
Bismillahirohmanirohim.
Pagi harinya di kediaman pak Firman suasana menjadi begitu ricuh sebuah berita di televisi mengabarkan bahwa gempa bumi baru saja memporak porandakan kota Cianjur. Membuat ibu Ratih tak percaya dengan berita yang ada.
"Inalilahi Wainalilahi Rojiun" ucap ibu Ratih reflek, gelas berisi air minum untuk suaminya terjatuh, air panasnya sedikit mengenai kakinya, tapi ibu Ratih tak peduli.
Sekarang yang dia pikirkan adalah Azizah, dia tak tahu bagaimana keadaan Azizah disana, padahal baru kemarin mereka sampai di Cianjur sudah terkena musibah saja.
Ibu Ratih syok karena melihat berita pagi yang disiarkan di televisi. " Terjadi gempa bumi berskala 5,6 di daerah Cianjur kemarin siang sekitar jam 1 siang.
Ibu Ratih yang tak sengaja melihat berita itu kini dia merasa tak mampu untuk berjalan lagi, kakinya sudah begitu kaku berat untuk dijalankan, sementara tubuhnya sudah sangat lemas.
Ibu Ratih berfikir baru saja dia dan keponakannya Azizah dipertemukan kembali setelah 20 tahun lamanya terpisah, tapi saat ini musibah kembali menimpa Azizah.
Pak Firman dan beberapa orang lainnya segera menghampiri ibu Ratih, saat mendengar gelas yang terjatuh, suara itu berasal dari ruang tamu.
"Mama!" teriak Rahmat segera menghampiri ibu Ratih.
Orang-orang yang mendengar suara Rahmat begitu panik saat memanggil ibu Ratih mempercepat langkah mereka. Rahmat segera membantu ibu Ratih untuk duduk.
"Mama duduk dulu biar Rahmat cari obat bakar" ucapnya pada ibu Ratih sambil meninggalkan ibu Ratih di ruang keluarga.
"Ada apa dengan mama?" tanya Adel ikut panik saat berpapasan dengan Rahmat.
"Kakak kesan aja" balas Rahmat ngos-ngosan.
__ADS_1
Sedangkan pak Firman sudah menghampiri istrinya. "Pa coba lihat itu" ucap ibu Ratih lirih pada pak Firman, rasanya ibu Ratih sudah tak sanggup untuk berkata lagi.
Pak Firman mengikuti arah tunjuk istrinya. Saat melihat berita yang disiarkan di televisi pak Firman terbelalak kaget, rasa bersalah langsung masuk ke rongga-rongga hati pak Firman, dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Azizah, Iqbal dan Tio di Cianjur, karena dirinya lah yang mengutus mereka untuk mengurus anak cabang di Cianjur.
"Papa akan mengirim orang untuk mengurus semua ini disana! Papa yakin mereka semua pasti selamat dari bencana ini, papa yakin Azizah, Iqbal dan Tio selalu dalam lindungan Allah" ucap pak Firman dengan yakin.
"Papa akan mengurusnya sekarang juga ma" ujar pak Firman yang bangkit dari tempat duduknya, suasana hati ayah dari 4 anak itu sudah tidak menentu.
Rasa bersalah, rasa menyesal, rasa kehilangan mencampur jadi satu di dalam diri pak Firman, dalam hatinya dia hanya bisa berandai-andai, andai dia tak mengirim Iqbal dan Tio bulan ini ke Cianjur pasti kejadian gempa bumi tak akan menimpa mereka.
Namun andai-andai dalam diri pak Firman tak berguna, karena kita tak bisa berandai-andai saja semua sudah terjadi, yang bisa dilakukan hanya berdoa dan berusaha agar orang yang kita sayangi selamat dari berencana.
Adel yang tak sengaja mendengar percakapan pak Firman dan ibu Ratih yang merupakan kedua orang tuanya terpaku di tempat, Adel tak percaya bukan Iqbal yang dia khawatirkan tapi Tio, walaupun tetap saja Adel mengkhawatirkan Azizah dan Iqbal.
"Kakak kenapa diam disini, ayo obati mama tadi kakinya terkena air panas" instruksi Rahmat pada Adel.
Rahmat langsung mengoleskan obat luka bakar pada mamanya. "Ma masih sakit?" tanya Rahmat memastikan, ibu Ratih menggeleng, dia tersenyum pada Rahmat dan Adel, setidaknya masih ada Rahmat dan Adel yang bisa membuatnya tersenyum.
Ibu Ratih juga yakin pasti pak Firman bisa menemukan Azizah, Iqbal dan Tio, ibu Ratih juga yakin pasti mereka bertiga selamat dari bencana ini.
"Ma, kita doakan, mbak Azizah dan yang lainnya selamat" ujar Adel. Ibu Ratih mengangguk.
Ibu Ratih peluk kedua anaknya, tak ada yang tahu bagaimana perasaan Adel saat ini, mungkin bisa dikatakan dia lah orang yang paling merasa kehilangan.
Tak hanya di kediaman pak Firman, di rumah kedua orang tua Iqbal pun merasakan duka, tadi saat ibu Ria akan menonton televisi seperti kebiasaannya setiap pagi, dia tak sengaja melihat berita yang menyiarkan kejadian gempa bumi yang terjadi di Cianjur.
__ADS_1
"Inalilahi Wainalilahi rojiun" ucap ibu Ria, sama seperti yang dialami ibu Ratih, ibu Ria pun merasakan tubuhnya yang lemas.
"Bapak!" panggil ibu Ria sedikit berteriak, dia merasa sebentar lagi badannya akan tumbang.
Pak Heri cepat menghampiri istrinya. "Ibu" ucap pak Heri cepat menolong ibu Ratih yang sebentar lagi hampir badannya terbentur dengan lantai, pak Heri cepat menolong ibu Ria.
"Kita ke klinik ya bu" ajak pak Heri, karena terburu-buru dan begitu khawatir dengan kondisi istrinya pak Heri sama sekali tak melihat berita yang disiarkan di televisi.
Ibu Ria sudah tak bisa menjawab, kedua bola matanya sudah terpejam menahan semua rasa sakit dalam dirinya yang entah datang dari mana.
Tak ada jawaban dari ibu Ria membuat pak Heri semakin khawatir, cepat pak Heri membawa ibu Ria ke klinik terdekat.
"Tolong periksa istri saya dok" pinta pak Heri merasa frustasi. Saat mereka sudah sampai di klinik terdekat.
Dokter yang berada di klinik itu segera memeriksa keadaan ibu Ria, pak Heri belum tahu apa yang menyebabkan ibu Ria sampai pingsan, dia juga belum tahu apa yang terjadi pada Azizah dan Iqbal.
"Pak, ibu Ria terkena serangan darah tinggi tiba-tiba saja, karena mengalami syok, saya sarankan untuk ibu Ria dibawa ke rumah sakit saja" ujar dokter yang memeriksa keadaan ibu Ria.
"Rujuk saja dok" putus pak Heri. Dokter pun menyetujui keputusan yang diberikan oleh pak Heri.
"Semoga ibu baik-baik saja, selamatkan istri hamba Ya Rabb, semoga tak terjadi apa-apa pada dirinya" doa pak Heri dalam benaknya.
Laki-laki paruh baya itu dari semalam tak henti-hentinya berdoa dalam benaknya untuk keselamatan anak juga menantunya, walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi pada Azizah dan Iqbal.
Kali ini doa pak Heri kembali bertambah untuk istrinya yang tiba-tiba terkena darah tinggal karena syok, pak Heri menjadi penasaran apa yang sudah membuat istrinya syok sampai terkena darah tinggi.
__ADS_1
pak Heri segera mengurus rujukan yang akan dilakukan untuk ibu Ria, dia segera membereskan semuanya agar cepat selesai.
"Segera rujuk dok" titah pak Heri setelah persyaratan rujuk sudah keluar.