
Bismillahirohmanirohim.
Ternyata Iqbal dilarikan ke rumah sakit yang sama di tempat Azizah dirawat, hanya saja mereka berada ditempat yang berbeda.
Iqbal sudah mendapatkan pertolongan dari dokter yang bertugas, sementara ini kondisi Azizah semakin membaik, janjinya juga perlahan sudah mulai stabil, dokter Ida benar-benar merawat Azizah dengan penuh kasih sayang.
Di ruang tempat Iqbal diperiksa, tempat itu hanya dibatasi hordeng untuk pasien yang lainnya. "Bagaimana keadaan Iqbal pak Firman?" pak Heri baru saja sampai di rumah sakit sementara itu.
"Sedang ditangani dokter pak, kita doakan saja yang terbaik untuk Iqbal. Lalu bagaimana perkembangan untuk pencarian Azizah?" kali ini pak Firman yang bertanya tentang keadaan keponakannya itu.
Baru saja mereka ditemukan setelah 20 tahun lamanya dipisahkan, sekarang mereka kembali dipisahkan atas musibah yang menimpa Azizah dan Iqbal.
"Kami sudah memeriksa semuanya pak Firman, subhanallah nya kamar yang ditempati Azizah dan Iqbal utuh tak hancur sedikitpun, hanya ada dinding yang retak dibagikan dekat kamar mandi, tapi saat kami sampai disana Azizah sudah tidak ada, saya rasa ada yang sudah menyelamatkan Azizah" terang pak Heri pada pak Firman, yang merupakan besannya itu.
"Saya rasa Azizah juga ada di rumah sakit ini" lanjut pak Heri lagi.
"Kita akan mencari Azizah setelah mengetahui keadaan Iqbal, tapi sebelum itu biar orang-orangku yang mencari keberadaan Azizah"
Pak Firman langsung menyuruh para orang suruhannya untuk mencari keberadaan Azizah, sedangkan dia dan pak Heri akan menunggu kabar dari dokter terlebih dahulu mengenai kondisi Iqbal.
Pak Heri sudah memberi tahu istrinya jika Iqbal sudah ditemukan, mereka semua yang mendengar Iqbal sudah ditemukan merasa lega, tapi tetap saja mereka masih mengkhawatirkan Azizah yang belum ada kabar, dari mereka yang turun langsung ke Cianjur.
Termasuk Tio, dia sudah pulang dari rumah sakit 2 hari yang lalu, Tio senang mendengar kabar jika Iqbal sudah ditemukan, tak menutup kemungkinan Tio juga kasihan pada Azizah, istri temannya itu yang belum ditemukan, apalagi Tio sangat tahu jika Iqbal begitu menyayangi Azizah.
Tio juga harus menghibur Alde yang terus murung sejak dirinya keluar dari rumah sakit, bukan Adel tak senang Tio sembuh, tentu saja dia begitu bahagia, Adel murung karena belum mendapatkan kabar mengenai Azizah, dia begitu mengkhawatirkan Azizah.
Adel sendiri tak tahu kenapa dia baru mengenal mbak nya itu, tapi sudah begitu sayang, mungkin karena mbaknya yang memiliki sifat lemah lembut dan baik, Adel menjadi senang dekat dengan Azizah.
__ADS_1
Pak Firman dan pak Heri masih setia menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Iqbal.
Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Iqbal keluar dari sana. "Bagaimana keadaannya dok?" tanya pak Firman padahal dokter itu belum berbalik menghadap mereka.
Saat ini pak Firman juga pak Heri sudah berdiri tempat dibelakang dokter itu yang akan menutup pintu ruangan.
Dokter laki-laki itu pun yang diajak ngobrol berbalik ke sumber suara. "Papa!" kaget dokter itu saat sudah menghadap pak Firman.
"Rama!" kaget pak Firman juga.
Dokter itu segera menyelami pak Firman juga pak Heri. "Dia sudah baik-baik saja Pa sekarang, hanya tinggal menunggu dia sadar" jelas dokter yang dipanggil Rama oleh pak Firman tadi.
"Alhamdulillah" ucap keduanya serentak
Akhirnya mereka bertiga mengobrol sebentar. "Kenapa kamu ada disini Rama, apakah Ida ikut juga?" pak Firman memastikan dia begitu merindukan anak keduanya itu yang terus saja, sibuk bersama suaminya.
Sebelumnya pak Firman sudah mengenalkan mantunya pada pak Heri, Rama itu merupakan menantu kedua pak Firman, dari putrinya yang bernama Ida, kedua suami istri itu sama-sama menyandang status dokter.
"Apakah yang di dalam anak pak Heri?"
"Benar Rama, dia merupakan direktur ternama di perusahaan papa, papa yang sudah membuat dia dan istrinya terkena musibah seperti ini" wajah penyesalan begitu jelas terlihat di muka pak Firman.
Sebelum sempat pak Heri menjawab pertanyaan menantu pak Firman, tapi sang mertua lebih dulu berkata.
"Itu tidak benar pak Firman, jangan menyalahkan diri anda sendiri, yang terpenting sekarang Iqbal sudah baik-baik saja, dan Azizah sudah pasti selamat kita hanya tinggal memastikan Azizah benar-benar ada di rumah sakit ini atau tidak"
"Maafkan saya pak Heri" sesal pak Firman lagi.
__ADS_1
"Sudah pak tak baik seperti ini, seharusnya kita mensyukuri setiap musibah yang datang pada kita, karena tandanya Allah masih menyayangi kita sebagai hambanya, jadi pak Firman jangan terus menyalahkan diri sendiri"
"Benar apa yang dikatakan pak Heri Pa, jangan menyalahkan diri sendiri, mungkin atas terjadinya musibah ini ada hikmah yang diberikan, ada kebahagiaan di saat kesedihan menghampiri" timpal Rama.
Ketiganya kembali mengobrol dengan santai setelahnya. "Rama, setelah selesai bertugas disini pulang lah dulu ke rumah, mama begitu merindukan kalian" pinta pak Firman"
"Insya Allah Pa, Rama dan Ida juga memang rencananya seperti itu, setelah bertugas disini akan pulang ke rumah papa dan mama"
"Iya omong-omong tadi papa dan pak Heri sedang mencari korban yang namanya Azizah, ciri-ciri orangnya seperti apa? Siapa tahu Rama bisa membantu, karena Ida kan menguras korban gempa yang perempuan siapa tahu ada salah satu yang Ida urus itu bernama Azizah" ucap Rama pada kedua laki-laki paruh baya itu yang umurnya hampir sama.
"Kebetulan sekali kalau seperti itu, tapi Azizah memakai cadar bagaimana kita mengenalinya?" bingung pak Firman.
"Begini saja kita tunggu Iqbal siuman, karena hanya dia yang pernah melihat wajah Azizah, istriku juga pernah tak aku rasa Iqbal tak akan ridho jika wajah istrinya terlihat oleh laki-laki lain, walaupun aslinya aku sebagai mertua dan pak Firman sebagai paman nya boleh saja melihat wajah Azizah"
"Benar yang anda katakan pak Heri, lebih baik menunggu Iqbal siuman, lagipula kita semua sudah yakin jika Azizah berada disini"
"Papa dan pak Heri bisa istirahat dulu, maaf Rama mau lanjut kerja, maaf atas ketidak nyamanannya" cicit Rama benar-benar merasa tak enak pada mertunya.
Pak Firman menempuk pundah menantunya dengan pelan. "Tak usah merasa tidak enak Rama, kamu harus meneruskan tanggung jawabmu disini" ucap pak Firman.
"Aku dan pak Heri akan melihat kondisi Iqbal terlebih dahulu, setelah itu mungkin kami akan melihat-lihat tempat ini, tapi sebelum kamu pergi jangan katakan pada istrimu kalau papa disini, dia harus mendapatkan hukuman dari papa, bisa-bisanya dia menjadi dokter penolong disini, tapi tak memberi kabar mama dan papa" pak Firman dan Rama saling melempar senyum mereka.
"Beres Pa, Mari pak Heri" saya duluan pamit Rama.
Setelah kepergian Rama mereka berdua langsung melihat keadaan Iqbal.
__ADS_1