Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal

Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal
Sampai di rumah pak Firman


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Tak lama Azizah dan Iqbal sampai di kediaman pak Firman yang begitu megah menurut Azizah, bahkan banguan itu hampir sama dengan bangunan 20 tahun yang lalu.


Bagian depannya masih terlihat kuno, namu bercampur dengan nuansa modern, bahkan warna temboknya rumahnya begitu mirip dengan bangunan 20 tahun yang lalu.


Walaupun dulu Azizah masih begitu kecil saat tinggal dirumah ibu Ratih dan pak Firman, tapi daya ingat Azizah begitu luar biasa kuatnya dia masih mengingat semua bentuk rumah pak Firman 20 tahun silam.


Saat mobil Iqbal tiba di kediaman pak Firman, satu mobil lagi menyusul masuk ke kediaman tersebut, Iqbal dan satu mobil lagi memarkirkan mobil mereka bersebelahan.


Saat ketiga orang yang berada di dalam mobil berbeda itu keluar, dua orang kaget karena kembali dipertemukan.


"Iqbal"


"Tio" ucap keduanya bersama.


Benar sekali laki-laki itu adalah Tio, laki-laki yang bertemu dengan Iqbal dan Azizah sebelumnya di supermarket sekarang di kediaman pak Firman mereka kembali dipertemukan.


Keduanya terkekeh geli, saat berbicara dengan kompak. "Mari" ucap Iqbal sambil menggandeng tangan Azizah.


Tio memang memiliki janji akan bertemu dengan Adel hari ini, resepsionis handal di perusahaan pak Firman itu memang sudah beberapa kali berkunjung kerumah pak Firman.


Bahkan pak Firman sudah begitu mengenal Tio, dari Adel anaknya, karena pak Firman juga sering mendengar cerita tentang Tio dari Adel.


Jika di perusahaan Tio akan begitu tegas dan terkenal galak, berbeda dengan aslinya yang memiliki sifat humoris dan enak diajak mengobrol apa saja selalu nyambung.


Ketiga orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah pak Firman kompak mengucapkan salam. "Assalamualaikum" ucap ketiganya benar-benar kompak.

__ADS_1


Di dalam rumah ibu Ratih yang memang sudah menunggu kedatangan keponakannya itu segera bangkit dari tempat duduk secara bersama dengan Adel.


Adel yakin jika itu Tio, karena saat Tio sampai di kediaman pak Firman dia mengirim pesan pada Adel bahwa dia sudah sampai.


"Biar mama yang buka aja Del" cegah ibu Ratih saat anaknya akan membuka pintu rumah.


"Bair Adel saja ma, soalnya yang datang teman Adel" Adel juga ikut mencegah mamanya, karena dia merasa tidak enak pada ibu Ratih. 


Masa tamu dirinya tapi yang membukakan pintu mamanya, kan tidak sopan sekali jika seperti itu. Ibu Ratih memang belum memberi tahu Adel, jika mbaknya yang beberapa hari selalu dia tanyakan kapan main kerumah datang hari ini.


"Kalau begitu kita buka bersama saja, mungkin tamu kamu dan tamu mama datanya tak sengaja bersama" putus ibu Ratih.


Ibu dan anak itu berjalan bersama menuju pintu utama, tapi saat ibu Ratih membuka pintu sambil menjawab salam. Anak bungsu ibu Ratih dan pak Firman itu langsung berkomentar saat melihat mama dan kakak ketiganya tumben kompak.  "Tumben sekali kompak begitu" komentar anak bungsu pak Firman yang membuat Adel menyahuti ucapan adiknya itu.


"Kenapa iri bilang pak!" dengus Adel.


Tapi seberapa pun umur keduanya tak menjamin jika mereka tidak memperdebatkan hal-hal kecil.


Bagi ibu Ratih dan pak Firman melihat si bungsu selalu berdebat dengan adiknya sudah makanan sehari-hari untuk mereka. Walaupun keduanya sering berdebat tapi mereka saling menyayangi, pak Firman dan ibu Ratih yakin jika kedua anak mereka yang sering bertengkar itu, saling menyayangi satu sama lain, karena hal-hal kecil dan perhatian kecil yang selalu mereka  berdua lakukan satu sama lain.


Ibu Ratih membuka pintu utama, dia juga mendengar sedikit perdebatan Adel dengan si bungsu, tapi bu Ratih tak berkomentar apa-apa, karena beliau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Adel dan si bungsu. "Waalaikumsalam" jawab ibu Ratih membuka pintu rumahnya.


"Zizah, Iqbal Alhamdulillah kalian sudah sampai nak"


"Iya bi Alhamdulilah" sahut Azizah yang membuat Tio kembali syok.


Tadi saat di supermarket Tio dikagetkan, karena wanita yang berada di sebelah Iqbal adalah istrinya, sedangkan sekarang perempuan yang katanya istri Iqbal itu memanggil ibu Ratih dengan sebutan bibi, Tio menjadi penasaran siapa sosok gadis di balik cadar ini, kenapa dia begitu memiliki banyak kejutan.

__ADS_1


Tapi Tio tahu tempat dia tak boleh kepo dengan urusan istri orang. Setelah menyapa ibu Ratih Azizah, Iqbal dan Tio mencium punggung tangan ibu Ratih secara bergantian.


"Anda nak Tio juga rupanya, pasti mau ketemu Adel ya, jadi kamu tamu yang Adel maksud" ucap ibu Ratih saat giliran Tio bersalaman.


Tio mengangguk sembari menjawab. "Iya ma" sahutnya. Jika dirumah ibu Ratih, Tio sudah bisa memanggil ibu Ratih dan pak Firman dengan panggilan mama papa, ibu Ratih sendiri yang menyuruh Tio.


"Ayo silahkan masuk dulu" ajak ibu Ratih mempersilakan tamu-tamunya masuk, sementara Adel tak jadi menyambut kedatangan teman satu frekuensinya itu.


"Dasar adek kagak ada adab" ucap Adel sambil melempar bantal sofa pada adik bungsu nya.


Namun sayang lemparan Adel melesat bukan mengenai si bungsu malan mengenai temannya sendiri Tio, tadi bantal sofa itu hampir mengenai Azizah, tapi tak jadi karena Azizah dan Iqbal berjalan sejajar dengan ibu Ratih, sementara Tio berjalan tepat di belakang Azizah sedikit jauh.


"Adel nggak ada akhlak gue baru datang langsung lo timpuk bantal sofa!" teriak Tio yang menggema dimana-mana.


Para pekerja rumah dan orang rumah paham betul suara siapa barusan, yang berani memaki dan meneriaki Adel hanyalah Tio..


Bungsu yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak, sementara Adel hanya diam mematung, dia belum sadar apa yang akan terjadi setelah ini. "Hei, siapa yang berani maki-maki gue" tatang Adel belum menyadari keberadaan Tio.


Adel sadar saat dia melihat Azizah dan mamanya sedang memperhatikan dirinya sementara Iqbal hanya fokus pada Azizah.


Adel mengangguk saat melihat Azizah menyapanya dengan anggukan, sampai Adel tersadar dengan kode yang mama nya berikan, jika Tio menghampirinya dengan tatapan kesal.


"Yak! Tio gue kagak sengaja semua gara-gara si bungsu" ucap Adel sambil berlari menghindari Tio yang sudah Adel pastikan akan balas dendam padanya, mungkin Tio akan menimpuknya berkali-kali setelah ini.


"Enak aja mengkambing hitamkan adik sendiri" sahut bungsu yang tidak terima.


Sementara pak Firman langsung turun kebawah saat mendengar suara Tio menggelegar, pak Firman yakin ada pertunjukan yang menarik di lantai bawah.

__ADS_1


__ADS_2