
Sudah lebih seminggu Nava menjalin hubungan dengan Doni, dan selama itu pula Nava masih memikirkan jalan untuk mengakhiri kisah kasihnya.
Didalam kamar kesayangannya, Nava tampak berpikir keras, alasan apa yang bisa membuat Doni mau melepasnya.. Setelah berpikir lama Nava menemukan sebuah alasan yang menurutnya tepat untuk membuat Doni *illfeel.
"Yah aku tau, kalo aku ngomong kayak gitu ke dia pasti dia akan mundur perlahan-lahan dan pergi. Ah ide yang cemerlang*." Gumam Nava dengan wajah penuh keyakinan.
Seperti biasa ketika malam hari tiba, itulah waktu yang digunakan Doni untuk menghabiskan waktu lebih lama berkomunikasi dengan Nava. Tampak ponsel Nava berdering dan itu panggilan telepon dari Doni. Inilah saat yang akan dimanfaatkan Nava untuk menggoyahkan hati Doni.
"Selamat malam sayang, aku ganggu gak?" Ucap Doni.
"Gak kok, aku lagi nyantai aja nih." balas Nava
"Gimana tadi ngajarnya, aman gak?" Timpal Doni lagi
" Aman kok, semua berjalan lancar, yah ada lah satu dua anak yang agak susah di atur nya tapi enjoy aja". Kata Nava
"Oh syukurlah kalo gitu, kamu udah makan?" Tanya Doni
"Iya udah kok, hmmm aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi serius dikit boleh?"
"Ya boleh kok, Nava mau nanya apa?"
Nava pun memulai aksinya, menjelaskan panjang lebar kepada Doni, meyakinkan Doni atas permintaannya.
"Jadi gini, kamu tau kan aku pernah bilang sama kamu kalo sebenarnya aku lagi gak mau pacaran? Itu sebenarnya aku punya alasan tersendiri. Aku tuh berharapnya mau menikah aja. Aku sudah malas pacar-pacaran. Aku mau menjalin hubungan yang serius. Gak mau pacaran lama-lama. maunya ya nikah aja kalo emang serius sama aku". Jelas Nava
"Iya Nav, aku ngerti kok. Aku juga sebenarnya gak mau pacaran aja, aku mau serius sama kamu. Ayah akupun sudah meminta aku mencari calon pendamping. Dan yah aku memilih kamu. Jadi kamu sabar sedikit lagi ya Nav" Balas Doni meyakinkan Nava
Nava yang mendengarkan jawaban Doni hanya bisa terdiam, dia tidak menyangka Doni akan mengiyakan permintaannya. Padahal maksud hati Nava mau membuat Doni merasa tidak nyaman dan mundur darinya. Nava pun tidak tahu harus membalas apa perkataan Doni selain mengiyakan.
"Oh gitu ya, hmmm serius ayah kakak sudah meminta kakak untuk mencari pendamping?". Tanya Nava
"Iya sayang, serius. Ayah malah akan menjodohkan aku kalau aku gak bisa nunjukin ke dia aku punya calon sendiri." balas Doni
"Hmmmm ya udah kak, udah malam banget nih. istirahat yah."
"Iya sayang selamat beristirahat, mimpi yang indah."
__ADS_1
Setelah panggilan telepon berakhir Nava yang tadinya merasa bersemangat kini tampak lesu. Dia merasa semua hal yang dia lakukan agar Doni menjauh seakan sia-sia.
"Ya sudahlah jalani aja dulu kali ya. Pusing aku mikirin cara untuk putus tapi gak bisa-bisa." Kata Nava pada dirinya sendiri.
Beberapa hari berlalu, tiba-tiba saja Doni mengirimkan pesan kepada Nava bahwa dia ingin bertamu ke rumah Nava.
Nava terkejut membaca pesan Doni, entah angin apa yang membawa Doni ingin mendatanginya dirumah. Nava pun mengiyakan dan mempersilahkan Doni untuk datang.
Tidak berselang lama, Doni sudah tiba dirumah Nava, Doni yang kali pertama datang ke rumah Nava tampak sedikit nervous, ya mungkin saja karena ini akan menjadi pertemuan pertamanya dengan orang tua Nava.
"Mari kak, silahkan masuk" Kata Nava yg sedang berdiri di depan pintu menyambut Doni.
Doni pun melangkahkan kaki masuk ke rumah Nava, awalnya mereka agak canggung, ya meskipun mereka berdua berstatus pacaran, tapi intensitas pertemuan mereka tidak banyak. Itu karena mereka berdua memiliki kesibukan masing-masing.
Untuk kali pertama, Doni melihat Nava tanpa hijab. Ya Nava seorang gadis berhijab jika sedang berada di luar rumah, tapi ketika di dalam rumah dia tidak mengenakan hijabnya.
Saat Nava sedang masuk ke dapur membuatkan cemilan dan minuman hangat untuk Doni, ternyata Doni membuat sebuah status singkat di Media sosialnya.
"Ya Allah, Cantiknya"
Setelah menghidangkan cemilan dan segelas minuman hangat di atas meja. Nava lalu duduk di kursinya dan mengambil ponsel miliknya. Itu dia lakukan untuk mengurangi rasa canggung dalam dirinya. Namun setelah membaca status kekasihnya itu, rasa canggung Nava bukannya berkurang malah membuat Nava semakin kikuk. Nava merasa darah mengalir ke kepalanya yang membuat pipinya memerah karena tersipu malu.
Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang hal-hal sederhana tapi bisa membangun suasana yang ceria dan membahagiakan di antara mereka.
Doni melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WITA dan Doni bersiap untuk pamit pulang.
"Nav, kayaknya aku pulang dulu yah udah malam." kata Doni
"Oh iya kak, makasih ya udah mampir ke rumah." timpal Nava.
Doni pun pamit kepada orang tua Nava lalu meninggalkan rumah Nava.
Nava tampak senang dengan kedatangan Doni tadi. Senyum diwajahnya jadi bukti. Sepertinya Nava juga masih mengingat kata Cantik yang di tuliskan Doni.
Malam yang menyenangkan bagi mereka berdua.
Setelah hari itu hubungan mereka semakin baik, Nava pun tidak lagi sibuk memikirkan alasan untuk berpisah dengan Doni.
__ADS_1
Malam minggu pun datang, Doni dan Nava
menyusun rencana untuk pergi berjalan bersama malam itu.
Nava yang saat itu sudah berada di rumah sahabatnya Mhya, meminta izin ke teman-temannya yang lain untuk pulang lebih awal karena ingin keluar jalan bersama kekasihnya.
Tak lama Doni pun datang menjemput Nava dan akhirnya inilah untuk kali pertama mereka jalan berdua setelah lebih dari sebulan mereka jadian. Doni dan Nava terlihat bahagia setelah beberapa saat mengitari beberapa tempat di kota B, pilihan mereka untuk singgah jatuh ke sebuah pinggiran pantai. Tempat yang cukup ramai didatangi oleh orang-orang yang berada di kota itu, tapi tidak seramai dengan pantai yang di kota besar.
Setelah sampai di pantai itu, Doni mengambil tempat yang agak terpisah dengan yang lain. Untuk kali pertama mereka duduk berdampingan dengan jarak yang sangat dekat. Doni memulai menyentuh dan menggenggam tangan Nava. Nava yang terkejut dengan tingkah Doni, hanya bisa diam dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Doni yang melihat Nava hanya terdiam pun bertanya.
"Sayang kenapa? gak nyaman ya?" Tanya Doni
"Hmmm gak kok, gak tau aja mau ngomong apa?" Nava menjawab sambil tersenyum
Doni berusaha mencairkan suasana dan akhirnya obrolan-obrolan kecil terdengar dari keduanya, mereka mulai menikmati kebersamaan itu. Hingga akhirnya, tanpa basa basi sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Nava.
Nava terdiam mematung tidak menyangka Doni akan mencium pipinya itu. Seketika suasana hening terjadi.
Doni yang melihat Nava terdiam, lalu menarik tangan Nava menggenggam tangan itu kembali, mencium punggung tangan Nava dan mengutarakan rasa sayangnya ke Nava.
"Nav, aku sayang kamu" ungkap Doni.
Nava yang dari tadi terdiam, tampak tidak bergeming. Nava merasa bingung harus merespon seperti apa tindakan Doni itu. Nava hanya menyimpulkan senyum diwajahnya sebagai tanda dia merespon perkataan Doni
"Ya udah, kita balik yuk Nav, anginnya kencang, udah larut malam juga". sambil melirik jam tangannya.
"Iya nih, udah kerasa dinginnya. Ya udah yuk balik." balas Nava
Doni mengantar Nava hingga di depan rumah. setelah Nava turun dari sepeda motornya Doni mengucap terima kasih kepada Nava karena sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengannya.
"Makasih ya Nav, udah mau jalan sama aku."
"iya sama-sama kak, bye... sampai jumpa lagi ya." Jawab Nava sambil melambaikan tangan melihat Doni berlalu dari pandangannya.
Malam ini Nava merasa berbeda, perasaannya campur aduk, entah perasaan apa yg ada dalam hatinya. Raut wajahnya terlihat berbinar, tersenyum dan merona. Semua jadi satu.
Apa Nava jatuh cinta ya??
__ADS_1