
Bismillahirohmanirohim.
"Kamu kenapa Del, dari tadi diam aja? yuk cafe" ajak teman Adelia.
Adelia setelah mendengar kabar jika Iqbal sudah menikah dia menjadi tidak bersemangat sama sekali, entah apa sebabnya, atau mungkin dia menyukai Iqbal?.
Sampai di kampus pun Adel masih terlihat tidak bersemangat, bahkan temannya yang selalu bersama Adel bertanya-tanya pada diri sendiri tumben Adel menjadi galau. Biasanya gadis itu akan selalu ceria.
"Nggak papa kok" yuk ke kantin" ujarnya, sambil menarik tangan temannya yang mengajak dia ke cafe.
"Tapi kan aku ngajaknya ke cafe Adel, bukan ke kantin" bantah teman Adel.
"Udah sih ke kantin aja ya plis" mohon Adel. Hari ini dia sedang malas untuk pergi ke cafe.
"Oke" sahut temannya dengan cuek.
"Cup, cup, cup, jangan ngambek oke, lu teman gue paling baik sejagat raya, jadi jangan ngambek lagi ya Sri"
"Serah dah nggak usah lebay Adel, ayo jadi nggak keburu gue berubah pikiran lagi"
"Ohh, no! Jadi dong ayo" Adel kembali menarik tangan temannya.
Sore itu Adel disuruh mamanya ibu Ratih untuk pulang bersama papa nya pak Firman. Karena saat pulang kampus pasti Adel melintasi perusahaan miliki papanya.
Kebetulan sekali Adel juga pulang sore dari kampus jadi kata ibu Ratih. "Adel nanti kalau pulang sekalian mampir ke kantor papa, mobil papa pecah ban, biar nggak ngerepotin banyak orang kamu kesana ya, jemput papa" suruh ibu Ratih saat melakukan panggilan suara pada Adel yang masih berada di kampus.
"Iya ma, papa pulang jam berapa?" tanya Adel memastikan.
"Jam 5 sore, mama udah bilang ke papamu, kalau kamu yang bakal jemput papa"
"Iya ma" sahut Adel lagi dia tak pernah berani menolak apa yang mamanya suruh..
__ADS_1
"Jangan lupa apa yang mama suruh, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" sahut Adel, setelah memastikan jika mamanya sudah memutuskan sambungan telepon Adel menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas selempang miliknya.
Adel memang sudah ada di dalam mobil, dia baru saja selesai kelas sore niatnya sih dia akan langsung pulang. "Jam setengah lima, berarti setengah jam harus sampai di kantor papa" ucapnya pada diri sendiri.
Adel segera melajukan mobilnya menuju perubahaan milik pak Firman papa Adel. Seperti biasa jika mengendarai mobil Adel akan mengemudinya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hanya waktu dua puluh lima menit yang Adel tempuh akhirnya dia sampai di perusahaan milik papanya.
"Akhirnya sampai juga" ucap Adel sambil keluar dari mobilnya.
Untuk pertama kalinya anak ketiga dari pak Firman dan ibu Ratih pemilik perusahan terbesar di kota mereka, menginjakan kaki di perusahaan orang tuanya.
Ya Adel memang baru pertama kali ini datang ke perusahaan sang ayah, berbeda dengan adik bungsunya yang rutin setiap minggu pasti akan datang kemarin.
Adel berjalan mendekati repsesionsi yang sedang bejaga. "Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Tio sebagai resepsionis di kantor pak Firman. Dia bertanya dengan ramah dan sopan.
Tio selalu menyambut ramah tamu yang datang. " Saya mau ketemu papa" ucap Adel santai yang membuat Tio bingung.
"Boleh saya tahu nama papa, mbak?" tanya Tio ramah.
"Nona Adel, maafkan saya tidak mengenali anda, silakan masuk keruangan presiden lewat lift khusu presiden nona, anda sudah ditunggu oleh pak Firman" ucap Tio merasa malu.
"Tolong jangan panggil saya nona, panggil saja mbak kek apa kek asal jangan nona, masalah barusan memang sudah tugas kamu untuk menanyakan pada setiap tamu yang datang, jadi tak usah sungkan dengan saya" ujar Adel sambil melangkah pergi.
Tio merasa lega, dia pikir anak pemilik perusahan akan sombong-sombong, seperti di film yang selalu kakaknya tonton.
"Ternyata mbak Adel baik toh" ucap Tio pada diri sendiri.
Tak tau sejak kapan Tio sudah senyum-senyum sendiri. "Mbak Adel cantik juga ya" gumun Tio tanpa sadar.
Sementara yang dibicarakan sudah melangkah pergi menuju ruangan papanya.
__ADS_1
Saat itu kebetulan sekali Adel dan Iqbal secara bersama akan mengetuk pintu ruang pak Firman. "Maaf silahkan anda duluan" ucap Iqbal tanpa menatap Adel, tapi dia memberikan Adel ruang.
Iqbal yang begitu dingin tapi tetap ramah membuat Adel merasa penasaran dengan sosok Iqbal.
"Terima kasih" sahut Adel dengan senyum, tapi Iqbal hanya membalasnya dengan anggukan.
Setelah Itu Adel langsung masuk ke dalam ruang pak Firman sambil berbicara sedikit kencang. "Papa!" ucap Adel pada pak Firman tentu saja Iqbal masih bisa mendengarnya.
"Oh anak pak Firman toh" gumun Iqbal yang tidak dapat didengar oleh siapapun.
Sejak hari itu Adel sering datang berkunjung ke perusahaan pak Firman, tak ada yang tahu kenapa Adel yang dulunya paling malas menginjakan kaki di perusahaan pak Firman, kini setiap sore dia malah sering berkunjung kesana.
Sejak hari itu juga Tio dan Adel semakin dekat, mereka sudah seperti teman saja, sesekali keduanya bercanda.
Hampir 3 bulan Adel setiap sore akan ke perusahaan pak Firman, sampai 3 bulan berlalu jadwal kuliah Adel mulai kembali padat, bahkan dia pulang kerumah selalu telat.
Jadi Adel tak memiliki waktu untuk berkunjung ke perusahaan pak Firman, yang sebenarnya Adel selalu kesana untuk melihat Iqbal, tapi tidak ada yang tau maksud Adel, setiap Adel berkunjung kesana juga Iqbal selalu menjaga jarak, di hanya akan menyapa Adel jika berpapasan.
Terkanda Adel yang lebih dulu menyapa Adel, berbeda dengan Tio yang sudah satu frekuensi dengan Adel, anak dari pemilik perusahan tempat Tio bekerja.
"Woi, Adel ngelamun aja, dari tadi itu makanan cuman diaduk-aduk dong, ada masalah cerita dong sama gue" ucap teman kampus Adel, yang membuyarkan semua lamunan di kepala Adel.
"Lo Sri ngagetin aja" dengus Adel.
"Yee! Lagian situ dari tadi ngelamun wae, kunaon, ayak masalah cerita jeng Abi" ucap Sri bahasa daerahnya langsung keluar.
"Nggak papa Sri, udah sih makan aja, anggep gue lagi melamunkan sesuatu yang begitu indah" ucap Adel, sambil tersenyum. Untungnya Adel sudah paham dengan bahasa derah temannya, walaupun tidak semua yang Sri katakan dia akan paham.
"Iqbal" batin Adel.
"Gue terlambat ternyata, tapi gue kagak mau jadi pelakor, bagaimanapun juga mbak Azizah sepupu gue" batin Adel merasa frustasi.
__ADS_1
Adel cepat menghabiskan makanannya dia tidak mau terkenal sembur Sri lagi akibat terus melamun.
Mungkin bisa dikatakan jika Adel itu sedang putus cinta, karena orang yang dia kagumi dalam diam selama ini sudah menikah. Mau bagaimana lagi jodoh tidak ada yang tahu semua sudah ada yang mengaturnya.