
Seketika penjaga itu menurunkan Ciel dari gendongannya, dan langsung menyerang teman-temannya. Para penjaga lainnya tidak dapat menjatuhkan penjaga yang menggendong Ciel tadi, karena penjaga itu lebih tangguh dibandingkan penjaga lainnya.
Perkelahian selesai begitu saja dengan hasil yang berpihak pada Ciel. Ciel kecil terus berjalan disepanjang pohon-pohon yang menjulang tinggi, penglihatannya mulai menurun, dia berjalan sempoyongan sambil mengepalkan kedua tangan kecilnya.
Karena sudah tidak bisa menahan keseimbangan lagi, akhirnya Ciel terjatuh dan kehilangan kesadaran. Saat dia terbangun, dia sudah berada di suatu tempat yang dipenuhi pajangan tengkorak hewan.
Dia dengan panik langsung bangkit dari tempatnya terbaring. Kepalanya masih sangat pusing, namun dia terus berusaha mencari jalan keluar. Sedikit demi sedikit dia melangkah maju menuju pintu yang dia temui, saat ingin menggapai gagangan pintu tersebut. Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut kencang, dan darah mengalir dari hidungnya.
Rasa denyutan yang membuat seisi kepalanya itu sakit, akhirnya membuat Ciel kehilangan keseimbangan dan oleng. Untung saja saat hampir terjatuh, seseorang berhasil menangkapnya dan langsung menggendongnya menuju ke kasur.
Saat tubuhnya terbaring. Dengan tatapan buram, dia melihat seorang pria berbadan besar dengan sebuah senapan berada di punggungnya sedang menatap tajam kearahnya.
Ciel yang belum sempat mengatakan sepatah kata pun, akhirnya hilang kesadaran lagi. Ciel kembali tersadar ketika hari sudah mulai terang, dia bangkit dari tempat tidurnya dengan keadaan sudah kembali sehat. Saat hendak keluar, tiba-tiba saja pria yang semalam menolongnya memanggil Ciel untuk duduk makan bersama.
Ciel bukannya mendekat,dia malah melangkah menjauh karena mengira pria itu adalah salah satu orang dari gedung tempatnya melarikan diri.
Melihat Ciel yang ketakutan, akhirnya pria itu melangkah mendekat ke arah Ciel dan memberikannya sepotong roti berisi madu. Karena Ciel merasa sangat lapar, akhirnya dia memberanikan diri mengambil roti tersebut dari tangan pria besar itu.
Ciel memakan roti itu dengan lahap. Walaupun dia sudah memakan sepotong roti, itu tentu saja tidak akan membuatnya menjadi kenyang. Pria itu sangat mengetahui bahwa Ciel masih sangat lapar.
"Jangan takut, dan duduklah disamping ku. Aku sudah membuatkan mu sup daging ayam hutan, mungkin saja itu akan membuat mu merasa lebih baik dari waktu aku menemukan mu di hutan" Ucap pria itu sedikit dingin.
Melihat makanan yang ada di atas meja itu membuat Ciel makin tidak bisa menahan rasa laparnya. Ciel memberanikan diri duduk di samping pria itu dan melahap supnya dengan perlahan.
"Bagaimana?, apakah itu enak?" Tanya pria itu
"I-iya" Jawab Ciel gugup.
"Bagaimana bisa anak sepertimu berada di tempat seperti ini" Ucap bingung pria itu.
__ADS_1
"Apakah kau salah satu orang-orang itu?" Tanya Ciel tidak berani menatap pria itu.
"Orang itu?, aku disini tidak membawa rekan. Aku hanya tinggal sendiri disini, jauh dari manusia lainnya." Ucap pria itu.
"Lalu untuk apa kau berada di tempat seperti ini?, sebaiknya kau pergi dari sini jika masih ingin aman" Saran Ciel
"Wah,untuk anak seusia mu ternyata sudah sangat pandai berbicara yah. Aku berada disini karena ingin menambah koleksi buruan ku, lagipula bahaya seperti apa yang mengancam ku?" Jawab bingung pria itu.
"Koleksi?" Tanya Ciel.
"Yah koleksi. Lihat setiap sudut ruangan ini, tengkorak tengkorak hewan yang terpajang itu adalah semua koleksi ku. Oiya,siapa nama mu?" Jawab pria itu, dan kembali bertanya kepada Ciel.
"Nama?" Tanya Ciel lagi.
"Ayolah, kenapa kau tau kata-kata lain tapi tidak tau apa itu nama" Jawab pria itu.
"Aku, 021" Ucap Ciel.
"Gedung besar berbau obat-obatan" Jawab Ciel.
"Hey, berarti kau berasal dari rumah sakit. Apakah kau kabur. Bodoh sekali, aku akan mengembalikan mu nanti" Bentak pria itu.
"Tapi aku kabur karena hanya dapat siksaan di tempat itu, mereka kengotak atik tubuh ku, bahkan memberiku sengatan listrik, serta obat-obatan yang sangat banyak" Jawab Ciel kesal, karena tidak ingin di bawa ke tempat menyeramkan itu lagi.
"Tunggu, bagaimana bisa perawatan bisa sampai sekejam itu?. Apa jangan-jangan kamu itu adalah objek percobaan, kau bahkan menamai nama mu dengan Code" Fikir pria itu.
"Jangan membawa ku kembali kesana, kumohon sembunyikan aku. Aku sangat takut, aku akan melakukan apa saja untuk mu, jadi kumohon bawa aku bersama mu" Ucap Ciel memohon.
Pria itu menatap kearah ciel sambil memegang dagunya, menandakan bahwa ia sekarang sedang berfikir.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku tidak membantumu secara cuma-cuma. Mulai besok aku akan mengajarimu cara mengurus rumah, serta cara bertarung. Jadi pelajari baik-baik." Jawab pria itu.
* * * *
Hari-hari terus berlalu, Ciel setiap harinya terus berlatih bersama pemburu itu. Dia juga sudah mulai terbiasa beradaptasi di sekitarnya yang merupakan alam bebas, bukan lagi ruangan terbatas.
Sejauh ini tidak ada tanda-tanda dari para penjaga gedung itu. Ciel masih terus waspada jika saja orang-orang itu menemukan tempat Ciel bersembunyi, dia juga tidak ingin merepotkan pemburu itu setiap waktu.
Hubungan mereka berdua semakin akrab, bagaikan seorang anak dan juga ayah, tapi versi kasar. Hari ini pun Ciel masih berlatih dengan pemburu itu
"Ayo, lebih keras lagi mukul nya. Pukulan seperti itu paling hanya bisa menumbangi seekor lalat" Gertak pria itu melihat Ciel sedang memukul karung berisikan kapas.
"Tapi tangan ku sudah sakit paman" Ucap Ciel menangis menahan rasa sakit di tangan kecilnya.
"Huft.., mau bagai mana lagi. Yasudah untuk hari ini latihannya udahan dulu, ayo masuk makan siang." Saut pria itu.
Mereka berdua melangkah memasuki pondok sederhana itu. Malamnya pria itu berangkat meninggalkan Ciel sendiri di dalam rumah karena ingin pergi untuk berburu.
Ciel membersihkan piring bekas makan mereka berdua, setelah itu pergi bersembunyi di ruang bawah tanah yang ada di pondok itu. Preman itu memberitahu kepada Ciel, bahwa selagi dia tidak berada di rumah, maka sembunyilah sampai aku kembali.
"Ingat, kunci pintu rapat-rapat. Jika seseorang mengetuk pintu, maka jangan buka pintunya. Kamu hanya boleh membukanya ketika aku yang mengetuk pintu. Sebagai tanda agar kamu tau bahwa aku yang mengetuk pintu, aku akan menyebut nama mu sebanyak tiga kali. Paham Ciel?" Tanya pria itu.
"Paham!" Jawab Ciel.
-Sebelumnya-
"Emm karena sangat sulit untuk berkomunikasi tanpa nama, maka aku akan memberikan mu sebuah nama" Ucap pria itu berfikir. "Ha!, bagaimana kalau Aciel hidayah nugroho saja" Ucap pria itu.
"Kenapa harus nama itu" Tanya Ciel.
__ADS_1
"Emm entah lah. Dahlan, yang penting sekarang kau mempunyai sebuah nama. Aku akan memanggil mu dengan nama Ciel, ingat yah C-I-E-L, bukan K-I-L-L" Jawab pria itu.
"Em!, namaku adalah Ciel. Makasih paman" Ucap Ciel sudah tidak terlalu takut dengan pria itu