
Laura yang khawatir,serta kebingungan. Hanya dapat menyaksikan pertarungan di depan matanya, dia masih terus memikirkan keadaan Sinta yang ditahan entah dimana.
Kring....
Suara dari telfon bos preman itu yang berada di atas meja berbunyi. Laura yang melihatnya, pada awalnya dia tidak berniat untuk mengankatnya, namun dia berubah pikiran dan langsung mengangkat telfonnya.
"Ha-halo?" Ucap Laura
"Halo?.Laura, ini kamu kan? Aku Sofi" Jawab Sofi.
"Kak Sofi?!. Kak keadaan disini sangat kacau, kami juga sama sekali belum menemukan Sinta. Aku takut dia kenapa-napa" Saut Sinta khawatir.
"Tenang saja Sinta, kami telah dibantu pihak berwajib untuk menemukan Sinta. Sekarang ini Sinta sudah berada di kantor polisi menunggu kalian." Ucap Sofi memberitahu kabar baik.
"Serius kak?!, kakak gak bohong kan?!" Tanya Laura bersemangat.
"Saya serius, untuk sekarang aku hanya ingin kamu menggunakan kemampuan mu untuk memberitahu semuanya tentang kabar ini. Serta beritahukan juga untuk bertahan sedikit lagi, sampai pihak kepolisian datang." Perintah Sofi.
"Ba-Baik kak!" Jawab Laura.
Laura menarik nafas panjang-panjang, dan menutup matanya. Dengan kemampuan, dia berhasil ber telepati dengan Cakkra, Varro,Kyo ,serta Ciel sekaligus. Pesan itu sampai dengan baik, walaupun Laura harus merasakan sedikit pusing dari efek samping penggunaan kemampuan nya.
"Varro!, kau mendengarnya!?" Teriak Cakkra bertanya ke Varro.
"Tentu saja, jangan sampai kau tumbang sebelum polisi datang" Ucap Varro sombong.
"Tentu saja. Aku tidak, tapi kita akan menyelesaikan ini semua sebelum polisi datang" Balas Cakkra.
"Woy fokus, jangan sampai kalian yang kalah dari mereka!!" Teriak Kyo, sambil terus menghindari serangan salah satu preman yang berbadan besar.
Pertarungan memakan waktu sedikit lebih lama, para anak buah dari orang yang Ciel lawan sekarang semuanya sudah dikalahkan. Sekarang tinggal tersisa pertarungan antara Anak dan juga Ayah tiri.
Sangat jelas bahwa Ciel sekarang sangat kesulitan melawan bos preman itu sendirian. Karena kemampuan bertarung Ciel sangatlah kecil, dibandingkan dengan pria itu. Namun walaupun Ciel sudah mengetahui batas kemampuannya, tapi dia masih terus berusaha agar dapat memenangkan pertarungan yang sudah lama ia nanti-nanti.
__ADS_1
"Hey psikopat, lihatlah para anak buahmu. Semuanya sudah dibereskan oleh teman-teman kh. Sekarang merupakan giliran ku untuk menghabisi mu." Ucap Ciel menatap tajam ke ayah tiri psikopat nya.
"Hahaha, jangan menganggap remeh diriku. Walaupun aku cuma sendiri, tapi aku pasti bisa mengakhiri semuanya sendirian. Lagipula bagaimana caramu mengalahkan ku jika kau samasekali tidak dapat kesempatan untuk menggunakan kemampuan mu kepada ku" Ucap sombong ayah psikopat Ciel.
"Aku pasti bisa mengalahkan mu tanpa bergantung kepada kemampuan ku" Balas Ciel.
Mereka bertarung dengan sengit. Bos preman itu bisa dibilang sedikit curang, karena menggunakan senjata untuk melawan. Tapi di dalam pertarungan tak resmi, orang-orang akan menggunakan cara apapun untuk menang.
"Sejauh ini masa depan yang kulihat dari diri Kak Kyo masih belum terjadi, semoga saja itu tidak pernah terjadi" Batin Cakkra.
Satu pukulan mengenai Ciel tepat di punggung nya, itu membuat Ciel terjatuh dan merasa sangat kesakitan. Bagaimana tidak, senja yang dipakai oleh bos preman itu sampai bengkok, padahal senjata itu merupakan sebuah pipa besi.
Melihat Ciel yang sedang terpojok, membuat Kak Kyo berteriak dan langsung berlari ke arah Ciel. Namun siapa yang menyangka, bahwa salah satu anak buah preman itu masih bisa bergerak, dan langsung menembakkan satu peluru ke arah Kak Kyo. Peluru itu mengenai langsung bagian punggung Kak Kyo.
Semuanya sontak panik, Cakkra dan Varro berlari menolong Kak Kyo yang sedang terluka akibat tembakan barusan.
"Wah, lihat yang kau lakukan. Bukankah itu sedikit kasar?" Tanya bos preman kepada anak buahnya yang telah menembak Kyo.
"Apa yang baru saja kau lakukan brengsek!!" Ucap Ciel kesal.
"Bukan aku yang melakukannya, bukankah kau bisa melihatnya sendiri?. " Balas ayah tiri Ciel.
"Kau kira aku tidak melihat isyarat tangan mu, kau menyuruh anak buah mu yang berada di sana untuk menembak Ciel bukan?!!" Kesal Ciel.
Sementara itu, Cakkra dan Varro berusaha untuk menolong Kyo agar darahnya tidak banyak yang keluar. Sementara Varro menekan luka Kyo, Cakkra memilih untuk menghajar orang yang telah melukai Kyo terlebih dahulu.
Masa depan yang dilihat Cakkra benar-benar terjadi, Cakkra merasa sangat bersalah karena gagal merubah nasib Kyo.
"Mundur, kalau kau maju maka akan kubuat kau seperti teman mu disana" Ancam preman itu sambil menodongkan pistolnya ke arah Cakkra.
Cakkra tidak menghiraukan perkataan preman itu, dia terus melangkah sedikit demi sedikit. Setelah itu, dia dengan cepat membekap preman itu dengan cara yang sudah ia pelajari sebelumnya dari Kyo.
"Lepasin gua!" Kesal preman itu berusaha memberontak.
__ADS_1
"Kurasa kau lebih baik diam" Ucap Cakkra kesal, dan akhirnya memukul bagian leher preman itu hingga akhirnya preman itu pingsan.
Sementara itu, Ciel kembali bangkit dan melancarkan serangan nya ke ayah tirinya itu. Entah sebuah kebetulan atau apa, Ciel berhasil membuat ayah tirinya terlempar cukup jauh darinya.
Saat dia ingin bangkit, tiba-tiba saja para polisi datang tepat waktu, beserta beberapa perawat. Bos preman itu seketika menjadi panik, dia samasekali tidak memikirkan tentang kemungkinan polisi akan datang. Karena tidak ingin tertangkap, dia langsung menggapai Laura yang kebetulan berada tidak jauh darinya.
Dia menjadikan Laura sebagai tamengnya, dia mengancam para polisi untuk mundur dan membiarkannya pergi. Jika para polisi tidak melakukannya, maka Laura akan kenapa-napa.
Para polisi tidak mempedulikan kata-kata nya, dan masih terus menodongkan senjata mereka.
"Pak!" Panggil Ciel. "Boleh saya saja yang mengurus ini" Ucap Ciel memohon.
Polisi itu tidak melarang Ciel, karena mereka tau kalau Ciel adalah kunci agar bos preman itu menuruti perintah.
"Silahkan" Ucap salah satu polisi sambil memberikan Ciel sebuah piatol.
Ciel mengambil pistol itu, dan melangkah mendekati ayah tirinya. Ayah tirinya meminta agar Ciel berhenti, jika tidak maka perempuan yang dia tahan itu akan kenapa-napa.
Tanpa sadar, ayah tiri Ciel lupa akan cara kerja kemampuan Ciel. Dia terus memandangi Ciel karena sudah sangat terpojok. Seketika dia terdiam seolah olah sedang terhipnotis.
Dia melepaskan genggamannya dari tubuh Laura, dan mendekat kearah Ciel. Sebelum Ciel melakukan sesuatu, dia menyuruh Laura untuk berbalik menggunakan kemampuannya.
Setelah Laura berbalik, dia lalu memberikan sebuah pistol ke tangan ayah tirinya, dan berbalik ke arah para polisi. Semua polisi yang ada di situ menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa Ciel dapat berbuat sesukanya.
Ciel kembali berbalik ke arah ayah tirinya dan berkata. "Akhiri dirimu" Ucap Ciel dengan suara rendah.
Ayah tirinya mengangkat pistol yang ada di tangannya perlahan-lahan. Dan menancapkannya di kepala.
Dor....!!
Suara tembakan terdengar disetiap ruangan,menandakan ayah tiri Ciel telah melakukan hal yang diinginkan oleh Ciel. Dengan begitu, akhirnya dendam Ciel telah terbalaskan. Polisi tidaklah menangkap Ciel, karena kematian bos preman itu mereka anggap dengan kasus bunuh diri.
Dan walaupun Ciel tidak menggunakan kemampuannya untuk menghabisi nyawa ayah tirinya, pihak berwajib akan tetap menetapkan hukuman mati kepada bos preman itu, karena telah melakukan perdagangan ilegal dan tidak manusiawi.
__ADS_1