Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal

Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal
Foto masa kecil


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Udah ya Del, mending kita masuk, katanya lo mau ketemu sama tamunya" ucap Tio, dia sudah kapok berkali-kali Adel lempar dengan snack.


"Oke, tapi awas lo yang kalo berani bales gue, gue pastiin akan balas lebih dari ini" ancam Adel.


"Ngeh ndoro, kulo manut sampean mawon" sahut Tio, namu Adel tak peduli, karena dia juga kurang paham dengan bahasa yang Tio ucapan.


Kedua orang itu segera masuk kedalam rumah, sambil mengobrol layaknya tak terjadi apa-apa, padahal dua orang itu tadi terus saja adu kekuatan, tapi sekarang mereka mengobrol layaknya teman yang begitu akrab.


Pertemanan Adel dan Tio memang berbeda dari yang lainnya, sesekali kedua orang itu tertawa bersama saat membahas hal yang menurut mereka lucu.


"Del awas lo kejedot" ucap Tio.


"Mohon maaf nih ya Tio, kagak nyambung!" sahut Adel, keduanya kembali tertawa bersama, saat hampir sampai di ruang tamu.


Semua orang yang berada di ruang tamu menoleh pada sumber suara, dimana Tio dan Adel sedang berjalan ke arah mereka yang berada di ruang tamu, dilihat oleh banyak orang Adel maupun Tio menjadi salah tingkah sendiri.


"Maaf semua" ucap Tio kikuk, mereka berjalan cepat menuju sofa.


"Papa" sapa Tio pada pak Firman, pak Firman mengangguk sambil tersenyum pada Tio.


"Sudah puas berantemnya bang?" tanya Rahmat ceplas-ceplos.


"Belum sih" sahut Tio enteng.


Sementara Adel, terpaku sejenak, Adel masih menahan nafasnya, tak menyegarkan akan bertemu orang yang dia cintai dalam diam, di satu ruangan yang sama.


Sementara orang yang dia cintai dalam diam itu sudah beristri, bahkan Iqbal dan Azizah terlihat begitu serasi bagi Adel, apalagi Iqbal sekalipun tak melihat ke arahnya.

__ADS_1


Adel sedang menatah hatinya untuk saat ini, percayalah walaupun dia berusaha untuk tidak merusak rumah tangga kakak sepupunya itu, tapi melupakan seseorang yang sudah lama kita cintai dalam diam, bukanlah hal yang mudah.


Apalagi untuk pertama kalinya Adel mencintai seseorang dari sekian banyak laki-laki yang dia kenal, hanya pada Iqbal cinta itu jatuh, sayangnya takdir berkata lain, dia dan Iqbal tak berjodoh.


Karena memang semua sudah ada yang mengatur. "Mungkin benar sekuat apapun kita ingin bersama orang yang kita cintai, jika dia bukanlah jodoh kita, maka aku dan dia tak akan pernah bersatu" batin Adel, Adel menangis dalam hatinya.


Sungguh begitu sulit untuk menata hati, begitu sulit untuk melupakan orang yang kita cintai, apalagi saat kita berusaha melupakan orang tersebut, dia malah dengan mudahnya muncul di depan mata ini.


Ibu Ratih yang melihat anak ketiganya itu terdiam di tempat akhirnya membuat suara. Ibu dari empat anak itu penasaran apa yang putrinya itu sedang pikirkan. "Hmmmm, Del ngapain masih berdiri disitu, sini duduk katanya mau ketemu mbak Zizah, sini mama kasih tahu" ucap ibu Ratih.


Akhirnya Adel tersadar, dia harus bisa melupakan Iqbal, walaupun itu sulit bagi Adel. "Eh, iya ma" Adel menyahuti ucapan mamanya dengan sedikit gugu.


Adel mengambil tempat duduk disebelah Tio dan Rahmat.


"Adel kenalin ini mbak Zizah, yang dari kemarin kamu tanyain terus" ucap ibu Ratib mulai memperkenalkan anak dan keponakannya.


"Dan Zizah ini adik sepupu kamu Adel, dia kakaknya si bungsu" lanjut ibu Ratih.


Azizah memuji Adel bukan untuk mencari perhatian atau yang lainnya, tapi Azizah memenuji Adel, karena gadis itu memang benar-benar cantik. 


"Hehe, terima kasih mbak Zizah, mbak bias aja" ucap Adel.


Ada rasa nyaman bagi Adel saat berinteraksi dengan Azizah, apalagi mendengar suara Azizah yang begitu lembut.


Adel tak tahu kenapa dia langsung suka dengan karakter Azizah, walaupun baru kenal, tak ada drama pura-pura baik, tapi gadis yang belum lama menyandang gelar istri itu benar-benar tulus dengan tutur katanya yang begitu lembut nan anggung. 


"Nah kalau yang di sebelah mbakmu itu suaminya, kamu pasti kenal" lanjut pak Firman.


Adel dan Iqbal hanya sama-sama mengangguk mereka kembali bercerita. "Adel sama Zizah ikut mama dulu ya, biar para lelaki mengobrol yang lain, ada yang ingin mama tunjukan" ucap Ibu Ratih dan Adel pun menuruti ucapan ibu Ratih.

__ADS_1


Ketiga perempuan itu pergi meninggalkan ruang tamu.


"MasyaAllah bibi masih punya foto masa kecil Zizah" ucapnya tak percaya, kala melihat foto dirinya sewaktu kecil dipajang, di antara foto-fota keluarga pak Firman, bahkan foto Azizah dengan Ida dan lutfi pun masih ada.


Azizah meneteskan air mata haru, tak menyangka sebesar itukah kasih sayang bibi dan pamannya, pada dirinya.


"Iya Zizah Alhamdulillah ada beberapa foto kalian yang tak terbakar ada juga yang masih tersimpan di hp pamanmu yang tak ikut terbakar" jelas ibu Ratih.


"Alhamdulillah bi Zizah senang dengarnya, Zizah masih bisa liat foto masa kecil Zizah" 


Lalu Azizah terpaku dengan satu foto anak kecil yang begitu cantik nan imut. "Ini kamu sewaktu kecil Del?" lanjut Azizah bertanya pada Adel ,dia memastikan apakah benar anak kecil yang begitu imut itu adalah Adel.


"Hehe, iya mbak Zizah"


"Kamu sedikit mirip mas Lutfi, Del" komentar Zizah.


"Iya Zizah, muka mah mirip Lutfi, tapi nakalnya nggak ketulungan sama kayak mbak mu Ida" sambung ibu Ratih yang membuat mereka bertiga tertawa secara bersama.


Di ruang tamu para laki-laki sedang fokus berbincang-bincang, tak jauh-jauh yang mereka bicarakan pasti perihal pekerjaan.


"Iqbal satu bulan lagi saya akan mengirimmu untuk pergi ke anak cabang yang ada di Cianjur, mungkin saya boleh meminta tolong nak Iqbal untuk mengurus perusahaan di sana, karena akan ada proyek besar di sana nanti, saya juga akan mengirim nak Tio sebagai pendamping nak Iqbal" ujar pak Firman.


"Saya bagaimana pak Firman saja, tapi apakah saya bisa membawa Azizah, untuk ikut dengan saya?" untuk saat ini Iqbal memang tak bisa jauh dengan istrinya.


"Pengantin baru mah beda pa, nggak bisa pisah kayaknya sama my wife" komentar Tio.


Pak Firman tertawa renyah. "Kalau masalah Azizah, ya terserah kamu mau bawa dia atau tidak silahkan, dia sudah menjadi tanggung jawabmu" sahut pak Firman.


"Heran gue sama orang-orang kayak kalian, nggak di kantor, nggak dirumah yang dibahas cuma masalah kerja aja, nggak bosen tah, nggak capek tah? Sesekali topik lain kek yang dibahas" dengus Rahmat, sambil beranjak dari tempat duduknya, karena bosan dengan topik obrolan orang-orang dewasa yang sudah bekerja. 

__ADS_1


"Dah lah, Rahmat mau ke mama aja" pamitnya, mereka bertiga hanya tersenyum membiarkan Rahmat pergi.


__ADS_2