
Bismillahirohmanirohim.
"Tio aku beli makan untuk istriku dulu" ujar Iqbal.
"Iya Bal" sahut Tio.
Iqbal meninggalkan Tio yang masih mengunyah makannya, sementara Iqbal sudah selesai makan, dia hendak mencarikan Azizah makanan terlebih dahulu. Makan yang bisa dibawa pulang, karena di restoran tempat mereka makan tak bisa pesan untuk dibungkus, harus makan ditempat.
Saat Iqbal akan melangkah keluar dari restoran, tiba-tiba restoran itu menjadi gelap seketika, lampu penerang di dalam restoran semuanya padam, entah apa yang terjadi. Di dalam restoran itu pun semua pengunjung menjadi ricuh, karena keadaan yang begitu gelap. Walaupun tetap ada sedikit cahaya dari luar.
Karena keadaan di luar juga seperti akan hujan lebat, karan sedikit mendung, tapi cuaca begitu gelap.
Tapi saat Iqbal akan melangkah keluar, di luar angin sangat kencang. Sehingga mengakibatkan untuk semua orang yang berada di dalam restoran, terpaksa harus menunggu di dalam.
"Mohon tenang untuk semua pengunjung di restoran kami, pihak yang bertugas sedang mencari tahu apa yang terjadi, untuk saat ini demi keselamatan kalian semua tolong jangan dulu keluar restoran, karena di luar angin sangat kencang"
Mendengar suara yang sangat menggema semua orang yang tadinya panik hening seketika, tapi hal itu tak bertahan lama, karena suara ricuh kembali terjadi, akibat ada beberapa pohon tumbang, di depan restoran mengenai salah satu mobil pengunjung.
"Mohon perhatiannya semua tolong tenang" ucap seorang yang tadi bersuara.
Sementara Iqbal masih terpaku di tempatnya di depan pintu restoran yang sudah ditutup rapat, untuk keselamatan semua orang.
Pikiran Iqbal kacau, dia memikirkan istrinya yang berada di hotel sendirian, Iqbal takut terjadi apa-apa pada Azizah.
"Ya Rabb lindungilah istri hamba" doa Iqbal dalam benaknya.
"Aku harus segera keluar dari restoran ini" ujar Iqbal sambil mencari orang yang bekerja di restoran tersebut, sementara Tio menyusul Iqbal untung dia cepat menemukan Iqbal yang baru akan beranjak dari depan pintu restoran.
"Bal mau kemana?" tanya Tio memastikan.
__ADS_1
"Mau cari yang kerja disini Tio, aku harus keluar dari restoran ini, aku tak mau terjadi apa-apa pada Azizah" tuturnya, terlihat jelas sekali wajah Iqbal yang begitu khawatir pada Azizah, istrinya.
"Tapi Bal di luar bahaya" cegah Tio.
"Aku tak peduli Tio yang penting aku bisa segera bertemu Azizah" sahut Iqbal yang sudah begitu kalut.
Iqbal pergi meninggalkan Tio menghampiri orang yang tadi berbicara begitu kencang. "Tolong buka pintu restorannya" pinta Iqbal begitu saja dengan tatapan memohon.
"Tapi mas di luar begitu bahaya" sahut laki-laki paruh baya yang tadi bicara pada semua orang, mungkin dia pemilik restoran mewah di tempat itu.
"Saya mohon pak, saya tak peduli mau diluar bahaya atau tidak, saya hanya ingin bertemu istri saya" pinta Iqbal sekali lagi.
Akhirnya karena tak tega melihat Iqbal yang begitu memohon dia dibolehkan pergi, Tio juga mengikuti Iqbal keluar dari restoran tersebut, karena dia tak ingin terjadi apa-apa pada Iqbal.
Ternyata melihat Iqbal keluar dari restoran ada beberapa orang juga yang menyusul, ada yang memilih tinggal ada juga yang memilih untuk segera meninggalkan restoran.
Iqbal dan Tio pun terpisah entah sudah berada dimana keduanya, ada yang tertimpa kayu, mobil ada juga yang tertimpa motor masih banyak lainnya.
Angin masih berhembus begitu kencang, bumi masih bergoyang, tanda gempa bumi sudah terjadi di tempat itu.
Tio dan Iqbal sama-sama sudah tak terlihat lagi entah mereka berdua sama-sama terlempar di mana.
***
Di Tempat lain tepatnya di desa kelahiran Iqbal dua orang yang merupakan suami istri sama-sama mengucapkan istighfar, kala ada guncangan kecil yang membuat mereka kaget.
"Astaghfirullah hal Adzim" ucap Heri dan Ria dengan kompak, ya kedua orang itu merasakan ada sedikit guncangan.
"Inalilahi Wainalilahi Rojiun" ucap Ria lagi setelannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi bapak?" tanya Ria memastikan.
Tak tahu kenapa roga-roga hatinya merasakan ada yang akan hilang dari dirinya, sama yang Iqbal rasakan sebelumnya, tapi jelas mereka tak tahu apa yang akan hilang itu.
Sedangkan Heri yang merasakan hal buruk yang akan terjadi pada anak menantunya, saat mereka akan terbang ke Cianjur kini merasakan kembali, jika hal buruk sedang menimpa Iqbal dan Azizah.
"Bapak tidak tahu bu, sepertinya terjadi gempa di tempat lain, tapi efeknya sampai ke daerah kita juga, sepertinya gempa lumayan besar karan kita yang disini merasakan juga guncangan kecilnya" jelas Heri, Ria mengangguk paham.
Kedua suami istri itu setelahnya sama-sama berdoa untuk anak dan menantu mereka masing-masih di dalam benak keduanya. Mereka tak ingin pasangan mereka merasakan kekhawatiran apa yang sedang dirasakan.
"Ya Allah lindungilah anak dan menantuku, di daerah orang lain di sana, selamatkanlah mereka dalam segala mara bahaya yang Engkau timpakan pada setiap orang yang Engkau murkai" doa Ria dalam benaknya.
Heri pun mendoakan anak dan menantunya yang berada di kota orang itu. "Lindungilah Azizah dan Iqbal Ya Rabb dan juga satu teman Iqbal yang pergi bersama mereka, hilangkah rasa khawatir yang ada pada diri hamba ini Ya Rabb"
"Hamba ingin selalu berhusnudzon kepada Engkau yang Maha segala-galanya" doa pak Heri dalam benaknya, dia masih mengingat sosok Tio yang sempat menyapa dirinya dan istri dengan ramah.
Dengan sikap Tio yang cepat akrab dan ramah seperti, itu pak Heri dapat menilai jika Tio orang baik.
Ria mungkin lupa dengan keberadaan Tio, karena terlalu mengingat keadaan anak dan menantunya.
Ketika sampai di hotel, saat Iqbal izin mencari makan pada Azizah. Azizah sudah memberikan kabar pada mertuanya jika sudah sampai di Cianjur, tak hanya memberikan kabar pada pak Heri dan ibu Ria, tapi Azizah juga memberikan kabar pada paman dan bibinya pak Firman dan ibu Ratih jika mereka sudah sampai dengan selamat sampai tujuan.
"Ibu kita istirahat yuk sudah malam juga" ajak Heri, karena dia ingin menenangkan pikirannya yang sedang berpikir takut terjadi hal buruk pada Azizah dan Iqbal.
"Ya bapak, ibu juga sedikit capek" sahut Ria dengan cepat.
Keduanya langsung masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri mereka masing-masing yang sama terpikir oleh anak dan menantunya.
Biasanya hanya seorang ibu yang akan merasa jika hal buruk terjadi pada anak mereka, tapi itu semua tidak berlaku pada Heri, dialah orang pertama yang akan merasakan, jika akan terjadi sesuatu pada putranya, bukan Ria istrinya.
__ADS_1