Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal

Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal
Sampai di Cianjur


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Azizah dan Iqbal sudah berada di bandara pagi-pagi sekali, tentu saja ditemani pak Heri dan ibu Ria, yang sedari pagi juga sudah heboh sendiri, karena anak dan menantunya akan pergi ke luar kota.


Dari jauh-jauh hari pak Firman sudah memesankan tiket untuk Azizah dan Iqbal menuju Cianjur, begitu juga dengan Tio, pak Firman tak lupa memesankan satu tiket lainnya untuk Tio. Mereka sudah berjanji akan bertemu di bandara.


"Kalau sudah sampai beri kabar bapak dan ibu disini Bal" pesan pak Heri.


"Iya pak, Insya Allah" sahut Iqbal.


"Mana katanya teman kamu juga ada yang berangkat bareng kamu, disuruh sama pak Firman?" tanya ibu Ria, sambil celingukan mencari keberadaan teman Iqbal yang sempat Iqbal ceritakan sebelumnya pada kedua orang tuanya, jika bukan dia saja 


yang diutus oleh pak Firman ke Cianjur, melainkan ada satu orang lagi. yang ikut ke Cianjur, ibu dan bapak Iqbal merasa tenang karena laki-laki juga yang disuruh pak Firman bukan perempuan, seakan pam Firman tahu seperti apa Iqbal, dia tak akan berkomunikasi dengan perempuan lain kalau bukan masalah pekerjaan saja.   


"Mungkin sebentar lagi sampai ibu" sahut Iqbal.


Benar saja tak lama kemudian ada seorang laki-laki yang membawa dua koper nya mendekat pada Iqbal. "Maaf Bal telat, tadi ada sedikit kendala saat menuju ke bandara" jelas Tio tanpa diminta.


"Iya nggak papa Tio, lagi pula kita juga baru sampai" terang Iqbal.


"Kalau sudah disini semua langsung masuk aja" suruh Ria, mereka mengikuti instruksi yang Ria berikan.


Pak Firman juga sudah mengatakan jika, dia tak bisa mengantar Iqbal dan yang lainnya di bandar, tentu saja Iqbal sangat memaklumi hal itu. Pak Firman itu orang yang sangat sibuk


Iqbal dan Azizah berjalan seiringan, sementara Tio sudah jalan lebih dulu dari pada Iqbal dan Azizah.


Tio berjalan sambil memainkan hp nya. "Inget ya kalau libur susul gue ke Cianjur, kalau nggak awas lu!" ancam Tio di pesan yang dikirim pada sebuah kontak yang  dia beri nama cantik sinisku.


Setelah selesai Tio memasukan kembali handphonenya ke dalam saku celananya, dengan senyum yang mengembang di kedua bibinya.

__ADS_1


Iqbal dapat melihat gerak-gerik Tio yang seperti orang sedang bahagia, tapi Iqbal senang melihat Tio bahagia, walaupun memang anak itu selalu terlihat bahagia.


Iqbal yang masih berjalan di belakang Tio memeluk pinggang istrinya dengan begitu erat, seakan  Azizah tak boleh terlepas darinya.


"Mas kenapa sih nggak enak diliatin banyak orang" cicit Azizah merasa tak enak, karena dia bukan tipe perempuan yang senang mengumbar kemesraannya di depan umum.


"Sudah biar dek, jangan hiraukan orang lain" bisik Iqbal tepat di kuping istrinya.


Saat sudah masuk ke dalam pesawat Iqbal segera mencari tempat duduk dia dan istrinya bersebelahan, semenatara Tio duduk tepat didepan mereka.


"Tidur dulu aja dek, kamu lagi haid kan" Azizah mengangguk dia segera merebahkan dirinya dengan berbantal bahu Iqbaal sebelahnya. "Tidur nyenyak sayang" bisik Iqbal yang masih bisa didengar oleh Azizah, tapi Azizah tetap memejamkan matanya, karena dia sudah terlanjur malu pada Iqbal, malu dengan ucapan suaminya.


Tak lama kemudian setelah semua penumpang sudah dipastikan masuk ke dalam pesawat, pesawat yang mereka tumpangi segera lepas landas.


Selama dalam perjalanan karena tidak mengantuk Iqbal menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, sesekali Iqbal membenarkan posisi istrinya.


Sekitar hampir 4 jam di dalam pesawat, akhirnya pesawat yang ditumpangi, Iqbal, Azizah dan Tio mendarat dengan sempurna, karena perusahan anak cabang milik pak Firman yang ada di Cianjur tak terlalu jauh dari bandara, jadi mereka bertiga hanya perlu naik taksi, pak Firman juga sudah memasakan hotel untuk mereka bertiga yang tempatnya tak terlalu jauh dari perusahan milik pak Firman.


Iqbal tak langsung menjawab dia melirik Azizah terlebih dahulu. "Dek mau cari makan dulu atau mau ke hotel dulu?" tanya Iqbal pada istrinya, apapun itu Iqbal harus meminta persetujuan Azizah, bagaimanapun juga dia yang membawa Azizah kesini, Iqbal tak mau membuat Azizah tidak merasa nyaman.


"Zizah ikut aja mas, tapi menurut Zizah lebih baik kita taruh barang-barang lebih dulu" usul Azizah.


"Setuju!" sahut  Tio dengan lantang, sampai membuat beberapa orang yang ada disana menatap dirinya. 


"Maaf, maaf, maaf" ujar Tio merasa tak enak pada yang lain, karena sudah mengganggu kenyamanan pejalan yang lain.


Iqbal dan Azizah sama-sama menggelengkan kepalanya. "Makanya kalau ada apa-apa jangan hebo baget, pikir hutan apa" ucap Iqbal sedikit bercanda pada Tio, sambil berlalu menggandeng tangan Azizah meninggalkan Tio sendiri.


"Malah ditinggal gue" dengus Tio, dia berjalan menyusul Azizah dan Iqbal yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Sampai di hotel, Iqbal sudah dipesan satu kamar yang berukuran besar untuk dirinya dan Azizah istrinya, Tio juga mendapat satu kamar yang berhadapan langsung dengan kamar Iqbal dan Azizah.


"Mas Zizah nggak ikut keluar ya, Zizah titip aja makan boleh?" ucapnya saat mereka sudah masuk ke dalam kamar.


"Kamu capek banget dek keliatannya?" tanya Iqbal sambil memeluk Azizah dari belakang.


Iqbal tak tahu kenapa dia merasa seperti akan kehilangan sesuatu, tapi Iqbal sendiri tak tahu apa itu, yang pasti saat ini Iqbal ingin terus bersama Azizah.


"Iya mas, Zizah masih malas keluar" ucapnya jujur. "Jadi Zizah titip makan aja ya sama mas Iqbal" ucap Azizah lagi.


"Baiklah, tapi kasih mas suami ini asupan dulu" pinta Iqbal dengan manja, Azizah hanya  menggeleng dengan tingkah suaminya.


Setelah memberikan apa yang suaminya minta Azizah segera menyuruh Iqbal pergi, karena pasti Tio sudah menunggu Iqbal di depan kamar hotel mereka.


"Mas pergi dulu, jangan dibereskan dulu barang-barang kita, kamu istirahat dulu" cegah Iqbal sambil menuntut Azizah, Iqbal membawanya ke kasur yang berukuran besar untuk mereka.


"Ingat pesan mas ya dek, istirahat jangan beres-beres dulu" Azizah mengangguk.


"Mas pergi dulu, Assalamualaikum" ucap Iqbal sambil mencium kening dan pipi istrinya sedikit lama sebelum pergi.


"Waalaikumsalam" sahut Azizah dengan senyum yang mengembang, kali ini perempuan itu sudah tak bercadar di dalam kamar, karena hanya ada dia dan suaminya saja disana.


Saat Iqbal membuka pintu kamarnya benar saja, Tio sudah berdiri disana menunggu dirinya. "Lama!" protes Tio.


"Sorry Tio namanya juga udah buka bujang lagi" sahut Iqbal entang.


"Ayo cari makan" ajak Iqbal setelahnya.


"Lah istri kamu kagak ikut?" bingung Tio.

__ADS_1


"Katanya dia capek mau istirahat aja, biar aku carikan makan saja" Tio mengangguk mengerti.


__ADS_2