
Sebulan berlalu, Doni mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Pekerjaan yang menguras banyak waktu dan tenaga telah berhasil mereka selesaikan bersama sesuai tenggak waktu yang di tentukan. Hubungan Doni dan Nava pun semakin hari semakin baik. Keduanya saling mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada pasangannya. Hubungan yang indah, kebersamaan yang mereka lalui, sesekali bertemu dan menjalin komunikasi melalui ponsel secara intens membuat rasa sayang bagi keduanya semakin dalam.
Nava pun sudah memperkenalkan Doni kepada semua sahabat dekatnya, dengan percaya diri memperkenalkan Doni sebagai kekasihnya di hadapan sahabatnya.
Semakin dalam rasa sayang Nava kepada Doni juga membuat Nava menjadi sosok pasangan yang posesif. Rasa cemburu yang muncul dalam hati Nava sangat tinggi, bahkan mampu membuatnya menjadi seorang pencemburu buta.
Ngapelin kekasihnya hampir tiap minggu sudah menjadi kebiasaan Doni saat ini. Malam itu Doni dan Nava sedang asik mengobrol ria di ruang tamu. Bercerita tentang hal apa saja selalu menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi keduanya. Hingga ponsel Doni tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seorang wanita yang tak lain saudara sepupu Doni.
"Hai sayang, apa kabar nih? Lama gak ada kabar?"
Nava yang duduk disamping Doni tanpa sengaja melihat dan membaca isi pesan itu. Seketika suasana berubah dingin. Nava sedikit menggeser posisi duduknya menjauh dari Doni.
Doni yang tahu dengan perubahan mood Nava berupaya menenangkan kekasihnya itu.
"Sayang kamu jangan salah paham dulu ya? Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia ini kakak sepupu aku. Kami memang sangat akrab sayang. Tolong percaya ya?".
Nava yang sudah diselimuti rasa cemburu tidak bisa lagi menerima dengan baik penjelasan Doni.
"Aku gak salah paham kok, aku bisa lihat dengan mata kepala aku sendiri. Tau tidak dia manggil kamu apa? Dia manggil kamu SAYANG!!" Tegas Nava
"Mana ada sih sepupu manggil sayang-sayang segala. Gak masuk akal banget lah." Lanjut Nava lagi.
Doni paham sekuat apapun dia menjelaskan kepada kekasihnya hanya akan membuang-buang waktu saja. Segera Doni mencari nama sepupunya itu di ponsel dan melakukan panggilan telepon
"Arlin"
Terdengar suara dari seberang sana menjawab panggilan telepon dari Doni.
"Ya Halo Don, kamu dimana ini? Tumben lama gak ada kabar?" ucap Arlin, sepupu Doni.
" Aku baik kok, aku lagi dirumah pacar aku nih. Tanggung jawab kamu, nih pacar aku marah gara-gara kamu manggil aku sayang". Balas Doni
Nava pun terkejut tidak menyangka Doni akan menghubungi wanita itu tepat dihadapannya. Nava berbisik kepada Doni
"Ih ngapain sih kamu harus nelpon dia? Kan aku jadi gak enak!" ucap Nava berbisik
__ADS_1
"Ya gimana lagi kamu gak percaya sama aku. Aku gak mau kamu salah paham terus sama aku." ungkap Doni
"Hahahaha ya ampun aku minta maaf, kamu juga sih gak ngomong kalau kamu udah punya pacar. ya maaf deh, sini aku mau ngomong sama pacar kamu." kata Arlin
Doni pun memberikan ponsel itu kepada Nava, dengan ragu Nava mengambil ponsel tersebut dan memulai percakapan.
"Ya halo kak, perkenalkan aku Nava". kata nya singkat
"Oh iya, kenalin yah aku Arlin aku sepupunya Doni. Kamu gak usah khawatir yah aku sm Doni tuh gak ada apa-apa serius deh". Jelas Arlin
"Hmmm iya kak, aku percaya kok, maaf ya ka udah ganggu."
"Gak kok, ya udah kalian lanjutin aja ngobrolnya.." Tutup Arlin
Nava memberikan ponsel Doni sembari berkata
"Ih aku jadi malu tau"
Dengan wajah tersenyum Doni menjawab
Nava pun hanya terdiam.
Doni yang besok akan mengikuti pertandingan bola bermaksud memberi tahu kekasihnya.
"Sayang aku mau ngomong sesuatu sama kamu, besok aku mau ikut bertanding bola, gak jauh kok. Pertandingannya di adakan di Kecamatan L****." Jelas Doni
"Hmmm bukannya besok kamu kerja ya?" Jadi kamu bakal nginap dimana, tempat itukan cukup jauh dari sini."
"Aku udah ijin kok untuk besok dan mungkin aku bakal nginap dulu dirumah, paginya baru aku balik lagi kesini." Jawab Doni
"Emang kamu biasa ikut tanding-tanding bola kayak gitu? Kok tiba-tiba banget sih ngasih taunya?"
"Sayang aku tuh suka banget main bola, sejak aku masih sekolah dulu aku tuh sering banget ditunjuk buat wakili sekolah ikut bertanding. Kamu harus bangga tau kalau pacar kamu ini hebat bermain bola loh." Jelas Doni
Ya itulah Doni si pecinta bola, sangat menyukai bola. Bakatnya dalam bermain bola tidak diragukan lagi. Beberapa panggilan bermain dari luar kabupaten pun sering datang kepadanya. Tapi sayangnya Nava kurang begitu suka dengan hobi kekasihnya itu. Tidak lain karena rasa curiga dan cemburu yang tinggi kepada pasangannya. Pikiran-pikiran negatif seringkali menghinggapi dirinya.
__ADS_1
"Hmmm ingat ya besok tetap kabarin aku kamu ada dimana? awas aja kamu cuekin aku!" Kata Nava dengan nada posesif nya.
"Siap sayangku." balas Doni sambil tersenyum.
Tidak berselang lama Doni berpamitan pulang karena waktu sudah semakin larut.
Esok harinya Doni sudah bersiap untuk ke Kecamatan L****. Saking semangatnya dia lupa untuk memberi kabar kepada kekasihnya yang akhirnya lagi-lagi akan menjadi penyebab pertengkaran di antara mereka.
Setelah pertandingan selesai, Doni ingin segera mengabari kekasihnya tentang keberadaan dirinya dan tentu saja dengan kemenangan yang diraihnya.
Namu wajah penuh kegembiraan sesaat tampak hilang setelah melihat layar ponselnya. Bagaimana tidak ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Nava. Doni merasa ini akan menjadi sesuatu yang tidak baik untuk hubungannya lagi.
Doni mengambil tempat sedikit menjauh dari kerumunan orang, mencoba untuk menghubungi Nava. Nava yang memang sejak tadi siang uring-uringan menunggu kabar dari Doni dengan sigap menerima panggilan telepon kekasihnya.
"Kamu akhirnya ingat juga ya sama aku? Kemarin kamu udah bilang mau ngabarin aku kan. Buktinya mana? Kamu asik sama cewek lain ya dsana? Ada yang temenin kamu disana?" Ucap Nava dengan nada kesal menyerbu pertanyaan kepada Doni tanpa henti.
"Kamu kenapa sih? Aku minta maaf, tadi aku udah gak sempat ngabarin kamu. Aku buru-buru ngejar waktu kesana. Kok kamu kayak gini terus sih? Kapan sih kamu bisa percaya sama aku?" Tanya Doni
"Gimana aku bisa percaya sama kamu, kalau kamu sendiri suka ingkar sama aku?" timpal Nava
"Tapi itu semua aku gak sengaja, lagipula semalam kan aku udah ngomong sama kamu. Tolonglah percaya sama aku"
"Sudahlah, kayaknya kita emang gak bisa bersama. kita itu beda. yang ada kita cuman bakal berantem kayak gini terus!" Kata Nava
"Jadi kamu maunya apa?". Doni sepertinya juga mulai lelah dengan tingkah Nava
"Aku mau kita putus. Kita emang gak cocok!"
"Ya sudah kalau itu yang kamu mau. Aku ikut aja. Aku juga gak bisa maksa kalau kamu udah gak bisa sama aku. Pungkas Doni.
Panggilan telepon pun berakhir. Doni dan Nava masih dalam suasana hati yang tidak baik. Sama sekali tak ada komunikasi yang terjadi di antara mereka lagi. Hingga beberapa hari berlalu Doni pun menghilang sejak kejadian malam itu.
Sedangkan Nava mulai gelisah tanpa kabar dari Doni.
Apa ini benar-benar akhir kisah mereka?
__ADS_1