
Bismillahirohmanirohim.
"Zizah" suara yang begitu familiar Azizah dengan saat dia sedang fokus membaca Al-quran di ruang kerja suaminya melalui handphone pintarnya.
Azizah merasa mengingat suara yang baru saja memanggilnya, seperti sudah lama tidak dia dengar, tapi Azizah mengenali suara itu.
Azizah menyelesaikan bacaan Al-quran nya lalu dia menoleh pada sumber suara. Terlihat pak Firman dan seorang wanita lebih mudah dari pak Firman berdiri di depannya.
"Paman" sapa Zizah, karena sebelumnya dia memang sudah bertemu dengan pak Firman bukan.
"Kamu tidak menyapa bibimu ini Zizah?" Azizah langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Bibi Ratih" Azizah langsung memeluk bibi nya itu. Betapa rindunya dia dengan perempuan yang pernah menjadi sosok ibu pengganti untuk Azizah, walaupun hanya 2 tahun saja.
"Iya sayang ini benar bibi" balas Ratih, dia ikut memeluk keponakannya yang hampir 20 tahun ini tidak ditemukan.
"Ayo duduk dulu bi, paman" ajak Azizah ketiganya duduk bersama di sofa ruang kerja Iqbal.
"Maafkan kami Zizah, hari itu tidak bisa menemukan keberadaan mu" sesal Ratih.
"Bukan salah bibi dan paman, Azizah sendiri tidak tahu saat itu Azizah pergi kemana" ujarnya, Azizah langsung menerawang kejadiannya yang pernah menimpah keluarga pamannya 20 tahun yang lalu.
"Azizah saat itu sudah terbagaun ditempat yang sama sekali tidak Azizah kenali" ucap Azizah mengingat masa kecilnya.
"Bibi senang Azizah akhirnya Allah kembali mempertemukan kita, dengan cara yang MasyaAllah luar biasa"
"Walaupun sudah 20 tahun. tadi itu bibi kaget kenapa pama mu ini baru berangkat ke kantor sebentar langsung pulang lagi, bisanya dia tak pernah seperti itu"
"Setelah mendengar penjelasan pamanmu, bibi ingin langsung bertemu dengan keponakan bibi yang sudah lama tidak bertemu ini" Ratih tak mau lepas dari keponakannya.
"Bibi, padahal Zizah bisa main kerumah bibi dengan mas Iqbal, bibi tak perlu repot-repot bertemu Zizah disini" kata Zizah merasa sungkan.
"Tidak papa nak, lagi pula bibimu ini sangat merindukan kamu, bibi tak menyangka kamu masih mengingat kami, padahal umurmu saat itu masih 3 tahun, ingatanmu ini sangat kuat ya Zizah" bangga Ratih.
__ADS_1
"Alhamdulillah bi, Allah memberikan kemudahan pada Azizah, masalah daya ingat yang begitu kuat"
"Hmmm" dehem pak Firman.
"Kalian sadar tidak sih paman masih disini" tegur Firman, karena dia merasa diabaikan oleh istri dan keponakan nya.
"Maaf paman" Azizah merasa bersalah.
"Tidak papa Zizah pama tahu ini semua ulah bibimu" keduanya tertawa renyah begitu juga dengan Ratih.
"Astagfirullah hampir lupa, paman sama bibi mau Azizah buatkan minum?" tarwarnya.
"Tidak perlu Zizah, memang kamu tahu dimana tempatnya?" Azizah menggeleng.
Ratih dan pak Firman sama-sama tertawa.
"Sudah tak apa, nanti biar ob yang mengantar ke sini" ujar Ratih.
Tak lama setelah pak Firman menekan tombol yang ada di ruang kerja Iqbal, yang langsung tersambung pada dapur kantor, seorang ob membawa tiga gelas berisi air minum keruangan Iqbal.
"Lalu pamanmu berkata nanti kita akan menemui Azizah, setelah pekerjaan pamanmu selesai, tapi sampai hari ini dia tetap sibuk bekerja" Ratih mencurahkan isi hatinya pada Azizah.
"Maafkan Zizah bibi, paman, tidak tahu jika kalian datang disaat akad Azizah, jika Azizah tahu pasti Zizah tidak terlalu sedih" ungkapnya.
Kini matanya mulai berkaca-kaca, karena merasa bersyukur masih ada keluarganya ternyata di dunia ini, bahkan dia tidak sendiri lagi.
Ratih kembali memeluk Azizah. "Rencana Allah memang luar biasa nak, bahkan bibi tak menyangka kamu akan menikah dengan laki-laki baik seperti Iqbal, dia begitu menjaga diri saat berada dikantor, Iqbal itu jarang sekali berinteraksi dengan perempuan di kantor kecuali hal pekerjaan"
"Sudah jangan menangis lagi Zizah" tegur pak Firman.
"Iya paman"
"Azizah sampai lupa bagaimana kabar mas Lutfi dan mbak Ida, bi?" tanya Azizah yang masih mengingat anak-anak pamannya itu.
__ADS_1
"Kalau mas Lutfi Mu itu dia berada di luar negeri bersama istrinya, mereka mengurus bisnis disana, sementara mbak Ida mu itu ikut suaminya tinggal di luar kota, terus dua adik mbakmu masih kuliah dan sekolah" jelas pak Firman.
"MasyaAllah aku sudah punya 2 sepupu lagi bi, paman?"
"Iya nak, mereka sudah pada besar-besar juga"
"Paman hampir lupa, sedari tadi paman mau bertanya kemana suamimu Zizah?" tanya pak Firman, karena dia belum tahu jika ada kekacauan yang terjadi di perusahaan miliknya.
"Katanya ada meeting mendadak tadi paman" pak Firman mengangguk mengerti
Azizah terus bercerita pada bibi dan pamannya yang baru bertemu setelah 20 tahun berlalu, saat Iqbal masih di ruang meeting.
Ketika Iqbal akan kembali menuju ruang nya, dia mengerutkan dahi heran, saat pintu ruang kerjanya itu sedikit terbuka, samar-samar Iqbal juga mendengar suara orang ngobrol dengan santai. Karena penasaran Iqbal semakin mempercepat langkahnya untuk segera sampai ke ruang kerjanya.
Iqbal tidak ingin terjadi apa-apa pada Azizah. "Sayang" panggil Iqbal saat sudah ada di pintu ruang kerjanya.
Ketiga orang yang ada di ruang Iqbal itu menoleh secara bersama saat mendengar suara Iqbal memanggil seseorang dengan panggilan sayang, padahal sebelumnya Iqbal sudah memanggil Azizah dengan sebutan sayang di hadapan pak Firman.
Sepertinya Iqbal lupa bertanya pada Azizah sebelumnya bagaimana dia bisa masuk bersama pak Firman kerunganya siang tadi.
Iqbal menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. "Pak Firman, ibu Ratih" sapa Iqbal merasa malu, karena ketahuan memanggil Azizah dengan sebutan 'sayang' namun kedua orang yang Iqbal sapa itu tersenyum pada Iqbal.
"Kenapa masih diam disitu Iqbal" tegur pak Firman.
"Eh, iya pak" ujarnya sambil berjalan mendekati ketiga orang itu, Iqbal masih menahan rasa malunya.
Sampai dia tidak terpikir bagaimana pak Firman dan ibu Ratih bisa kenal dengan Azizah.
"Ada masalah direktur Iqbal?" tanya pak Firman memastikan.
"Benar presiden, aku sudah menyuruh mereka yang membuat kekacauan untuk bertemu dengan presiden langsung"
"Apa yang sudah terjadi memangnya direkrut Iqbal?" tanya Ratih penasaran.
__ADS_1
Iqbal membuang nafas sejenak. "Saya sudah 3 kali ini saya menemukan dokumen yang tidak senonoh bisa masuk di perusahaan kita pak Firman, dalangnya ternyata manajer kepercayaan perusahaan ini sebelumnya" jelas Iqbal, dia tak merahasiakan apa-apa pada pak Firman, bagaimanapun juga perusahaan tempatnya bekerja milik pak Firman.
"Perempuan itu lagi, kita lihat apakah dia akan berubah setelah diasingkan, ke pulau papua, kenapa sifatnya begitu berbeda dengan ayahnya itu".