Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal

Gadis bercadar jodoh untuk Ahmad Iqbal
Azizah dan Iqbal sadar


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Hari ini Lutfi dan istrinya juga kedua putranya pulang ke tahan air, tapi mereka tak memberi tahu jika mereka akan pulang, Lutfi berniat akan memberikan kejutan pada orang rumah.


Siapa sangka saat sampai di kediaman pak Firman, Lutfi lah yang terkejut saat mendengar jika Azizah, adik sepupunya yang sudah lama menghilang, kini sudah ditemukan, tapi kembali terkena musibah.


"Kapan terjadinya ma?" tanya Lutfi memastikan.


Dia, istrinya dan kedua anaknya padahal belum lama menginjakkan kaki di kedimana pak Firman sudah mendapatkan kabar yang tidak diinginkan.


"Tapi kamu tengan saja Fi, Azizah sudah ditemukan" bohong ibu Ratih, dia memang belum mendapatkan kabar tentang Azizah, tapi sudah mendapatkan kabar tentang Iqbal.


"Sudah jangan pikir yang aneh-aneh sekarang lebih baik kamu istirahat dulu, kamu baru juga tiba di sini, kasihan juga anak dan istrimu" peringat ibu Ratih.


Mau tak mau akhirnya Lutfi menuruti apa yang ibunya katakan. "Doakan saja mereka segera pulang dari Cianjur" lanjut ibu Ratih sebelum pergi.


Ibu Ratih memastikan lebih dulu apakah menantu dan anaknya itu sudah tidur dengan nyaman, mereka butuh istirahat ekstra, karena mereka baru saja sampai dari perjalanan jauh.


Bahkan saat Lutfi dan keluarganya sampai, kediaman keluarga pak Firman sudah gelap, karena mereka tiba saat dini hari, itu saja ibu Ratih bisa membukakan pintu untuk mereka, karena ibu Ratih pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Ibu Ratih selalu bangun tengah malam untuk mendoakan keselamatan Azizah dan Iqbal, dia belum siap jika harus kembali berpisah dengan Azizah.


Ibu Ratih sudah menganggap Azizah seperti anak kandungnya sendiri. "Semoga kamu cepat ditemukan nak, agar kita semua segera berkumpul, padahal kamu mengatakan jika merindukan mas Lutfi dan mbak Ida, sekarang mas Lutfi ada disini, tapi kamu entah berada dimana" Ibu Ratih menatap sedih sendiri di kamarnya.


Buru-buru ibu Ratih mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat malam sendiri, sudah 5 hari ini dia berada di kamar itu sendirian.


Ibu Ratih yang sibuk mendoakan keselamatan Azizah, sementara itu anak kedua ibu Ratih tengah menjaga Azizah, dokter Ida itu yang ternyata putri kedua dari pak Firman dan ibu Ratih, setiap malam selalu menemani Azizah, walaupun dia tidak tahu jika saat ini yang sedang dia temani setiap malamnya, adik sepupunya sendiri.


Ida mungkin merasa kasihan pada janji yang berada di dalam tubuh Azizah, apalagi tubuh Azizah semakin melemas, anehnya tubuh Azizah yang semakin melemah, tapi janji di dalam kandungan Azizah semakin baik, bahkan begitu kuat, janji diperut Azizah sekaan sedang membantu sang ibu untuk bertahan.

__ADS_1


"Kapan kamu akan membuka matamu nona cantik" ucap Ida sebelum memejamkan matanya, sudah hampir 4 hari ini Ida kurang tidur, karena mengurus banyak korban gempa yang terus jatuh sakit.


Pagi harinya di ruang tempat Iqbal dirawat, Iqbal sudah sadarkan diri. "Azizah" kata itulah yang pertama keluar dari mulut Iqbal, dimana perempuan yang dia cintai tak ada disebelahnya.


Perlahan Iqbal membuka matanya, hal pertama yang dia lihat bukan lagi tempat sebelumnya, tapi seperti sebuah rumah sakit.


Iqbal tidak tahu jika pak Heri berada disitu menemaninya sedari kemarin, namun saat Iqbal sadarkan diri pak Heri sedang pergi ke kamar mandi.


"Dimana aku?" tanya Iqbal entah pada siapa, tapi Iqbal bisa mendengar suara bising di sampingnya.


"Zizah, sayang kamu dimana, aku begitu merindukanmu" gumun Iqbal dengan suara lirih.


Iqbal berusaha bangkit dari berakar yang dia tempati saat ini, Iqbal berniat ingin mencari Azizah, dia tidak bisa hanya berdiam diri saja sementara itu istrinya entah berada dimana, apakah Azizah baik-baik saja, Iqbal sendiri tak tahu bagaimana keadaan istrinya itu.


"Aku harus mencari keberadaan Azizah" ucap Iqbal.


Saat Iqbal akan bangkit dari berakar, tepat saat itu pula pak Heri kembali menemui Iqbal. "Iqbal" pak Heri segera menghampiri anaknya itu.


"Azizah dimana bapak?" tanyanya dengan suara serak, entah mengapa Iqbal ingin menangis saat ini juga ketika mengingat istrinya.


"Kamu tenang dulu ya Bal, Zizah baik-baik saja" hibur pak Heri.


Pak Heri membantu kembali mendudukkan Iqbal di berakar. "Iqbal ingin bertemu Zizah bapak" pintanya penuh harapan.


"Kalau Iqbal sudah lebih membaik kamu pasti bisa bertemu Azizah, sekarang kamu baru saja siuman, jadi istirahat dulu" pak Heri berharap anaknya itu mengerti.


"Iqbal sudah sadar" pak Firman yang baru saja kembali mendekati Iqbal.


"Alhamdulillah, maafkan saya Bal, semua ini salah saya, hingga kamu menjadi seperti ini" sesal pak Firman, pak Firman masih begitu menyesal dengan keputusannya sendiri.

__ADS_1


"Ini bukan salah pak Firman, namanya musibah kita tidak akan tahu musibah itu anak menimpa siapa pak, jangan terus menyalahkan diri sendiri" sahut Iqbal.


"Terima kasih nak Iqbal, kamu harus butuh istirahat lebih lagi, biar saya panggilkan dokter untuk memeriksa mu lebih dulu"  ucap pak Firman sambil berlalu.


Tak lama kemudian pak Firman kembali dengan seorang dokter yang merupakan menantunya sendiri.


Iqbal memperhatikan Rama dengan saksama. "Bukankah kamu Rama?" tanya Iqbal saat sedikit mengingat siapa Rama.


"Kamu kenal dengan saya?" Rama malah bingung.


"Cek....cek…cek, cepat sekali kamu melupakan teman lamamu Ram!" dengus Iqbal, tapi dia tak menerangkan dimana mereka bertemu.


Sejenak Rama berperang dengan pikiranya sendiri, sampai akhirnya dia sedikit mengingat Iqbal. "Kamu Ahmad?" Iqbal mengangguk membenarkan ucapan Rama.


Keduanya berpelukan ala teman lama pak Heri dan pak Firman tak berkomentar, sampai akhirnya tingkah keduanya membuat pak Firman angkat bicara. "Nanti saja nostalgianya, sekarang periksa dulu keadaan Iqbal"


Di tempat yang sama, namun di ruang yang berbeda, seorang perempuan yang wajahnya selalu berbalut niqab, perlahan-lahan membuka matanya. "Mas Iqbal" ucap Azizah pelan. Suami istri itu saat terbangun hal pertama yang mereka ingat pasangan mereka sendiri.


"Aku dimana?" Azizah seperti tak bisa mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Seseorang yang baru masuk ke dalam kamar yang Azizah tempati merasa heboh sendiri. "Dokter Ida! Mbaknya sudah sadar!" teriak Sisak.


Ida buru-buru menghampiri tempat Azizah, Azizah hanya menatap mereka penuh tanya. "Saya periksa keadaan mbak dan janinnya dulu ya" ucap dokter Ida ramah, sementara Azizah merasakan jantung akan keluar saat ini juga, ketika dokter Ida mengatakan janin.


Deg!


"Janin" ucap Azizah pelan namun dokter Ida masih bisa mendengarnya.


"Benar mbak, mbak sudah hamil hampir 5 minggu" jelas dokter Ida.

__ADS_1


"Tapi bagaimana bisa, bahkan saat aku kesini aku mengalami haid, hanya saja tak lebih dari 2 hari, itu juga tak seperti haid pada umumnya" jelas Azizah.


Dokter Ida tersenyum lalu menjelaskan semuanya tentang kronologi yang Azizah alami, jadi sebelum berangkat ke Cianjur Azizah aslinya sudah hamil, tapi dia tak menyadari kehamilannya itu.


__ADS_2