
Bismillahirohmanirohim.
Iqbal memang seorang yang sangat tepat waktu sekali, jika dia mengatakan "lima belas lagi aku akan berada di ruang meeting" maka benar 15 menit itulah dia tiba di ruang meeting dengan tepat waktu.
Saat Iqbal bicara pada istrinya, jika dia akan melakukan rapat, di ruang meeting semua orang yang berkumpul di sana, melakukan perhitungan, mereka yakin Iqbal akan tepat waktu sekali.
"Beno direktur Iqbal mengatakan berapa menit dia akan sampai ke ruang meeting?" tanya rekan kerja Beno memastikan.
"Direktur Iqbal mengatakan dalam waktu 15 menit dia akan sampai di ruang meeting" sahut Beno dengan perasaan cemasnya.
Tentu saja Beno cemas, karena memang dia adalah salah-satu dalang dibalik penyelundupan dokumen tidak berarti, Beno sengaja melakukan hal itu bersama beberapa rekannya, karena mereka memiliki upah yang sepadan dari menyisipkan dokumen-dokumen itu.
"15 menit, siapa yang ingin bertaruh denganku, aku yakin direktur Iqbal, akan sampai tepat pada waktu 15 menit" ucap rekan kerja Beno yang duduk disebelahnya tadi, dia juga orang pertama yang memecahkan keheningan yang terjadi di ruang meeting.
Ada beberapa orang yang terdiam seribu bahasa di dalam ruang meeting itu, karena mereka tahu, karier mereka akan hancur setelah ini, apa lagi Iqbal terkenal sangat tegas dalam memutuskan sesuatu, jika dia bilang hukum dan tidak ada toleran lagi, maka benar apa yang Iqbal katakan.
"Aku juga sama denganmu, aku yakin direktur Iqbal akan sampai dalam waktu 15 menit tepat"
"Ada lagi?" tanya orang itu lagi.
"Apa jaminannya kalau aku menang?" tanya salah satu perempuan yang ada di ruang meeting tersebut.
"Aku akan mentraktirmu dalam waktu satu minggu, begitu juga sebaliknya, bagaimana apakah kamu setuju?"
"Oke deal, kita hitung dari sekarang, aku yakin direktur Iqbal sampai dalam waktu kurang dari 15 menit"
"Karena semua orang sudah berkumpul, hanya tinggal direktur Iqbal saja, maka kita hitung 15 menit dari sekarang"
__ADS_1
Mereka semua yang ada di dalam ruang meeting mendadak tegang, karena menunggu kedatangan Iqbal, bukan karena merasa bersalah, tapi karena penasaran siapa yang akan menjadi pemenangnya.
Sementara orang-orang yang merasa bersalah tentu saja lebih tegang, karena sebentar lagi kebusukan mereka akan terbongkar, memang masalah ini tidak terlalu fatal, tapi jika dilakukan berkali-kali bisa membuat nama baik perusahan rusak.
Maka dari itu dikatakan Iqbal harus mengambil tidak yang tepat secepatnya.
Waktu 15 menit hampir berlalu mereka semakin dag, dig, dug menunggu kehadiran Iqbal.
"10 detik lagi, ayo kita berdua hitung" ajak rekan kerja Beno tadi, mereka ada di 3 kubu, kubu pertama Iqbal datang tempat waktu, kubu kedua mereka setuju jika Iqbal datang kurang dari waktu yang ditetapkan.
Sementara kubu terakhir mereka sangat yakin jika Iqbal datang terlambat, tanpa mereka sadari rata-rata orang yang memilih kubu terakhir adalah para pelaku.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu" tepat saat hitungan satu Iqbal membuka pintu ruang meeting.
"Aku menang" ucap laki-laki yang menantang tadi merasa senang.
Iqbal berjalan mendekati mereka dengan penuh wibawa, Iqbal memang sangat cocok untuk jadi seorang pemimpin, maka wajar saja jika pak Firman memilihnya sebagai direktur utama di perusahaan milik pak Firman.
"Kalian tahu kenapa saya mengadakan kumpul dadakan?" tanya Iqbal sambil menatap satu persatu semua orang yang berada di ruang meeting itu.
Ada sekitar hampir 15 orang yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang mengikuti meeting tersebut.
Mereka semua diam tak menjawab. "Saya mau anggota pemeriksa seluruh dokumen berpisah dengan para manajer! Dan untuk kamu Beno, sebutkan siapa saja orang yang terlibat dalam kasus ini" tegas Iqbal tak bisa ditentang.
Mereka yang tidak tahu apa-apa tentu saja merasa bingung. "Kalian bingungkan dengan apa yang terjadi? Tiba-tiba sja saya mengumpulkan kalian secara mendadak" ucap Iqbal yang paham raut wajah orang-orang yang tidak tahu apa yang sudah terjadi.
"Beno sebagai ketua tim pemeriksa dokumen akan menjelaskan apa yang sudah terjadi, silahkan pak Beno"
__ADS_1
Begitulah Iqbal jika sudah jengkel dengan para jajarannya akan memanggil mereka tanpa embel-embel pak.
Karena menurut Iqbal mereka saja tidak bisa menghargai diri sendiri bagaimana mereka akan dihargai oleh orang lain.
Terdengar bisik-bisik satu sama lain di ruang meeting itu menanyakan apa yang terjadi.
"Cepat katakan Beno, sebelumnya aku sudah memberikan keringanan untuk dirimu, tapi kamu tidak mau mengatakannya, maka di ruang meeting ini kamu harus jujur dan tidak ada keringanan lagi" tatapan tegas Iqbal mengarah pada Beno dan beberapa orang lainnya.
Tak ada pilihan lain bagi Beno, dia harus menjelaskan apa yang terjadi. "Hmmm" dehemnya untuk menetralkan kegugupan yang Beno rasakan.
"Sebelumnya saya mohon maaf pada direktur Iqbal dan seluruh atasan yang berada di ruang meeting ini, saya sebagai ketua tim pemeriksa dokumen telah menerima suap dengan jumlah yang besar dari manajer Citra sebelumnya. Untuk penyelundupan dokumen yang tidak senonoh, Ada 5 orang yang terlibat salah satunya saya" ucap Beno, dia tidak bisa berbohong kali ini.
Beno tak berani mengangkat kepalanya, dia sangat malu pada semua orang yang ada di ruang meeting.
"Sekarang tunjuk siapa saja yang terlibat!" suruh Iqbal.
Semua orang tak menyangka Iqbal bisa semarah ini. "Digo, Anggi, Herman, Nana dan saya" ucap Beno dengan tegas.
Semua orang yang namanya disebut oleh Beno hanya bisa menunduk malu.
"Kalian para manajer lihatlah apa yang tim kalian lakukan, semuanya terbongkar setelah dalangnya pergi, seharusnya dia mendapatkan hukuman yang lebih berat, begitu juga kalian"
"Saya ingin hari ini juga kalian meminta surat pengunduran diri ke ruang Hrd, sebelum itu temui pak Firman terlebih dahulu"
"Ingat saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi! meeting hari ini cukup sampai disini saja" ucap Iqbal sambil meninggalkan ruang meeting.
"Ngeri sih, pak Iqbal kalau marah ternyata serem" ucap laki-laki yang pertama bersuara di ruang meeting tadi.
__ADS_1
"Saya juga kalau jadi direktur Iqbal pasti marah besar, kalau saya sudah saya terkam mungkin orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini, kalau tidak sudah saya viralkan mereka semua kepada bawahan" ucap perempuan yang menantang taruhan tadi, sambil melirik orang-orang yang terlibat.
"Dikeluarkan secara tidak hormat dari perusahaan pak Firman ngeri sih, apalagi setelah keluar dari sini perusahaan manapun tidak akan menerima"