
Bismillahirohmanirohim.
Rasa cemburu pasti selalu tertanam di hati seorang istri, jika melihat suaminya dipuji oleh perempuan lain, atau bahkan suaminya yang memuji perempuan lain, dihadapan istri sendiri.
Bisa jadi rasa cemburu itu akan lebih sakit saat melihat suami sendiri memuji perempuan lain, tapi Insyaallah hal itu tidak akan terjadi pada seorang suami yang tahu akan posisinya, sudah beristri.
Dan rasa cemburu itu juga dirasakan oleh Azizah, bagaimana tadi banyak perempuan yang memuji ketampanan suaminya saat di dalam supermarket.
Azizah masuk ke dalam mobil bersama suaminya, tapi Azizah seorang yang pintar menyimpan rasa, rasa cemburu pada suaminya tidak dia tampakan.
Dia masih bisa tersenyum pada suaminya, Azizah ingin menjunjung tinggai untuk menjadi istri solehah, Azizah tau itu semua bukan salah Iqbal.
Tapi Azizah tidak tahu namanya hati, bisa menaruh cemburu dengan suami sendiri, walaupun Azizah sendiri menyaksikan jika suaminya tidak meladeni satu pun para perempuan yang memuji ketampanan nya.
"Kok nggak jalan mas?" bingung Azizah, dia memberanikan diri bicara pada suaminya, walaupun rasa cemburu itu terus bergemuruhan didada Azizah.
Iqbal tak langsung menjawab pertanyan yang Azizah lontarkan untuk dirinya, Iqbal mencondongkan dirinya mendekat pada Azizah.
Tanpa permisi satu kecupan Iqbal daratkan di kening istrinya. "Katakan pada mas apa benar minggu lalu Citra memarahimu? Hmmm" Iqbal balik bertanya pada Azizah.
Dia menunggu jawaban dari istrinya. "Tidak memarahi Azizah mas, lebih tepatnya menegur Zizah, karena ingin bertemu dengan direktur utama, tapi tidak memiliki janji" tutur Azizah dengan begitu lembut.
"Mas tidak yakin jika Citra hanya menegurmu saja, pasti dia memaki dan-" ucap Iqbal terhenti karena Azizah membungkam mulut Iqbal dengan mulutnya sendiri, hanya menempel tidak lebih.
Azizah sempat membuka cadarnya. Azizah tersenyum malu pada Iqbal. "jangan diteruskan ya mas, mending sekarang kita lanjut jalan keburu siang sampai ke rumah paman" ucap Azizah pelan.
Iqbal yang mengerti maksud istrinya mengangguk patuh, sungguh Iqbal berkali-kali merasa beruntung mendapatkan istri solehah seperti Azizah.
Iqbal menyesal karena tidak langsung menerima kehadiran Azizah saat baru pertama kali mereka menikah, bahkan berhari-hari Iqbal selalu bersikap dingin pada Azizah.
Mengingat hal itu rasanya Iqbal akan selalu menyesali apa yang pernah dia lakukan pada perempuan, sebaik dan sesabar Azizah.
__ADS_1
Tak pernah sekalipun Azizah mengadu hal yang tidak-tidak pada Iqbal, bahkan perihal Citra saja, Iqbal tidak akan tahu jika bukan Tio yang memberi tahunya.
Iqbal tersenyum pada Azizah. "Mas jadi bersemangat dek" ucapnya sambil melakukan kembali mobilnya.
Iqbal mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, keduanya berbincang-bincang di dalam mobil, sambil menikmati udara pagi yang menerpa, karena Azizah membuka sedikit jendela mobilnya.
"Dulu sebelum menikah kamu tinggal dimana dek?" Iqbal kini tertarik dengan cerita Azizah setelah mendengar cerita pertemuan Diah, ibu Iqbal dengan Azizah.
Ibu Diah saat itu baru saja pulang dari berbelanja, saat berjalan menuju mobilnya tiba-tiba saja kaki ibu dia terasa sakit, dia menahan sakit di dekat mobilnya.
Ibu Diah ingin berjalan ke sebuah kursi yang tersedia di dekat sebuah pohon, tapi rasa sakit dikaki ibu Diah membauntanya tidak bisa bergerak.
Azizah yang tak sengaja melihat ibu Diah menghampirinya, karena Azizah lihat dari tempat yang sedikit jauh, sepertinya ibu-ibu itu sedang menahan sakit.
"Assalamualaikum" sapa Azizah, namun ibu Diah hanya menjawab pelan, sambil meringis.
"Ibu biar saya bantu duduk" tawar Azizah dengan tutur kata yang begitu lembut nan sopan.
Tak ada pilihan lain bagi ibu Diah selain menerima tawaran Azizah, karena kakinya yang semakin sakit.
Azizah membantu ibu Diah duduk dengan begitu hati-hati. "Ibu tunggu disini sebentar" ujar Azizah melangkah pergi dari hadapan ibu Diah, tak lama Azizah kembali dengan sebotol air mineral yang Azizah beli di depan supermarket.
"Minum dulu bu" kata Azizah memberikan sebotol air mineral yang Azizah sudah dibuka segelnya di depan ibu Diah langsung.
Ibu Diah menerima air mineral yang Azizah berikan, karena dia melihat Azizah membeli air mineral itu.
Setelah melihat apa yang Azizah lakukan, ibu Diah yakin jika Azizah perempuan baik, Azizah mengurus ibu Diah sampai kakinya sudah tidak terasa sakit lagi.
"Terima kasih nak kamu baik sekali" ucap ibu Diah dengan tulus, beliau memberikan imbalan pada Azizah, tapi Azizah menolaknya dengan halus, sejak hari itu ibu Diah penasaran dengan sosok Azizah, sampai mereka bisa menjadi seperti ibu dan anak kandung sendiri, padahal tak ada ikatan apa-apa diantara keduanya.
Mungkin memang sudah ditakdirkan Azizah dan ibu Diah selalu bertemu hingga saat ini Azizah menjadi bagian dari ibu Diah sekeluarga.
__ADS_1
Iqbal masih menunggu jawaban dari Azizah. "Dirumah Zizah, dulu sebelumnya Zizah tinggal di panti asuhan mas, tapi setelah Zizah berumur 19 tahun Zizah memutuskan untuk bekerja, Alhamdulillah uang hasil kerja Zizah, yang Zizah tabung bisa buat beli rumah" jelasnya.
"Lalu sekarang rumahnya nggak ada yang nempatin dong dek?" tanya Iqbal lagi.
Iqbal penasaran dengan kisah hidup istrinya yang sedari kecil sudah tidak memiliki siapa-siapa.
Iqbal ingin tahu seperti apa pertumbuhan Azizah, tanpa kedua orang tau dirinya bisa menjadi gadis yang begitu menjaga diri, sampai bisa bertemu dengan Iqbal.
"Tidak mas rumahnya dihuni anak-anak panti, karena Azizah membeli rumah yang tak jauh dari panti" setelah menceritakan tegang panti Iqbal dapat menangkap raut sedih yang terpancar di kedua netra istrinya.
"Kamu kangen sama mereka?" Azizah mengangguk.
"InsyaAllah kalau ada waktu kita berkunjung kesana" hibur Iqbal pada Azizah.
"Makasih mas" sahut Azizah merasa senang.
Iqbal tahu Azizah itu bukan tipe perempuan yang mudah mengungkapkan isi hatinya, bahkan dengan dirinya saja Azizah masih malu.
Iqbal salut dengan Azizah, karena merupakan seorang perempuan yang memiliki rasa malu begitu tinggi.
"Sudah jangan bersedih lagi dek, sekarang harus tersenyum, maag dulu saat awal-awal menikah mas tidak langsung bisa menerimamu" sesal Iqbal.
"Zizah mengerti mas, yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita hanya perlu memperbaiki semuanya" sahut Azizah.
"Terima kasih dek kamu sudah mau menunggu mas untuk, selama mas belum bisa menerima kamu dulu"
"Sekarang mas janji sama kamu InsyaAllah didalam rumah tangga kita akan selalu ada canda dan tawa, mas akan mengerti kamu"
"Dan Zizah juga akan mengerti mas Iqbal, janji tidak ada yang kita rahasiankan, Zizah tahu didalam rumah tangga pasti ada masalah, tapi kita akan bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut, dan Zizah InsyaAllah akan selalu percaya pada mas Iqbal" timpal Azizah.
"Mas juga InsyaAllah akan selalu percaya sama kamu dek"
__ADS_1