
"Sabar yaa" ucap aira mengelus punggung Elleya "aku yakin bunda kamu udah bahagia kok disana"
"Iyaa ra makasih" ucap elleya
"Malem ini kamu nginep aja di rumah aku dulu, kamu pasti butuh temen kan buat cerita, atau aku yg nginep di kost.an kamu?"
"Engga deh ra ga usah, aku lagi pengen sendiri" ucap elleya
"Yakin?" tanya aira
"Iyaa" jawab Elleya
"Kalo ada apa-apa kamu telfon aku aja, aku pasti langsung nyamperin kamu"
Elleya mengangguk pelan
"Kemarin waktu kita makan bakso katanya kamu mau ngomong, kamu mau ngomong apa?" tanya aira
Deg
Elleya menatap lekat wanita di sampingnya, ia terlalu sibuk melamuni ibunya yg sudah tiada hingga melupakan satu hal itu
"Ga bisa kita omongin disini" ucap elleya berbisik lalu melihat ke arah meja teman-teman yg satu ruangan bersamanya
"Kita ke toilet" ucap aira bangun dari duduknya dan berjalan kearah toilet di ikuti elleya
Tap tap tap
Ceklek
Elleya menutup rapat pintu toilet wanita
"Apa? Apa yg mau kamu omongin sama aku?" tanya aira
"Aku bingung aku harus mulai dari mana ra"
"Pelan-pelan aja" ucap aira
"Hmm itu.. Aku.. Ngghh aku.. Hamil" ucap Elleya ragu-ragu
"Apaa?" ucap aira kaget "kamu ga becanda kan?"
"Menurut kamu? Disaat seperti ini apa mungkin aku becanda? Aku serius"
"Abian.. Brengsek.."
"Bukan abian" ucap elleya pelan
"Apa? Bukan abian?" tanya aira kaget
__ADS_1
"Iyaa, bukan abian" jawab elleya "terus siapa?"
"Aku ga tau dia siapa" jawab elleya "waktu itu, waktu aku mabuk kamu bawa aku ke hotel, aku ga tau gimana kejadiannya, waktu aku bangun udah ada pria di samping aku ra.. Waktu itu aku bingung, aku fikir ga bakal kaya gini" ucap elleya lagi
Aira bersandar pada dinding toilet menatap langit-langit frustasi
"Aku harus gimana ra?"
"Kita cari laki-laki itu"
"Cari dimana? Kita ga tau namanya apalagi alamatnya, aku udah ke hotel waktu itu tapi ga dapet hasil, nihil"
"Terus kita harus gimana?" tanya aira
"Ga ada pilihan lain ra, bantu aku gugurin kandungan ini"
"Enggak.." ucap aira cepat "dia ga berdosa, aku ga setuju kalo kamu gugurin janin kamu"
"Tapi aku ga punya pilihan lain ra, aku punya adik, tahun depan dia udah ujian, belum lagi aku harus nabung untuk kuliahnya dia, kalo aku pertahanin janin ini, aku bisa di pecat"
"Aku tetep ga setuju sama rencana kamu, kita cari cara lain, aku yakin kita pasti punya jalan keluar tanpa harus membunuh yg tak berdosa, lagi pula itu juga bahaya kan"
"Tapi ra.."
"Kita balik kerja, nanti kita fikirin jalan keluarnya" ucap aira menggenggam tangan elleya dan keluar
Ceklek
***
"Kamu yakin kamu pernah liat dia di sini?" tanya aira
"Iya aku yakin ra, waktu itu aku lari karna liat dia mau masuk ke resto ini, aku juga sempet bicara empat mata kok sama dia, cuma waktu itu daffa keburu telfon makanya aku buru-buru pergi"
"Kamu sempet bilang kan sama dia kalo kamu lagi hamil anak dia"
"Enggak, aku ga sempet bilang sama dia ra"
"Ckk.. Mudah-mudahan kita ketemu lagi sama dia" ucap aira, ia lalu melihat jam di pergelangan tangannya "jam istirahat udah mau habis, kita balik ke kantor, besok kita kesini lagi, aku yakin kamu pasti ketemu lagi sama dia" ucap aira
Tap
Tap
Tap
Elleya dan aira berjalan masuk ke dalam perusahaan dimana mereka bekerja
"Elleya? Kamu di panggil sama bu dian" ucap Cilla, teman satu divisi dengan elleya
__ADS_1
"Bu dian? Kenapa?" tanya aira
"Ga tau" jawab Cilla
"Ya udah aku ke ruangannya bu dian dulu sebentar" ucap elleya berbalik dan pergi berjalan menuju ruangan atasannya
Tap
Tap
Tap
Tok tok tok
"Masuk" ucap seorang wanita hampir setengah abad dari dalam sana
Ceklek
"Siang bu.." ucap elleya "bu dian panggil saya?" tanya elleya
"Iyaa.." jawab dian "duduk"
Elleya berjalan pelan menghampiri meja dian dan duduk di bersebrangan dengannya
"Kamu dengerin ini" ucap dian memberikan earphone berukuran mungil itu pada elleya
Deg
Wajah elleya berubah pucat saat mendengar rekaman tersebut
"Sengaja saya kasih itu biar orang ga denger" ucap dian "yang kamu katakan di situ bener? Itu suara kamu kan?" tanya dian
Elleya melepaskan earphone di telinganya dan mengangguk mengiyakan perkataan dian
"Saya ngerti sama perasaan kamu sekarang, saya juga tau itu hanya kesalahan, tapi saya juga ga bisa berbuat banyak, saya ga mungkin terus mempertahankan kamu disini leya, saya ga mau perusahaan ini dapet nilai negatif"
"Tapi bu, saya bisa pastiin masalah ini cepet selesai, saya akan..."
"Membunuh dia yg ga berdosa seperti yg kamu katakan?" sela dian "itu bukan solusi, atau mencari ayahnya? Kamu bahkan ga tau dia siapa" ucap dian lagi
Elleya memejamkan matanya bingung
"Saya akan pertahankan kamu sampe bulan depan, setidaknya perut kamu masih belum membesar nanti, saya tau ini pasti berat buat kamu tapi saya juga ga bisa berbuat banyak buat kamu, saya harap kamu bisa mengerti posisi saya tapi saya pasti kasih bonus buat kamu" ucap dian
Elleya mengangguk pelan "kalo gitu saya keluar bu" pamit elleya
Dian ikut mengangguk "meskipun dia hadir tanpa cinta tapi saya harap kamu pertahankan dia, setelah melahirkan nanti, jika kamu mau kembali, saya pasti akan menerima kamu lagi"
Elleya kembali mengangguk "terima kasih" ucap elleya berbalik dan keluar dari ruangan dian
__ADS_1
Tbc