Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal

Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal
Adel vs Tio


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Maaf ya Zizah, Iqbal, bibi ngerasa tidak enak jadinya, adik-adikmu itu memang suka bikin ribut" ucap bi Ratih merasa tak enak pada keponakannya itu.


Baru pertama kali datang ke rumah sudah disambut dengan kegaduhan yang luar biasa. 


"Tidak papa bi, Azizah maklum kok" jawab Azizah tersenyum ramah dibalik cadarnya. Walaupun dia tahu bibinya tak akan bisa melihat senyum itu.


Sebelumnya bi Ratih sudah mempersilahkan tamunya, Iqbal dan Azizah duduk. Sambil menunggu minum yang disediakan oleh art ibu Ratih mengajak Iqbal dan Azizah mengobrol.


"Hampir Zizah lupa bi, ini ada oleh-oleh tapi Zizah beli dijalan tak sempat buat sendiri maaf ya bi" ucap Azizah merasa tidak enak.


"Kamu kok repot-repot nak, kamu datang ke rumah saja bibi sudah sangat senang bibimu ini" ujar bi Ratih sambil menyuruh pekerja di rumahnya untuk membawa oleh-oleh yang Azizah dan Iqbal berikan ke dapur agar bisa untuk semua orang.


"Tak apa bi, Zizah juga merasa tidak enak kalau kesini hanya dengan tangan kosong"


Ibu Ratih juga sesekali mengajak Iqbal berbincang, Iqbal akan menjawab seadanya pertanyaan yang ibu Ratih lontarkan pada dirinya.


Sesekali ketiganya tertawa karena candaan ibu Ratih, Azizah saja matanya sampai berair, karena tertawa oleh bibinya, tapi tidak terbahak-bahak juga tertawanya..


"Mbak Ida sama mas Lutfi mu katanya minggu depan mau pulang, ingin bertemu dengan kamu katanya mereka kangen sama kamu Zizah sudah 20 tahun tidak bertemu, mereka sekarang penasaran bagaimana Azizah dewasa" ucap ibu Ratih yang membuat Iqbal semakin penasaran dengan hubungan istrinya dan keluarga bosnya ini.


Sementara Azizah cepat menjawab ucapan ibu Ratih. "Azizah juga kangen dengan mereka bi, Zizah kira mereka sudah lupa dengan Zizah" sahut Azizah sedikit sedih, karena takut mbak dan mas nya itu sudah melupakan dirinya.


"Tadinya mbakmu hampir menyerah Zizah, dia ingin melupakan kamu Zizah, tapi mas Lutfi mu selalu menyakinkan mbak Ida, jika Azizah kecil masih hidup" sendu ibu Ratih, bagaimana dia mengingat anak keduanya yang terus merindukan sosok Azizah.


Tapi kabar tentang Azizah tak kunjung didapatkan, membuat Ida hampir menyerah dia yakin Azizah sudah tiada, adanya Lutfi benar-benar membantu Ida untuk yakin jika Azizah masih hidup.


Begitu cintanya dan sayangnya keluarga pak Firman pada Azizah, entah hal baik apa yang pernah orang tua Azizah dulu lakukan sehingga keluarga pamannya begitu menyayangi Azizah.


Setelah 20 tahun hidup tak memiliki siapa-siapa, kini penantian 20 tahun itu tidak sia-sia untuk Azizah, karena dia memiliki suami dan mertua yang menyayanginya, bahkan dia dipertemukan kembali dengan keluarganya yang terpisah 20 tahun lalu. 

__ADS_1


Tak lama pak Firman ikut bergabung dengan mereka, bersama anak bungsunya. "Loh Iqbal sama Zizah kapan sampainya?, mama juga kenapa tak panggil papa" ucap pak Firman yang membuat Iqbal dan Azizah sama-sama berdiri untuk bersalaman.


"Baru saja pak Firman" sahut Iqbal sambil menjabat tangan pak Firman.


Pak Firman ikut duduk disini mereka, si bungsu juga ikut bersalaman dengan Iqbal dan Azizah.


"Aksi ngobrol sama mereka pah, makanya lupa panggiinl papa" sahut ibu Ratih. 


"Ini Rahmat Zizah, anak bibi dan paman yang paling bungsu dan Rahmat ini mbakmu yang sering diceritakan mbak Ida dan mas Lutfi" ujar Ibu Ratih memperkenalkan Azizah dan anak bungsunya.


"Nah kalau yang duduk sebelah mbakmu itu pasti kamu tahu siapa" lanjut ibu Ratih.


"Direktur Iqbal kan Ma?" Rahmat yang sering sekali berkunjung ke kantor papanya itu, tentu saja paham betul dengan Iqbal yang merupakan direktur utama perusahaan papanya.


"Nah benar kamu Mat, direktur Iqbal ini suami mbak mu Zizah" sambung pak Firman.


Rahmat mengangut tanda mengerti penjelasan ibu dan bapaknya. "Jadi  Adel yang tadi ya tan?" tanya Azizah memastikan.


"Nah benar Zizah, kalau yang satu itu sama adiknya nggak bisa akur, lah orang sama Tio aja tadi malah ribut kan, tau sekarang dimana anak dua itu, udah habis kali si Adel di uber sama Tio" ucap ibu Ratih yang membuat mereka tertawa bersama.


"Nah bener kan tadi yang teriak suara Tio, kalau tidak dengar suara Tio mungkin papa belum turun tadi" sahut pak Firman mereka pun kembali tertawa. 


Sementara yang dibicarakan sedang asik menghabiskan snake ditaman belakang, tadi setelah Tio berhasil membalas dendamnya pada Adel, keduanya memutuskan untuk bercerita sambil makan cemilan yang Tio bawa ditaman belakang.


Sepertinya Adel lupa jika orang yang dia tunggu-tunggu beberapa hari yang lalu, berkunjung juga di rumahnya, bersama dengan Tio.


"Tio lo harus tanggung jawab pala gue sakit lo tabokin!" dengus Adel.


Adel memakan keripik singkongnya dengan ganas. "Buset santai bu jangan marah-marah" canda Tio.


Tio memperhatikan cara Adel makan dia begitu gemas dengan perempuan di hadapannya ini, rasanya ingin sekali Tio memasukan Adel kedalam karung dan membawanya pulang.

__ADS_1


"Napa lo liatin gue aja?" ketus Adel, dia masih sedikit marah dengan Tio.


"Lo sadar nggak sih bukannya di dalam ada tamu ya?" ucap Tio yang menjawab  pertanyaan Adel, tapi yang tidak sesuai, Adel sadar seketika atas ucapan Tio barusan, bahkan Adel sampai tersedak keripik yang dia makan.


"Uhuk….uhuk….uhuk…..! Suara batuk Adel.


"Minum Del" suruh Tio sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah dia buka sebelumnya.


Adel segera meneguk air  mineral yang Tio berikan padanya, air itu hampir habis setengah. 


"Pelan-pelan Del minumnya" tegur Tio sambil mengelus-elus pundak Adel untuk membantu meringankan rasa tersedaknya.


"Mbak Zizah" ucap Adel refleks setelah selesai meneguk air mineral tadi.


"Ini semua gara-gara lo ya Tio, gue sampai melupakan mbak Zizah" gerut Adel kesal.


Adeo sepertinya melupakan kehadiran Iqbal di sana, atau bahkan dia sudah benar-benar tidak memiliki rasa pada suami mbaknya sendiri, hanya Adel yang tahu perasaannya.


"Kok gue" tunjuk Tio pada diri sendiri, dia tak terima disalahkan.


"Ya lo, habisnya lo tadi ngajar-ngajar gue!"


"Yee! Salah lo aneh kenapa lari coba tadi"


"Ya kalau gue kagak lari kesempatan emas buat lo balas dendam ke gue" sahut Adel begitu cepat.


Kedua orang itu bukanya segera masuk malah kembali berdebat. "Bawel banget nih cewek, gue cium juga tau rasa lo" ucap Tio yang membuat Adel bungkam saat itu juga.


Tio memperhatikan Adel. "Iyah neng canda doang kali mukanya lansgung merah gitu" ucap Tio lagi sambil tertawa puasa.


"Ihs, Tio kurang ajar berani lo ngerjain gue!" Adel menimpuk Tio dengan snack yang masih disegel.

__ADS_1


__ADS_2