
Dua minggu berlalu tanpa terasa, hubungan yang terjalin antara Leo dan Nava semakin mesra. Keduanya tampak merasakan kenyamanan dan kebahagiaan saat bersama. Tak ada hari yang mereka habiskan tanpa berdua. Entah sekedar untuk makan bersama ataupun berjalan-jalan di taman hiburan. Rasa nyaman dan perhatian yang Leo berikan kepada Nava, membuat Nava sedikit posesif ketika berjauhan dari Leo.
Apalagi ketika mengingat jika beberapa hari lagi masa kontrak kerja Nava di Percetakan Leo akan segera berakhir.
Seperti malam ini, Nava yang sedang beristirahat di tempat tidur kesayangannya tampak sedang berpikir. Nava bingung harus bagaimana, dia sudah tidak bisa melanjutkan kontrak kerjanya karena di Lembaga kursus tempat Nava mengajar akan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, jadi tentu saja Nava harus bekerja dari pagi. Namun jika Nava harus berhenti di Percetakan Leo maka akan membuat mereka kesulitan untuk bertemu dan itulah yang membuat Nava semakin takut, dia takut tidak bisa membiasakan dirinya untuk jarang bertemu dengan Leo. Nava yang belum tahu harus mengambil keputusan apa membuatnya berpikir keras tanpa sadar dia pun kini terlelap dalam tidurnya. Terlelap karena rasa lelah dan kebimbangan hatinya.
Pagi ini seperti biasa Nava sudah menunggu kedatangan Leo di depan rumahnya. Dan tidak menunggu waktu lama kini Leo sudah datang dan membunyikan klakson mobilnya. Nava yang sedang tertunduk karena melihat HPnya langsung menoleh ke arah Leo saat mendengar bunyi klakson mobil.
"Ma, Nava berangkat dulu ya. Assalamualaikum" Pamit Nava sambil berjalan menuju mobil Leo.
"Pagi sayang" ucap Nava yang kini sudah berada di samping Leo.
"Pagi juga sayang, kamu lagi sakit? Tumben keliatan gak semangat gitu" Kata Leo sambil membelai rambut Nava yang sedang terurai.
"Gak kok sayang,biasa aja" balas Nava dengan memberikan senyum indah di wajahnya.
Ditengah perjalanan suasana tampak hening, Nava kelihatan tidak banyak bicara hari ini. Leo pun mencoba memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Sayang ntar siang mau makan dimana?"
"Terserah kamu aja yank, aku ikut"
"Yakin kemana aja mau ikut? kalo aku ngajak kamu ke pelaminan kamu mau?"
"Ih apaan sih yank, tadi kan kamu ngajak aku makan, kok malah ke pelaminan, gak nyambung tau!"
"Abisnya tuh muka kusut amat kayak baju belum di setrika, hahahah"
"Ih sayang kamu awas ya" Nava lalu mendekat ke arah Leo dan mencubit manja lengan Leo
"Duh sayang sakit aduh, udah udah aku minta maaf, kamu jangan gitu sayangku, aku lagi nyetir nih, bahaya."
Nava kembali membenarkan posisi duduknya sambil melipatkan kedua tangan di depan dadanya.
"Ya udah sayang aku serius nih kamu mau makan dimana ntar?" kata Leo tanpa melepaskan matanya yang fokus menatap ke arah jalan
"Ditempat biasa aja deh. Aku lagi gak bisa mikir sekarang. Sekalian ntar makan siang aku mau ngomong sesuatu sama kamu yank".
"Tentang apa? Hmm jangan-jangan itu lagi yang kamu pikirin sampai bikin kamu jadi gak semangat gitu"
Nava yang mendengar jawaban Leo hanya membalasnya dengan menyeringai ke arah Leo, menampilkan gigi-giginya yang berjajar. Leo yang melihat tingkah Nava hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Akhirnya mereka sudah sampai di kantor. Keduanya lalu jalan terpisah, itu karena Nava yang tidak ingin hubungan mereka diketahui oleh karyawan lain, membuat Leo hanya menuruti kemauan Nava. Sekarang mereka telah berada di ruangan masing-masing dan mulai bekerja seperti biasa.
Entah angin apa, hari ini tiba-tiba ayah Leo datang ke percetakan. Leo yang tengah asyik bekerja merasa terkejut dengan kehadiran ayahnya yang sudah berada diruangannya.
"Ayah? ngapain ayah tiba-tiba kesini?"
"Kamu ini bukannya menyuruh ayah untuk duduk dulu, malah bertanya kayak begitu. Memang kamu gak suka kalau ayah kesini?" Protes sang ayah.
"Silahkan duduk Yah, gak gitu maksud Leo Yah, maksudnya tumben gak ada kabar tiba-tiba kesini. Kan tadi kita bisa barengan ke kantor kalo ayah ngomong sama Leo"
"Ayah cuman bosan di rumah , jadi ayah pikir lebih baik ayah jalan-jalan kesini aja. Lihat situasi percetakan"
"Oh ya udah kalo gitu yah, Leo lanjutin kerja Leo dulu. Terus ayah mau minum apa? Biar nanti Leo minta anak-anak buatkan untuk ayah."
"Lanjutkan saja kerjaan kamu, ayah mah gampang, kalo ayah mau nanti biar ayah yang keluar minta sama anak-anak."
__ADS_1
Leo menjawabnya dengan anggukan dan kembali fokus menatap layar komputer di hadapannya. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi sang ayah tampak masih betah berkeliling melihat kondisi percetakan. Hal itu membuat Leo kebingungan karena Leo tidak ingin sang ayah tahu jika dia akan keluar makan siang bersama Nava.
Leo mulai tidak fokus dengan pekerjaannya, dia tampak memainkan pulpen dengan jari-jari tangannya, mulai memikirkan alasan apa yang akan dia katakan kepada ayahnya agar bisa makan siang dengan Nava tanpa dicurigai oleh ayahnya.
Tiba-tiba pintu ruangan Leo terbuka, sang ayah yang sudah lelah mengitari kantor itu kembali ke ruangan anaknya.
"Leo, makan siang nanti kumpulkan semua karyawan. Ayah mau mengajak mereka makan siang bersama di restoran B*****."
"Hah?? makan siang bareng yah? Emang harus ini hari juga?" JawAb Leo dengan penuh heran, membuatnya sudah pasti tidak bisa makan siang berdua dengan Nava, sejujurnya bukan makan siangnya yang membuat Leo tidak mau membatalkan janjinya dengan Nava, tapi karena Leo pun penasaran dengan apa yang akan Nava katakan kepadanya.
" Memangnya kenapa? Toh ayah juga sudah ada disini kan? Sudah lah sampaikan ke semua karyawan untuk makan bersama nanti"
"Baik Yah" Leo pun mengambil telepon yang berada di atas mejanya. menghubungi Siska untuk menyampaikan ke teman-temannya semua kalau siang ini akan makan bersama dengan pemilik Percetakan.
Semua karyawan sudah menerima informasi tersebut, termasuk Nava. Nava tampak lesu mendengarnya karena dia harus menunda pembicaraannya dengan Leo dan di sisi lain Nava merasa deg-degan akan makan siang bersama dengan ayah Leo. Dia merasa gugup untuk bertemu dengan calon mertuanya itu, meskipun tidak ada yang tahu hubungannya dengan Leo tapi Nava takut jika akan salah tingkah nantinya.
Semua karyawan sudah berada di restoran B*****
Sebuah meja panjang lesehan sudah di reservasi sebelumnya. Mereka semua sudah mengambil posisi tempat duduknya. Leo dan ayahnya yang duduk berhadapan dan Nava duduk di samping Leo, tentu saja karena Leo yang memintanya. Namun itu tidak menimbulkan kecurigaan dimata orang-orang, karena mereka berdua sebisa mungkin menampilkan sikap biasa-biasa saja. makanan dan minuman sudah disajikan oleh beberapa pelayan, semua tampak menikmati hidangan yang disajikan. Ayah Leo yang memiliki sikap ramah kepada semua orang membuat santap siang hari itu tidak terasa canggung. Waktu berlalu hidangan yang ada di atas meja pun tampak sudah habis, para karyawan mengucapkan terima kasih untuk makan siang hari ini, dan mereka pun akan kembali ke kantor untuk lanjut bekerja. Kecuali Nava yang memang hanya bekerja paruh waktu, akan pulang ke rumah.
Ting...
"Sayang maaf ya aku gak bisa antar kamu pulang, nanti malam aku jemput kamu di tempat kursus. Kabari aku ya,nanti malam kita ngobrol"
Begitulah isi pesan yang masuk di HP Nava dari kekasih hatinya.
"Iya sayang gak apa-apa, aku ngerti. Nanti aku kabari kamu" Balas Nava
Nava pun pulang ke rumah sebentar lalu bersiap-siap untuk pergi ke tempat mengajarnya. meskipun sedikit menyita waktunya tapi Nava sangat menikmati semua aktifitasnya.
Skip
" okay, I think enough for today, thank you for your coming and see you next meeting" Tutup Nava kepada anak didiknya.
Setelah jam mengajarnya selesai, Nava dan teman-teman mentor nya yang lain kini berkumpul di ruangan mentor. Tidak lain untuk melakukan rapat membahas persiapan Sosialisasi ke sekolah-sekolah yang akan dilakukan dua minggu lagi. Mereka tampak saling memberi masukan untuk apa yang harus disiapkan dan pembagian jadwal ke sekolah-sekolah.
"Nav gimana kalo katalog nya nanti kita cetak di tempat kerja kamu aja, siapa tau kan bisa dapat diskon hehehe" ucap Rani.
"Boleh kok biar nanti sekalian aku yang desain bentuknya supaya lebih kelihatan menarik, tapi kalo masalah diskon aku gak jamin, kan aku cuman kerja di sana bukan aku yang punya"
"Ide yang bagus, aku juga setuju Nav,kalian gimana?" Sahut Farah sambil melihat ke arah teman-teman yang lain untuk mengetahui pendapatnya. Dan temannya yang lain pun turut menyetujui pendapat Farah. Setelah pembahasan dirasa sudah cukup maka rapat itupun selesai.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Nava mengambil HP dari tasnya untuk segera menghubungi Leo agar menjemputnya.
Ting
Leo yang mendengar HP nya berbunyi segera membukanya.
"Sayang aku sudah selesai, aku tunggu kamu ya"
Leo membalas pesan itu dan segera meninggalkan ruangan kerjanya dan menuju tempat parkiran. Mobil Leo pun sudah melaju menuju ke tempat Nava.
Nava beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan ke teman-temannya yang lain saat mendengar bunyi klakson mobil Leo.
Sekarang Nava sudah berada di dalam mobil duduk di samping Leo.
"Kita mau kemana sayang?" ucap Nava melirik ke arah Leo
__ADS_1
"Gimana kalo ke Cafe T**** saja sayang?" kata Leo memberikan masukan
"Boleh sayang"
Setelah beberapa lama mereka sudah tiba di Cafe T****. Mereka pun memilih tempat duduk dan memesan cemilan dan minuman kesukaan mereka.
"Kamu mau ngomong apa sayang? Aku jadi kepikiran loh" Leo membuka obrolan di antara mereka
"Maaf sayang, hmmm jadi gini Lembaga kursus aku akan mengadakan sosialisasi ke sekolah gitu, boleh gak kalo aku bikin katalognya dipercetakan kamu?"
"Ya boleh dong sayang, kenapa tidak?"
"Makasih sayang. Oh ya ngomong- ngomong tentang sosialisasi i....tuu... akan diadakan dua minggu lagi sayang." Ucap Nava ragu
"Oh gitu ya sayang terus kenapa memangnya?"
"Sebelumnya aku mau minta maaf sayang, ta...pi... hmm gimana kalo aku sudah tidak bisa melanjutkan kontrak kerja di percetakan kamu?"
Leo mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan Nava.
"Sosialisasinya akan dilaksanakan di sekolah- sekolah ja...di.....waktunya akan dilakukan di pagi hari. Makanya aku sudah tidak bisa kerja dipercetakan lagi sayang."
Leo yang sudah mengerti maksud pembicaraan Nava pun menganggukkan kepalanya.
"Oh jadi itu yang ganggu pikiran kamu? Gak papa kok sayang lagian kerjaan juga sudah tidak terlalu padat. Nanti kalo memang aku keteteran kerjanya aku bisa nyari lagi kok. Kamu gak usah mikirin itu" Ucap Leo meyakinkan Nava dan menggenggam kedua tangan Nava yang ada di depannya.
"Iya sayang makasih ya, aku akan selesaikan semua job aku sebelum masa kontrak ku selesai. "
"Iya sayang, terus ngapain masih kusut gitu mukanya?"
"Aku sedih aja sih, nanti kita masih bisa sering bertemu gak sayang? Apalagi kita berdua sama-sama sibuk. Kapan bisa ketemunya?"
"Ya tentu masih dong sayang, aku pasti akan meluangkan waktu untuk bisa ketemu sama kamu. Emang cuman kamu,aku juga gak bisa kalo gak lihat kamu sayang"
"Mulai lagi kan gombalnya"
"Ya ampun sayang aku serius loh bukannya gombal" Ucap Leo memanyunkan bibirnya
"Hehehe iya sayang aku percaya kok" bujuk Nava
Mereka menikmati kebersamaan mereka berdua, apalagi Nava sudah merasa lega telah mengungkapkan apa yang menjadi bebannya dan Leo pun sudah berjanji akan tetap sering menemui dirinya. Sekarang tidak ada lagi keraguan dalam hati Nava.
Keesokan harinya semua berlangsung seperti biasa. Nava dijemput oleh Leo ke kantor dan hari ini Mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdua melakukan beberapa pekerjaan bersama.
Nava mulai mencoba membuat desain untuk katalog nya. Ditengah mengerjakan desain itu Leo dengan senang hati membantunya memberi masukan kepada Nava dan tidak butuh lama desain katalog itu pun telah selesai dan sudah siap untuk dicetak.
Semua yang mereka lakukan bersama akan sangat mereka rindukan nantinya.
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa hari ini adalah hari terakhir Nava bekerja di kantor Leo. Nava begitu serius untuk menyelesaikan pekerjaannya di hari terakhirnya bekerja di sana. Dan pekerjaannya selesai juga tepat sebelum istirahat makan siang. Setelah membereskan semua barang-barang di ruangan kerjanya, Nava pun keluar ruangan dan tampak berpamitan dengan teman-teman kantornya. Nava tampak sedih karena akan kehilangan teman-teman barunya disini.
Nava pun melangkah meninggalkan kantor itu, tak hanya Nava, teman- temannya juga merasakan kehilangan, sosok Nava yang ceria dan aktif bisa menghidupkan suasana di kantor.
Baru saja Leo ingin mengikuti Nava yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kantor tapi tiba-tiba HP nya berdering, Leo yang melihat sebuah Nama di layar HP nya pun langsung mengangkat teleponnya
"Tunggu aku, aku akan kesana" Leo pun mengakhiri panggilan itu.
******************************************
__ADS_1
******************************************