Fatamorgana Cinta Nava

Fatamorgana Cinta Nava
Akhirnya....


__ADS_3

Doni awalnya mengajak Nava untuk makan malam bersama di sebuah warung bakso kesukaan Nava. Mereka menyantap makanan dihadapannya dengan lahap. Doni yang baru saja menyelesaikan makan malamnya tiba-tiba terdengar bunyi ponsel dari dalam saku celananya. Doni yang melihat nama Irsya pada layar ponselnya segera menerima panggilan itu.


" Halo Bro, aku mau keluar, ada urusan bentar. Kalau kamu mau ke rumah kuncinya ada aku selipkan dalam rak sepatu ya." Kata Irsya to the point.


"Oh oke bro, thanks yah." Jawab Doni singkat. Doni lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Melihat kekasihnya pun telah selsai menyantap makanannya, Doni bergegas ke kasir untuk membayar makan malam mereka.


Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Doni langsung menuju rumah Irsya. Nava hanya terdiam dan sesekali melihat ke kanan dan kiri sisi jalan.


Ketika Doni hendak memasuki perumahan dimana Irsya tinggal, Nava sedikit kaget dan bertanya kepada kekasihnya itu.


"Sayang kita ngapain kesini?" Tanya Nava


"Aku mau ngambil barang, bentar kok sayang." Jawab Doni.


Kini mereka berdua telah sampai di depan rumah Irsya. Pemandangan yang sangat sepi terlihat dari depan rumah itu. Membuat Nava sedikit ragu untuk memasukinya.


Namun Doni tetap berusaha meyakinkan Nava untuk mau menemaninya masuk ke dalam rumah.


"Aku tunggu disini aja deh sayang." Kata Nava


"Ayo masuk aja, Irsya kayaknya juga lagi gak ada. Aku tunggu dia bentar dulu. Gak enak juga kan tunggu diluar, entar diliatin orang-orang. Mana gelap banyak nyamuk juga kan?" Jelas Doni.


Nava merasa apa yang dikatakan kekasihnya itu juga ada benarnya. Dengan langkah yang sedikit ragu Nava masuk ke dalam rumah Irsya, mengikuti langkah kekasihnya yang berjalan sambil menggenggam tangan Nava.


Nava kini sudah berada di ruang tamu duduk berdampingan dengan kekasihnya. Nava terlihat melirik se isi rumah, ada rasa deg-degan di dalam dada yang hendak dia tutupi. Doni melihat kekasihnya tampak tidak nyaman berusaha untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Sayang mau dinyanyiin lagi gak? Aku cari gitar dulu yah." Kata Doni membuka percakapan


"Hmmm iya boleh". jawab Nava sambil menorehkan senyum di wajahnya.


Sayangnya gitar itu tidak nampak di sekitar ruang tamu, sehingga Doni mencoba masuk ke dalam sebuah kamar. Doni yang melihat keberadaan gitar itu di dalam kamar sontak tersenyum.


"Sepertinya niatanku mendapat respon yang baik dari alam" Gumamnya dalam hati. Itu memudahkan dirinya untuk memanggil kekasihnya masuk ke dalam kamar juga.


"Sayang aku udah jumpa gitarnya, sini deh". Pinta Doni


"Hmmm disini aja sayang, kamu keluar kesini aja." Jawab Nava takut


Doni yakin Nava tidak akan berani untuk masuk ke dalam kamar itu. Sehingga dia pun keluar dan mencoba mengajak kekasihnya itu untuk masuk ke kamar. Doni memegang tangan Nava dan menariknya dengan lembut.


"Ayo sayang, kamu gak usah takut kan ada aku." Kata Doni


Dengan langkah kaki yang pelan tapi pasti mereka berdua pun telah berada dalam sebuah kamar. Nava yang masih mengingat dengan jelas kejadian sebelumnya terlihat ketakutan. Dia bingung apa yang harus dia lakukan jika saja kejadian itu berulang kembali.


Belum juga mendapatkan jawaban dari pertanyaan dihatinya, kini Doni telah berada tepat dibelakangnya memeluk dirinya dari belakang.


Nava yang masih bingung harus berbuat apa semakin membeku tak dapat bergerak merasakan sentuhan kekasihnya itu.


Doni yang awalnya memeluk Nava dari belakang kini dengan pelan mencoba membalikkan tubuh Nava berbalik ke arahnya. Mereka berdua kini saling berhadapan. Nava tertunduk malu tidak berani menatap kekasihnya itu. Doni membawa tangan kanannya menuju dagu Nava.


Nava pun sedikit mendongak ke atas dan sekarang dia dapat melihat wajah kekasihnya itu. Entah dalam hitungan sepersekian detik, kini bibir merah Doni telah mengecup kekasihnya itu. Nava sontak memejamkan matanya. Doni terlihat menikmati perlakuannya. Nava hanya terdiam merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal bermain di bibirnya. Nava yang sebelumnya hanya terdiam mulai mencoba untuk mengambil jarak dari kekasihnya ketika dia merasa ada sentuhan yang hendak menyentuh kulitnya dari dalam bajunya. Nava tampak mendorong kekasihnya sedikit menjauh darinya. Tapi Doni yang kini sudah di penuhi oleh hasrat yang menggebu dalam dirinya seperti memiliki tenaga yang kuat. Doni kembali mendekati Nava, dengan tingkah yang sedikit liar, Doni kembali mencium Nava dengan lembut. Tangannya kini juga tidak tinggal diam. Doni mencoba membuka atasan yang dikenakan Nava. Posisi Nava yang kini sudah berada di bawah tubuh Doni membuatnya sedikit kesulitan untuk melepas dekapan Doni. Hanya dengan dua kali gerakan Doni telah sukses melepas atasan Nava, Doni melemparkan kain itu ke lantai. Doni semakin bersemangat melihat kekasihnya yang kini hanya memakai dalaman. Tidak menunggu lama, Doni pun telah melepas pengaitnya. Nava yang melihat dirinya telah polos tanpa sehelai kain semakin berontak. Nava takut Doni semakin liar dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Tapi kekuatan Doni jauh lebih kuat dan entah bagaiman caranya, kini celana jeans Nava juga telah berserakan di lantai. Pakaian yang dikenakan Doni pun sudah terlepas dari tubuhnya. Nava semakin ketakutan namun berbeda dengan Doni, yang semakin menikmati perlakuannya kepada kekasihnya. Nava merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Tubuhnya merasa panas dingin karena sentuhan Doni. Doni yang memainkan dada Nava begitu bersemangat, membuat Nava yang tidak bisa melawannya hanya menggigit bibirnya saja. Tidak lama berselang Nava merasakan ada sesuatu di bawah sana yang mulai menegang. Nava semakin tidak karuan entah apa yang harus dia lakukan. Meronta pun percuma. Tenaganya pun mulai habis mencoba menahan perlakuan kekasihnya. Hingga akhirnya, barang milik Doni berhasil memasuki tubuh Nava, Nava yang merasakan ada benda asing memasuki dirinya hanya bisa berteriak kesakitan, dan seketika itu pula tampak cairan berwarna merah yang mengalir berserakan di atas seprai. Doni masih melakukan aktivitasnya, melakukannya dengan lembut sedangkan Nava hanya diam terpaku melihat apa yang terjadi dengan dirinya. Hingga akhirnya Doni menyudahi penyatuan mereka. Doni dan Nava telah mengenakan kembali pakaian mereka setelah membersihkan diri sebelumnya. Nava hanya terdiam dia merasa hidupnya telah hancur oleh Doni. Masa depannya sudah sirna entah apa yang akan terjadi kedepannya. Nava benar-benar merasa kosong. Hingga akhirnya Nava meminta Doni untuk mengantarkan Nava pulang kerumahnya. Diperjalanan pulang pun Nava masih terdiam, banyak pertanyaan yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


Mengapa Doni bisa melakukan hal itu kepadanya?


Mengapa Doni tidak bisa menjaganya?


Bagaimana jika Doni tiba-tiba meninggalkannya?


Apakah suatu hari nanti akan ada laki-laki yang bisa menerima keadaanya?


Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh memenuhi kepalanya. Hingga tak sadar Nava pun telah tiba di depan rumahnya


"Makasih ya udah ngantar aku balik, aku masuk dulu". Hanya itu kata yang keluar dari mulut Nava


Entah apa yang ada didalam pikiran Doni melihat perubahan sikap kekasihnya itu. Padahal Doni tidak sekedar nafsu saja melakukan hal itu kepada Nava. Tapi sepertinya Nava merespon berbeda maksud perbuatan Doni.


Hanya berselang sepuluh menit Doni meninggalkan rumah Nava. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata panggilan telepon itu dari kekasihnya.


Doni pun segera menerima panggilan telepon itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Apakah yang akan disampaikan Nava kepada Doni?


Apakah hubungan mereka akan baik-baik saja setelah kejadian itu?


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2