, Kyo, dan Laura tapi mereka malah tertawa dan menyuruh kami untuk tidak berpura-pura lagi.
"Kak, akui saja. Kakak pasti sudah membebaskan Sinta kan, jadi akui saja karena mereka sudah tidak punya bahan sandraan lagi!!." Teriak Laura.
"Sayang sekali, tapi Sinta tidak ada di ruangan manapun" Balas Ciel.
"Apa mak-" Ucap Laura terkejut
"Tentu saja dia tidak ada di tempat ini, karena aku sudah memperkirakan akan terjadi hal seperti ini" Ucap bos preman itu tertawa kecil.
"Dimana kau menyembunyikan teman ku, bukankah kau berjanji untuk melepaskannya!?" Tanya Laura kesal.
__ADS_1
"Janji?, untuk apa aku berjanji jika kau sendiri juga ingin mencoba mengingkarinya?" Jawab bos preman itu menatap tajam kearah Laura. "Karena perbuatan kalian, sekarang jika kalian melawan,maka teman kalian akan berhenti memijakkan kakinya lagi di dunia ini." Ucap bos preman itu kepada Laura.
Dari belakang, Kyo memberikan aba-aba kepada Ciel dan Cakkra, untuk menghajar para preman-preman itu selagi mereka tidak membawa senjata.
Awalnya Cakkra tidan ingin sama sekali menghajar mereka,karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Sinta. Tapi tiba-tiba saja Sofi menghubunginya dan berkata bahwa Sinta telah ditemukan, dan sekarang pihak berwajib tengah menuju kesana. Seketika Cakkra langsung melambungkan tinjunya ke muka preman yang berada di depannya itu.
Mereka semua pun mulai menyerang, begitupula dengan Varro yang tadinya hanya berdiri kebingungan di tempatnya. Laura yang tidak tau sama sekali dimana Sinta sekarang, hanya memohon agar mereka berempat berhenti menyerang para preman itu agar Sinta tidak disakiti.
Namun tidak ada sama sekali respon dari mereka berempat, justru mereka malah semakin menggila melawan para preman itu.
Beberapa preman dan para petingginya sudah berhasil mereka kalahkan, namun tetap saja jumlah mereka semakin bertambah karena para anggota preman itu memanggil teman-teman nya yang lain.
Cakkra, Varro, dan Kyo fokus melawan yang lainnya, sedangkan Ciel sekarang sedang berhadapan langsung dengan bos para preman itu.
"Darimana saja kau?, apa alasan mu lari dari ayahmu ini?!" Tanya bos preman itu dengan wajah kesal.
"Ayah?, sejak kapan kau mengurus surat adopsi?. Lagipula untuk apa aku menganggap psikopat sepertimu sebagai ayah ku? " Ucap Ciel menyeringai.
"Oh, rupanya kau masih tidak ingin menganggap ku sebagai ayah mu" Balas bos preman tersebut.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menganggap kau sebagai ayah ku!! " Gertak Ciel.
Mereka berbincang dalam keadaan saling beradu tinju. Dari hasil yang terlihat, bos preman itu lebih unggul dari Ciel, namun Ciel tetap berusaha mengimbanginya.
"Ups, berhenti menatap ku. Jangan mencoba menggunakan kemampuan mu untuk melawan ayah mu sendiri" Ucap bos preman tersebut sambil menghindari tatapan Ciel.
"Sudah kubilang bahwa kau bukanlah ayah ku!!" Gertak Ciel
"Oh..., apakah kau masih belum bisa melupakan pemilihan syal ini?" Ucap bos preman itu memperlihatkan syal pendek dari kantong nya.
__ADS_1
Seketika Ciel menghentikan tinjunya yang sekarang berada tepat di depan wajah bos preman tersebut. Dengan tatapan tajam Ciel memandang syal itu, badanya seketika menjadi kaku. Ingatan tentang masa lalunya seketika kembali lagi menganggu konsentrasinya.
Bos preman itu meraih wajah Ciel yang sedang membeku, dia membisikkan Ciel dengan kata "apakah kau merindukannya?, aku punya sesuatu yang mungkin dapat membuat mu berhenti merindukannya. Tapi berhentilah melawan" Ucap bos preman tersebut menggoda Ciel dengan tawaran berupa benda dari kenangan masa lalunya.