
Pagi yang cerah menyambut Nava hari ini tapi sayang perasaannya yang sedang kacau membuat Nava tidak menikmati paginya kali ini. Ibu Nava yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya, terlihat sibuk di ruang dapur. Nava yang sudah terbangun beranjak ke ruang makan berkumpul dengan keluarganya.
Mereka semua telah siap menyantap sarapan pagi di ruang makan. Adik-adik Nava tampak bergegas menghabiskan sarapan dan segera berangkat ke sekolah. Sedangkan Nava terlihat santai menyantap sarapannya.
Ketika adik-adik Nava telah berangkat ke sekolah. Tinggallah dia dan orang tuanya di rumah. Nava sudah bertekad untuk menyampaikan apa yang menjadi keputusannya hari ini juga. Dia tidak mau terlalu lama membuat seseorang menunggu apalagi dengan jawaban yang mungkin akan mengecewakan beberapa orang.
Nava mencoba memulai percakapan dengan kedua orang tuanya.
"Ma Pa, Nava semalam sudah memikirkan tentang lamaran itu. Dan sepertinya Nava sudah memiliki keputusan Nava sendiri." Ucap Nava
"Oh ya, bagus itu nak, gak baik membuat orang menunggu lama." Kata Ibu Nava
"Jadi bagaimana keputusan kamu Nak?" Sambung Ayah Nava
"Hmmmm gini Ma Pa, seperti mama dan papa tau, Nava masih pengen punya kerjaan yang lebih baik lagi dari sekarang, Mama Papa tau kan kalau Nava punya cita-cita yang masih pengen Nava wujudkan. Lagi pula Nava merasa Nava masih muda untuk menikah, Nava merasa Nava belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan Ma. " Jelas Nava
"Hmmm apa kamu yakin nak dengan keputusan kamu itu? Ustad Yusuf anak yang baik, papa yakin dia pasti bisa membimbing kamu." Kata Ayah Nava
"Tapi Pa, Nava sama sekali gak kenal dengan Ustad Yusuf, Nava gak tau sifat dia kayak gimana? Karakter dia gimana? Begitu juga dengan dia Pa, Dia gak tau watak Nava seperti apa? Nava gak berani Pa kalau harus menjalin hubungan yang serius dengan laki-laki yang Nava sama sekali gak tahu gimana dia." Ungkap Nava lagi.
Ayah dan Ibu Nava terdiam, mereka merasa apa yang dikatakan oleh putrinya juga ada benarnya. Lagi pula mereka berdua telah sepakat untuk tidak memaksakan Nava jika memang Nava belum siap dengan pernikahan itu.
" Ya sudah nak, jika memang itu sudah menjadi keputusan kamu, kita akan terima. Kami juga gak mau memaksa kamu jika kamu memang belum siap dengan pernikahan ini." Kata Ayah Nava
Ibu Nava mengangguk sambil memandang wajah anaknya tanda setuju. Nava tampak lega karena bisa meyakinkan kedua orang tuanya tentang penolakan itu. Ayah Nava pun beranjak dari kursinya dan menuju kamar utama untuk mengambil ponselnya.
Ayah Nava terlihat mencari nama di kontak ponselnya. Dia ingin menghubungi paman Yusuf, Pak Samad untuk menyampaikan permohonan maafnya untuk menolak lamaran dari keluarga Yusuf.
__ADS_1
Telepon Berdering
Pak Samad yang sedang bersantai di depan rumahnya, seketika mengambil ponselnya yang berbunyi dan menerima panggilan telepon itu.
"Assalamualaikum Pak Samad, saya Ayahnya Nava."
"Waalaikum salam, Oh iya Pak, bagaimana kabarnya pak? Jawab Paman Yusuf
"Alhamdulillah sehat-sehat pak. Gini masalah lamaran itu pak, saya sudah bercerita dengan anak dan istri saya pak. " kata Ayah Nava
"Oh iya pak, alhamdulillah jadi bapak sudah punya jawaban dari lamaran kami?" Tanya Pak Samad.
"Iya nih pak. Sebelumnya saya dan keluarga mengucapkan banyak terima kasih untuk niat baik bapak sekeluarga. Tapi saya minta maaf yang sebesar-besarnya pak, karena anak kami Nava tampaknya belum siap untuk ke jenjang pernikahan pak. Kata Ayah Nava
Pak Samad yang mendengar jawaban dari ayah Nava tampak kecewa tapi dia pun tidak dapat memaksakan keinginannya.
"Hmmm jadi seperti itu ya pak. Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan bapak sekeluarga kami menerima dengan lapang dada dan semoga kita masih bisa menjalin silaturahmi dengan baik pak." Jawab Pak Samad
Ayah Nava kembali ke ruang makan dan menyampaikan ke anak istrinya jika dia telah berbicara dengan keluarga ustad Yusuf dan telah menolak lamaran itu.
Nava yang mendengarnya merasa sangat lega. Semangatnya pun kembali utuh. Tak lupa dia segera memberitahu kekasihnya perihal lamaran itu. Karena Nava tahu pasti kekasihnya pun merasa tidak tenang dengan hal itu. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk kekasihnya.
"*sayang kamu sibuk gak? Aku punya kabar baik buat kamu"
"Gak juga sayang, kabar baik apa? Aku penasaran tau" Balas Doni
"Papa sudah ngobrol dengan keluarga laki-laki yang mau melamar aku, dan papa sudah menolak lamaran itu sayang*" Balas Nava bersemangat
__ADS_1
"Syukurlah sayang, aku gak mau kehilangan kamu sayang." Balas Doni lagi
Nava yang membaca pesan kekasihnya tampak senyum-senyum sendiri. Sejujurnya Nava juga merasakan hal yang sama kepada Doni.
Doni yang merasa lega dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu, pun memikirkan sebuah rencana untuk mempertemukan Nava dengan kedua orang tuanya. Doni ingin memperkenalkan Nava kepada keluarganya.
"Sepertinya aku harus membawa Nava ke rumah, supaya Nava pun tahu kalau aku serius dengan dia dan aku akan memperkenalkan dia kepada kedua orang tuaku sebagai calon istriku. Nava pasti senang" Gumam Doni dalam hati.
Waktu berlalu begitu cepat, dengan segala aktivitas yang tak ada hentinya, membuat Nava dan Doni hanya menghabiskan waktu bersama melalui ponsel.
Malam ini Nava dan Doni telah bersantai di kamarnya masing-masing. Mereka saling berbalas pesan, tak jarang senyum manis terukir di wajah keduanya. Bercerita tentang apa saja yang dilalui hari ini oleh mereka berdua. Doni yang ingin mengajak Nava berkunjung ke rumahnya lalu meminta kepada kekasihnya untuk meluangkan waktu pergi bersamanya.
"*Sayang akhir pekan ini kamu sibuk gak? Aku mau ngajak kamu jalan nih."
"Gak sibuk sayang paling juga di rumah, emang kamu mau ngajak aku kemana sayang?" Balas Nava
"Aku mau ngajak kamu pergi ke rumah aku di L****, kamu mau gak?"
"Haa serius sayang? Ya tentulah aku mau sayang." Jawab Nava bersemangat
"Iya sayang aku serius, aku mau ngenalin kamu ke orang tua aku sayang. Supaya kamu tahu kalau aku emang benar-benar serius sama kamu."
"Sweet banget sih kamu sayang, iya aku mau kok sayang. Jadi minggu nanti kita ke rumah kamu ya?" Jawab Nava lagi
"Iya sayang, nanti minggu pagi aku jemput kamu di rumah, terus kita berangkat, tapi pakai motor aku. Gak papa kan sayang?"
"Iya gak papa kok sayang, malah itu bakal jadi perjalanan yang menyenangkan kayaknya. Kita bisa sekalian menikmati pemandangan juga kan." Jawab Nava
__ADS_1
"Iya sayang, ya udah kamu istirahat ya jangan begadang. Selamat malam sayang." Tutup Doni*
Nava tampak sangat senang mendengar permintaan kekasihnya. Nava sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tua Doni. Nava berharap orang tua Doni bisa menerima dirinya.