
Bismillahirohmanirohim.
Azizah mengobrol dengan Ratih sampai waktu pulang kerja tiba di ruangan Iqbal, sementara Iqbal dan pak Firman sudah mengurus pekerjaan mereka masing-masing.
Iqbal tak terganggu sama sekali ketika Azizah dan ibu Ratih mengobrol di ruangnya, dia malah sesekali ikut menimpali obrolan kedua perempuan yang berbeda generasi itu.
Iqbal sesekali mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar obrolan Azizah dan ibu Ratih, yang menurutnya menarik.
Saat pulang kerja Ratih dan suaminya pak Firman berjalan sejajar dengan Iqbal dan Azizah, tentu saja hal itu mengundang banyak perhatian dari para karyawan yang bekerja di perusahaan milik pak Firman.
Tak lupa sesekali pak Firman dan ibu Ratih menganggukkan kepala saat ada yang menyapa mereka begitu juga dengan Iqbal yang sesekali ada menyapa dirinya juga.
"Katakan Azizah kapan kamu mau bermain ke rumah?" tanya ibu Ratih saat mereka masuk ke dalam lift.
"Insya Allah secepatnya bi Ratih, Zizah gimana mas Iqbal nya aja" sahut Azizah dengan sopan.
"Benar kata Azizah bu Ratih, Insya Allah secepatnya" timpal Iqbal.
"Kalau begitu akan sedikit meringankan pekerjaanmu Iqbal saat hari dimana kamu dan Iqbal berkunjung ke rumah" tipal pak Firman yang membuat ketiga orang disisinya terkekeh bersama.
"Baiklah bibi akan menunggumu di rumah, atau jika tidak bibi yang berkunjung ke rumah kalian bagaimana?" usul Ratih.
"Tidak perlu bi, nanti merepotkan bibi biar Zizah sama mas Iqbal aja yang kesana" sahut Azizah merasa sungkan.
Dia tidak ingin merepotkan orang yang lebih tua, begitulah Azizah, dia tidak ingin pernah membuat siapa direpotkan olehnya.
Selalu sendiri dari kecil, membuat Azizah sudah biasa mengerjakan apa-apa sendiri, dia adalah seorang perempuan yang begitu mandiri, sepertinya Iqbal belum tahu jika Azizah itu serba bisa dalam banyak hal.
Iqbal belum tahu apa hubung istrinya dengan bosnya ini, tapi Iqbal belum berani bertanya pada Azizah, karena merasa kurang sopan pada pak Firman dan ibu Ratih.
__ADS_1
Tak lama setelah mereka berbincang pintu lift terbuka, di depan pintu itu sudah banyak karyawan yang menunggu. Saat melihat atas mereka semua karyawan yang berada di depan pintu lift membungkukan kepala mereka untuk menyapa atasan mereka.
" Aku merasa seperti orang asing di sini " batin Azizah dalam benaknya saat melihat banyak orang yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Karena dia bisa berjalan bersama pemilik perusahaan tersebut dan juga Direktur Utama perusahaan itu, mereka menjadi penasaran siapa sosok gadis bercadar yang bersama ibu Ratih.
Apa lagi Azizah sangat terlihat akrab dengan ibu Ratih, ditambah lagi ketika mereka Melihat Iqbal menggandeng tangan Azizah dengan begitu mesra.
" Tenanglah tak usah tegang " bisik Iqbal pada Azizah, tepat di kuping Azizah..
Iqbal tahu saat ini apa yang sedang Azizah rasakan, karena Azizah terlihat sangat gugup apalagi Iqbal bisa merasakan Jika tangan Azizah tiba-tiba berubah menjadi dingin saat banyak mata memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
Setelah sebentar menyapa karyawan keempatnya terus berjalan bersama menuju parkiran, yang sudah disediakan di kantor tersebut.
Iqbal dan Pak Firman sama-sama menghampiri mobil mereka masing-masing di sana juga sudah banyak karyawan yang mulai mengeluarkan mobil mereka dari parkir satu persatu.
Sementara ibu Ratih dan Azizah menunggu suami mereka masing-masing, sambil mengobrol sebentar.
"Tapi bibi juga harus pulang di rumah sudah ada Adelia dan Rico yang menunggu kepulangan bibi, biasanya mereka berdua akan terus mencari ibunya jika tidak menemukan Bibi di rumah lalu mereka akan terus bertanya mama dari mana mama dari mana mama dari mana mama dari mana"
"Iya Bi,Azizah titip salam untuk kedua sepupu Azizah" setelah memeluk Azizah sebentar Ibu Ratih langsung memasuki mobil Pak Firman yang berada di sebelahnya.
Ibu Ratih Melambaikan tangan pada Azizah, Azizah pun tersenyum di balik cadarnya. Setelah itu mobil Pak Firman berjalan meninggalkan parkir mobil di kantor.
Setelah memastikan jika Pak Firman dan ibu Ratih sudah pergi Azizah segera menyusul suaminya masuk ke dalam mobil, hari ini Azizah benar-benar menghabiskan waktunya di kantor tempat suaminya bekerja.
"Sepertinya kamu sangat lelah dek" ucap Iqbal sambil melajukan mobil nya, Iqbal mengelus pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab.
"Tidak juga mas, sepertinya mas Iqbal yang sangat lelah, apakah pekerjaan mas hari ini begitu berat?" tanya Azizah sambil menyenderkan kepalanya di lengan Iqbal.
__ADS_1
Iqbal sama sekali tidak marah dengan yang Azizha lakukan, Iqbal malah merasa senang, satu tangan nya dia gunkan untuk mengemudi, semenatara satu tanyanya lagi Iqbal gunkan untuk mengusap-usap kepala istrinya.
"Sebenarnya apa yang ingin mas tanyakan dek, bagaimana kamu bisa mengenal ibu Ratih dan pak Firman begitu dekat, tapi mas tidak bisa bertanya sekarang, karena kamu terlihat lelah sekali, mas menjadi tidak tega melihatnya" batin Iqbal, sambil melihat Azizah sebentar.
Ternyata Azizah sudah kembali terlelap di punggung tangan Iqbal suaminya. "Mas juga bilang apa kamu kayaknya lelah banget liat aja cepet banget tidurnya" gumun Iqbal.
50 menit Iqbal mengendarai mobilnya, akhirnya dia sampai dirumah mereka, biasanya Iqbal hanya akan menempuh jarak 25 menit dari kantor ke rumah, kali ini lebih lama, karena dia membawa Azizah, apalagi Azizah sedang tidur lelap.
Untung tadi sebelum pulang kerja, Azizah dan Iqbal sudah melaksanakan shalat ashar terlebih dahulu.
"Mas nggak tega bangunin kamu dek" gumun Iqbal, saat melihat Azizah masih di posisi yang sama.
jujur saja saat ini legan Iqbal begitu terasa nyeri, tapi dia tidak mau membuat Azizah bangun.
Iqbal meletakan kepala Azizah di pangkuannya, setelah itu dia menunggu tanganya agar tidak terasa sakit lagi, barulah dia bisa menggendong Azizah tanpa membangukanya.
"Demi istri Iqbal, sebelum nya kamu tak pernah menggendong perempuan manapun, maka sekarang kamu menggendong perempuan yang sudah menjadi istrimu sendiri" ucapnya pada diri sendiri.
Iqbal tersenyum memandang wajah istrinya. "Jadikan rumah tangga kami yang Engkau ridhoi Ya Rabb, dan didalamnya kami bisa meneruskan sunah-sunah Rasulullah SAW. Jadikanlah rumah tangga kami sakinah mawaddah warahmah Ya Rabb, Amin" doa Iqbal setelah mencium kening istrinya sebentar.
Baru setelah itu Iqbal keluar dari mobil untuk menggendong Zizah.
"Bismillahirohmanirohim" ucap Iqbal sebelum menggendong Azizah.
Entah Azizah sadar atau tidak saat Iqbal menggendongnya dia langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Iqbal.
"Masya Allah" ucap Iqbaal reflek.
Saat menaiki anak tangga ternyata Azizah sudah terbangun, tapi dia tetap diposisi yang sama, agar tidak terlalu malu pada Iqbal.
__ADS_1
"Mas Iqbal kenapa nggak abngunin zizah aja coba, mala gendong Zizah ke kamar" batin nya merasa tidak enak pada Iqbal.
Azizah dapat mendengar detak jantung suaminya yang berdetak begitu teratur, hati Azizah terasa menghangat mendengar detak jantung Iqbal.