
Elleya tersenyum miris saat menatap gedung tinggi di hadapannya, beberapa bulan yg lalu ia sempat datang ke perusahaan itu untuk melamar pekerjaan, tapi sekarang dengan sekejap pemilik perusahaan itu ialah suaminya sendiri
"Pagi bu" ucap seorang satpam yg mengenali elleya
"Pagi" jawab elleya "suami saya ada di dalem?" tanya elleya, hatinya tersenyum malu dengan apa yg ia katakan "suami saya?" batin elleya berucap, sejak kapan ia mengakui pria psikopat arrogan itu suaminya
"Ada bu di dalem" jawab si satpam
"Ya udah saya masuk dulu" ucap elleya, satpam itu tersenyum dan mengangguk pelan
Elleya berjalan masuk ke dalam kantor suaminya "ruangan suami saya di lantai berapa?" tanya elleya "di sebelah mana?" tanyanya lagi
"Ruangannya ada di lantai 4 bu, setelah keluar dari lift bu leya belok ke kiri, ikutin aja terus jalannya, pas mentok belok kiri lagi, ruangannya ada di ujung, pintu sebelah kanan"
"Ckk... Pusing" ucap elleya
"Saya bisa anter bu"
"Ga perlu, saya bisa sendiri, kamu lanjut kerja lagi aja"
"Tapi pak ken lagi ada meeting, pak ken pasti lagi ga di ruangannya, bu leya yakin mau sendirian?"
"Saya kan punya mulut, saya bisa tanya sama yg lain" ucap elleya "atau dia lagi sama selingkuhannya? Makanya kamu tahan-tahan saya di sini?" tanya elleya
"Ehh... Enggak kok bu, pak ken ga pernah bawa perempuan kesini"
"Jangan bohong, jujur aja saya ga marah kok" ucap elleya
"Beneran bu, pak ken ga pernah bawa perempuan ke kantor, hmm... dulu sih pernah, bukan pernah tapi hampir seminggu tiga empat kali pak ken bawa perempuan yg beda tapi sebelum nikah kok bu"
"Tiga empat kali dengan perempuan yg beda?" tanya elleya kaget, itu artinya sebulan dia bisa bertemu dengan hampir 20 orang wanita "wah... dia laku juga ya?" tanya elleya masih tak percaya dengan apa yg ia dengar, entah mengapa ada sedikit rasa kesal dari dalam hatinya "Ckk..." decak elleya berbalik pergi
"Tapi itu dulu kok bu" teriak illa "ahh... sial!! Kenapa aku mengatakannya tadi" ucap illa memukul pelan kepalanya
__ADS_1
Tap tap tap
Ting
Elleya masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka, ia menekan angka 4 ke lantai dimana ruangan kenzoe berada
"Tiga atau empat orang wanita berbeda?" gumam elleya "papamu itu.. ckk... aahhh kenapa aku kesal" ucap elleya sembari memegang perutnya yg sudah terlihat membuncit
Ting
Pintu lift kembali terbuka, elleya keluar dan berbelok mengikuti arahan yg tadi illa katakan
Elleya berjalan pelan sembari mengontrol nafasnya agar teratur, ia masih merasa kesal dengan perkataan illa tadi "kenapa harus marah?" gumam elleya lirih "ga mungkin cemburu kan? Sebaiknya jangan leya, kau sudah berjanji untuk tidak akan pernah jatuh cinta padanya" gumam elleya lagi
"Ini ruangan suami saya?" tanya elleya pada salah satu karyawan disana
"Iya bu"
Elleya lalu berjalan ke arah meja kerja kenzoe, ia melihat bingkai foto pernikahannya di sana, ia tersenyum manis mengambil foto itu dan meletakkannya lagi dengan rapi "dia pernah bilang aku perempuan pertama yg dia sentuh, jadi itu artinya dia tak mungkin berbuat macam-macam disini kan?" ucap elleya pelan
Hampir 30 menit ia di ruangan kenzoe tapi pria itu tak kunjung datang juga, elleya keluar dari ruangan kenzoe dan berjalan ke arah pintu lift, sepanjang jalan menuju lift ia terus berpikir yakin tak yakin jika kenzoe benar tak pernah menyentuh wanita lain, aira pernah mengatakan laki-laki itu ibarat kucing, yg namanya kucing mana mungkin nolak kalo di kasih ikan asin, apalagi kalo yg lebih dari sekedar ikan asin, apa mungkin kenzoe juga seperti itu?
Brak
Dengan tak sengaja ia menabrak seorang pria yg fokus dengan kertas-kertas di tangannya
"Maaf... Maaf... Saya ga sengaja" ucap elleya berjongkok membantu membereskan kertas yg berserakan di atas lantai
"Iya gapapa kok mbak, saya juga salah, terlalu fokus sampe ga liat jalan" ucapnya masih mengambil beberapa kertas
Suara ini?
Elleya menatap pria di hadapannya "abian?" ucap elleya kaget saat siapa orang ya ia tabrak barusan
__ADS_1
"Mbak kenal saa... elleya?" ucap abian tak kalah kaget
Elleya bangun dan berdiri "kamu ngapain di sini?" tanya elleya
"Yg harusnya nanya kaya gitu itu aku" ucap abian "kamu ngapain di sini?" tanya abian "aku mah kerja di sini" ucap abian
"Jadi waktu itu kamu di pindahin kesini?" tanya elleya, pantas saat itu ia pernah bertemu kenzoe satu kali di dekat kantornya saat ia akan mengatakan jika ia sedang hamil, ternyata perusahaan kenzoe dan perusahaan tempatnya bekerja dulu memang ada ikatan "tunggu... tunggu... kamu beneran hamil? Jadi yg waktu itu yg dhea omongin itu bener? Kamu beneran hamil?" tanya abian saat ia melihat perut elleya yg terlihat sedikit membuncit
"Dhea? Maksud kamu dhea tau aku hamil?" tanya elleya
"Iya... Dia bilang dia sendiri yg denger kamu hamil, aku fikir dia bohong, jadi ternyata bener ya" ucap abian "ternyata kamu ga sepolos yg aku bayangin, ga mau aku sentuh eh malah hamil sama orang lain, kamu ngelakuinnya sebelum putus sama aku atau saat masih pacaran sama aku? pffttt..." abian menertawai elleya "ahh dan jangan bilang kamu ke sini mau minta tanggung jawab sama aku!! Kamu ngejar aku sampe sini? Aku ga pernah nyentuh kamu, jadi jangan minta tanggung jawab sama aku"
"Abian..."
"Murahan juga ya kamu, ga nyangka perempuan sepolos kamu bisa hamil duluan" ucap abian masih tertawa pelan
Elleya menatap sinis abian, matanya sudah berkaca-kaca sejak abian terus mengatainya,
"Jadi selama ini yg aduin aku ke bu dian itu dhea?" ucap elleya dengan suara lirih, tenggorokannya sudah tercekat saat ia mendengarkan hinaan abian
"Emmhh bisa jadi, mungkin iya mungkin juga enggak" ucap abian
"Kenapa kalian setega itu sama aku? Aku salah apa sama kalian?" tanya elleya pelan
"Kamu ga punya salah kok sama aku, cuma kamu itu terlalu kuno!! Kamu itu ngebosenin, aku bertahan karna kamu baik sama aku, dan emang ada sedikit rasa sayang sih tapi sayangnya rasa cinta aku ke dhea lebih besar dari sayang aku kamu, kalo masalah dhea aduin kamu hamil ke bu dian ya aku ga tau, dan aku ga berminat tau" ucap abian "ahh dan iya, semoga cepet ketemu ya bapaknya anak kamu, yg jelas itu bukan aku" ucap abian lagi lalu pergi meninggalkan elleya
Elleya mengedipkan mata, air mata berhasil keluar dari matanya, ia membuka matanya lagi, seorang pria berjarak tiga meter di hadapannya menatapnya, elleya berbalik dan berlari cepat ke arah pintu lift
Ting
Pintu lift terbuka, dengan cepat elleya masuk ke dalam lift dan menekan angka teratas
Tbc
__ADS_1